Kesan Pertamaku

1053 Words
"Semudah itu aku berkata 'Tuhan itu baik' padahal aku enggak tau, bagian mana yang pernah Tuhan berikan sampai-sampai aku ngakuin bahwa Dia baik" ------ "Selamat Datang!" Teriak orang-orang dari atas, Sheila yang belum juga bisa mengontrol perasaan gugup, tiba-tiba didekati seorang gadis yang warna kulitnya warna hitam, dengan rambut yang diikat seperti preman. "Sini biar aku bantu bawa kopernya" ucap gadis itu dengan senyum Pepsodent. Tapi karena ini kali pertama Sheila melihat ada manusia seperti gadis pemilik senyum Pepsodent, Sheila menggeleng tanda menolak bantuannya dengan semakin memegang kuat koper yang menyimpan barang-barangnya. "Gpp, ayo aku bantuin" tawarnya lagi, akhirnya Sheila mau tapi tangannya tetap memegang kopernya takut kalau dibawa kabur oleh gadis itu. Orang-orang diatas terus menyanyikan lagu penyambutan untuk Sheila, melihat mereka satu-persatu timbul rasa kasihan, karena disepanjang jalan wanita yang melambaikan tangan kepada Sheila diloket banyak menceritakan bahwa dia akan tidur bersama adik-adik panti, setiap calon Suster seperti Sheila akan menjaga sepuluh adik panti. Jadi, ketika gadis-gadis remaja berjumlah sebelas orang bertepuk tangan dan menyanyikan lagu untuk penyambutannya, Sheila langsung berfikir mereka adalah anak panti yang akan tidur bersama dengan Sheila nantinya. "Kasihan sekali adik-adik panti ini" bisik Sheila didalam hati. Apalagi ketika mereka mempersilahkan Sheila untuk duduk disalah satu kursi rotan, dengan antusias mereka terus saja melihat ke arah Sheila .Menyentuh makanan dan minuman yang disediakan untuknya saja Sheila sangat segan. "gpp, ini semua kami siapkan untuk kamu. Makan aja, kami sudah lebih dulu memakannya tadi" ujar seorang suster yang berada diantara mereka, beberapa menit kemudian tiba-tiba suster yang memiliki postur tubuh tinggi, berkulit hitam sama dengan gadis yang menawarkan bantuan kepada Sheila tadi di tangga pertama, bedanya suster yang baru ikut bergabung tinggi gadis tadi pendek bahkan lebih pendek darinya, matanya besar dan Sheila jadi ingat suster inilah yang juga diceritakan oleh suster yang mengantarnya, "Ibu Postulan disana, Suster orang Flores, matanya besar dan suaranya juga besar, kelihatannya aja seram, tapi kamu tenang aja dia orangnya baik ko" entah berniat membuat Sheila tidak takut tapi mendengar bagaimana ciri-ciri yang dikatakan suster yang mengantarnya sangat mirip dengan suster yang sudah duduk disebelah kiri Sheila, siang itu. "Kalau kamu setia, kita akan satu rumah" tambah suster yang mengantarnya sebelum kami benar-benar sampai disuatu bangunan tua yang menjadi tempat Sheila selanjutnya untuk menjadi seorang suster. "Yaudah, saya pergi ya. Kamu baik-baik disini" ujar suster yang mengantar Sheila sebelum pergi, Sheila tidak tau dia pergi kemana, yang Sheila tau adalah sekarang ia benar-benar berada didekat orang -orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya. Mereka terus saja melihat ke arah Sheila, bagaimana Sheila berdoa sebelum menyentuh hidangan, bagaimana Sheila makan bahkan bagaimana Sheila berbicara mereka benar-benar memperhatikannya seperti tidak boleh ada satupun dari pergerakan Sheila yang lewat dari pandangan mereka, selain merasa takut Sheila jadi risih juga mendapatkan perlakuan seperti itu. "Kalau sudah selesai, Kak Dame akan mengantar kamu ke kamar kamu" ujar suster yang memiliki postur tubuh tinggi dengan mata besar itu. "Dame, tempat tidurnya sudah disiapkan, kan?" "Sudah suster" jawab gadis yang dipanggil Dame, "ayo aku antar" ajaknya kepada Sheila, Sheila langsung mengikutinya dari belakang. Masuk ke dalam Sheila melihat ada enam tempat tidur yang disusun meninggi, "Tapi katanya, satu calon suster akan tidur dengan sepuluh adik panti tapi ko tempat tidurnya hanya enam? oh mungkin ada yang berdua di satu tempat tidur." dengan kepolosan itu Sheila tetap memutuskan untuk menyimpannya dalam hati, karena jika bertanya dengan gadis yang dipanggil Dame, kemana anak panti yang akan ku jaga, akan terdengar terlalu terburu-buru, apalagi tidak baik jika Sheila bertanya kepada gadis itu dan tidak menunggu informasi dari suster. "Ini tempat tidur kamu, dan ini lemari kamu" tunjuk Dame kepadanya, Sheila mengangguk, "Oh aku dibawah, berarti nanti adek panti ada yang tidur diatas ku" bisiknya lagi, semakin yakin bahwa Sheila benar-benar akan merawat adik panti disini. "Ayo, biar aku tunjuk kamar mandi kamu" ajak Dame kepadanya, Sheila langsung mensejajarkan langkah Sheila dengannya. "Sekarang kalau kamu mau mandi, mandi aja" ucapnya setelah menunjukkan kamar mandi yang akan Sheila gunakan, dan ternyata Sheila memiliki teman dalam menggunakan kamar mandi yang baru saja ditunjukkan kepadanya. "Terimakasih" ucapku sambil tersenyum, Dame juga membalasnya dengan senyuman. Ada perasaan bahagia ketika seluruh tubuh Sheila disentuh oleh air biara, menurutnya, ia menjadi gadis yang ikutan suci, setelah menyentuh air biara, setelah selesai Sheila memakai kaos berwarna putih dan rok panjang berwarna hitam. "Lewat mana ya tadi?" tanya Sheila kepada dirinya sendiri karena lupa arah kembali ke kamar. Sheila melihat ke bawah bangunan ternyata ada seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari ruangan yang aku tidak tau ruangan apa, karena tidak memakai kacamata Sheila jadi tidak jelas melihat rupa wanita itu tapi ia sangat yakin wanita itu berusia setengah abad atau lebih dan Sheila sangat yakin bahwa saat ini dia sedang berbicara kepadanya. "Enggak ada alpukat?" tanyanya kearah Sheila , Sheila yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita itu dengan sembarangan berjalan lurus dan belok kiri dan ternyata ia berada diruangan tempat Sheila disambut tadi, "Permisi, ada ibu-ibu yang minta alpukat" katanya dengan tangan yang memegang erat roknya karena terlalu kepanjangan, setelahnya ada satu orang yang berjalan kearah belakang. "Permisi, dimana ada tempat tong sampah, ya?" tanyaku sekali lagi, Sheila tidak bisa melihat ekspresi mereka karena dengan tidak memakai kacamata matanya yang sudah sangat lemah tidak bisa melihat dengan jelas. Kemudian Sheila masuk kamar yang Sheila yakini itu adalah kamar yang ditunjukkan kepadanya. Karena tadi disuruh untuk istirahat, Sheila langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang akan menjadi tempat tidurnya kedepannya, berkenalan dan terlelap, tidak sampai nyenyak karena telinganya mendengar suara-suara entah dari mana, suara itu seperti suara anak kecil, ia jadi sangat rindu rumah, rindu keluarga, jadilah Sheila tidak meneruskan untuk tidur, ia sibuk menangis karena menyesal jauh dari keluarga. "Mak, pengen pulang" katanya disela-sela isak tangis yang ia tahan agar tidak ada yang mendengarnya. Ketika bangun, dengan penuh keraguan Sheila keluar kamar, melihat ke segala arah "Sepi" , Sheila tidak tau harus kemana "Mereka semua ada dimana?" tanyanya kepada dirinya sendiri, perasaan ditinggalkan memenuhi hatinya, Sheila jadi ingin menangis, tapi sebelum air matanya benar-benar terjatuh, gadis yang bernama Dame mengajak Sheila untuk turun, berjalan dibagian bawah bangunan dan ketika mereka berjalan didekat lahan yang dipenuhi banyak tanaman Sheila dikenalkan dengan seorang suster muda yang sedang membersihkan bagian-bagian sisi tanaman. "Ini yang dari Riau itu? salam kenal ya " ujar suster itu yang Sheila sambut uluran tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD