"Terus apa maksud dari perkataanmu tadi, Sa?" Ema menatap sang putra serius. "Hati siapa yang mau kamu jaga?" sambungnya.
Meski sempat merasa bersalah, tapi Ema juga tak bisa mengabaikan apa yang ia dengar barusan.
"I-itu ...."
"Tentu saja hati Rana, Ma. Hati siapa lagi?" Kirana yang entah datang sejak kapan tiba-tiba menyela percakapan Aksa dan mamanya.
Dengan senyum merekah, wanita itu menghampiri kedua insan yang tampak terkejut. "Dari pada sibuk mikirin hal yang enggak perlu, lebih baik sekarang kita makan malam. Kebetulan makannya sudah siap," katanya penuh perhatian.
Setelah mengatakan hal itu, buru-buru Kirana menggandeng tangan sang suami. Kemudian mengusapnya dengan lembut. "Ayo, Mas," ajaknya kemudian.
Aksa yang sempat tertegun langsung mengangguk saat merasakan sentuhan Kirana. Mendadak ia salah tingkah akibat sentuhan yang harusnya tak berarti apa-apa.
Celaka! Aksa menggerutu di dalam hati. Lagi-lagi senjata makan tuan.
***
"Kirana, ke sini sebentar!"
Perhatian Kirana yang semula tertuju pada sebuah buku bacaan, teralihkan seketika saat mendengar perintah yang ditujukan kepadanya.
Sadar bahwa yang menyuruh adalah sang ibu mertua, wanita itu lantas bergegas. Berdiri dan menghampiri ibu mertuanya setelah sebelumnya sempat meletakkan buku di atas meja.
"Ada apa, Ma?" tanya wanita itu sopan. "Ada yang perlu saya bantu?" sambungnya.
Ema menggeleng cepat saat itu. Bukan karena tak membutuhkan bantuan, tapi karena memang tujuannya datang ke kamar sang menantu bukan untuk itu, melainkan untuk ....
"Ikut Mama ke bawah dulu, ada yang--" Belum sempat Ema menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja suara seseorang telah lebih dulu menginterupsi.
"JANGAN HALANGI AKU!"
"DI MANA DIA?"
"KIRANA!"
Dada Kirana bergemuruh hebat saat mendengar teriakan penuh emosi itu. Pikirannya yang semula sangat tenang, kini mendadak kacau saat melihat siapa orang yang tengah berjalan ke arahnya.
"B-bapak ...." Tanpa sadar Kirana bergumam.
Benar, yang datang adalah ayahnya, Arif. Orang yang dulu sangat ia hormati, tapi menjadi orang yang paling ia benci saat ini. Orang yang harusnya menjadi garda terdepan dalam melindunginya, tetapi justru menjadi orang yang paling semangat menjatuhkannya ke lubang penderitaan. Dan ..., orang yang harusnya menjadi tempatnya kembali, tapi justru menjadi tempat yang paling ingin ia hindari.
Sungguh! Kirana benci pada ayahnya. Dan dia lebih benci pada dirinya yang selalu saja lemah jika berhadapan dengan orang itu.
Ya Tuhan ....
Kirana meringis di dalam hati. Diam-diam, dikepalkan kedua tangannya sebagai bentuk pertahanan diri.
"Rana! Ayo ikut Bapak!" titah pria paruh baya yang baru saja tiba di depan Kirana.
Dengan napas memburu serta wajah merah padam, pria itu meraih pergelangan tangan Kirana. Berniat membawa sang putri pergi bersamanya, sebelum ....
"Mau apa Bapak ke sini?" tanya Kirana to the point.
Tanpa banyak berbasa-basi, dia menepis cekalan ayahnya. Kemudian mundur beberapa langkah sembari menatap pria paruh baya itu dengan tajam.
"Bapak datang karena peduli sama kamu, Rana! Bapak mau bawa kamu pulang! Bapak enggak mau kamu tinggal di rumah ini lagi! Lebih dari pada itu, Bapak enggak mau kamu bertahan dengan laki-laki b******k itu!" jawab Arif berapi-api.
"Arif, tenang dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Bukan Kirana, yang menyahuti perkataan ayahnya justru Andra, sang ayah mertua.
Pria yang umurnya terpaut beberapa tahun dari ayah Kirana itu berusaha menenangkan sang sahabat karib yang sejak datang sudah menunjukkan tanda ketidakpuasan.
Ingatan Andra kembali pada kejadian beberapa menit lalu. Saat ia sedang bersantai di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hitam. Saat itu, tanpa ada angin dan tanpa ada hujan, seseorang tiba-tiba saja menggedor pintu pagar kediaman mereka dengan membabi buta.
Hal ini tentu membuatnya merasa berang. Dia kesal pada orang yang dinilai tak tahu sopan santun karena merusuh di rumah orang lain. Namun, kekesalan itu seketika sirna saat dirinya tahu siapa si perusuh sebenarnya.
"DI MANA ANAKKU?" Itu salah satu pertanyaan yang Arif layangkan saat pertama kali bertemu dengannya.
Tidak, Andra bukannya tak berusaha menenangkan sahabatnya sama sekali. Ia berusaha. Tentu saja! Hanya saja ..., menghadapi orang yang sudah termakan emosi, tentu bukan perkara mudah.
Bukan hanya harus banyak-banyak menahan diri agar tak ikut terpancing emosi, dia juga harus bersikap baik karena walau bagaimana pun, pria itu bukan hanya sekedar sahabat, tapi juga merupakan ayah dari menantunya.
"AYO, KIRANA! CEPAT KEMASI BARANG-BARANGMU! KITA PERGI DARI SINI!" Perkataan Arif membuat kesadaran Andra kembali.
Sadar bahwa Arif tak menghiraukan perkataannya, pria paruh baya itu lantas menghadang jalan. Berusaha menghentikan aksi sang sahabat.
"Jangan bertindak sembrono, Rif!" kata Andra memperingatkan.
Arif yang mendengar hal itu lantas menatap pria di depannya dengan berang. "Peduli setan! Mau aku bertindak sembrono atau enggak, itu bukan urusanmu!" balasnya sengit.
"Mulai sekarang, urusi saja putramu yang b******k itu! Biar aku yang urusi putriku sendiri!"
"Apa maksud kamu, Rif? Kenapa kamu seperti in--"
"CUKUP!"
Perhatian kedua insan yang tengah sibuk bersitegang itu langsung teralihkan pada Kirana yang secara tiba-tiba menginterupsi. Bukan hanya perhatian mereka, tapi juga perhatian pria lain yang baru saja datang dengan raut wajah bingung.
"Ada apa ini?" tanya pria yang tak lain adalah Aksa.
Namun, tak ada yang menjawab pertanyaan pria itu. Semua orang yang berada di sana justru sibuk saling tatap dengan perasaan berkecamuk.
Arif menatap sang menantu dan besannya dengan tatapan yang serat akan kemarahan. Sementara Kirana menatap ayahnya dengan tatapan yang serat akan rasa muak dan kecewa.
"Ran--" Aksa baru akan bertanya pada sang istri saat itu. Namun, belum sempat benar-benar bertanya, perkataannya telah lebih dulu terhenti karena ....
"Pergi, Pak!" Kirana mengusir ayahnya, tepat di hadapan semua orang. Bukan sekedar mengusir, wanita itu juga kembali menepis cekalan sang ayah untuk kedua kalinya.
Mendengar hal itu, semua orang yang berada di sana lantas menatap Kirana tak percaya. Mereka kaget. Setengah tak menyangka kalau wanita itu akan mengusir ayah kandungnya tanpa belas kasih.
"Ran ..., jangan begini, Nak. Kita bisa bic--" Ema yang biasanya selalu didengarkan oleh Kirana pun, kini tak bisa berbuat apa-apa kala sang menantu menyela perkataannya.
"Enggak ada yang perlu dibicarakan, Ma. Rana hanya mau Bapak pergi dari sini."
Kirana menatap ayahnya yang masih tak bergeming setelah mendapat pengusiran darinya. "Pergi, Pak. Rana enggak mau ketemu sama Bapak!" katanya lagi.
"Tega kamu mengusir bapak, Ran? Bapak ini orang tua kamu! Orang yang sudah membesarkan kamu dari kecil! Dan sekarang kamu mengusir Bapak, hanya karena orang-orang yang sudah banyak menyakiti kamu ini" tanya Arif bertubi-tubi. Sungguh sakit hatinya saat mengatakan hal ini.
Arif tahu, dia tak pantas merasa sakit hati begini. Apa lagi jika mengingat bahwa dirinya lah, yang telah menjerumuskan sang putri ke dalam lubang penderitaan. Namun, meskipun begitu ....
Ah, tidak! Tak peduli apa yang sudah ia lakukan di masa lalu, kenyataan bahwa dirinya adalah ayah Kirana tak bisa dipungkiri. Jadi, wajar kalau dia sakit hati diperlakukan seperti ini,kan?
Setidaknya, itu yang Arif pikirkan sebelum sebuah kalimat menohok keluar dari mulut sang putri.
"Harusnya Bapak sadar, siapa yang menyakiti Rana lebih dulu. Bukan mereka, tapi Bapak!"
"Sebesar-besarnya sakit yang Rana dapat dari Mas Aksa, masih lebih besar sakit yang Rana dapat dari Bapak!"
"Bapak! Bapak yang sudah membuat hidup Rana hancur! Bapak yang sudah membuat Rana terjerumus ke dalam jurang penderitaan ini! Dan Bapak juga yang sudah membuat Rana berulang kali berpikir untuk mengakhiri hidup!" cecar Kirana bertubi-tubi.
Diungkapkan segala keluh kesahnya kepada sang ayah. Berharap hal itu dapat membuat dadanya yang selama ini sesak, jadi terasa sedikit lega.
Namun, bukannya lega, semakin lama d**a Kirana justru terasa semakin sesak. Segala hal yang dikatakannya barusan, memunculkan kembali kenangan-kenangan buruk yang selalu coba ia lupakan.
Sakit!
Kirana memegang dadanya yang terasa semakin sesak. Tenggorokannya yang tercekat semakin memperburuk keadaan.
"Kirana benci Bapak!" kata Kirana sebelum tak sadarkan diri.
"KIRANA!!!" Semua orang yang berada di sana berteriak panik. Tak terkecuali Aksa.
Bagaimana tidak, pasalnya ..., orang yang selama ini selalu terlihat kuat dan tegar, mendadak tak sadarkan diri. Terlebih dengan tubuh yang terlihat sangat pucat.
-Bersambung-