"Sebenarnya ingin sekali aku menangis, terlalu tersiksa bukan karena rindu tapi karena menahan pusing dan mualnya aku"
----
Ketika Bus sudah melaju, Sheila duduk diam sambil merapalkan doa mohon perlindungan untuknya disepanjang jalan, karena ini adalah kali pertama ia pergi sendiri ia merasa sangat deg-degan, apakah akan ada orang baik yang akan ia temui disepanjang jalan menuju kota letak Biara yang ia tuju atau tidak? pertanyaan yang sama yang terus ia tanyakan kepada dirinya sendiri. Beruntunglah teman sebangkunya didalam bus adalah seorang wanita berhijab yang mau berbicara kepadanya. Membuat Sheila sedikit tenang dan tidak terlalu cemas, Sheila sudah mengambil keputusan jika nanti ada yang berbuat jahat kepadanya ia akan berteriak sekencang mungkin atau memukuli orang jahat itu sekuat tenaga entah dengan apa yang pasti dia akan menjaga dirinya.
Hatinya begitu kasihan ketika melihat ada pengamen yang naik, sembari bernyanyi pengamen itu juga menyodorkan plastik kosong kepada semua penumpang untuk mengisi kantong plastik yang ia pegang itu. Dengan hati selembut sutera, Sheila tanpa berpikir dua kali merogoh isi tasnya dan mengambil beberapa lembar uang untuk diberikan kepada pengamen itu. Setelah berhasil memberi perasaan bahagia meliputi hati Sheila, ternyata ia bisa menolong orang -orang yang kurang mampu dengan yang yang ia bawa, begitu seterusnya, diantara penumpang bis itu hanya Sheila lah yang paling rajin memberikan kepada setiap pengamen yang naik, bukan hanya satu lembar, Sheila memberi tiga lembar uang senilai lima ribu rupiah. Meskipun ia rajin memberi, Sheila tidak takut jika uangnya habis karena yang ia pikirkan hanya bagaimana agar bisa memberi uang kepada pengamen, matanya tidak sanggup melihat wajah penuh kasihan dari setiap pengamen yang datang kearahnya itu.
Perhentian pertama, ia dan seluruh penumpang turun untuk makan malam, kira-kira pukul tujuh malam, hal pertama yang ia lakukan adalah menuju toilet untuk buang air kecil, ia tidak sadar jika rambutnya sudah sangat berantakan. Keluar dan memesan makanan yang ia inginkan, tidak dengan pilihan nasi karena Sheila bukan penyuka makanan yang ada nasinya, apalagi setelah perjalanan yang mengocok seluruh perutnya, sebenarnya Sheila sempat muntah, membuat beberapa penumpang sedikit terganggu apalagi kantong plastik yang ia gunakan adalah kantong plastik yang transparan, sehingga seluruh isi perut yang ia muntahkan bisa dilihat oleh orang lain, yang paling tersiksa adalah teman satu bangkunya.
"Uekkkk.. uekkkk... ough!" Setelah muntah beberapa kali, kantong plastik yang ia gunakan Sheila ikat dengan sembarang dan menyimpannya didalam tas, sebenarnya jika ada yang berani menegurnya pastilah akan mengatakan, "Astaga jorok banget muntah ya dibuang bukan malah disimpan didalam tas"
atau, "Kamu enggak punya kantong plastik berwarna hitam ya?" mengingat itu Sheila senyum-senyum sendiri, menyadari betapa bodohnya dia. Dan untuk membenarkan dirinya ia langsung mengatakan kepada dirinya sendiri, "Maklum baru pertama kali keluar, jadi enggak ngerti soal begituan lagian yang disediakan kan kantong plastik berwarna putih enggak warna yang lain"
"Pak, kalau mau berangkat panggil aku ya" serunya kepada salah satu rekan supir bus, Bapak yang diteriaki mengangguk, "Iya cepat ya jangan lama-lama makannya"
Sebenarnya orang-orang yang disekitar Sheila atau yang mendengar percakapannya dengan rekan supir bus itu, sungguh sangat heran. Dari atas sampai bawah mereka sudah yakin bahwa ini pengalaman pertama Sheila keluar jauh, apalagi bagaimana Sheila bersikap selama diperjalanan ditambah Sheila tidak segan-segan meminta rekan supir bus untuk menunggunya atau memanggilnya jika akan berangkat lagi. Sheila termasuk anak yang beruntung karena hari itu para preman jalanan pada libur atau mudik sehingga Sheila yang polos dan lugu, selamat selama perjalanan.
Ketika Bus sudah akan berangkat lagi, rekan supir bus itu benar-benar memanggil Sheila untuk segera naik. Setelah semua penumpang sudah naik dan duduk ditempat mereka masing-masing, Bus yang berukuran besar dengan kelas ekslusif itu melaku membelah jalanan Riau, meski tidak sebagus jalan di kota-kota lain tapi jalan Riau termasuk jalan yang sering dilalui oleh mobil-mobil berukuran besar, jika bukan bus yang mengangkut penumpang (manusia) ya berarti mobil yang mengangkut buah sawit. Karena sudah bosab tidur, Sheila membuka matanya melihat-lihat sekitarnya, Sheila tidak tau sekarang dia sudah sampai dimana karena ketika selesai berdoa Sheila langsung tidur, membuka matanya hanya ketika muntah dan turun di perhentian untuk makan, setelahnya ia tidak tau daerah mana yang sedang mereka lewati ini. Mengambil satu bungkus makanan dan mengunyahnya ternyata jika ia terus mengunyah ia tidak akan merasa mual, karena sudah mengetahui cara agar dia tidak muntah lagi, disepanjang jalan Sheila terus mengunyah, jika sudah bosan ia akan lanjut tidur kemudian bangun lagi, mengunyah lagi, tidur lagi seperti itu seterusnya sampai Bus memasuki kota yang menjadi tujuannya. Ketika penjual keliling naik dan menjajakan dagangannya, Sheila lagi-lagi merasa kasihan karena isi makanan yang dijajakan oleh pedagang itu masih penuh, dengan baik hati Sheila membelinya dengan jumlah yang banyak. Ia berharap dengan dia membeli makanan itu akan ada juga yang ikut membeli dan membantu Bapak penjual itu. Ternyata tidak hanya satu, ada lagi penjual dengan menjual makanan yang sama, Sheila tetap membelinya. Meskipun sebenarnya ia baru pertama kali melihat ada makanan itu dihidupnya.
Dan ketika rekan supir bus memberitahu bahwa sebentar lagi sampai diloket, semua orang sibuk tidak ketinggalan Sheila yang dari Riau sudah dipesankan akan turun dan benar-benar menurunkan seluruh barangnya hanya diloket bus saja. Sheila kembali deg-degan ia takut tidak ada yang menjemputnya, meskipun sudah dikatakan ada suster yang akan menjemput namun hati Sheila tetap cemas, apalagi ketika melihat kearah luar tidak ada satupun wanita yang bisa ia katakan itu adalah Suster. Sheila malah berpikir bagaimana nasibnya nanti, apakah dia akan menjadi anak gelandangan dikota besar yang belum pernah ia pijaki? setumpuk pertanyaan yang sebenarnya semakin menghantuinya tidak membuat mobil bus itu berjalan terus, bus tetap berhenti ditempat yang sudah dikatakan. Dengan sedih Sheila turun dan mengambil koper yang sudah diturunkan. Melihat bagaimana penumpang yang ikut bersamanya sudah dijemput oleh keluarga, istri dan teman-temannya, Sheila semakin sedih ia tidak tau siapa yang akan menjemputnya, ia berandai jika ada kenalannya dikota ini pasti ia sangat bahagia dan tidak setakut ini. Ketika matanya melihat ada seluet wanita berjubah melambaikan tangan kepadanya ia melihat kebelakang memastikan bahwa wanita itu bukan memanggil dirinya, nyatanya semakin ia dekat semakin wanita itu tersenyum lebar ke arahnya.
"Nama kamu Sheila kan?" tanya wanita itu, Sheila mengangguk.
"Dek, bika ambonnya satu, mau?" tawar pria yang lebih tua dari wanita yang menanyakan namanya itu. Dengan kebaikan hati meskipun Sheila tidak menyukai makanan itu Sheila malag mengangguk dan mendekati Pria yang menawarkan makanan itu kepadanya, wanita yang disebalahnya langsung mencegahnya.
"Emang kamu mau?" dengan kikuk Sheila menggeleng.
"Yaudah kenapa beli kalau sebenarnya kamu enggak mau?"
"Kasihan" jawab Sheila pelan, mendengar itu wanita berjubah itu tertawa kecil dan langsung menuntun Sheila ke mobil yang sudah ia pesan tadi beberapa menit sebelum Sheila turun.
"Astaga, jangan karena kasihan makanya kamu beli, tapi karena memang kamu mau dan ingin memakannya, jadi kamu melakukan hal yang seperti itu disepanjang jalan?" Sheila mengangguk, ia tidak berani mengeluarkan suaranya.
"Ya, ampun!" ucap wanita itu kembali tertawa, baru kali ini menemukan orang sepolos dan selugu Sheila.