Kembali dengan Wanita Lain

1105 Words
“Ibu!!!” Bagai disambar petir di siang bolong, rasanya Kirana tak bisa bergerak sama sekali saat mendengar suara gaduh di belakang tubuhnya. Langkah lebar-lebar yang sengaja ia buat saat meninggalkan sang mama beberapa detik lalu pun, seketika terhenti saat itu juga. “Ibu! Bangun, Bu!” teriak seseorang dari arah belakang tubuh wanita yang masih tak mampu bergerak itu. “Ibu! Bangun, Bu! Siapa pun, tolong istri saya!!!” teriak orang itu lagi. “Rana! Kamu apa kan ibumu, ha?" “Ada apa ini?!” *** Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tanpa terasa, tiga tahun telah berlalu. Dalam kurun waktu yang cukup lama ini, banyak perubahan dalam hidup semua orang. Terutama …, Kirana. Gadis malang yang dipaksa menikah di usianya yang bahkan belum genap sembilan belas tahun itu, kini telah berubah menjadi seorang nyonya muda di kediaman Adipura. Namun, perubahan ini tentu bukan hal yang diharapkan olehnya. Tentu saja! Kirana sudah bilang kan, kalau ia tak ingin hidup di dalam keluarga yang senantiasa memandang rendah harkat dan martabat wanita? Yah, meski pada kenyataannya keluarga Adipura memperlakukannya dengan sangat baik, tapi tetap saja Kirana merasa tak betah hidup di dalam sangkar emas ini. Kenapa? Karena dirinya merasa terkekang. Hidup bergelimangan harta, tapi tak bisa bebas, buat apa? Tak ada gunanya! Bukan kah, begitu? “Non Kirana, sudah waktunya makan siang. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di meja makan.” Lihat! Apa Kirana bilang? Ia benar-benar diperlakukan bak seorang ratu di rumah ini. Mertuanya sama sekali tak menyuruhnya melakukan pekerjaan apa pun, kecuali makan, tidur dan bersantai ataupun menghadiri acara-acara keluarga. Tok! Tok! Tok! “Non?” “Iya, Mbak. Saya keluar sebentar lagi,” sahut Kirana dari dalam kamarnya. Huh! Wanita dengan surai lembut sepinggang itu menghela napas panjang. Berusaha menekan kuat-kuat rasa jenuh yang menghampiri dirinya. ‘Satu hari yang membosankan harus dilewati lagi,’ batinnya. Setelah itu, tanpa menunggu lebih lama lagi, dia berjalan ke arah kaca rias. Merapikan tatanan rambut sebelum keluar dan menghampiri sang asisten rumah tangga yang tengah menampilkan senyum ramah. “Papa dan Mama ada di rumah, Mbak?” tanya Kirana basa-basi pada asisten rumah tangga yang berjalan di belakangnya. “Iya, Non. Katanya mau ada yang dibicarakan sama Non Kirana,” jawab sang asisten rumah tangga sopan. Kirana yang mendengar hal itu tak lagi bertanya. Lebih memilih untuk mengangguk pelan, meski rasa penasaran terus menggerogoti diri. Ada apa sebenarnya? Apa yang ingin dibicarakan oleh kedua mertuanya, hingga repot-repot makan siang di rumah, di tengah kesibukan mereka yang sangat padat? Berbagai pertanyaan terus berputar di kepala Kirana. Belum sempat ia mendapat jawaban dari pertanyaan itu, tiba-tiba saja sebuah suara telah menginterupsi pergerakannya. “Rana ….” Tubuh Kirana menegang. Napasnya pun, sempat tertahan selama beberapa detik saat mendengar panggilan itu. Bukan, bukan karena panggilannya, tapi karena si pemanggil adalah …. “Bapak.” Satu patah kata meluncur dari mulut Kirana yang tak sama sekali mengeluarkan ekspresi. Benar, yang memanggilnya adalah sang ayah. Pria yang harusnya menjadi sosok pelindung paling utama dalam hidupnya, tapi justru menjadi penyebab utama dalam penderitaan yang ia alami selama ini. Ya Tuhan …. Benar-benar menyakitkan rasanya harus bertatap muka lagi dengan pria itu. Ah, entah apa yang harus dirinya lakukan nanti. Kirana meringis di dalam hati. “Sini, Nak, duduk dulu!” panggil seorang wanita paruh baya. Sadar bahwa tak hanya mereka berdua yang berada di ruangan ini membuat Kirana dengan cepat menetralkan raut wajahnya. Tidak, dia tak boleh membuat gaduh suasana. “Selamat siang, Ma, Pa.” Kirana menyalami tangan sang ibu mertua dengan takzim. Pun, dengan tangan ayah mertuanya. Sebisa mungkin ia bersikap sopan kepada orang yang telah menampungnya selama lebih kurang tiga tahun itu. “Selamat siang, Pak.” Mau tak mau, suka tak suka, Kirana turut menyalami tangan renta sang ayah. Berbeda dari tiga tahun lalu, tangan ayahnya yang semula kokoh, kini terasa bergetar. Entah karena hal apa. “Apa kabar kamu, Nak? Bapak kangen.” Kirana tak langsung menjawab. Untuk beberapa jenak, wanita itu hanya menatap ayahnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. “Baik,” jawab Kirana akhirnya. Tak ada sedikit pun, niatnya untuk bertanya balik. “Kirana. Kemarin Bapakmu menelepon, katanya dia ingin bertemu dengan kamu. Jadi, Papa suruh saja dia datang ke rumah ini.” Tanpa diminta-minta, ayah mertua Kirana menjelaskan. Sama seperti sebelumnya, Kirana masih tak menjawab. Wanita itu hanya menatap ke arah sang ayah dengan ekspresi yang sama. “Papa tahu kalau insiden tiga tahun lalu membuat hubungan kalian kurang baik, tapi …, Papa rasa sudah saatnya untuk kita semua mengakhiri ini. Kalau ibumu ada, dia juga pasti menginginkan hal yang sama.” Ibu …. Kirana membuang muka ke arah lain saat mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh ayah mertuanya. Benar-benar menyakitkan rasanya, saat apa yang telah bersusah payah ia lupakan, kembali diungkit. “Bapak minta maaf, Ran. Bapak salah. Harusnya waktu itu Bapak enggak menyalahkan kamu atas kematian Ibu. Harusnya Bapak—“ “Cukup, Pak!!!” Kirana menginterupsi perkataan sang ayah dengan cepat. Tanpa memedulikan keterkejutan yang terpancar pada wajah semua orang, wanita itu meninggalkan meja makan dengan sedikit tergesa. Bukan, bukannya ingin bersikap tak sopan. Hanya saja, dia benar-benar tak sanggup mengingat tragedi itu lagi. Tragedi yang membuat warna di hidupnya menghilang hingga saat ini. “Kirana! Tunggu, Nak. Bapak—“ “Biar saya yang bicara dengan Kirana, Pak.” Untuk kali kedua, Kirana menghentikan langkahnya. Bukan, kali ini bukan karena panggilan sang ayah, tetapi karena suara seseorang yang sudah sangat lama tak didengarnya. “Aksa! Kamu sudah datang? Kapan sampainya? Kenapa enggak ngabarin Mama? Kalau tahu kan, kami bisa jemput di Bandara.” Kirana membalikkan badan. Memperhatikan interaksi di antara beberapa orang yang tengah berada di ruang makan. Entah kenapa, tapi Kirana merasa bahwa ada sesuatu yang janggal di sini. Terlebih setelah mendengar perkataan ibu mertuanya. Tunggu! Jangan bilang semua orang sudah tahu bahwa Aksa akan kembali hari ini? Kirana mulai menduga-duga. Kalau begitu, berarti benar-benar hanya dia yang tak tahu tentang apa pun? Baik tentang kedatangan ayahnya, juga tentang kedatangan suami yang telah meninggalkannya tepat di hari pernikahan? GILA! “Kirana, kemari, Nak. Sambut suami kamu dulu.” Ibu mertua Kirana memberi perintah. Nada bicaranya terdengar lembut. Persis seperti perintah yang diucapkan oleh seorang ibu kandung, kepada putri kesayangannya. “Kirana, ay—“ “Maaf, Ma. Rana—“ Belum selesai Kirana berbicara, tiba-tiba saja sebuah suara telah menyapa indra pendengarannya. Membuat perhatian wanita itu teralihkan. Pun, dengan perhatian semua orang. “Selamat siang, Om, Tante.” Bukan menjawab sapaan lembut dari wanita dengan perawakan bak seorang model yang baru saja tiba, orang-orang di sana justru menatap Aksa dengan penuh tanda tanya. “Aksa? Dia siapa?” -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD