"Mas Aksa." Kirana kembali membuka suara setelah sempat terdiam cukup lama. Ditatapnya manik mata pria itu dengan lekat, sembari berusaha meyakinkan diri untuk mengungkapkan kenyataan.
"Ada apa?" tanya Aksa dengan kening berkerut hebat.
"Tentang kejadian malam itu, saya ..., ehm ...." Perkataan Kirana terhenti seketika saat itu. Dia bingung. Tak tahu harus bagaimana mengungkap kenyataan ini kepada sang suami. Kenyataan bahwa dia mungkin tengah mengandung anak dari pria itu.
Ya Tuhan ....
Kirana menarik napas dalam. Merasa pusing karena terus saja meragu.
"Kenapa?"
"Sebenarnya saya ...."
"Saya--"
"Kamu kenapa? Kamu hamil?" tanya Aksa tiba-tiba.
Kirana nyaris terbatuk sendiri saat mendengar pertanyaan itu. Benar-benar blak-blakkan suaminya. Kalau sudah begini, berarti dia tak perlu repot-repot menjelaskan, kan? Begitu pikirnya.
"Mas Aksa ben--"
"Enggak mungkin, kan?" sela Aksa cepat. Sangat cepat, bahkan sebelum Kirana sempat menyelesaikan perkataannya.
"Saya memang enggak menggunakan pengaman saat itu, tapi ..., mana mungkin ada wanita yang bisa hamil hanya karena berhubungan satu kali," kata Aksa beberapa saat setelahnya. "Iya, kan?"
Kirana yang mendengar hal itu hanya dapat terdiam bisu. Lidahnya mendadak kelu, tubuhnya pun jadi lemas. Aksa benar-benar sukses membuatnya terhempas ke bumi, setelah sebelumnya diterbangkan ke awan.
Bodoh! Diam-diam Kirana merutuki dirinya sendiri. Salah siapa berharap pada pria yang sejak awal sudah tak menginginkannya?
"Ran?" Aksa menatap Kirana yang masih betah terdiam di tempatnya. "Kenapa?" tanyanya penasaran. Sedikit khawatir kalau ternyata dugaannya benar.
Tidak, Aksa bukannya tak ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya. Tidak sama sekali. Kalau memang Kirana hamil akibat kelalaiannya waktu itu, tentu saja ia akan bertanggung jawab. Hanya saja ....
"Kamu benar-benar hamil?" tanya Aksa ragu. "Anak saya?" tanyanya lagi.
Kirana sontak mendongak. Tepat setelah Aksa bertanya tentang status dari bayi yang tengah dia kandung. "ENGGAK!" jawabnya cepat.
Bukan maksud hati Kirana ingin berbohong. Lebih dari pada siapa pun, ia ingin jujur. Sungguh! Namun, hatinya telanjur sakit karena ucapan pria itu.
Maksud Kirana ..., kenapa Aksa harus bertanya seperti itu? Memangnya kalau bukan anaknya, dia mengandung anak siapa? Dasar pria kejam!
"Benar kamu enggak hamil? Kalau iya, saya ak--"
"MAS BICARA APA, SIH? SAYA ENGGAK HAMIL! LAGI PULA, MANA MUNGKIN SAYA HAMIL ANAK DARI LAKI-LAKI SEPERTI MAS AKSA!" cecar Kirana tanpa pikir panjang.
Persetan mau Aksa marah atau tersinggung akibat perkataannya. Begitu pikir Kirana. Toh, pria itu juga tak pernah sedikitpun, memikirkan perasaan orang lain saat berbicara.
"Maksud kamu apa? Memangnya kenapa dengan laki-laki seperti saya?"
"Pikir aja sendiri!" balas Kirana sewot sebelum akhirnya pergi meninggalkan Aksa yang tampak memasang raut wajah tak senang.
***
"Ke sininya diantar siapa, Bu? Suami?" tanya seorang dokter wanita setelah melakukan pemeriksaan kepada sang pasien.
Kirana menggeleng cepat. "Enggak, Dok. Saya datang sendiri," jawabnya sopan.
"Oh, suaminya lagi sibuk, ya? Sayang sekali. Padahal beliau pasti senang sekali kalau mendengar berita ini." Sang dokter tersenyum tipis. Mencoba memaklumi ketidakhadiran pria yang harusnya mendampingi pasiennya itu.
"Enggak apa-apa, Dok. Jadi, saya benar-benar hamil?" tanya Kirana penasaran. Dalam hati sedikit berharap kalau apa yang ia takutkan tak akan terjadi.
Maksud Kirana, meski hasil testpack menunjukkan bahwa dia tengah berbadan dua, tapi siapa yang tahu kan, kalau hasil pemeriksaan di rumah sakit berbeda?
"Benar, Bu. Selamat, ya. Tolong dijaga baik-baik kandungannya, karena tri semester pertama cukup rawan bagi ibu dan bayi," jelas Dokter hati-hati.
Kirana yang mendengar hal itu hanya dapat menghela napas pasrah. Benar-benar tak tahu harus bereaksi bagaimana lagi.
HAMIL. Ini bukan berita buruk, sebenarnya. Mengingat, dia bukanlah wanita yang hamil tanpa suami. Namun, masalahnya ....
Huh! Apa yang harus ia lakukan sekarang? Memberitahu Aksa bahwa dirinya mengandung anak pria itu? Atau membiarkan hal ini menjadi rahasianya sendiri saja?
Tidak! Demi Tuhan! Kirana tak ingin anaknya hidup tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Namun, lagi-lagi, ia tak tahu harus melakukan apa.
"Ibu? Ada apa?" tanya sang dokter pelan. Ada kekhawatiran yang terpancar jelas dalam nada bicaranya. Dan hal itu disadari langsung oleh Kirana.
"Enggak ada apa-apa, Dok. Saya hanya sedang capek," bohong Kirana. "Kalau begitu terima kasih banyak, Dok. Saya permisi dulu," sambungnya sesaat sebelum pergi dari ruangan dokter.
Di dalam perjalanan pulang, tak ada yang Wanita berusia dua puluh dua tahun itu lakukan selain merenungi nasib. Juga menyalahkan takdir yang terasa begitu kejam kepadanya.
Seakan tak cukup dengan membuatnya menikah secara paksa di usia muda, sekarang dia bahkan harus memiliki anak dari pria yang bahkan tak pernah menginginkan anak dari dirinya.
"Ya Allah ...." Entah untuk yang keberapa kalinya Kirana meringis hari ini. Tak ada yang tahu selain wanita itu sendiri.
"Kamu kuat, Ran! Kamu pasti bisa melalui ini semua!" katanya pada diri sendiri. Berusaha menyemangati diri, meski pada kenyataannya tak memiliki semangat sama sekali.
"Kamu tenang saja, Nak. Mama akan berjuang demi masa depan kamu!" ujarnya lagi. Tepat sesaat, sebelum ....
"AWAS, MBAK!!!"
Semua terjadi begitu cepat. Kirana tak tahu pasti apa yang terjadi padanya setelah mendengar teriakan itu. Yang ia ingat hanyalah lemparan sepatu yang melayang di udara. Entah ditujukan kepada siapa.
Sementara itu di tempat lain, Aksa yang tak kunjung melihat batang hidung Kirana sejak pagi mau tak mau dibuat khawatir. Bukan hanya khawatir, dia juga jadi kesal karena sang mama tak pernah berhenti mengomel.
"Kirana itu enggak pernah pergi keluar sendirian selama ini! Kalau sampai dia kenapa-kenapa di luar, gimana?"
"Gimana kalau ada orang jahat di luar sana?"
"Enggak biasanya dia pergi tanpa kabar begini!"
"Kamu gimana, sih, jadi suami? Jaga istri sendiri aja enggak bisa!"
"DASAR LAKI-LAKI ENGGAK BECUS!!!"
Aksa memejamkan mata rapat-rapat saat kalimat demi kalimat menyebalkan itu menyapa indera pendengarannya. Sebisa mungkin ia menekan rasa kesal yang sejak tadi telah bersarang di dalam diri.
"Pokoknya Mama enggak mau tahu! Sekarang kamu cari dia! Jangan pulang ke rumah, sebelum ketemu!" putus Ema tak mau tahu.
Setelah mengatakan hal itu, Ema bergegas pergi dari ruang keluarga. Meninggalkan Aksa yang hanya dapat menghela napas panjang berulang kali.
"Kamu di mana sih, Ran?" tanyanya frustrasi.
Tidak. Aksa bukannya tak berusaha sama sekali untuk mencari Kirana. Ia berusaha. Tentu saja! Walau bagaimanapun juga, wanita itu adalah istrinya. Wanita yang akhir-akhir ini selalu berada di dalam pikirannya. Sekaligus wanita yang membuatnya bimbang bukan main.
Percaya tak percaya, Aksa telah berusaha mencari Kirana di seluruh penjuru kota. Segala tempat yang mungkin dikunjungi oleh wanita itu, ia cek. Tentu dengan bantuan orang-orang kepercayaannya. Namun, nihil. Kirana tak ada di mana-mana.
"Apa mungkin di rumah bapak?" Aksa mulai menduga. "Tapi apa iya? Hubungan mereka kan, kurang baik," sambungnya kemudian.
"Enggak ada salahnya mengecek." Tak ingin lebih pusing dari ini lagi, akhirnya Aksa memutuskan untuk menghubungi sang ayah mertua. Namun, belum sempat hal itu terealisasikan, pergerakannya telah lebih dulu terhenti karena mendapat panggilan dari seseorang.
***
"Sekali lagi aku minta maaf, Ran. Kalau bukan karena aku, mungkin kamu enggak akan jadi seperti ini," ujar seseorang yang berada tepat di samping Kirana.
Dengan raut wajah yang serat akan penyesalan, pria itu memohon maaf kepada sang sahabat karib yang telah sangat lama tak ditemuinya.
Benar. Beberapa jam lalu, secara kebetulan ia bertemu dengan Kirana di rumah sakit tempatnya bekerja. Karena satu dan lain hal, dia dikejar oleh seseorang hingga akhirnya terjadilah insiden tersebut. Insiden yang membuat dirinya kehilangan pekerjaan, sekaligus insiden yang membuat seorang wanita kehilangan kesadaran akibat terpeleset di lantai yang cukup licin.
"Enggak apa-apa, Fan. Kamu kan, enggak sengaja. Lagipula, aku juga bik-baik aja, kan?"
"Tapi tetap aja. Kamu bahkan nyaris kehilangan calon anak kamu gara-gara aku."
Detik di mana kalimat itu menyapa indera pendengaran Kirana, di detik itu juga ia tersenyum getir.
Mungkin akan lebih baik kalau ia kehilangan bayinya. Setidaknya dengan begitu, dirinya tak perlu pusing memikirkan bagaimana nasib sang bayi kelak.
Huh! Pikiran macam apa ini? batin Kirana memberontak.
"Enggak apa-apa. Kita impas. Toh, kamu juga jadi kehilangan pekerjaan karena aku," sahut Kirana sambil tersenyum tipis. Sebisa mungkin ia bersikap tegar di hadapan Irfan, sang sahabat.
"Haha. Sebenarnya aku juga sudah bosan kerja di sana. Beruntung hari ini dipecat. Jadi, enggak perlu repot-repot buat surat pengunduran diri," aku Irfan setengah berbohong.
Dia memang bosan bekerja di rumah sakit dan berniat mencari pekerjaan lain. Namun, tak berniat berhenti secepat ini.
"Jadi, apa rencana kamu ke depannya, Fan?" Kirana menatap Irfan penuh minat. Lebih tepatnya, ia sangat penasaran pada jawaban pria itu.
"Aku mau merantau. Cari suasana baru. Mau ikut?"
"E-eh ...." Kirana tertegun saat itu juga. "M-maksud kamu apa?"
"Bercanda. Lagi pula, mana mungkin aku berani bawa kabur istri orang. Bisa habis aku dihajar masa," seloroh Irfan diiringi gelak tawa.
"Kalau aku yang mau ikut, gimana?"
"A-APA?"
-Bersambung-