"Berbicara soal masa depan aku tidak bisa memastikan bahwa aku akan sukses, karena saat ini hanya kesetiaan yang aku minta"
-----
Anin, Edghard dan Sheila sudah berada di Paroki. Karena semalam Pastor Paroki meminta agar ia sempat melihat putrinya (Umat Stasi) sebelum berangkat ke Biara, jadilah pagi - pagi buta Sheila terpaksa bangun lebih awal untuk bersiap-siap, merapikan segala barang yang akan ia bawa ke Biara, karena setelah bertemu Pastor Paroki dari sana ia akan langsung berangkat menuju terminal bus yang akan membawanya menuju Biara yang menjadi tujuannya.
"Selamat pagi" sapa Diakon dan Katekis ketika Anin, Edghard dan Sheila turun dari mobil.
"Selamat pagi, Diakon, Pak...." jawab Anin dengan ramah, Edghard dan Sheila hanya melemparkan senyum kecil mereka.
"Oh ini yang mau menjadi Suster?" tanya Katekis melihat kearah Sheila lalu berhenti kepada Anin.
"Jangan rindu-rindu kalau udah disana ya" ucap Katekis itu tertawa ringan, Anin malah sudah berusaha membendung air matanya. Karena yang sangat ia ragukan adalah dirinya sendiri, padahal Sheila masih duduk di dekatnya, tapi rasa sedih terus saja mengipas-ngipas wajahnya dan membujuknya untuk menangis.
"Loh, ko malah Ibu yang nangis?" ledek katekis, tawanya semakin besar ketika Anin mengusap matanya.
"Astaga, so sweet banget. Dulu juga ketika aku masuk seminari orangtuaku juga seperti ibu ini, nangis terus" ujar Diakon mengenang ketika dulu dia ditangisi oleh orangtuanya.
Anin adalah Ibu yang memiliki hati selembut sutra, mudah tersentuh dengan berbagai hal. Apalagi kalau berurusan dengan anak, Anin akan sangat sensitif, ditambah overthinking yang membuat Anin menjadi overprotektif, dikit-dikit ngelarang anaknya pergi padahal hanya dua rumah jaraknya dengan rumah mereka, sebentar-sebentar telepon tanyain udah makan, udah minum, udah pakai minyak hangat, ketika Edghard dan Sheila menjadi peserta perkemahan. Membuat semua teman-temannya melabeli mereka dengan kata 'Anak Mama' . Tidak sedikit juga yang iri kepada mereka, karena tidak mendapatkan perhatian seperti yang Edghard dan Sheila rasakan. Sedangkan bagi Edghard dan Sheila mereka seperti dikekang, semuanya jika tidak ada Anin adalah kesalahan, Anin lebih sering melarang ketimbang mengijinkan mereka untuk melakukan sesuatu. Bahkan ketika ada tugas praktek, Anin akan menyuruh Sheila untuk membayar berapapun biaya yang dibutuhkan untuk tugas praktek tersebut namun dengan satu syarat Sheila tetap dirumah bersama dirinya. Bagi Anin, dunia luar untuk anak-anaknya apalagi Sheila sebagai perempuan sangat 'jahat' ia tidak mau anaknya salah pergaulan, atau hal-hal yang sangat umum sekarang ini tentang kenakalan anak remaja.
"Dek, enggak usah pergi-pergi ya, di rumah aja. Jangan ikutan sama mereka, nanti kamu jadi ketularan nakalnya" Dengan kalimat itu yang terus saja memenuhi gendang telinganya membuat Sheila yang semula memang pendiam, menjadi anak yang tertutup dan kurang pergaulan. Boro-boro diijinkan mengerjakan tugas kelompok dirumah temannya, ketika diajak Guru wali kelasnya untuk foto shoot bersama semua murid yang sekelas dengan Sheila saja, Anin tidak mengijinkannya.
"Enggak enak kalau begini terus. Aku enggak punya sesuatu yang bisa aku kenang dan ingat nanti" ujar Sheila pelan, sangat pelan sampai-sampai hanya dirinya yang bisa mendengar keluhannya tersebut.
"Berangkat sendiri?" tanya Katekis lagi, karena sudah bosan diam terus, hanya menyaksikan satu keluarga cemara yang sungguh membuatnya bahagia pagi ini.
"Iya, padahal aku pengen sekali ikut bersamanya tapi kata pastor Hendra kemarin harus sendiri"
"Bah... memang harus sendiri biar bisa belajar mandiri, karena nanti diBiara ketika kerasulan juga harus sendiri -sendiri perginya" ujar katekis yang sok lebih tau, tapi memang benar menjadi biarawan/i itu diajari bagaimana mandiri dan enggak bergantung kepada orang lain.
"Enggak usah jadi pergilah, Dek" bujuk Anin lagi, ia berharap Sheila mau mendengarkannya, karena ketakutannya yang berlebih. Sheila memang tidak pernah bepergian sendiri, dia hanya ditemani kemanapun, karena Anin akan sangat tenang ketika anak-anaknya pergi dengan ada yang menemani itupun harus benar-benar orang yang dikenal Anin berperilaku baik, jika tidak maka Anin tidak akan mengijinkan anaknya itu keluar rumah barang selangkah pun. Jadi, ketika Pastor Hendra menyuruh agar Sheila berangkatnya sendiri, Anin sudah panik sampai-sampai ia tidak bisa tidur sepanjang malam hanya memikirkan bagaimana Sheila didalam bus nantinya.
"Gpp Ibu, anak ibu juga udah besar. Sudah waktunya untuk mandiri. Tapi untuk kamu" ujar katekis menunjuk kearah Sheila.
"Jangan pernah menunjukkan wajah polos kamu disana karena kota yang kamu tuju adalah kota yang sangat banyak orang jahatnya, ketika melihat ekspresi kamu yang sangat polos ini mereka akan memiliki seribu alasan untuk melakukan kejahatan kepadamu, kamu mengerti?" Sheila begitu terpaku, ia tidak menyangka berita - berita yang ia dengar di televisi ternyata sungguh terjadi didunia nyata, ia berharap tidak akan bertemu dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa saling menghargai dan menganggap bahwa semua orang adalah citra Tuhan yang harus dijaga dan dikasihi.
"Udahlah, Dek. Urungkan saja niatmu, nanti kalau ada yang jahatin kamu, Mamak enggak bisa menolong kamu"
"Astaga! ada Tuhan bu, yang bakal menolong anak ibu. Enggak usah terlalu khawatir dia bisa ko, lagian emang kalau pada saat ibu bersama Sheila bertemu dengan penjahat ibu bisa melawan? kan tidak, malah sebelum ibu berteriak mereka sudah lebih dulu memenggal kepala ibu" ujar katekis dengan geram, mendengar bagaimana Anin berbicara ditambah ekspresi wajah Anin yang sangat jelas menampilkan ketakutannya membuat Katekis itu gemas sendiri, ini adalah kali pertama ia bertemu dengan seorang ibu yang sangat lebay.
"Tapi aku khawatir, Pak. Karena ini adalah kali pertama dia pergi sendiri tanpa kami"
"Wah bagus itu, biar dia juga merasakan bagaimana pergi sendiri ke daerah orang, lagian aneh juga jika diusianya sekarang ini dia belum pernah pergi sendirian. Ibu terlalu memanjakannya, tidak! lebih tepatnya mengekangnya" entah apa yang sebenarnya terjadi tapi semua perkataan Katekis itu sangat tajam, Sheila saja takjub mendengar bagaimana katekis itu menasehati ibunya yang begitu overprotektif kepadanya, ia juga sangat menyetujui apa yang dikatakan katekis itu, Sheila juga ingin mempunyai pengalaman pergi sendiri seperti yang sering dilakukan oleh teman-temannya dulu ketika masih sekolah.
"Udah-udah, kamu malah membuat ibu ini semakin khawatir. Kapan dia berangkat?" tanya Diakon menunjuk sebentar kearahku.
"Agak siangan lah, karena mau ketemu dengan Pastor Paroki juga, karena kemarin Pastor Paroki berpesan sebelum Sheila berangkat Sheila harus bertemu dengan Pastor Paroki dulu" jawab Anin, yang tidak melihat tanda-tanda bahwa Pastor Paroki ada dibiara sekarang .
"Loh, Pastor Paroki tadi pagi udah berangkat menuju Sulawesi, ada pertemuan disana" ujar Diakon sedikit terkejut karena tidak ada pesan satupun yang dititipkan Pastor Paroki kepadanya mengenai keinginannya untuk bertemu dengan umat yang akan menjadi Suster.
"Kalau Pastor Hendra?"
"Pergi juga, enggak ada pesan yang dititipkan?"
Akhirnya Sheila menggeleng lemah, padahal dia sudah bela-belain bangun lebih awal tapi Pastor yang memintanya untuk datang malah sudah terbang menuju Sulawesi.
"Yaudah, mungkin terjadi miss komunikasi. Kamu berangkat saja nanti kalau Pastor Paroki sudah kembali saya akan beritahu kalau kamu sudah menyempatkan diri untuk datang ke paroki ketika beliau tidak ada dirumah, gpp kan?"
"GPP, Diakon" Diakon pun bernafas lega, setelah itu Diakon meminta agar Anin dan Edghard pulang saja, soal keberangkatan Sheila akan mereka urus. Dan dengan berat hati akhirnya Anin dan Edghard pergi, itupun masih dengan air mata yang membanjiri wajah sedih Anin. Hari itu Sheila benar-benar berangkat, dengan ditemani oleh Diakon dan Katekis sampai terminal, bahkan sampai benar-benar duduk dibangku yang sudah dipesan, dengan perasaan takut dan sedih Sheila berangkat.
"Tuhan, jika Engkau benar-benar memanggil aku, tolong lindungi aku hingga sampai ditujuan, Amin"