"Perlakukan Saya Sebagai Istri!"

1125 Words
"Jangan terlalu polos, Kirana. Kamu enggak berpikir untuk hidup seperti ini selamanya, kan?" Hingga beberapa saat berikutnya, Kirana tak kunjung menjawab. Wanita yang hari ini tampil cantik dengan rambut diikat sederhana itu masih belum mampu mencerna suasana. Sementara itu, Aksa yang telah lebih dulu paham lantas berusaha menghentikan kegilaan mamanya. "Ma, cukup. Jangan buat Kirana merasa enggak nyaman," katanya berusaha mengingatkan. Mendengar hal itu, sontak saja Ema menatap putranya dengan tatapan tak senang. "Kirana atau kamu yang merasa enggak nyaman?" todong Ema kesal. "Dengar ya, Aksa. Meski pun kamu mengaku sudah putus dengan wanita itu, tapi Mama enggak bisa percaya begitu aja! Lagi pula, bukan enggak mungkin kalau suatu saat kamu bakal balik lagi sama dia. Jadi, untuk mengantisipasi hal itu, Mama butuh jaminan!" sambung Ema kemudian. Sengaja ia menjeda kalimatnya selama beberapa saat agar dapat mengatur napas yang terasa ngos-ngosan. Kemudian, setelah merasa jauh lebih baik, baru lah, ia kembali membuka suara. "Dan satu-satunya jaminan yang bisa membuat Mama tenang hanyalah cucu. Mama butuh cucu dari kalian. Dengan begitu, kalaupun nanti kamu macam-macam, kami enggak perlu khawatir. Karena ada penerus yang bisa menggantikan posisi kamu di keluarga ini!" jelas wanita yang tak muda lagi itu. Tidak, Ema bukan mengatakan hal ini semata-mata untuk menakut-nakuti Aksa, putranya. Sebaliknya, apa yang ia katakan ini justru merupakan sebuah peringatan bagi pria itu. Peringatan, sekaligus jaminan bagi sang menantu agar tak perlu khawatir akan posisinya. Maksud Ema, ia ingin Kirana tahu bahwa meski kelak Aksa akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang pria itu lakukan beberapa tahun kebelakang ini, dia tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Posisinya sebagai satu-satunya menantu di keluarga Adipura tak akan pernah terganti. "Tapi, Ma, bukan begini juga caranya. Aksa dan Kirana masih belum siap untuk segera punya an--" "Enggak akan ada kata siap kalau kalian enggak mencoba, Aksa! Pokoknya Mama enggak mau tahu! Kalau memang kamu enggak mau lihat Mama mati cepat, berikan Mama cucu!" tuntut Ema tak mau tahu. Usai mengatakan hal itu, buru-buru dia meraih sebelah tangan sang menantu dan menggenggamnya dengan erat. "Rana, kamu mau kan, kasih cucu buat Mama?" tanyanya penuh harap. Kirana yang mendapat pertanyaan seperti ini, dan dalam situasi yang seperti ini, mau tak mau mengangguk. Memutuskan untuk menuruti keinginan sang ibu mertua, meski dirinya sendiri masih terguncang. "Rana akan berusaha, Ma," katanya pelan. Sangat pelan, tapi masih mampu didengar baik oleh Ema maupun oleh Aksa. "Terima kasih, Sayang. Kalau begitu, lebih baik sekarang kalian pulang. Biar Mama ditemani papa saja di sini," ujar Ema menyarankan. "Jangan, Ma. Biar Rana aja yang jaga. Kasihan mama dan papa kalau hanya berdua di sini. Lagi pula, papa juga sudah jaga malam, masa--" "Mama enggak apa-apa, Ran! Kalau kamu kasihan sama kami, maka sebaiknya kalian cepat beri kami cucu. Supaya Mama enggak stres lagi, dan papa enggak perlu repot-repot mengkhawatirkan kesehatan Mama." I-ini .... Kirana yang sebelumnya masih mencoba berpikir positif, kini tak bisa seperti itu lagi. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar, tapi dia merasa kalau ibu mertuanya seperti sedang merencanakan sesuatu saat ini. "Sudah sana! Cepat pulang! Dan untuk Aksa, ingat! Jangan macam-macam! Walau pun, sedang di sini, tapi mata dan telinga Mama ada di mana-mana.!" *** "Kirana." "Ya?" "Jangan terlalu dipikirkan." "Apanya?" Kirana menatap bingung ke arah Aksa yang tengah fokus mengemudi. Saat ini mereka memang tengah berada di perjalanan menuju pulang. Awalnya, Kirana sempat menolak perintah itu. Namun, berkat kekeras kepalaan sang ibu mertua, akhirnya ia kalah juga. Mau tak mau, dirinya pulang bersama sang suami yang sejak awal bahkan tak bisa berbuat apa-apa. "Perkataan mama." "Tentang cucu itu?" tebak Kirana tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Benar." Aksa membenarkan pertanyaan sang istri. Kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan. "Kamu enggak perlu merasa terbebani dengan permintaan mama. Jalani saja semuanya seperti yang sudah kita sepakati," kata Aksa serius. Ditatapnya lekat wajah Kirana. Seolah menjelaskan bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski mereka tak menuruti perintah sang mama. Bukan tanpa alasan Aksa bersikap seperti ini. Masalahnya, dia tak ingin Kirana sampai dirugikan karena keegoisan sang mama. Apa lagi, mereka akan segera berpisah setelah mamanya benar-benar pulih. Kalau boleh jujur, sebenarnya Aksa tak keberatan meski harus memiliki keturunan bersama Kirana. Karena walau bagaimanapun juga, sejak awal dia memang berniat membuat wanita itu tinggal bersama kedua orang tuanya. Jadi, kehadiran seorang anak di antara mereka tentu akan memperkuat posisinya di keluarga ini. Hanya saja .... "Kenapa?" tanya Kirana tiba-tiba. Aksa yang mendengar pertanyaan itu sontak menautkan kedua alis. "Kenapa?" tanyanya balik. Merasa bingung dengan pertanyaan sang istri yang dinilai cukup ambigu. "Kenapa Mas bicara begini? Mas sebegitu enggak maunya punya anak dari saya?" I-ini .... "Bukan begitu." Buru-buru Aksa menampik perkataan Kirana. "Bukan saya, tapi kamu yang pastinya enggak mau punya anak dari saya. Iya, kan?" sambungnya. "Lagi pula, bukannya kamu hanya akan bertahan sampai mama benar-benar pulih? Setelah itu--" "Setelah itu kita akan benar-benar berpisah," sela Kirana cepat. Sangat cepat, bahkan sebelum Aksa sempat menyelesaikan perkataannya. Aksa yang mendengar hal itu hanya dapat mengangguk pelan. Membenarkan perkataan sang istri yang entah kenapa terdengar seperti sedang menahan kekecewaan. "Maaf." "Untuk apa?" Jika tadi Aksa yang menatap Kirana dengan lekat. Maka kini sebaliknya. Kirana lah, yang melakukan hal itu. Ditatapnya wajah Aksa dengan lamat, seolah ingin mencari sesuatu dari wajah rupawan milik pria itu. "Andai sejak awal saya berani menentang keputusan kedua orang tua kita. Mungkin semuanya enggak akan jadi seperti ini. Sekarang, mungkin kamu sedang asyik-asyiknya menikmati masa muda. Bukannya malah terjebak dalam pernikahan yang enggak diharapkan." "Saya benar-benar minta maaf untuk itu, Kirana. Sebagai gantinya, saya berjanji akan melakukan apa pun, untuk kamu. Saya akan berikan apa pun, yang kamu--" "Sudah berulang kali saya bilang, saya enggak butuh apa pun, dari Mas Aksa! Saya bisa membiayai hidup saya sendiri. Jadi, jangan pernah memandang rendah say--" "Enggak! Saya melakukan itu bukan karena memandang rendah kamu, Kirana. Sebaliknya, saya melakukan ini sebagai bentuk balas budi. Saya benar-benar merasa berterima kasih atas jasa-jasa kamu selama ini." "Terima kasih karena sudah bersedia menjaga nama baik saya selama ini. Terima kasih juga karena sudah mau bertahan demi mama. Sebagai gantinya, katakan lah, apa yang kamu mau. Sebisa mungkin, saya akan memenuhinya," kata Aksa tulus. Kirana yang semula sempat marah karena salah paham perkataan Aksa, kini justru tampak diam membisu saat mendengar akhir dari kalimat pria itu. "Benar Mas akan memenuhi semua keinginan saya?" "Benar, katakan lah. Saya pasti akan memenuhinya kalau memang--" "Permintaan saya hanya satu." "Apa itu?" "Saya mau Mas Aksa memperlakukan saya seperti seorang istri yang sesungguhnya." "Maksud kamu?" Kirana diam selama beberapa jenak. Mungkin, dia akan menyesali keputusannya di kemudian hari. Namun, sungguh! Kirana benar-benar ingin diperlakukan seperti seorang istri oleh pria yang telah ia tunggu selama tiga tahun ini. Setidaknya sekali. "Sampai batas waktu yang sudah ditentukan. Perlakukan saya seperti istri yang benar-benar Mas cintai," kata Kirana. "Bisa?" tanyanya kemudian. -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD