Sangat Picik

1256 Words
“Ini semua gara-gara kamu, Aksa! Andai saja kamu enggak memulai kegilaan itu, pasti sekarang Mama masih baik-baik saja!” Entah sudah berapa kali Kirana mendengar omelan ini keluar dari mulut ayah mertuanya. Ia pun, tak tahu. Namun, yang jelas, dia cukup senang melihat Aksa dimarahi. Benar, saat ini Andra tengah memarahi putra semata wayangnya yang seakan tak pernah bosan membuat masalah. Tak cukup mencoreng nama baik keluarga dengan pergi ke luar negeri tepat di hari pernikahannya. Sekarang, setelah tiga tahun berlalu pun, dia kembali membuat masalah. Bahkan masalah yang jauh lebih besar dari masalah sebelumnya. “Papa enggak habis pikir sama jalan pikiran kamu! Gimana bisa kamu melakukan semua ini? Meninggalkan istri yang baru dinikahi, dan kembali dengan wanita lain. Terus apa tadi kamu bilang? Mau minta restu? Jangan mimpi kamu, Aksa!” omel Andra habis-habisan. “Sampai mati pun, kami enggak pernah memberi kalian restu!” sambungnya kemudian. HUH! Benar-benar naik darah dia dibuat putranya itu. Sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, Andra beralih menatap sang menantu. “Kirana,” panggilnya pelan. “Iya, Pa?” sahut Kirana sopan. "Kamu pulang aja. Istirahat. Biar Papa yang jaga mama di sini.” “Enggak perlu, Pa. Lebih baik Papa yang pulang. Biar saya yang jaga mama.” Kirana menolak dengan halus. “Kirana, Papa tahu kalau kamu sudah cukup lelah dengan apa yang terjadi hari ini. Jadi, lebih baik kamu yang pulang. Istirahat, tenangkan pikiran. Lagi pula, ada Mang Ujang yang menemani Papa di sini.” Aksi tolak-menolak antara mertua dan menantu itu tak luput dari perhatian Aksa. Dia yang semula menunduk dan memilih untuk menerima omelan dari sang ayah pun, mau tak mau mendongakkan kepala. Menatap dua orang di hadapannya secara bergantian. “Saya justru enggak akan bisa istirahat kalau pulang ke rumah, Pa.” Kirana melirik ke arah Aksa sekilas. Membalas tatapan pria itu sebelum kembali fokus pada ayah mertuanya. “Papa tentu tahu apa maksud saya,” ujarnya kemudian. Mendengar hal itu, sontak saja Andra menghela napas pelan. Bohong kalau dia bilang tak tahu apa maksud sang menantu. Pulang ke rumah pasti hanya akan membuat Kirana teringat pada apa yang terjadi hari ini. Terlebih, ada seseorang yang mungkin tak pernah ingin ditemui oleh wanita itu. Ah, makin pening rasanya kepala Andra. Entah kenapa, masalah seakan tak pernah bosan menghampiri keluarganya. “Baiklah, kalau begitu kita tunggu Mama bersama-sama saja. Lagi pula Papa juga malas pulang ke rumah kalau hanya untuk bertemu dengan orang luar!” sindir Andra. Sengaja mendelik ke arah sang putra. Sementara itu, Aksa yang mendengar sindiran bertubi-tubi baik dari ayah maupun sang istri pun, hanya dapat menghela napas panjang. Mencoba maklum, meski sejujurnya merasa sedikit merasa terganggu. Masalahnya, ia juga tak bisa menyalahkan orang lain seratus persen jika sampai berbicara seperti itu. Karena semua masalah memang bermula dari dirinya. “Mau apa lagi kamu?” tanya Andra tiba-tiba. Aksa sempat terkesiap saat mendengar pertanyaan itu. Namun, buru-buru ia menetralkan raut wajah di detik berikutnya. “Tolong jangan seperti ini, Pa,” pintanya kemudian. Berharap sang ayah akan menghentikan sikapnya yang dinilai terlalu kekanak-kanakan. “Walau bagaimanapun, Aksa masih punya hati nurani. Mana mungkin Aksa pergi di saat mama sedang dalam keadaan seperti ini.” “Heh!” Andra berdecih. “Jangan berbicara seolah-olah kamu adalah anak yang berbakti, Aksa!” sindirnya keras. “Kalau kamu memang punya hati nurani, kamu enggak akan berbuat semau—“ “Pa! Cukup!” sela Aksa cepat. Mulai kesal karena terus dipojokkan oleh ayah kandungnya sendiri. “Aksa tahu kalau Aksa salah, tapi tolong, berhenti memojokkan Aksa. Lagi pula, semua ini juga enggak akan terjadi kalau sedari awal Papa enggak memaksa Aksa dan Kirana menikah.” “Jadi maksud kamu—“ “Keluarga Nyonya Ema!” Perdebatan di antara ayah dan anak itu seketika terhenti karena mendengar panggilan dari seorang perawat yang kini telah berdiri tepat di ambang pintu ruang UGD. Dengan raut wajah yang sama khawatirnya, Andra dan Aksa menghampiri perawat tersebut. Pun, dengan Kirana yang berjalan di belakang mereka. “Saya suaminya, Sus!” “Saya anaknya, Sus!” jawab keduanya bersamaan. Sementara Kirana, wanita itu tak melakukan hal yang sama. Lebih memilih diam, karena berpikir bahwa statusnya sebagai menantu di keluarga Adipura akan segera berakhir dalam waktu dekat. “Bagaimana keadaan istri saya, Sus?” tanya Andra khawatir. Kali ini Aksa tak menanyakan hal yang sama. Namun, raut wajahnya yang penuh dengan gurat kekhawatiran sudah cukup untuk menjelaskan bahwa dia juga penasaran akan keadaan sang mama. “Silahkan masuk, Tuan. Ada yang ingin dokter bicarakan,” jawab perawat itu sopan. Kemudian bergegas masuk kembali ke dalam ruang UGD. Andra mengangguk cepat, kemudian meninggalkan anak beserta menantunya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lagi. Selepas kepergian sang ayah mertua, Kirana lantas kembali ke tempat semula. Sebuah kursi tunggu yang terletak tak jauh dari tempat mereka berada. “Saya minta maaf.” Kirana tertegun. Untuk beberapa saat, dia hanya diam sambil menatap ujung sandal rumahannya. Kalau boleh jujur, Kirana sedikit tak menyangka kalau dirinya akan mendapat permintaan maaf di saat seperti ini. "Saya benar-benar minta maaf," ulang Aksa sekali lagi. “Untuk apa?” tanya Kirana sembari memfokuskan pandangan ke arah lain. “Untuk semuanya,” jawab Aksa pelan. “Untuk semua penderitaan yang kamu alami selama ini. Juga untuk apa yang terjadi tiga tahun lalu. Saya benar-benar minta maaf.” Entah apa maksud Aksa hingga bisa mengatakan semua ini, Kirana pun, tak tahu. Namun, yang jelas, sedikit banyaknya ia merasa tersentuh. Yah, meski rasa kecewa tetap mendominasi di dalam diri. “Kamu benar. Andai saat itu saya bisa dengan tegas menolak perjodohan kita, mungkin semuanya enggak akan jadi seperti ini. Semua ini salah saya, dan saya menyesal untuk itu.” “Kirana, kamu berhak marah pada saya. Kamu juga berhak menghakimi saya, tapi ..., apa pun yang terjadi, tolong jangan membenci kedua orang tua saya. Bahkan jika suatu saat nanti kita bercerai, saya harap kamu akan tetap memperlakukan mereka sama seperti kamu memperlakukan kedua orang tuamu. Mereka benar-benar menyayangi kamu, Ran. Mereka—“ “Apa sebenarnya yang mau Mas Aksa bilang?” Kirana menyela perkataan Aksa. Sedikit tak sabar karena pria itu terkesan bertele-tele. “Maksud saya, jika nanti kita bercerai, tolong tetap berada di samping mama dan papa. Tinggal lah bersama mereka.” “Maksud Mas? Kenapa saya harus berada di samping mereka, sementara saya bukan siapa-siapa lagi?” tanya Kirana menuntut. Terdengar mulai kesal dari nada bicaranya. Tidak, Kirana bukannya benar-benar ingin memutus tali silaturahmi dengan mertuanya ketika ia resmi bercerai dengan Aksa nanti. Tidak sama sekali. Hanya saja, ia juga tak mungkin tinggal dengan orang yang jelas-jelas tak memiliki hubungan dengannya lagi, kan? Dan lagi, kenapa Aksa malah berbicara seolah-olah dia akan .... Tunggu! Jangan-jangan .... “Jangan bilang Mas mau meninggalkan mereka, sama seperti Mas meninggalkan saya dulu?!" tanya Kirana tak percaya. " Gila, ya! Saya enggak nyangka kalau Mas Aksa sepicik ini!” sambarnya kemudian. “Bisa-bisanya berpikir picik begitu di saat mamanya Mas sedang ditimpa musibah.” Kirana terus mencaci-maki Aksa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh! Benar-benar tak habis pikir dia dibuat Aksa. Maksud Kirana, bagaimana bisa pria itu masih memikirkan dirinya sendiri di saat seperti ini? “Bukan begitu, Kirana. Maksud saya—“ “Nyonya Kirana! Pasien ingin bertemu dengan anda.” Kirana terdiam. Semua kata-kata pedas yang telah terkumpul di ujung lidahnya seketika lenyap saat mendengar panggilan sang perawat. “A-ada apa, Sus?” Kirana menatap perawat wanita yang datang terburu-buru dari ruang UGD dengan perasaan bercampur aduk. Entah kenapa, tapi perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi. -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD