"M-mas A-aksa ...." Kirana menatap takjub pada apa yang ada di depannya saat ini. "A-apa ini?" tanyanya tak percaya.
Sesekali, wanita itu tampak mengedip-ngedipkan mata, sambil menggelengkan kepala. Sungguh! Tak pernah terpikir dalam benaknya, kalau dia akan dihadapkan pada situasi seperti ini.
"Jangan berlebihan. Jangan bersikap seolah-olah kamu enggak pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya," sahut Aksa dari arah belakang Kirana.
Setibanya mereka di restoran yang telah dia reservasi. Kirana memang berjalan lebih dulu dari dirinya. Selain karena ia yang menyuruh, wanita itu juga tampak sangat antusias sampai tak memerhatikan apa pun, lagi.
Percaya tak percaya, diam-diam Aksa menyembunyikan senyuman di balik wajah datarnya. Tak bisa ia pungkiri, mendapat reaksi yang seperti ini dari sang istri membuat sesuatu di dalam dirinya menghangat.
Demi Tuhan, untuk pertama kalinya, Aksa merasa jadi suami yang baik bagi Kirana. Setidaknya begitu, sebelum ....
"Bilang aja kamu enggak mau cerai dari dia, kan?!"
Tiba-tiba, tak ada angin dan tak ada hujan, sebuah suara terlintas di telinga Aksa. Membuat pria yang sudah sempat nyaman dengan statusnya itu, jadi kembali tertampar kenyataan.
Ah, tidak! Tidak boleh begini! Aksa berusaha menepis pikiran gilanya. "Fokus pada tujuan awal, Sa!" ujar pria itu dalam hati.
"Tapi saya memang enggak pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya," aku Kirana tiba-tiba.
Aksa sempat tertegun saat mendengar pengakuan sang istri. Saat itu, dia tersadar bahwa selama ini Kirana hidup dalam sangkar emas yang telah orang tuanya buat.
Meski dikelilingi dengan kemewahan, tapi wanita itu tak pernah mendapatkan kebebasan. Hidupnya terkekang dengan segala aturan keluarga yang ada.
Ya Tuhan ....
Aksa meringis pelan sebelum akhirnya merangkul pundak Kirana dengan erat. "Ayo duduk!" ajaknya kemudian.
Meski sempat terkejut, tapi Kirana tetap menurut. Tentu saja! Memangnya apa yang harus ia lakukan selain menurut? Apa lagi, sejak awal pun, dirinya sudah berkomitmen untuk menikmati masa-masa pernikahan ini sampai batas waktu yang telah ditentukan.
"Terima kasih, Mas," kata Kirana tulus. Tepat setelah sang suami menarikan kursi untuk ia duduki.
"Enggak perlu berterima kasih."
Setelah mengatakan hal itu, Aksa ikut duduk pada kursi yang tersedia di hadapan Kirana. Untuk beberapa saat, tak ada yang mereka lakukan selain memperhatikan keadaan sekitar sambil sesekali saling tatap.
Berbeda dengan Kirana yang dengan terang-terangan menunjukkan ketakjuban di wajahnya, Aksa justru berusaha keras agar tak menampakkan hal itu.
Bukan, bukan karena dia tak senang ataupun tak merasakan hal yang sama. Sebaliknya, dia melakukan hal ini justru karena dirinya merasakan hal itu dengan sangat jelas. Dia merasakan apa yang istrinya rasakan. Sungguh!
"Ehm ...." Kirana berdehem pelan. Pun dengan Aksa. Kebetulan ini membuat keduanya kembali saling tatap sebelum akhirnya mengulas senyum.
Berbeda dari sebelumnya, sekarang Aksa tak lagi menyembunyikan tawa. Tak apa. Begitu pikirnya. Jika hanya sebatas ini, ia rasa aman.
"Mas--"
"Ran--"
Lagi-lagi. Kedua insan yang sempat diliputi dengan kecanggungan itu kembali saling tatap dan tertawa lepas karena kebetulan yang terjadi.
Benar-benar kebetulan yang kebetulan. Kali ini Kirana tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.
Jujur saja, melihat Aksa tersenyum lepas seperti ini membuat beban yang selama ini bersarang di dadanya serasa hilang begitu saja. Dia benar-benar bahagia sampai-sampai berpikir bahwa mereka tak pernah memiliki masa lalu yang buruk, sebelumnya.
Lucu sekali!
"Mas saja yang duluan," kata Kirana mempersilahkan. Namun, langsung ditolak oleh sang suami.
"Enggak. Kamu saja yang duluan," tolak Aksa. "Ladies first," sambungnya.
Mendengar hal itu, mau tak mau Kirana menurut. Menyampaikan isi pikirannya lebih dulu.
"Pertama-tama, terima kasih karena sudah mengajak saya ke tempat yang indah ini," ungkap Kirana tulus. "Jujur, saya merasa tersanjung dan sangat bahagia, karena seumur-umur belum pernah diperlakukan seistimewa ini oleh orang lain," sambung Kirana setelah sebelumnya sempat menghela napas pelan.
"Kemudian, terima kasih karena sudah menepati janji Mas untuk memperlakukan saya dengan baik. Terima kasih juga karena sudah membiarkan saya melakukan peran yang selama tiga tahun ini belum pernah saya jalankan. Sekali lagi terima kasih, Mas." Kirana menunduk dalam. Berusaha menyembunyikan cairan bening yang telah menggenang di pelupuk matanya.
Entah kenapa, dia selalu jadi lemah jika sudah memikirkan ataupun membicarakan tentang nasib pernikahannya.
Huh! Untuk kedua kalinya, wanita itu menghela napas pelan. Kemudian kembali membuka suara setelah merasa sedikit lebih baik.
"Untuk kejadian beberapa hari yang lalu. Saya benar-benar minta maaf atas nama bapak. Dan saya harap Mas mau memakluminya."
"Kamu enggak perlu meminta maaf, Ran. Apa yang bapak katakan itu memang benar. Lagi pula, saya tahu kenapa beliau sampai semarah itu," sahut Aksa buru-buru.
Melihat raut wajah Kirana yang seperti ini membuat Aksa sedikit banyaknya merasa terbebani. Dia sedih dan merasa bersalah. Lebih dari pada itu, dia merasa tak pantas mendapatkan ucapan terima kasih yang begitu besar dari sang istri.
Bukan ucapan terima kasih, harusnya dia mendapat cacian dan makin dari wanita itu.
"Terima kasih atas pengertiannya. Dan untuk yang terakhir ...." Kirana menjeda kalimatnya selama beberapa saat. Kemudian kembali melanjutkan perkataan setelah berhasil meyakinkan diri.
"Sekarang keadaan mama sudah jauh lebih baik, Mas. Sepertinya, sudah saatnya bagi kita untuk mengakhiri semua ini."
Bagai tersambar petir di siang bolong, rasanya tubuh Aksa membeku seketika saat mendengar pernyataan Kirana.
Bodoh! Buru-buru Aksa menghardik diri sendiri. Bukankah ini yang dia mau? Mengakhiri kesepakatan sekaligus mengakhiri pernikahan yang sejak awal tak dia inginkan.
Harusnya dia senang, kan? Ya! Harusnya begitu. Namun, entah kenapa rasanya justru seperti ....
"Mas tenang saja, saya akan bicara pada mama baik-baik. Sebisa mungkin saya akan memberikan pengertian kepada beliau. Lalu, setelah mendapatkan persetujuan, kita bisa langsung mengurus perceraian. Kalau mau, Mas bahkan bisa menalak saya sekarang. Dan saya akan segera mengemasi barang-barang--"
"Kirana!" sela Aksa tiba-tiba.
Kirana yang mendengar hal itu sontak memfokuskan pandangannya pada sang suami. Sambil meremas kedua tangan dengan pelan, dia berusaha menyalurkan kegugupan.
"Iya?"
"Apa bisa tunggu sebentar lagi?"
"M-maksud Mas? T-tunggu apa?"
"Jangan bercerai dulu. Walau bagaimanapun juga, mama baru sekali pulang dari rumah sakit. Saya khawatir kalau keadaan mama akan memburuk lagi setelah mendengar kabar mengejutkan ini. Kalau itu sampai terjadi, mungkin mama akan benar-benar ...."
"Jangan bicara sembarangan, Mas! Mama enggak mungkin kenapa-kenapa!" sambar Kirana berapi-api. Ada ketidaksenangan yang terpancar jelas dari nada bicaranya. Dan hal itu disadari langsung oleh Aksa.
"Mama pasti baik-baik aj--"
"Enggak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya, Ran. Bukannya saya berharap terjadi apa-apa pada beliau, hanya saja, akan lebih baik rasanya kalau kita mengantisipasi."
"Bertahanlah sebentar lagi. Hanya sampai mama benar-benar pulih sepenuhnya. Saya mohon ...."
Kirana terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. Kalau boleh jujur, sebenarnya sejak awal pun, dia tak pernah ingin mengakhiri pernikahan ini. Apa lagi, setelah melewati hari-hari bersama Aksa sebagai sepasang suami istri yang sesungguhnya.
Namun, terlepas dari itu semua. Kirana tak mau melanjutkan peran ini lagi. Lebih tepatnya, dia tak bisa. Karena tak peduli senyaman apa dirinya, dan sebaik apa Aksa padanya, akhir dari semua ini tetaplah satu. Yaitu ..., PERCERAIAN.
Maka dari itu, semakin lama mereka bersama. Semakin lama ia menikmati peran ini. Maka semakin sakit pula lah, ia nanti. Begitu pikir Kirana.
"Ran, gimana?" tanya Aksa penuh harap.
Kirana yang baru tersadar lantas kembali menatap Aksa. "Mama pasti baik-baik saja, Mas," jawabnya akhirnya.
Aksa mendesah pelan. Sedikit kecewa karena jawaban Kirana tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Saya akan jelaskan pada mama baik-baik. Dan saya yakin, mama pasti akan mengerti. Beriringan dengan hal itu, Mas bisa pelan-pelan perkenalkan Mbak Devina ke mama dan papa. Rebut hati mereka dengan keseriusan kalian." '
"Tapi, Ran--"
"Tolong jangan halangi saya, Mas," sambar Kirana cepat. Sangat cepat, bahkan sebelum Aksa sempat menyelesaikan perkataannya.
"Kalau bukan sekarang, saya enggak tahu kapan bisa membuat keputusan seperti ini lagi," sambungnya sebelum pergi meninggalkan Aksa dengan perasaan berkecamuk.
***
Kirana ingat betul, tadi malam ia pergi meninggalkan Aksa karena tak ingin goyah pada bujukan pria itu. Kirana juga ingat betul kalau dia mantap memutuskan untuk mengakhiri kesepakatan mereka. Lebih dari pada itu, Kirana ingat betul kalau dirinya tak pernah berniat melakukan hal gila pada pria yang akan segera bercerai dengannya.
Lalu, apa ini? Kenapa sekarang ia bisa bangun di ranjang yang sama dengan pria itu? Terlebih ..., dalam keadaan yang ....
"Aaarggghhhhh!!!"
-Bersambung-