"Ini pasti ulah Mama, kan?" Aksa yang baru selesai mandi langsung menodong mamanya dengan sebuah pertanyaan. Tentu setelah memastikan bahwa tak ada orang lain yang berada di kamar wanita paruh baya itu selain mereka.
"Apa sih, Sa? Datang-datang main tuduh-tuduh Mama aja! Memangnya apa yang sudah Mama lakukan sampai kamu semarah ini?" sahut Ema tak mau kalah. Sebisa mungkin ia mengelak tuduhan yang dilayangkan putranya.
"Sudah lah, Ma, jangan bohong lagi! Ngaku aja. Mama kan, yang sudah kasih sesuatu ke Kirana sampai dia jadi begitu?"
"Maksud kamu apa, sih? Memangnya Kirana kenapa? Dia jadi kenapa?" tanya Ema pura-pura bodoh.
Diam-diam, wanita paruh baya yang masih cantik di usia senjanya itu mengulas senyum. Jika Aksa bertanya begini, berarti bisa dikatakan kalau rencananya sukses besar, kan?
Ingatan Ema kembali pada kejadian malam tadi. Saat dirinya secara sembunyi-sembunyi menyampurkan obat perangsang ke dalam minuman sang menantu dan dengan terang-terangan menyuruh menantunya itu untuk meminum, minuman itu di hadapannya.
"Ini minuman kesehatan yang bagus buat tubuh." Begitu ia berkata tadi malam.
Beruntung Kirana tak banyak bertanya dan langsung meminumnya. Karena jika tidak, mungkin hari seperti ini tak akan pernah terjadi.
"Jangan berpura-pura bodoh, Ma. Sudah Aksa bilang, ngaku aja! Mama kasih Kirana apa sampai dia jadi enggak sadar begitu?"
"Mama enggak ngerti dengan maksud kamu!" tukas Ema sebelum beranjak dari kursinya. Berniat pergi meninggalkan sang putra yang tampak sangat kacau.
"Mama!" Aksa tak tinggal diam. Dengan sigap ia menghalangi jalan mamanya ketika wanita paruh baya itu menunjukkan tanda-tanda akan pergi.
"Kenapa Mama begini? Kenapa Mama harus melakukan hal yang nyata-nyatanya akan berdampak buruk ke Kirana dan juga Aksa?" tanya Aksa menuntut. Ada kefrustrasian yang tergambar jelas dalam nada bicaranya. Dan Ema sadar betul akan hal itu.
Namun, bukannya merasa bersalah. Ema justru tampak menahan kesal. "Berdampak buruk? Maksud kamu apa?" tanyanya balik.
"Tentu saja berdampak buruk, Ma. Karena ulah Mama itu, Aksa dan Kirana jadi harus ...." Perkataan Aksa terhenti tepat saat bayangan tentang apa yang terjadi tadi malam kembali melintas di kepalanya.
"Mas Aksa ...."
"Hhhhh ...."
Erangan dan helaan napas berat Kirana membuat Aksa hilang akal saat itu. Sungguh! Benar-benar ....
Ah! Menyebalkan!
"Kalian menghabiskan malam bersama, kan?" tanya Ema tiba-tiba.
Aksa yang mendengar hal itu nyaris tersedak ludahnya sendiri. Entah sejak kapan mulut mamanya jadi tak terfilter begini.
"Jadi benar kan, Mama yang sudah merencanakan hal ini?" todong Aksa curiga.
"Memangnya kenapa kalau Mama yang melakukan hal itu? Kamu mau apa? Marah?" balas Ema dengan raut wajah tanpa dosa. Dia benar-benar berbicara seolah tak melakukan kesalahan apa pun, kepada putra dan menantunya.
"Ma--" Belum sempat Aksa menyelesaikan perkataannya, sang mama telah lebih dulu membungkam mulutnya dengan kata-kata andalan.
"Mama melakukan ini demi kalian, Aksa! Demi keluarga kita juga! Demi menghasilkan penerus bagi keluarga Adipura. Memangnya kamu mau, silsislah keturunan kita berhenti di kamu? Enggak, kan?!
"Toh, kalian juga bukannya melakukan hubungan terlarang. Hubungan kalian sah, baik di mata agama maupun di mata hukum!" cecar Ema bertubi-tubi.
"Ah, satu lagi ...." Sengaja Ema menjeda kalimatnya selama beberapa saat sebelum melanjutkan perkataan. "Yang Mama beri obat perangsang itu cuma Kirana. Bukan kamu," katanya setengah berbisik.
"Kalau kamu sampai melakukan hal itu dengan dia, berarti itu salah kamu. Kenapa jadi menyalahkan Mama?" Dengan senyum menyeringai, wanita paruh baya itu menepuk-nepuk sebelah pundak sang putra. Kemudian pergi meninggalkan putranya yang tampak terdiam seribu bahasa.
***
Waktu berjalan dengan sangat cepat. Tak terasa, sudah satu minggu berlalu sejak Kirana terbangun di ranjang yang sama dengan Aksa. Ah, tentu saja terbangun dalam artian yang berbeda.
Sejak saat itu, dirinya jadi sering berpikir berlebihan. Mulai dari memikirkan pandangan Aksa tentangnya, juga memikirkan tentang sesuatu yang ia harap tak akan terjadi dalam pernikahan sementara mereka.
Benar. Kehamilan. Sungguh! Kirana benar-benar takut kalau kejadian malam itu akan membuatnya hamil. Lebih dari pada itu, Kirana takut kalau sendainya dia benar-benar hamil, Aksa tak mau mengakui anaknya.
"Ah! Berpikir apa kamu, Ran?!" tanya Kirana pada dirinya sendiri.
Tak ingin lebih pusing dari ini lagi, akhirnya Kirana memutuskan untuk bertanya kepada Aksa. Baik tentang apa yang terjadi malam itu, maupun tentang langkah yang akan mereka ambil di kemudian hari, kalau-kalau hal yang tak diinginkan terjadi.
Baru saja Kirana berniat pergi menghampiri Aksa yang entah berada di mana. Namun, belum sempat hal itu terealisasikan, orang yang ingin dicari justru telah muncul lebih dulu.
"Mau ke mana?" tanya Aksa yang baru beberapa detik lalu datang.
Kirana yang masih belum siap pun, tak langsung menjawab pertanyaan Aksa. Sebaliknya, dia justru memperhatikan raut wajah pria itu dengan lamat.
"Kenapa? Ada yang aneh sama wajah saya?" tanya Aksa beberapa saat kemudian.
Lagi-lagi. Kirana masih tak menjawab. Hingga beberapa saat berikutnya, dia hanya fokus memperhatikan raut wajah Aksa. Lebih tepatnya, memperhatikan reaksi pria itu.
"Rana, kamu--"
"Tentang kejadian waktu itu ...." Kirana mulai membuka suara setelah sekian lama. "Saya enggak tahu kenapa bisa--"
Belum sempat Kirana selesai menjelaskan apa yang terjadi padanya tempo hari, tiba-tiba saja Aksa telah menyela perkataannya. "Ah, tentang itu. Kamu enggak perlu khawatir," katanya tenang.
"Saya janji enggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Jadi, kamu tenang saja. Dan ..., saya juga mau minta maaf atas nama mama. Karena ulah beliau, kamu jadi harus mengalami hal yang enggak menyenangkan itu," jelas Aksa panjang lebar.
Kirana meringis di dalam hati saat itu. Merasa aneh pada dirinya yang mendadak sakit hati karena ucapan sang suami.
"Jadi, melakukan hal yang sudah seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri, merupakan kesalahan bagi Aksa?" Sebuah pertanyaan terlintas di kepala Kirana. Membuat rasa sakit yang telah bersarang di dadanya kian terasa menyakitkan.
Gila!
"Baik, Mas, terima kasih," ujar Kirana lirih. Sangat lirih, hingga nyaris tak terdengar oleh Aksa.
Setelah mengatakan hal itu, Kirana tak lagi berbicara. Pun, dengan Aksa. Mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Baru ketika mendengar suara ketukan di pintu kamarnya lah, kedua insan itu bereaksi.
"Biar saya yang buka," kata Aksa pada Kirana.
Kirana mengangguk. Namun, tetap ikut berjalan di belakang tubuh suaminya.
"T-tuan ...."
"Ada apa?" Aksa menatap wanita di depan pintu kamarnya dengan tatapan bingung. Merasa heran kenapa wanita itu sampai seterburu-buru ini.
"D-di b-bawah a-ada ...."
***
Beberapa pekan lagi berlalu sejak Kirana dan Aksa menuntaskan permasalahan tentang apa yang mereka lakukan malam itu. Juga sejak wanita yang sudah cukup lama tak ia temui, kembali hadir di tengah-tengah mereka.
Benar. Yang datang saat itu adalah Devina, kekasih Aksa. Sekaligus wanita yang sudah membuat ibu mertuanya sakit. Juga merupakan wanita yang menjadi alasan di balik hubungan harmonisnya dengan Aksa akhir-akhir ini.
Kirana tak tahu apa maksud kedatangan Devina. Namun, yang jelas, sejak saat itu dia kembali menemukan perubahan besar dalam diri Aksa. Seperti, sikapnya yang kembali seperti semula.
"Ya Allah ...." Kirana meringis pelan.
"Tolong tunjukkan jalan bagi hamba. Hamba bingung ...," pintanya lirih. Sangat lirih.
Sungguh! Kirana benar-benar bingung. Dia tak tahu harus melakukan apa. Tidak, ini bukan sekedar tentang perubahan sikap Aksa. Melainkan karena ....
"Rana!"
Perhatian Kirana teralihkan seketika saat mendengar panggilan dari arah luar. Dirinya memang tengah berada di toilet saat ini.
"Rana! Kamu enggak apa-apa, kan? Tolong jawab saya!" panggil orang itu lagi.
Menelan salivanya pelan, Kirana lantas menatap sebuah benda yang berada di dalam genggamannya. Ada rasa nyilu yang menjalar di dadanya ketika melihat benda tersebut.
"Aku harus apa?" tanya Kirana entah pada siapa.
"Rana! Buka pintunya! Kalau enggak, saya akan--"
"Sebentar, Mas," sahut Kirana setelah sekian lama. Tentu setelah menyembunyikan benda tersebut ke dalam saku celananya.
Beberapa detik kemudian, pintu yang sempat dikunci itu terbuka. Menampilkan sosok pria yang tampak menarik napas lega.
"Kamu apa-apaan, sih? Ngapain aja kamu di dalam sana?" tanya pria itu bertubi-tubi.
Alih-alih menjawab, Kirana justru menatap wajah Aksa dengan lamat. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar, tapi dia merasa kalau pria itu tengah mengkhawatirkannya saat ini. Terbukti dengan cara bicaranya yang menunjukkan kepanikan.
Kalau benar begitu. Berarti dia tak perlu khawatir, kan? Maksud Kirana, kalau memang Aksa khawatir padanya, berarti sedikit banyaknya ada dia di hati pria itu. Begitu, kan?
Jika benar ....
Meski hanya sedikit, tapi setidaknya itu sudah cukup untuk menjadi alasan bagi mereka mempertahankan pernikahan ini. Demi ....
-Bersambung-