"M-maksud kamu apa?" tanya Aksa tak percaya. Dengan mata membulat sempurna, pria itu menatap wanita di depannya.
Sungguh! Aksa benar-benar tak menyangka kalau kalimat seperti ini akan keluar dari mulut Kirana.
Memutuskan hubungan dengan Devina? Ini mustahil! Maksud Aksa, tujuan ia kembali ke sini bahkan untuk meminta restu. Lantas bagaimana mungkin ia bisa memutuskan kekasihnya begitu saja? Terlebih, hubungan mereka sudah terlampau jauh. Jadi ....
"Kamu serius menjadikan itu sebagai syarat?" tanya Aksa memastikan. Besar harapannya bahwa tadi Kirana hanya sedang bercanda.
"Tentu saja! Memangnya ekspresi saya menunjukkan kalau saya sedang bercanda?"
"Ran ...." Aksa mengerang frustrasi. "Mana mungkin saya bisa memutuskan Devina begitu saja. Terlebih, kami sudah merencanakan pernikahan," akunya kemudian.
Tak mungkin memutuskan Devina begitu saja? Sudah merencanakan pernikahan? Kirana tertegun beberapa jenak mendengar pengakuan itu.
Aksa sudah gila! Begitu pikirnya. Dan dia pasti lebih gila karena lagi-lagi merasa sakit hati mendengar pengakuan pria itu.
Padahal, Kirana sudah mengetahui hal ini sejak beberapa hari lalu. Namun, entah kenapa rasa sakitnya sama sekali tak berkurang sedikit pun. Ah, alih-alih berkurang, rasa sakit itu bahkan semakin bertambah di setiap harinya.
Tidak! Kirana tak mau seperti ini. Dia bukan wanita lemah yang akan terima-terima saja diperlakukan seenaknya seperti dulu.
"Jadi, intinya Mas enggak mau memenuhi syarat dari saya?"
"Bukan enggak mau, tapi enggak bisa, Ran! Kamu sendiri tahu kalau saya sudah membawa Devina ke sini jauh-jauh. Apa kata orang tuanya nanti kalau tiba-tiba anaknya diputuskan?"
Heh! Kirana tersenyum miring mendengar perkataan Aksa. Bisa-bisanya pria itu masih memikirkan apa kata orang, di saat dia bahkan tak memikirkan perasaan keluarganya.
"Saya enggak tahu kalau Mas masih bisa memikirkan perasaan orang lain."
"Maksud kamu--"
"Dulu, waktu Mas meninggalkan saya di hari pernikahan kita, apa Mas pernah memikirkan bagaimana perasaan orang tua saya? Enggak, kan?! Mas tetap pergi tanpa memikirkan betapa malunya saya dan keluarga saat itu. Bukan hanya itu, bahkan saat saya dituduh membunuh ibu saya, Mas tetap enggak peduli!" cecar Kirana panjang lebar.
Di tengah perasaannya yang sudah sangat kacau karena teringat akan tragedi tiga tahun silam, wanita itu masih berusaha keras menahan air mata agar tak keluar di hadapan sang suami.
Sudah Kirana bilang, kan? Dia tak ingin dipandang lemah oleh Aksa. Lebih dari pada itu, dia tak ingin diperlakukan semena-mena lagi.
Kalau memang Aksa jahat padanya. Maka dia akan lebih jahat pada pria itu. Untuk yang ini, entah apa bisa terealisasikan atau tidak. Yang penting niat dulu. Begitu pikir Kirana.
"Cukup mengejutkan mengetahui fakta bahwa Mas berubah sedrastis ini." Kirana kembali membuka suara setelah berhasil mengontrol emosinya. "Ah, tapi harusnya saya enggak heran, sih. Mengingat, posisi saya dan wanita itu di hati Mas jauh berbeda. Dia pemilik hati, sementara saya hanya penumpang yang kehadirannya enggak diharapkan."
"Ya sudah. Kalau memang Mas enggak mau memenuhi syarat saya. Enggak masalah. Saya juga enggak akan memenuhi permintaan Mas. Dengan begitu, kita impas," pungkas Kirana akhirnya. Memutuskan untuk mengurungkan niatnya yang sempat ingin memenuhi permintaan Aksa.
Setelah mengatakan hal itu, Kirana menarik napas pelan. Mencoba mengatur napas yang sempat memburu karena terbawa emosi.
"Saya pergi dulu," pamit Kirana sebelum ....
"Kita belum selesai bicara, Ran! Mau pergi ke mana, kamu?" sela Aksa cepat. Diraihnya sebelah pergelangan tangan Kirana agar wanita itu tak bisa pergi ke mana-mana.
"Apanya lagi yang belum dibicarakan? Bukannya Mas enggak mau memutuskan hubungan dengan wanita itu? Kalau begit--"
"Kenapa kamu seperti ini? Kenapa harus mempersulit keadaan, sih? Padahal, yang saya minta hanya mempertahankan hubungan ini sampai mama benar-benar pulih. Apa sesulit itu? Toh, saya juga enggak meminta bantuan secara cuma-cuma. Apa pun, yang kamu minta, pasti akan saya beri! Uang, rumah, mobil dan sebagainya! Lagi pula, saya juga pasti akan memberikan tunjangan saat kita bercerai nanti. Jadi--"
Kata-kata Aksa terhenti seketika saat sebuah tangan mendarat di pipinya dengan cukup keras.
Merasa kesal, pria itu lantas menatap Kirana penuh protes sembari memegangi pipinya yang memanas. "Apa-apaan kamu, Ran?! Kenapa hobi sekali menampar saya? Kamu pikir saya ini apa?" tanyanya emosi.
Ada kemarahan yang tergambar jelas dalam sorot mata Aksa. Pria itu seolah merasa tak terima sudah ditampar dengan keras oleh Kirana.
Tentu saja! Memangnya siapa yang tak akan marah jika ditampar berulang kali oleh wanita yang sama? Terlebih, di saat ia sedang berbicara.
"Apa bertindak sembrono begini memang sifat asli kamu?" tanya Aksa penuh penekanan.
"Harusnya Mas berpikir kenapa bisa ditampar seperti itu!" sahut Kirana tak mau kalah. Persis seperti Aksa yang dikuasai oleh kemarahan, wanita itu juga merasakan hal yang sama. Dia marah. Dia kesal dan kecewa!
"Mas pikir saya butuh uang Mas? Enggak, Mas! Sepeser pun, saya enggak berharap uang dari Mas Aksa! Jadi, berhenti memandang rendah saya! Saya bukan w************n yang tergila-gila dengan uang!" sembur Kirana berapi-api.
Kirana benar-benar meluapkan amarahnya pada Aksa tanpa memedulikan di mana mereka berada saat ini. Persetan dengan orang-orang yang melihat! Begitu pikirnya.
"Dan lagi, Mas pikir saya menyuruh Mas memutuskan hubungan dengan wanita itu karena saya yang mau? Enggak, Mas! Enggak! Saya melakukan ini demi mama!"
Detik di mana kata 'mama' keluar dari mulut Kirana. Di detik itu pula Aksa tertegun. Tangannya yang semula berada di pipi menahan rasa panas, seketika turun tanpa aba-aba.
Hatinya mencelos. Amarah yang sempat menguasai dirinya pun, terkikis habis tak bersisa.
"Mas Aksa sibuk menuntut saya melakukan ini dan itu, tapi enggak pernah memikirkan apa yang harus Mas lakukan juga! Di mana pikiran Mas sebenarnya?"
"Mas pikir mama bisa sembuh kalau anaknya masih berhubungan dengan wanita lain sementara dia sendiri punya istri?"
"Introspeksi diri, Mas! Lebih dari siapa pun, yang harus dibenahi itu diri Mas sendiri!"
Setelah puas menyemprot Aksa dengan kata-kata pedasnya, tanpa mengatakan apa pun, lagi, Kirana meninggalkan Aksa yang terdiam seribu bahasa.
Tak dipedulikannya tatapan orang-orang yang entah sejak kapan telah tertuju ke arah mereka. Tak dipedulikannya juga bisik-bisik yang kian lama, kian memenuhi gendang telinga.
Ah, persetan dengan orang lain! Mau dipandang buruk sekali pun, ia tak peduli! Toh, sejak awal pun, dirinya tak pernah terlihat baik di mata orang-orang.
Sementara itu, Aksa yang baru saja ditinggalkan oleh Kirana hanya dapat terduduk lemas di kursi taman.
Rasa sakit akibat tamparan yang baru ia rasakan tadi bahkan tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit akibat tamparan keras yang Kirana berikan melalui kata-kata.
"Introspeksi diri ...."
***
Singkatnya, tiga hari telah berlalu sejak keributan yang terjadi di taman rumah sakit kala itu. Dalam kurun waktu yang cukup lama ini, tak ada satu pun, di antara Aksa maupun Kirana yang berniat bertegur sapa.
Ah, tidak. Lebih tepatnya, Kirana lah, yang tak mau menyapa Aksa. Wanita itu masih terlalu sakit hati atas perkataan Aksa tempo hari.
"Kirana, saya mau bic--" Aksa yang baru saja datang ke rumah sakit dan melihat kehadiran Kirana di depan ruang rawat sang mama berniat mengajak wanita itu bicara.
Namun, belum sempat benar-benar selesai mengajak, perkataannya sudah lebih dulu disela oleh wanita itu.
"Saya enggak bisa!" tolak Kirana cepat.
Baru saja wanita itu berniat menghindari Aksa seperti yang kerap ia lakukan akhir-akhir ini. Namun, belum sempat benar-benar merealisasikan niat, pergerakannya telah lebih dulu terhenti karena ....
-Bersambung-