"Kenapa?" Aksa menatap Kirana dengan tatapan yang tak dapat diartikan. "Dari sekian banyaknya hal yang bisa kamu minta, kenapa kamu malah meminta hal ini?" tanyanya kemudian. Merasa penasaran dengan alasan di balik permintaan sang istri.
Ah, tidak! Aksa bukannya keberatan memenuhi permintaan Kirana. Nyatanya, memperlakukan wanita yang sudah sangat banyak membantunya itu dengan baik bukanlah perkara sulit. Hanya saja ....
"Apa enggak ada hal lain yang benar-benar kamu inginkan dari saya?" tanya Aksa lagi. "Jangan berpikir yang enggak-enggak. Tolong kesampingkan dulu harga diri kamu. Maksud saya, kita berbicara tentang realita saja. Di era ini, bukan perkara mudah untuk mencari pekerjaan dengan gaji besar. Apa lagi, maaf, kamu belum punya pengalaman kerja sama sekali," ungkap Aksa sebelum menjeda kalimatnya.
"Lantas, kenapa kamu enggak mau meminta sesuatu seperti uang ataupun salah satu usaha milik saya yang sudah berkembang? Dengan begitu, mungkin kamu enggak perlu memikirkan tentang biaya hidup dalam waktu yang lama," sambung pria itu hati-hati. Sebisa mungkin ia memperjelas pertanyaannya agar Kirana muda mengerti.
"Masalah bagaimana cara saya menyambung hidup di masa depan, biarlah itu menjadi urusan saya, Mas. Lagi pula, mau saya kenyang atau kelaparan, saya enggak akan melapor pada siapa pun. Jadi, jangan risau," sahut Kirana tenang. Sangat tenang, hingga mampu membuat siapa saja yang melihatnya berpikir bahwa wanita itu benar-benar tak memiliki beban pikiran sedikit pun.
"Dan tentang alasan kenapa saya mengajukan permintaan itu ...." Kirana menggantung kalimatnya selama beberapa saat. Mencoba merangkai kata-kata yang pas untuk disampaikan kepada sang suami.
"Saya hanya ingin membuat mama tenang. Supaya beliau bisa fokus dalam masa penyembuhan tanpa perlu mengkhawatirkan nasib rumah tangga kita. Selain itu, saya juga ingin memberikan kesan yang baik bagi beliau sebelum memutuskan hubungan ini," jelas Kirana akhirnya.
Tidak. Sejujurnya, itu bukanlah alasan utama Kirana. Memang benar kalau dia ingin membuat ibu mertuanya tenang. Benar juga kalau dia ingin memberikan kesan yang baik kepada sang ibu mertua sebelum berpisah dengan Aksa. Namun, lebih dari pada itu, dirinya ingin merasakan momen-momen berumah tangga.
Momen-momen yang tak pernah ia rasakan setelah tiga tahun menjalin pernikahan dengan Aksa.
Huh! Benar-benar miris. Kirana meringis di dalam hati. Mencoba menyembunyikan kegalauan yang sejak beberapa menit lalu telah bersarang di dalam dadanya.
"Kamu enggak perlu sampai seperti itu, Ran. Pikirkan juga dirimu. Jangan hanya memikirkan orang lain."
"Saya pasti akan melakukan itu, Mas!" sambar Kirana cepat. "Tapi bukan sekarang. Nanti, akan ada kalanya saya menjadi manusia yang hanya memikirkan diri sendiri. Saya enggak akan peduli pada apa pun lagi dan pada siapa pun, lagi. Jadi, jangan khawatir. Saat ini, saya adalah orang yang paling tahu apa yang harus saya lakukan."
"Baiklah, kalau memang begitu. Saya akan penuhi permintaanmu," putus Aksa akhirnya.
Meski berat, tapi Aksa akan berusaha sebisa mungkin untuk memenuhi keinginan Kirana.
Sampai batas waktu yang telah mereka tentukan, ia akan memainkan peran sebagai suami yang baik bagi Kirana. Suami yang selalu memberikan perlindungan, kehangatan dan perhatian. Setidaknya, itu yang Aksa pikirkan, sebelum dirinya teringat akan sesuatu.
Permintaan ini bertentangan dengan komitmennya bersama Devina.
Ya Tuhan ....
"Ran, sepertinya--"
"Mas enggak diizinkan untuk berubah pikiran!" sela Kirana sebelum Aksa sempat menyelesaikan perkataannya.
Mendengar hal itu, tak ada yang dapat Aksa lakukan selain menelan salivanya dengan susah payah. Entah apa yang harus ia lakukan setelah ini.
***
Singkatnya, beberapa hari lagi telah berlalu sejak kejadian hari itu. Kejadian yang membuat kehidupan Kirana berubah seratus delapan puluh derajat.
Sesuai kesepakatan, Aksa memperlakukannya dengan sangat baik. Benar-benar selayaknya seorang suami memperlakukan istri pada umumnya.
Mereka tidur di kamar yang sama, bahkan ranjang yang sama. Mereka juga saling memperhatikan satu sama lain. Bukan hanya itu, Aksa juga membiarkan Kirana melakukan perannya sebagai seorang istri, seperti menyiapkan segala kebutuhannya hingga memasakkan makanan untuknya.
Kecuali melakukan hubungan suami istri, benar-benar tak ada yang mereka lewatkan sedikit pun. Percaya tak percaya, beberapa waktu melakukan hal seperti ini membuat sebuah rasa timbul di dalam diri mereka masing-masing. Berbeda dengan Kirana yang bahagia dan tak ingin menampik rasa itu, Aksa justru berusaha keras menepisnya.
Dengan dalih ingin menjaga perasaan sang kekasih, pria itu lantas menekankan kepada dirinya sendiri bahwa semua ini hanyalah sebuah kesepakatan yang tak berarti apa-apa.
"Jangan terlena, Aksa! Ingat! Ada hati yang harus kamu jaga!" Begitu ia meyakinkan diri.
"Hati siapa yang mau kamu jaga?"
Perhatian Aksa teralihkan seketika saat mendengar suara seseorang di belakangnya. "Mama! Bikin kaget aja!" protesnya setelah tahu bahwa yang datang adalah sang mama.
"Hati siapa yang mau kamu jaga?" tanya Ema lagi. Tak dipedulikannya protesan sang putra.
Ah, memangnya siapa yang peduli dengan hal itu di saat seperti ini? Terlebih setelah ia baru saja mendengar sesuatu yang mencurigakan.
"I-itu ...." Aksa menjeda kalimatnya. Merasa bingung harus mengatakan apa.
Jika ia menjawab jujur, pasti mamanya akan sangat marah. Bukan hanya marah, kondisi mamanya juga pasti akan kembali drop.
Tidak! Tak peduli apa pun, yang terjadi, ia tak boleh membiarkan kondisi sang mama memburuk. Apa lagi, baru kemarin wanita paruh baya itu keluar dari rumah sakit. Aksa bertekad di dalam hati.
"Aksa! Jangan bilang kamu belum benar-benar putus dari wanita itu?" tanya Ema curiga.
Bukan tanpa alasan Ema bertanya begini. Masalahnya, selain baru saja mendengar sesuatu yang mencurigakan, sejak awal dia tak pernah benar-benar percaya kalau putranya itu telah berpisah dari sang kekasih.
Maksud Ema, bagaimana mungkin seorang pria bisa melepaskan kekasihnya begitu saja, hanya karena permintaan ibunya yang sedang sakit? Memang bukan hal yang mustahil, tapi jika Aksa yang melakukannya, mungkin hal itu akan jadi mustahil.
"Mana mungkin begitu, Ma. Jelas-jelas Aksa sudah putus dari Devina. Mama sendiri tahu apa yang Aksa lakukan akhir-akhir ini, kan? Selain pergi ke kantor, Aksa selalu berada di sisi Kirana," kata Aksa menyangkal. "Bukannya mata dan telinga Mama ada di mana-mana?" tanyanya kemudian.
Setelah mengatakan hal itu, buru-buru Aksa meraih kedua pundak mamanya. Berusaha meyakinkan wanita paruh baya itu bahwa ia dan sang kekasih telah benar-benar berpisah. Meski pun, pada kenyataannya tak begitu.
"Sebegitu sulitnya kah, percaya sama anak sendiri?" tanya Aksa lirih. Sengaja ia menurunkan nada suaranya. Berbicara seolah-olah kecewa karena tak dipercayai.
Dan ..., sesuai dugaan. Aksi Aksa kali ini membuat mamanya goyah. Rasa curiga yang tertanam sejak lama pun, kini berangsur menghilang. Tergantikan dengan rasa bersalah yang menggunung.
"Maaf. Mama bukannya enggak percaya sama kamu, tapi--"
"Aksa enggak mungkin mengecewakan Mama. Percaya sama Aksa, Ma," sela Aksa cepat.
-Bersambung-