"Aksa."
Kirana menatap jengah ke arah wanita yang tiba-tiba menghadang jalannya. Tak benar-benar menghadang sebenarnya, hanya dia saja yang berpikir seperti itu.
"Kenapa ke sini? Bukannya aku suruh kamu tunggu di hotel?"
"Aku kangen kamu, Sa. Selain itu, aku kesepian di hotel sendirian. Jadi, kupikir lebih baik kalau aku datang ke sini. Mana tahu aku bisa bantu kamu jaga mama," sahut wanita yang datang dengan pakaian serba kekurangan bahan.
Benar, wanita itu adalah Devina. Kekasih yang diboyong Aksa jauh-jauh dari negeri Paman Sam, sekaligus wanita yang menjadi penyebab dari kekacauan ini.
Mendengar percakapan di antara sepasang kekasih itu membuat emosi Kirana tiba-tiba membuncah. Dia kesal, sungguh! Apa lagi saat Devina menggunakan kata 'mama' ketika menyebut nama ibu mertuanya.
"Lepasin saya!" tukas Kirana sembari melirik tangannya yang sebelumnya ditahan oleh Aksa.
"Enggak. Kalau saya lepasin, kamu pasti akan pergi lagi, kan?" balas Aksa curiga.
Tidak, Aksa tak benar-benar bodoh hingga mau melepaskan Kirana begitu saja. Apa lagi jika mengingat betapa sulitnya mengajak wanita itu bicara.
"Kita enggak bisa begini terus, Ran. Kita harus bicara. Ada banyak hal yang harus diselesaikan." Aksa kembali membuka suara setelah sempat terdiam sejenak. Besar harapannya bahwa setelah ini Kirana tak akan menolak.
Namun, harapan tetaplah harapan. Tak peduli seberapa besar ia berharap, Kirana tetaplah Kirana yang keras kepala. Bukan sekedar menolak, kali ini wanita itu bahkan dengan lantang menyinggung tentang syaratnya yang tak dipenuhi tempo hari.
"Apa lagi yang mau dibicarakan? Bukannya semua sudah jelas? Mas enggak mau memutuskan dia, kan? Jadi, jangan harap kalau saya mau menuruti kemauan Mas!" kata Kirana sewot. Sengaja dia menggunakan nada yang cukup tinggi agar orang-orang bisa mendengar keributan mereka. Juga agar dapat menyinggung wanita tak tahu diri di depannya.
"Kirana, pelankan suaramu!" tegur Aksa pelan. Namun, penuh dengan penekanan.
Bohong kalau Aksa bilang dia tak kesal pada Kirana yang bersikap kekanakan seperti ini. Sejujurnya, meski tahu bahwa dirinya salah dan telah banyak menyakiti wanita itu, tapi dia juga tak terima jika dipermalukan terus-menerus.
Maksud Aksa, dia sudah cukup pusing dengan masalah yang menimpa mereka akhir-akhir ini. Belum lagi, ia harus menghadapi Devina yang kian hari kian sering merengek, meminta diberi perhatian. Jadi, ia benar-benar tak sanggup jika harus menghadapi Kirana yang kekanakan juga.
"Kita bicara di luar!" ajak Aksa tanpa melepaskan sedikit pun, cekalannya.
Kirana sempat menolak dan berusaha melepaskan diri dari Aksa. Dia bahkan sempat berteriak seperti dahulu agar dapat ditolong orang lain. Namun, aksinya kali ini sama sekali tak membuahkan hasil. Pria itu tetap saja bisa membawanya pergi.
Ah, menyebalkan!
"LEPASIN SAYA!" tuntut Kirana setibanya mereka di tempat sepi.
Kirana tak tahu persis di mana mereka berada saat ini. Yang terlihat di pandangannya hanyalah lorong tak berpenghuni. Benar-benar hanya mereka yang berada di sana. Dia, Aksa dan juga kekasih pria itu.
"Lepasin saya, Mas! Sakit!" tuntut Kirana sekali lagi. Berharap kali ini Aksa akan melepaskan dirinya.
Namun, masih sama. Bukan melepaskan, pria itu justru semakin mengeratkan pegangannya. "Saya akan lepas kalau kamu janji enggak akan pergi," katanya serius.
Mendengar hal itu, mau tak mau Kirana menurut, meski dengan berat hati. "Iya, iya!" balasnya pasrah.
Setelah sama-sama sepakat, akhirnya Aksa melepaskan cekalannya. Membuat Kirana yang sejak tadi sibuk menekuk wajah, buru-buru meraba pergelangan tangan.
"Kasar banget, sih!" gerutunya pelan. Sangat pelan, tapi masih mampu didengar oleh Aksa. Pun, oleh Devina yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berada.
"Maaf, saya enggak bermaksud menyakiti kamu," ujar Aksa. Entah benar-benar tulus atau hanya sedang berbasa-basi.
Kirana sendiri tak berniat merespons. Karena selain tak ingin berbasa-basi, dia juga masih kesal pada pria itu.
"Coba saya lihat."
"Apaan, sih! Jangan pegang-pegang!" Buru-buru Kirana menepis tangan Aksa saat pria itu berniat menyentuhnya.
Aksa yang mendapat penolakan pun, hanya dapat menghela napas pelan sembari berusaha menekan ego dalam-dalam agar tak terpancing emosi lagi.
"Cepat katakan! Apa lagi yang mau Mas bicarakan? Saya enggak punya banyak waktu!" kata Kirana setelah beberapa saat.
Aksa tak langsung menjawab. Hingga beberapa saat setelahnya, pria itu masih sibuk memperhatikan pergelangan tangan sang istri yang jadi memerah akibat ulahnya.
"Kalau memang enggak ad--"
"Kita obati tanganmu dulu. Setelah itu baru bicara," sela Aksa cepat.
Dari nada bicaranya, pria itu terdengar khawatir. Hal ini disadari langsung oleh Devina. Dia yakin betul kalau sang kekasih sedang mengkhawatirkan calon mantan istrinya saat ini.
Ah, tidak! Dia tak boleh diam saja! Devina mulai merasa terancam.
Entah kenapa, tapi dia merasa kalau hubungan kedua insan itu tak seperti yang Aksa ceritakan selama ini.
"Aksa, biar aku aja yang obati tangannya Kirana," kata Devina menawarkan diri. Buru-buru wanita itu mendekat. Berniat memisahkan kedua insan yang tengah sibuk berdebat.
"Ayo, Kirana. Saya tahu, kamu pasti merasa enggak nyaman kan, harus berduaan dengan Aksa," ujar Devina setibanya di hadapan Kirana.
Kirana yang mendengar ajakan Devina lantas mendelik ke arah wanita itu.
Tidak, kalau ada yang berpikir bahwa dia akan bersikap ramah kepada Devina, maka mereka salah besar! Sedikit pun, Kirana tak pernah ingin bersikap baik pada wanita yang telah menjadi sumber dari segala permasalahan pelik yang ia hadapi.
"Betul. Saya memang merasa enggak nyaman berduaan dengan suami saya, tapi ..., saya lebih merasa enggak nyaman lagi kalau harus berduaan sama selingkuhan suami saya!" balas Kirana ketus. Sengaja ia menekan kata 'selingkuhan' agar Devina merasa tersinggung.
Namun, bukan Devina. Yang merasa tersinggung justru Aksa. Pria itu bahkan sampai menaikkan nada bicaranya saat menegur Kirana. "Kamu bicara apa, sih?!"
"Kenapa? Saya salah?" sahut Kirana tak mau kalah. "Memang benar, kan? Dia selingkuhan Mas!" sambungnya berapi-api.
"Ran, saya capek. Tolong jangan bersikap kekanakan begini terus." Aksa mengerang frustrasi. Merasa lelah menghadapi tingkah Kirana yang semakin hari dirasa semakin menyebalkan.
"Sama. Saya juga capek. Maka dari itu, cepat ceraikan saya, supaya saya bisa keluar dari hubungan yang toxic ini."
"Kirana! Kamu--"
"Aksa! Tenang. Jangan terbawa emosi ...." Devina yang melihat raut wajah masam Aksa buru-buru memegang lengan pria itu sambil sesekali mengelus punggungnya.
"Kirana masih terlalu muda. Dia pasti cuma enggak tahu gimana cara bicara yang benar. Jangan marah, ya," kata Devina lagi.
Entah benar atau tidak, tapi Kirana merasa kalau di balik kata-kata lembutnya itu, Devina sengaja menjelek-jelekkan dirinya di hadapan Aksa.
Ah, sebenarnya Kirana juga tak peduli mau Aksa berpikir apa tentangnya. Hanya saja ....
"Saya tahu kamu masih labil, Kirana, tapi meskipun begitu, enggak seharusnya kamu--"
"Dari pada sibuk mengurusi saya. Lebih baik Mas urusi mulut selingkuhan Mas itu! Jangan cuma umur aja yang nambah dewasa, tapi pikiran enggak!"
"Apa kamu bilang?!" Devina yang sejak tadi berusaha diam, kini mulai terpancing emosi. "Kamu ini memang enggak tahu diri, ya! Sudah ditolong bukannya berterima kasih, malah ngelunjak! Pantas aja Aksa ninggalin kamu, ternyata selain enggak berpendidikan, sifat kamu juga minus!"
"Oh, ya? Lalu orang berpendidikan yang bisanya merebut suami orang itu lebih baik? Ya ampun, Mbak ...." Kirana tertawa sumbang sambil menatap Devina dengan tatapan mencemooh.
"Setinggi-tingginya pendidikan Mbak, Mbak itu tetap PELAKOR! Jadi, lebih baik Mbak introspeksi diri, deh, sebelum mengomentari sifat orang lain."
Kirana tersenyum penuh kemenangan setelah mengatakan hal itu. Dia benar-benar puas melihat kedua insan di depannya terdiam bisu.
'Akhirnya ....' Kirana membatin. Merasa lega karena telah meluapkan amarahnya. Sekarang, bahkan meski ia ditendang dari keluarga Adipura pun, dirinya tak apa. Sungguh!
"Saya sudah selesai! Enggak ada lagi yang mau saya bicarakan sama kalian," ujar Kirana setelah beberapa saat. "Mbak Devina tenang saja, sebentar lagi status PELAKOR itu akan hilang kok, dari nama Mbak. Besok saya akan mengurus perceraian kami ke pengadilan agama. Jadi, bersabarlah sebentar lagi!" sambungnya kemudian.
Devina tertegun mendengar kalimat itu. Wajahnya yang semula merah padam karena terlalu kesal, seketika berubah karena pengakuan Kirana.
Kirana mau mengurus perceraian? Itu tandanya, dia dan Aksa bisa ....
Ah, ini bukan mimpi, kan? Devina mengulum senyum. Padahal, dia sudah khawatir karena Aksa sempat menyinggung tentang nasib hubungan mereka kemarin. Namun, ternyata ....
Syukurlah.
"Kalau begitu saya pergi dulu. Silakan nikmati waktu kalian berdua," kata Kirana sebelum mundur selangkah. Bersiap pergi dari tempat antah-berantah itu.
"Ah, iya. Untuk Mas Aksa, tolong jaga mama. Jangan tinggalkan beliau, seperti Mas meninggalkan saya dulu. Istri mungkin bisa diganti, tapi orang tua enggak bisa, Mas!"
"Maaf kalau selama ini sikap saya menyebalkan. Saya harap Mas bahagia dengan wanita pilihan Mas." Kirana tersenyum tipis di akhir kalimatnya.
Meski merasa sakit hati atas perbuatan suaminya selama ini, tapi ia tulus berdoa untuk pria itu. Setidaknya, ini hal terbaik yang bisa ia berikan sebelum mereka benar-benar berpisah.
Itu yang Kirana pikirkan beberapa saat lalu. Sebelum ....
"Tunggu!" Aksa menginterupsi pergerakan Kirana.
Awalnya, Kirana tak ingin menggubris panggilan Aksa. Namun, mau tak mau, suka tak suka, langkahnya terpaksa dihentikan juga saat mendengar kelanjutan dari panggilan pria itu.
"SAYA AKAN TURUTI MAU KAMU!" Aksa menatap punggung Kirana tanpa berkedip sedikit pun.
Kemudian, tanpa menunggu lebih lama lagi, dia menghampiri istrinya yang baru berjalan beberapa langkah.
"Saya akan penuhi syarat yang kamu minta," kata Aksa setibanya di hadapan Kirana.
Kirana tak bereaksi. Lebih tepatnya, wanita itu masih tak tak tahu harus bereaksi bagaimana.
Aksa mau memenuhi syarat yang ia minta? Maksudnya ....
"Saya akan putuskan hubungan dengan Devina. Jadi, bertahanlah di sisi saya."
I-ini ....
Kirana menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tercekat. Ah, rasanya seperti mau pingsan saja.
"Aksa! Kamu apa-apaan, sih?!"
"Aku enggak mau putus!"
-Bersambung-