Putuskan Wanita Itu!

1080 Words
"Jangan gila, Mas!" Kirana menatap tak senang ke arah sang suami yang baru saja memberikan solusi padanya. Ah, tidak. Alih-alih solusi, Kirana justru merasa kalau yang Aksa berikan adalah bibit dari masalah baru. "Kita akan tetap menjalani pernikahan ini untuk sementara waktu. Seenggaknya sampai mama benar-benar pulih." Begitu kata Aksa tadi. Benar-benar gila, kan? Maksud Kirana ..., dia memang sempat menyesal karena sudah menolak permintaan sang ibu mertua secara terang-terangan. Namun, hei! Bukan ini juga yang dia inginkan. "Saya serius, Ran. Kita akan tetap menjalani pernikahan ini untuk sementara waktu. Saya enggak keberatan sam--" "Saya yang keberatan, Mas!" sambar Kirana cepat. Sangat cepat, hingga membuat Aksa terkesiap untuk beberapa waktu. "Apa yang membuatmu keberatan?" tanya Aksa setelah berhasil menguasai diri. Kirana yang mendengar pertanyaan itu sontak tertawa sumbang. "Setelah apa yang terjadi, Mas masih bisa bertanya apa yang membuat saya keberatan?" tanyanya tak percaya. "SEMUA, MAS! SEMUA YANG BERSANGKUTAN DENGAN MAS YANG MEMBUAT SAYA KEBERATAN!" tegas Kirana pelan. Namun, penuh dengan penekanan. Kirana tak gila. Meski sangat emosi mendengar perkataan Aksa, tapi dia sadar kalau mereka sedang berada di rumah sakit saat ini. Jadi, sebisa mungkin ia menahan akan diri. "Sudahlah! Saya enggak mau bahas ini lagi. Pokoknya, saya enggak setuju dengan keputusan Mas itu!" putus Kirana sebelum beranjak dari kursinya. Berniat meninggalkan Aksa yang tampak diam seribu bahasa. Setidaknya sebelum .... "Tunggu!" Aksa menahan sebelah pergelangan tangan Kirana sebelum wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya. "Apa lagi sih, Mas? Bukannya saya sudah bilang kalau saya enggak setuju dengan--" "Kamu pikir saya mau mempertahankan hubungan ini?" 'DEG!' Jantung Kirana yang semula berdetak dengan cepat, serasa berhenti berdetak saat mendengar kalimat itu. SAKIT. "Kalau memang enggak mau, terus kenapa masih bertahan? Talak saja saya sekarang, supaya Mas bisa terbebas dari pernikahan ini," kata Kirana datar. Sebisa mungkin terlihat baik-baik saja meski pada kenyataannya tak begitu. "Andai bisa, mungkin saya sudah melakukan hal itu, Ran. Walau bagaimanapun juga, saya tahu betul kalau kamu ingin bercerai dari saya. Tapi ..., apa yang bisa saya lakukan kalau keadaannya begini?" balas Aksa dengan nada yang tak kalah datar. "Kamu sendiri tahu kalau kondisi mama sedang memburuk. Mengetahui fakta bahwa anak dan menantunya berpisah, pasti hanya akan membuat keadaannya semakin drop. Saya enggak mau hal itu sampai terjadi. Maka dari itu, saya pikir mempertahankan pernikahan kita adalah pilihan terbaik untuk saat ini," sambung pria itu kemudian. Sebelum benar-benar mengakhiri penjelasannya, Aksa menarik napas pelan. Kemudian menatap wajah sang istri dengan lamat. "Enggak peduli sebesar apa keinginanmu untuk berpisah, saya harap kamu bisa menahannya untuk sementara waktu." Di saat Aksa tengah sibuk meyakinkan Kirana untuk bertahan dalam pernikahan mereka, wanita itu justru tertawa sinis sambil membalas tatapannya. Entah apa maksud dari tatapannya itu. Aksa pun, tak tahu. Namun, yang jelas ..., itu pasti bukan sesuatu yang baik. "Tunggu! Jangan salah paham." Aksa yang sadar kalau Kirana mungkin sedang salah paham dengannya pun, lantas berniat menjelaskan. Namun, belum sempat selesai, perkataannya telah lebih dulu disela oleh wanita itu. "Saya bukannya mau menahan kamu. Kalau mama sehat, sudah pasti kita akan --" "CUKUP, MAS!" Kirana tak tahan lagi. Dengan segenap perasaan marah di dalam diri, dia membungkam mulut Aksa. "Kalau memang Mas sudah enggak tahan mau pisah sama saya, ya sudah, talak saya sekarang! Jangan malah memutarbalikkan fakta begini!" tegas Kirana penuh penekanan. Emosi yang sudah coba ia tahan sejak tadi, seketika membuncah saat mendengar pernyataan Aksa. "Sejak awal, yang mau berpisah itu Mas Aksa! Bukan saya! Jadi, berhenti bicara seolah-olah Mas adalah korban!" sambung wanita itu emosi. "Dan lagi, kalau memang sakitnya mama jadi penghalang bagi hubungan Mas dengan wanita itu, maka jangan khawatir, saya yang akan merawat mama sampai sembuh! Mas enggak perlu merasa terbebani! Lanjutkan saja rencana indah yang sudah kalian susun sama-sama! Jangan pedulikan kami di sini!" Setelah mengatakan hal itu, buru-buru Kirana menyentakkan tangan. Berniat melepaskan diri dari cekalan Aksa. Namun ..., tenaganya yang pada dasarnya sudah terkuras karena berbagai hal, tentu tak sebanding dengan tenaga pria itu. "Lepas!" "Kamu salah paham, Ran. Maksud saya bukan begitu. Saya--" "Lepas!" "Kirana, tolong dengarkan saya dulu. Kamu salah pah--" "Lepas atau saya teriak?" "Ran--" "TOLONGGG!!!" *** Setelah perdebatan hari itu, hubungan Aksa dan Kirana kian memburuk. Hampir setiap hari, bahkan setiap saat, tak ada yang Kirana lakukan selain menyindir Aksa ataupun menyuruh pria itu untuk menceraikannya. Aksa sendiri tetap kukuh dengan pendiriannya. Ingin mempertahankan rumah tangga mereka, setidaknya hingga sang mama benar-benar pulih. Tidak, Aksa bukannya ingin bersikap plin-plan dengan membuat keputusan ini. Hanya saja ..., dia benar-benar tak bisa membuat kedua orang tuanya kecewa lebih dari pada ini lagi. "Jadi, kapan Mas mau menalak saya?" Kirana yang baru saja keluar dari ruangan rawat sang ibu mertua dan melihat kehadiran Aksa lantas menuntut jawaban. Dengan raut wajah datar, serta bibir mengerut ke bawah, dia menatap Aksa lamat-lamat. Berharap dapat mengintimidasi pria itu. Namun, sayang seribu sayang. Bukannya merasa terintimidasi, Aksa justru membalas tatapannya dengan tak kalah lekat. Membuat tekad Kirana yang semula sudah bulat, jadi menciut karenanya. Padahal, wanita itu tak tahu saja kalau apa yang dilakukan Aksa saat ini merupakan suatu bentuk dari kefrustrasiannya. Sungguh! Sejujurnya Aksa benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Kirana dan kekeras kepalaannya. "Saya enggak mau ribut sama kamu," kata Aksa beberapa saat kemudian. Sebisa mungkin ia terlihat biasa-biasa saja di hadapan sang istri. "Sekarang begini saja. Bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" "Apa lagi ini? Mas mau merencanakan hal gila apa lagi sampai mengajak saya membuat kesepakatan?" "Kirana, bisakah kamu membuang sedikit pikiran burukmu tentang saya?" Huh! Kirana memutar bola matanya malas. Merasa kesal dengan Aksa yang entah kenapa semakin hari terlihat semakin menyebalkan. "Kesepakatan apa yang Mas maksud?" "Pertama-tama, ayo cari tempat yang nyaman untuk bicara dulu," jawab Aksa cepat. Ada seberkas senyuman yang terbit dari bibir pria itu setelah mendapat respons yang cukup positif dari sang istri. "Bicara di sini aja kenapa, sih? Kenapa harus--" "Saya enggak mau ada yang dengar pembicaraan kita." Setelah mengatakan hal itu, buru-buru Aksa menarik tangan Kirana. Membawa wanita itu ke taman rumah sakit tanpa memedulikan penolakannya. Setibanya di sana, tanpa berbasa-basi lagi, Aksa mengutarakan permintaannya kepada Kirana. Kemudian menawarkan berbagai hal sebagai balasan. Awalnya, Kirana sangat enggan untuk mengiyakan permintaan Aksa. Namun, mengingat bahwa mereka tak sedang dalam keadaan yang bisa memilih, membuatnya mau tak mau mengalah. "Oke, saya setuju. Tapi ..., saya punya satu syarat yang harus Mas Aksa penuhi." "Apa pun itu! Saya pasti akan penuhi syarat yang kamu ajukan," kata Aksa penuh percaya diri. "Katakan, apa syaratnya? Kamu mau saya berikan apa? Uang? Rumah? Mob--" "Putuskan wanita itu!" "A-APA?" -Bersambung-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD