“Dia ….”
Ada keraguan dari cara bicara pria yang kini menatap semua orang secara bergantian itu. Kirana yakin betul. Bukan hanya dari gesture bibirnya, tapi juga dari mimik wajah, serta bola matanya yang tampak bergerak kesana-kemari.
Tak ingin tenggelam dalam rasa penasaran lagi, Kirana lantas menghampiri Aksa, juga wanita yang berdiri tepat di samping pria itu. “Dia siapa, Mas?” tanyanya kemudian.
Namun ….
Hening. Tak ada jawaban. Untuk beberapa saat, pria yang juga sedang menatap Kirana dengan lekat itu menutup rapat mulutnya. Seperti tengah merangkai kata yang cocok agar tak membuat semua orang terkejut.
Sementara itu, Kirana yang merasa tak sabar karena tak kunjung mendapat respons dari Aksa lantas beralih menatap wanita yang datang bersama pria itu.
“Mbak siapa?” tanya Kirana to the point.
“Saya—“
“Dia pacar saya.” Aksa menyela dengan cepat. Tak ingin Kirana mendengar jawaban dari mulut orang lain.
“P-pacar?” ulang Kirana dengan sedikit terbata. Sungguh, dia tak menyangka kalau kata-kata memalukan seperti itu akan keluar dari mulut Aksa.
Maksud Kirana, terlepas dari apa yang terjadi dan apa yang Aksa katakan tiga tahun lalu, tapi bukankah mereka tetap berada dalam ikatan pernikahan saat ini? Dan lagi, bagaimana bisa pria itu kembali dengan membawa wanita lain? Dan parahnya, diakui sebagai kekasih di hadapan kedua orang tua, istri, bahkan mertuanya langsung.
Ah, gila!
“Iya, dia Devina, pacar saya.”
“Aksa, jangan bercanda. Kamu enggak ser—“
'PLAK!!!'
Kirana mengayunkan tangan ke wajah Aksa. Memberikan cap kemerahan di pipinya. Membuat pria itu sedikit meringis, saking kuatnya tamparan Kirana.
“Gila kamu, Mas!” hardik Kirana sebelum pergi meninggalkan Aksa dan semua orang yang tampak menatap Aksa dengan tatapan kesal.
Bukan hanya ibu mertua Kirana, tapi juga ayah mertua, bahkan ayah kandungnya pun, tampak menatap Aksa dengan tatapan yang tak menyenangkan.
“Apa-apaan ini, Ndra? Ini kah, yang kamu maksud dengan memberikan kehidupan yang layak untuk anakku?” Ayah Kirana langsung menuding sang sahabat tanpa berniat meminta penjelasan dari menantunya.
“Tunggu, Rif. Pasti ada kesalahpahaman di sini. Aksa! Cepat jelaskan! Ini semua bohong, kan? Wanita ini—“
“Dia pacar Aksa, Pa. Dan maksud kedatangan Aksa ke sini karena ingin memperkenalkan dia ke Papa, Mama, dan Kirana. Juga untuk meminta restu kalian,” jelas Aksa panjang lebar.
Aksa tahu, mungkin ini bukanlah sesuatu yang bisa diterima dengan mudah oleh keluarganya, tapi walau bagaimana pun, juga, dia tak ingin menyembunyikan hal ini lebih lama lagi.
Meski baru setahun menjalin hubungan, tapi dia sangat mantap untuk mempersunting wanita itu. Selian itu, dia juga merasa kalau hubungan mereka sudah mulai tak sehat. Jadi, akan lebih baik jika segera dihalalkan.
“Kami berencana untuk menikah. Dan keluarga Devina sudah tahu tentang hal in—“
“RENAKSA!!!”
“Ma, ayolah ….” Aksa menatap mamanya frustrasi. “Aksa sudah menuruti maunya Mama dan Papa. Jadi, sekarang tolong turuti maunya Aksa,” ujarnya kemudian. Berharap sang mama akan mengerti.
Namun ….
“Mama kecewa sama kamu, Aksa!” Bukan jawaban, yang diberikan oleh sang mama justru kalimat yang serat akan kekecewaan.
Kemudian, tanpa berlama-lama lagi, wanita paruh baya itu meninggalkan ruang makan dengan raut wajah muram. Sementara sang suami tampak mencubit pangkal hidungnya. Sungguh, dia malu! Malu pada sahabat yang telah memberinya amanah.
“Arif, sekarang kamu pulang dulu. Nanti kita bicarakan ini lagi. Kamu tenang saja, semua ini enggak seperti yang kamu pikirkan,” ujar pria itu akhirnya. Mencoba menenangkan sang besan, sekaligus sahabat karibnya.
“Tolong jangan buat aku menyesali keputusanku, Ndra,” balas ayah Kirana sebelum meninggalkan besan dan menantunya dengan perasaan bercampur aduk.
Sementara itu, Kirana yang telah masuk ke kamarnya sejak beberapa menit lalu tampak duduk di balik pintu sembari menyembunyikan kepalanya di antara dua lutut. Tidak menangis, tapi juga tak mampu untuk terlihat baik-baik saja.
Jujur, hati Kirana sakit. Bagai ditusuk oleh ribuan pisau yang tak kasat mata, rasanya. Benar-benar menyakitkan!
Ah, Kirana tahu kalau dia dan Aksa berada di dalam hubungan yang dalam artian sangat ‘spesial’. Dia juga tahu kalau mereka menikah karena dijodohkan secara paksa. Dan yang terpenting, dia tahu kalau sejak awal Aksa telah berniat melarikan diri dari perjodohan ini. Namun, hei! Tiga tahun! Tiga tahun bukan waktu yang singkat bagi seorang wanita untuk menunggu.
Dan percaya tak percaya, meski tak pernah setuju dengan adanya pernikahan ini, tapi selama tiga tahun itu Kirana terus menunggu kepulangan Aksa. Dia menunggu pria itu kembali dan mengajaknya memulai hubungan dari awal.
Namun, lihatlah! Bukannya memulai kembali, sepertinya sekarang Aksa malah berniat untuk benar-benar mengakhiri hubungan mereka.
“Ya Allah ….” Kirana meringis pilu. “Kenapa harus seperti ini?” tanyanya frustrasi.
“Tidakkah cukup penderitaan yang hamba alami selama ini?” tanya Kirana lagi. “Kenapa di saat hamba ingin berdamai dengan keadaan, Engkau justru menambah cobaan baru?”
Kirana benar-benar frustrasi. Bukan hanya itu, sekarang dia juga bingung tentang langkah apa yang harus dilakukannya nanti.
Di satu sisi, dia tak ingin tenggelam dalam kesedihan ini. Namun, di sisi lain, dia juga tak tahu harus melakukan apa. Situasinya benar-benar rumit. Terlebih, dia dan Aksa bukan lah, pasangan yang menikah karena saling mencintai.
Belum selesai Kirana dengan kefrustrasiannya, suara seseorang dari luar membuat wanita itu sontak menegakkan kepala.
“Kirana? Kamu di dalam kan, Nak?” tanya orang itu.
Kirana tak menjawab. Namun, tak juga mengabaikan. Sebagai gantinya, dia langsung berdiri dan membukakan pintu untuk sang ibu mertua. Benar, yang memanggil adalah ibu mertuanya. Ema.
“Ada apa, Ma?” tanya Kirana sopan. Meski kesal karena tak diberitahu tentang kepulangan Aksa, tapi wanita itu masih merasa perlu untuk menjaga sikap. Tentu saja! Dia bukan lah, orang yang berhak untuk bersikap semaunya di rumah ini. Setidaknya itu yang bisa Kirana pikirkan.
“Maafkan Mama karena enggak kasih tahu kamu tentang kepulangan Aksa. Tadinya Mama berniat memberi kamu kejutan, tapi semua berada di luar dugaan. Aksa pulang tiba-tiba. Dan …, tentang Aksa, maafkan dia juga ya, Ran. Mama tahu, kamu pasti terkejut, tapi meskipun begit—“ Ema masih berusaha menjelaskan duduk perkaranya kepada Kirana saat itu. Namun, belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, suara seseorang telah lebih dulu menginterupsi. Membuat perhatiannya seketika teralihkan. Pun, dengan perhatian sang menantu.
“Aksa mau bicara berdua sama Kirana. Bisa beri kami waktu dulu?” tanya orang itu pada Ema.
Akan tetapi, bukannya menjawab, wanita paruh baya yang masih tampak cantik meski usianya telah lebih dari setengah abad itu justru menatap ke arah Kirana. Berpikir untuk melihat reaksinya.
“Ya sudah, kalau begitu Mama pergi dulu. Kalau ada apa-apa, jangan segan-segan untuk kasih tahu Mama ya, Ran,” pesan Ema setelah melihat tanda-tanda bahwa Kirana setuju untuk bicara dengan putranya.
Lalu, tanpa melirik sedikit pun ke arah Aksa, Ema melenggang. Meninggalkan sepasang suami istri yang dinilai memang perlu menyelesaikan masalah.
Tidak, Ema bukannya ingin membiarkan Aksa bersikap semaunya ataupun tak ingin menghakimi putra semata wayangnya itu. Ia ingin, sangat! Hanya saja, lebih dari pada itu, ia merasa perlu menyelesaikan sesuatu yang jauh lebih penting terlebih dahulu. Yaitu ….
Beralih ke tempat lain, Kirana tampak duduk diam di atas sofa panjang yang terletak di sudut kamanya. Tanpa melirik ke arah Aksa ataupun menuntut penjelasan dari pria itu.
“Gimana kabar kamu?” tanya Aksa. Entah hanya berbasa-basi atau memang penasaran.
“To the point saja, Mas,” balas Kirana dingin. Sama seperti cara Aksa bicara padanya tiga tahun lalu.
Aksa menghela napas pelan saat itu. Bukan karena kesal, tapi karena ia tak pernah berharap bahwa situasi seperti ini yang akan menyelimuti pertemuannya dengan Kirana.
“Begini, Kirana. Maksud dari kedatangan saya hari ini adalah ….”
“Ingin memperkenalkan pacar Mas? Saya tahu, kok.” Dengan cepat Kirana menyela.
“Benar, tapi bukan hanya itu. Kamu ingat kan, kalau sejak awal saya sudah bilang kalau kita akan menjalani pernikahan yang berbeda dengan pernikahan kebanyakan? Dan, kamu juga ingat kan, kalau saya sudah memberikan kebebasan bagi kamu untuk menjalin hubungan dengan lelaki mana pun? Maka dari itu ….”
Heh!
Kirana berdecih sembari mengangkat sebelah sudut bibirnya. “Dan saya juga sudah pernah bilang kan, kalau saya enggak mungkin melakukan hal seperti itu, meski Mas yang menyuruh, sekalipun?” sahutnya kemudian.
Nada bicara Kirana terdengar datar. Namun, siapapun yang mendengarnya juga tahu kalau ada kekecewaan serta kemarahan di dalamnya.
“Saya bukan w************n yang bisa menjalin hubungan dengan lelaki lain, di saat saya sendiri sedang terikat hubungan dengan seseorang, Mas!” ujar Kirana penuh penekanan. "Dan lagi, Mas pikir apa jadinya keluarga ini kalau saya melakukan hal serendah itu?" tambahnya. Sengaja menyinggung tentang nama baik keluarga Aksa.
“Saya tahu, Kirana. Maka dari itu saya berniat memberi solusi untuk—“
“Solusi apa, Mas Aksa? Solusi yang akan menguntungkan saya? Atau justru solusi yang akan menguntungkan diri Mas Aksa sendiri, seperti yang sudah Mas berikan tiga tahun lalu?”
“Kirana! Tolong tenang dulu.”
“GIMANA SAYA BISA TENANG, MAS?” sambar Kirana berapi-api. “Coba bilang, gimana saya bisa tenang kalau suami yang sudah meninggalkan saya selama tiga tahun, kembali dengan wanita lain?” sambungnya dengan suara bergetar.
“Saya tahu, kita menikah karena dijodohkan. Demi Tuhan, saya tahu, Mas! Tapi …, memangnya siapa yang menerima perjodohan ini begitu saja? Mas, kan? Mas juga yang dengan tega meninggalkan saya tepat di hari pernikahan, padahal Mas Aksa sendiri tahu kalau ibu saya …, ibu—“
“Kirana, hei! Tenang dulu!” sela Aksa cepat. Tak dibiarkannya Kirana bicara lebih banyak. Bukan, bukan karena tak ingin mendengar kelanjutan dari perkataan wanita itu, tapi karena ….
“Tenang dulu. Kita bicarakan ini baik-baik, Ran.”
“Kalau boleh memilih, saya juga enggak mau hidup seperti ini, Mas. Saya enggak mau dijodohkan, saya enggak mau putus sekolah, dan saya juga enggak mau menjadi penghalang buat Mas Aksa, tapi saya bisa apa? Semua sudah diputuskan. Saya enggak berhak memilih.” Suara Kirana melemah.
“Saya tahu, Kirana. Saya tahu. Kamu sudah cukup menderita selama ini. Maka dari itu, saya datang untuk mengakhiri penderitaan kamu.”
“ENGGAK, MAS! MAS AKSA ENGGAK TAHU!”
“Kalau Mas Aksa tahu, Mas enggak akan melakukan hal ini! Mas enggak akan bersikap pengecut dengan meninggalkan saya, dan Mas enggak akan pulang dengan membawa wanita itu!”
HUH!
Kirana memejamkan matanya sesaat. Berusaha menekan emosi yang sempat tersulut karena perkataan Aksa. Tidak, dia tak boleh termakan emosi begini. Wanita itu mencoba berpikir jernih.
“Baiklah. Kalau memang itu mau Mas. Silakan. Silakan menikah dengan pacar Mas, tapi sebelum itu, tolong ceraikan saya dulu. Dan tolong, jangan lemparkan masalah apa pun, ke saya lagi.”
Sama seperti tiga tahun lalu, meski enggan menerima keputusan Aksa, tapi Kirana tetap membiarkan pria itu melakukan apa yang diinginkannya. Biarlah. Mungkin memang ini lah, jalan yang harus ia tempuh. Begitu pikirnya.
“Cepat, Mas, talak saya!” pinta Kirana menuntut. “Talak saya, biar saya bisa segera angkat kaki dari rumah ini. Saya sudah capek, dan saya sudah muak terlibat dengan kegilaan Mas!” sambungnya kemudian.
“Kirana …, kamu enggak perlu sampai seperti ini. Kita bisa—"
“Aksa! Cepat keluar!”
“Aksa!!!”
-Bersambung-