Masa Lalu yang Menyakitkan

1352 Words
"KAMU APAKAN IBUMU, KIRANA?!" "Awas saja! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan ibu, ini semua salah kamu!" Berbagai cacian dan makian tak henti-hentinya terlontar dari mulut semua orang yang ada di kediaman Kirana. Bukan sekedar mencaci, mereka juga turut menatap benci ke arah seorang gadis yang bahkan masih mengenakan setelah kebaya pernikahan. "DASAR ANAK ENGGAK TAHU DI UNTU--" "Innalillahiwainnailaihirojiun. Sudah enggak ada, Pak." Tubuh Kirana menegang seketika saat mendengar kalimat demi kalimat yang diutarakan oleh bidan desa yang kebetulan berada di rumahnya. "KIRANA! KAMU PEMBUNUH!!!" teriak sang ayah berang. Kirana masih sangat terguncang saat itu. Saking terguncangnya, dia bahkan sampai tak bisa merespons perkataan orang-orang sama sekali. Tubuhnya serasa membeku. Bayangan-bayangan tentang kejadian beberapa menit lalu masih terpatri dalam ingatannya. Sungguh! Kirana benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Semua ini terlalu mendadak. "I-ibu ...." Kirana bergumam pelan. Sedetik kemudian, sebuah cairan bening mengalir melalui sudut matanya. Setelah melihat tubuh wanita yang telah melahirkannya ditutupi menggunakan kain jarik, ia baru sadar bahwa semuanya sedang tak baik-baik saja. "I-ibu!!!" teriaknya histeris. Diiringi dengan deraian air mata. Baru saja Kirana ingin menghampiri tubuh kaku sang mama, dirinya sudah lebih dulu dihalangi oleh ayah dan parah keluarga. Bukan sekedar menghalangi, mereka juga turut mendorongnya dengan keras. "Jangan pernah sentuh tubuh ibumu!" kata sang ayah memperingatkan. Kirana yang tak tahu harus berbuat apa hanya dapat menangis pilu saat itu. Meratapi kepergian sang mama sambil menyalahkan diri sendiri. Andai ..., andai ia tak melawan kehendak mamanya, mungkin semua ini tak akan terjadi. Andai ia tak menolak dijodohkan dan tak banyak protes meski tahu bahwa Aksa akan pergi, mungkin sekarang mamanya akan baik-baik saja. Semua ini salahnya. Benar-benar kesalahannya! Setidaknya, itu yang tertanam dalam pikiran Kirana akibat kemarahan serta tuduhan yang tak henti-henti dilayangkan kepadanya oleh para keluarga. "Pergi kamu dari sini!" usir ayah Kirana tiba-tiba. "Mulai sekarang, bapak putuskan hubungan ayah dan anak di antara kita. Kamu bukan anak Bapak lagi!" Hancur sudah! Detik di mana kata-kata menyakitkan itu keluar dari mulut sang ayah, di detik itu pula Kirana merasa kalau dunianya telah runtuh. Di detik yang sama, untuk pertama kalinya, Kirana mulai berpikir untuk mati. Menyusul sang mama yang pergi karena ulahnya. Sungguh! Ingatan-ingatan kelam ini tak pernah sekalipun beranjak dari kepala Kirana. Nyaris setiap detail kejadian saat itu, masih bisa ia ingat dengan jelas. Bagaimana reaksi ayah dan para keluarga saat melihat tubuh sang mama terkapar di lantai. Bagaimana reaksi orang-orang saat mengetahui bahwa tubuh sang mama telah tak bernyawa lagi. Juga bagaimana reaksi yang diberikan orang-orang kepadanya setelah sang ayah memutuskan ikatan keluarga di antara mereka. Kirana ingat dengan jelas semua itu! "Hiks! Maafkan Rana, Bu ...." "Rana minta maaf ...." "I-ibu ..., hiks!" Isakan pilu yang menyayat hati memenuhi gendang telinga Aksa dan juga Ema. Membuat kedua insan itu saling tatap sebelum akhirnya sama-sama menghela napas panjang. "Jangan bilang pada Kirana kalau kamu sudah tahu semuanya," kata Ema memperingatkan. Beberapa waktu yang lalu, wanita paruh baya itu menceritakan segala hal yang berkaitan dengan Kirana kepada Aksa. Baik tentang apa yang terjadi setelah ia pergi di hari pernikahan mereka. Maupun tentang masa-masa sulit yang harus wanita itu hadapi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. "Kenapa enggak cerita dari awal, Ma? Kenapa baru cerita sekarang? Enggak tahu kah, Mama, kalau Aksa benar-benar merasa jadi lelaki paling b******k saat ini?" tanya Aksa frustrasi. "Di mata mama, kamu memang sudah jadi lelaki paling b******k, Aksa!" sahut Ema dengan nada tak suka. Tak sedikit pun, ia berniat memberi simpati kepada sang putra. "Lagi pula, kalau Mama kasih tahu sejak awal, memangnya keputusanmu akan berubah? Kamu mau pulang dan memperbaiki pernikahan kalian?" Aksa tertegun saat mendengar pertanyaan ini. "I-itu ...." "Tanpa perlu dijawab pun, Mama sudah tahu apa jawaban kamu, Aksa. Mustahil kamu yang egois itu mau kembali dan memberi dukungan kepada Kirana." Ema kembali menghela napas. Sesekali, dia turut memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. "Mama benar-benar merasa bersalah," katanya lirih. "Karena kita, dia jadi harus mengalami masa-masa sulit di usianya yang bahkan masih sangat muda." Ema meringis dalam hati setelah mengatakan hal itu. Membayangkan kehidupan sang menantu yang sama sekali tak mudah sejak kematian sang mama membuat rasa bersalahnya semakin besar. "Andai sejak awal Mama dan papa enggak merencanakan pernikahan bodoh itu, mungkin sekarang Kirana sedang asyik-asyiknya menikmati hidup. Dia anak yang pintar, punya mimpi yang besar, tapi karena kita, mimpi itu harus dia kubur dalam-dalam," kata Ema kemudian. Sungguh! Ema benar-benar merasa jahat pada Kirana. Apa lagi, jika mengingat betapa mereka menjadi penghalang bagi wanita itu dalam meraih mimpi-mimpinya. Tidak, kalau boleh jujur, sebenarnya Ema tak keberatan jika Kirana ingin mengejar mimpi-mimpinya. Hanya saja ..., masalah ada pada diri sang suami. Sejak dulu, pria itu selalu berkeras ingin punya menantu yang bisa diandalkan di rumah. Statement tentang seorang wanita yang hanya perlu mengurus rumah, anak dan suami selalu tertanam dalam pikirannya. Percaya tak percaya, dahulu pun Ema diperlakukan seperti ini. Sejak awal menikah, tak ada yang dapat ia lakukan selain mengurus anak dan suami. Baru ketika anaknya sudah dewasa lah, ia bisa mulai menyibukkan diri dengan membuat usaha. Itu pun, kalau tak dipaksa, suaminya tak akan memberi izin. "Tapi sayang, nasi sudah menjadi bubur. Enggak peduli seberapa menyesalnya Mama, semua sudah telanjur terjadi. Enggak ada yang bisa Mama lakukan untuk Kirana selain membuatnya merasa nyaman tinggal di rumah ini." "Karena itu, Mama benar-benar berharap kalau kamu akan ikut membayar kesalahan kamu pada Kirana, Sa. Perlakukan dia dengan baik. Cintai dan sayangi dia. Jangan sakiti dia lagi. Bisa, kan?" Aksa tertegun. Tak tahu harus menjawab bagaimana. Kalau disuruh memperlakukan Kirana dengan baik, tentu saja dia tak keberatan. Sekarang pun, dirinya sedang berusaha melakukan hal itu. Namun, tentang mencintai dan menyayangi .... I-ini ..., sepertinya sulit. Tak sulit sebenarnya, hanya saja ..., ia tak bisa semau-maunya melakukan hal itu karena ada hati lain yang harus dijaga. "Bisa, Ma," jawab Aksa akhirnya. Meski merasa bersalah, tapi ia memutuskan untuk berbohong di hadapan sang mama. Bukan tanpa alasan. Masalahnya, semua orang juga tahu bagaimana kondisi wanita itu. Mendengar kabar yang tak dia inginkan pasti hannya akan membuat kondisi kesehatannya memburuk. "Baiklah. Mama akan pegang kata-katamu," sahut Ema. Setelah itu, tak ada yang saling bicara lagi di antara mereka. Baik Ema maupun Aksa hanya fokus menatap Kirana yang masih tampak meracau, memanggil nama ibunya. Menurut keterangan dokter, keadaan wanita itu baik-baik saja. Dia pingsan hanya karena mengalami syok berlebih. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, meskipun begitu, tetap saja semua orang khawatir. Terutama Ema, Aksa dan juga ..., Arif. Bukan hanya khawatir, pria paruh baya itu juga turut merasa bersalah. Dan rasa bersalahnya jadi semakin besar, tatkala mendengar pengakuan sang putri beberapa waktu lalu. "Saya akan pergi dulu," kata Arif yang tiba-tiba datang. Entah dari mana. "Lho, kenapa? Enggak mau tunggu Rana bangun dulu?" tanya Ema penasaran. "Enggak perlu. Saya enggak mau buat dia merasa enggak nyaman," jawab Arif cepat. "Tapi meskipun begitu, saya pasti akan kembali lagi. Dan kalau sampai saat itu Aksa masih saja berhubungan dengan wanita lain, saya enggak akan tinggal diam!" sambungnya penuh penekanan. Aksa yang mendengar hal ini hanya dapat menunduk dalam. Selain karena tak ingin berdebat dengan ayah mertuanya, dia juga tahu bahwa kata-kata itu pantas ia dapatkan. "Tenang saja, Rif. Sebelum kamu bertindak, saya yang akan bertindak duluan kalau Aksa berani main-main lagi." Kali ini Andra yang menyahut. Sebisa mungkin pria paruh baya itu meyakinkan besannya. "Kupegang kata-katamu, Ndra." Setelah mengatakan hal itu, tanpa berbasa-basi lagi, Arif pergi meninggalkan kediaman itu. Dalam keadaan seperti ini, tak ada yang dapat ia lakukan selain berpasrah kepada Tuhan. Berharap yang terbaik untuk kehidupan sang putri. *** Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian menegangkan di kediaman Adipura. Sejak saat itu, Kirana tak pernah lagi mendengar kabar tentang ayahnya. Baik dari pria paruh baya itu langsung, maupun dari orang-orang di sekitarnya. Mereka semua bersikap seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Terkecuali ..., Aksa. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar, tapi Kirana merasa kalau sikap Aksa banyak berubah sejak hari itu. "Nanti malam siap-siap, ya. Saya mau ajak kamu ke suatu tempat," katanya tiba-tiba. "Ke mana, Mas?" "Siap-siap saja." Lihat! Apa Kirana bilang? Ini bahkan hanya sebagian kecil dari perubahan yang dia rasakan. Entah apa yang terjadi pada pria itu sebenarnya. -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD