"Mama tahu ini berat untuk kamu, tapi ..., tolong bertahan lah, sebentar lagi, Kirana."
Detik di mana kata-kata itu keluar dari mulut bergetar Ema, di detik itu juga tubuh Kirana menegang. Sungguh! Dia benar-benar tak tahu harus bereaksi bagaimana saat ini.
Bertahan sebentar lagi ....
Kirana bukannya tak tahu sama sekali apa maksud dari kalimat ini. Jelas kalau ibu mertuanya ingin ia mempertahankan rumah tangganya dengan Aksa.
"Sama seperti kami yang butuh kamu, Aksa juga pasti butuh kamu di sisinya," kata Ema meyakinkan. "Jadi, tolong jangan tinggalkan dia, Kirana."
Kirana tertegun dengan perasaan bercampur aduk.
Ini ..., dia tak sedang salah dengar, kah? Aksa butuh dirinya? Jangan tinggalkan Aksa?
Ya Tuhan ....
Lelucon macam apa ini? Kirana tertawa dalam hati.
"Bukan Mas Aksa, Ma, tapi Kirana yang butuh dia. Dan satu lagi. Bukan Kirana, tapi Mas Aksa yang ingin meninggalkan pernikahan ini lebih dulu."
TELAK.
Bagai anak panah yang melesat tepat mengenai sasaran, perkataan Kirana benar-benar mampu membungkam mulut Ema, hingga membuat wanita paruh baya itu tak tahu harus berkata apa lagi.
Semua yang Kirana katakan benar. Bukan dia, tapi Aksa lah, yang lebih dulu meninggalkannya.
"Selama tiga tahun menikah, Enggak pernah sekalipun Kirana meninggalkan Mas Aksa dan keluarga ini. Kirana terus mengabdi, Ma. Berperan sebagai istri bahagia, padahal semua orang juga tahu kalau Rana adalah istri yang enggak diinginkan oleh Mas Aksa. Istri yang bahkan sudah ditinggalkan sejak hari pernikahan kami," ujar Kirana bertubi-tubi.
"Mama pikir kenapa Rana bisa bertahan sampai selama ini? Itu semua karena Rana membutuhkan sosok pendamping, Ma. Rana butuh Mas Aksa."
"Meski enggak pernah setuju dengan pernikahan ini, tapi Rana selalu berusaha untuk jadi istri yang baik buat Mas Aksa, Ma. Sebisa mungkin Rana menjaga nama baiknya, seperti yang Mama dan Papa perintahkan. Tapi apa? Setelah semua yang Rana lakukan itu, dia malah pulang dengan wanita lain."
"Bukan Kirana, Ma, tapi Mas Aksa yang harusnya mendapat perintah ini!" tegas Kirana akhirnya.
Ada kegetiran dan kekecewaan dalam nada bicaranya. Dan Ema sadar betul akan hal itu. Percaya tak percaya, meski tak mengalami secara langsung, tapi dia juga bisa merasakan betapa tersiksanya sang menantu selama ini.
Menjalani pernikahan tanpa kehadiran sosok sang suami di sisinya, bukanlah perkara mudah. Apa lagi, dia harus selalu mendengar pertanyaan yang sama setiap kali menghadiri pertemuan keluarga.
"Di mana suami kamu?"
"Suami kamu masih belum pulang? Ini sudah lama banget, lho."
"Jangan-jangan Aksa sudah punya istri lagi di sana."
"Gimana bisa 'isi' kalau disentuh suami aja enggak pernah?"
Kalimat-kalimat menyakitkan ini hanyalah sebagian kecil dari banyaknya pertanyaan yang pernah Ema dengar dari mulut berbisa sanak saudaranya. Jadi, bohong kalau dia bilang tak tahu betapa menderitanya sang menantu selama ini.
Kalau boleh memilih, tentu saja Ema ingin membebaskan Kirana dari penderitaan ini dan melihatnya bahagia bersama orang lain. Namun, semua tak semudah itu. Selain karena tak ingin mencoreng nama keluarga lebih dalam lagi, ia juga tak ingin membiarkan Aksa bersama dengan wanita lain.
Dan yang paling utama ....
Tak ada kata 'perceraian' dalam kamus keluarga Adipura. Ini merupakan hal mutlak yang tak bisa diganggu gugat. Seorang pria dan wanita dalam keluarga mereka, dilarang keras menikah lebih dari satu kali.
"Maaf, Kirana bukannya ingin bersikap enggak sopan, hanya saja--"
"Mama tahu," sela Ema cepat. Sangat cepat, bahkan sebelum Kirana sempat menyelesaikan perkataannya.
"Mama tahu betapa menderitanya kamu selama ini. Mama juga tahu betapa banyak kamu berkorban untuk keluarga ini," kata Ema beberapa saat kemudian.
Kirana pikir, dengan keluarnya kalimat ini dari mulut Ema, wanita paruh baya itu bersedia melepaskannya. Namun, ternyata ..., tidak. Semua tak berjalan selancar itu.
"Lebih dari apa pun, Mama tahu kalau ini sangat egois, tapi ..., apa bisa kamu berkorban sekali lagi? Sekali ... saja," pinta Ema memohon. "Tolong bertahan di sisi Aksa, Nak. Jangan pernah tinggalkan dia. Bahkan meski dia yang meminta sekalipun," sambungnya kemudian.
GILA!
"Saya sudah cukup tersiksa karena enggak diakui selama tiga tahun ini, Ma. Dan sekarang Mama mau saya bertahan di samping orang yang jelas-jelas ingin berpisah dari saya?" tanya Kirana tak percaya."Ma! Mama sendiri lihat kan, siapa yang Mas Aksa bawa? Wanita itu yang diakui Mas Aksa, Ma. Dia yang dimaui Mas Aksa, bukan saya!"
"Menyuruh saya bertahan di samping Mas Aksa setelah tahu semua itu, sama dengan menyuruh saya bunuh diri pelan-pelan."
"Enggak, Ran. Mama yakin, Aksa cuma bermain-main sama wanita itu. Dia enggak mungkin--"
"Maaf, Ma. Kirana enggak bisa!" tolak Kirana cepat.
Tidak. Lagi-lagi Kirana bukan bermaksud ingin bersikap kurang ajar. Hanya saja, dia tak bisa membiarkan ibu mertuanya bicara lebih banyak. Tidak, jika dia tak ingin goyah.
"Rana akan mundur dari pernikahan ini." Kirana memutuskan.
Meski sedikit tak tega melihat raut wajah sang ibu mertua yang tampak kacau setelah mendengar keputusannya, tapi Kirana juga tak bisa berbuat apa-apa.
Keputusannya sudah bulat. Dia tak ingin membiarkan dirinya berada di dalam jurang penderitaan ini lebih lama lagi. Cukup sudah tiga tahun!
Setidaknya, begitu yang Kirana pikirkan, sebelum ....
"Tolong ..., N-nak, t-tolong ban ... tu M-ma ...."
"Mama! Mama kenapa?"
"Dokter! Tolooonggg!!!"
***
"Ini semua salah kamu, Ran." Kirana terus menyalahkan dirinya tanpa henti atas apa yang terjadi pada sang ibu mertua.
Sungguh! Andai tahu kalau jadinya akan seperti ini, demi Tuhan, dia tak akan pernah berbicara seperti itu pada ibu mertuanya. Atau paling tidak, dia tak akan menolak permintaan ibu mertuanya secara terang-terangan.
Ah, dia bahkan tak akan pernah menolak jika tahu bahwa hal itu bisa membuat keadaan sang ibu mertua memburuk.
Ya Tuhan ....
Kirana meringis di dalam hati. Merasa bersalah karena sudah menjadi penyebab dari memburuknya kondisi Ema. Andai waktu bisa diputar, dia akan ....
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Ini bukan salah kamu," sela seseorang yang tiba-tiba datang entah dari mana.
Benar, orang itu adalah Aksa. Orang pertama yang datang, setelah mendengar teriakannya beberapa jam lalu.
"Enggak apa-apa, Mama pasti baik-baik saja," kata Aksa lembut. Berusaha menenangkan Kirana yang tampak sangat merasa bersalah.
Bukan sekedar berbicara, Aksa bahkan turut mengusap pundak Kirana setelah sebelumnya menempatkan diri di samping wanita itu.
Kirana yang mendapat perlakuan seperti ini pun, tentu dibuat terkejut bukan main. Bagaimana tidak, pasalnya ..., ini pertama kalinya ia disentuh oleh lelaki. Meski hanya berupa usapan, tapi tetap saja rasanya agak ....
"Tolong jangan sentuh saya," pinta Kirana pelan.
Benar-benar pelan suaranya, tapi mampu membuat sesuatu di dalam diri Aksa merasa seperti tertikam benda tajam.
Padahal ini bukan perkara besar, tapi ..., entah kenapa dia merasa kecewa ditolak begini oleh Kirana.
"Maaf," ujar Aksa sembari menjauhkan tangannya dari pundak sang istri.
"Maaf." Kirana ikut meminta maaf. "Karena saya, mama jadi begini," katanya sambil meremas telapak tangannya yang terasa berkeringat. Kembali merasa bersalah dia, setelah teringat akan keadaan sang ibu mertua.
"Sudah saya bilang, ini bukan salah kamu," sahut Aksa cepat. Ada sedikit ketidaksenangan dalam nada bicaranya.
Meski tak bisa menampik bahwa dirinya merasa khawatir pada keadaan sang mama, tapi ..., Aksa juga tak pernah berpikir untuk menyalahkan Kirana.
Tentu saja! Mana punya dia hak untuk melakukan hal itu. Lagi pula, kalau ada orang yang paling patut disalahkan pada kasus ini, tentu saja dirinya. Karena walau bagaimana pun, juga, semua berawal dari ....
"Enggak, ini salah saya. Kalau saja tadi saya enggak menolak permintaan mama, sudah pasti kondisi mama enggak akan drop. Mama pasti baik-baik aja sekarang," aku Kirana penuh sesal.
Hingga beberapa saat berikutnya, wanita itu terus meremas kedua tangan sambil menatap ujung sandalnya. Dia benar-benar takut kalau sampai terjadi suatu hal buruk pada sang ibu mertua.
"Mama meminta sesuatu sama kamu?" Sementara Kirana sibuk dengan berbagai pikiran buruknya, Aksa justru sibuk mengartikan maksud dari perkataan istrinya itu.
"Apa yang Mama minta?" tanya Aksa lagi. Mulai tak kuasa ia menahan rasa penasaran.
"Kirana. Tolong jawab say--"
"Mama minta saya bertahan dalam pernikahan ini."
"Dan kamu menolak?"
"Tentu saja. Mana mungkin saya masih mau bertahan di sisi orang yang bahkan enggak pernah menginginkan saya. Lagi pula, cepat atau lambat kita pasti akan berpisah. Jadi--"
"Enggak, Ran. Kita enggak akan berpisah."
"M-maksud Mas?"
-Bersambung-