"Ketika aku sudah bersiap kenapa aku kau kirimkan SMS keraguan?"
------
Sheila tidak tau mengapa sejak pagi ia merasa resah, jika menyentuh segala sesuatu ia seperti ragu, ketika berusaha untuk duduk tenang dan hening satu sosok manusia terlintas dipikirannya. Ketika mengehentikan pikirannya tepat pada punggung manusia itu, perasaan rindu dan sedih menyeruak didalam dirinya. Keinginan untuk bertemu dan bercerita banyak hal tiba-tiba menghantuinya. Membuat Sheila merasa sangat bersalah, dengan cepat ia mengaitkan kalung rosario ditangannya dan segera merapalkan doa kepada Tuhan untuk menolong dirinya yang sudah mulai dihantui oleh halusinasi kepada seseorang apalagi seseorang itu adalah seorang pria yang sempat memiliki tempat yang sangat istimewa didakam hatinya, meski belum pernah mulutnya berkata bahwa ia menyukai dan menginginkan pria itu dan laki-laki yang diam-diam Sheila sukai juga tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sangat berharap Sheila menerima perasaannya cintanya, meski melalui tatapan yang begitu dalam dan tulus serta perhatian kecil yang diberikan pria itu sangat jelas menggambarkan betapa berharganya dan berartinya Sheila bagi pria itu.
Tidak hanya satu, dua pria yang pernah berusaha untuk memenangkan hati Sheila dan bermimpi untuk bisa memenuhi sela-sela jemari Sheila disetiap malam Minggu, ada banyak laki-laki bahkan sampai dengan usia yang sangat jauh diatas Sheila pernah berharap bahwa Sheila akan menerima ajakannya untuk segera meminang Sheila usai kelulusannya nanti. Tapi, tidak ada satupun yang berhasil, bahkan orang yang sangat dikagumi oleh Sheila pun tidak! karena Sheila lebih banyak memendam perasaannya dan membawakannya dalam doa, untuk meminta Tuhan agar tetap menjaga hatinya. Hingga sampai kelulusan tiba dan keinginan Sheila untuk menjadi Suster belum ada laki-laki yang berhasil menbawa Sheila keluar malam, meski ada yang dengan berani mendekati Anin, bahkan memberikan perhatian kecil kepada Anin sebagai tanda bahwa pria itu menganggumi Sheila dan akan Anin mau mengijinkan Sheila untuk menjadi kekasihnya pun tidak berarti apa-apa bagi Sheila, semuanya itu hanya ke sia-siaan belaka. Sheila sudah berjanji tidak akan menikah karena ia tidak ingin hidupnya dikekang oleh karena alasan cemburu dan disetiap harinya harus memiliki tenaga yang ekstra untuk mengurus pria yang hidup bersamanya selamanya. Selain karena ingin menjadi pribadi yang bebas mencintai siapa saja tanpa takut ada yang cemburu dan melayani sepenuh hati, Sheila juga tidak memiliki list kehidupan ditinggal dan menjadi janda diusia tuanya nanti. Hal yang sangat tidak pernah diijinkan Sheila tercatat dicatatkan kehidupannya.
Dengan melihat pertengkaran, perselingkuhan, perceraian, kematian, membuat hati Sheila ngilu, ia berharap bisa menjadi tempat yang paling nyaman dan aman bagi mereka - mereka yang tidak memiliki nasib beruntung diluar sana. Dia ingin seumur hidupnya dia bisa menjadi pendengar bagi mereka yang berkeluh kesah, memeluk dengan hangat tubuh-tubuh yang kedinginan karena dipecundangi oleh kehidupan dan yang terpinggirkan, tidak diperhitungkan, tidak dipercayai dan tidak memiliki tempat yang layak dimata masyarakat. Apalagi ketika membaca riwayat perjalanan hidup Mother Teresa, Santa orang miskin di seluruh dunia, Sheila semakin bersemangat untuk bisa mengikuti jejak Mother Teresa yang menghabiskan seluruh waktunya untuk kebahagiaan orang lain. Sungguh keinginan yang sangat mulia. Tapi sebelum semuanya terjadi, keresahan yang dirasakan Sheila saat ini sungguh menguras batinnya, ia seperti ingin menangis karena begitu rindu dengan sosok pria yang melayang dipikirannya itu. Ia tidak tau mengapa hal ini tiba-tiba mengusiknya padahal sebelum tidur kemarin malam ia berdoa agar diberikan hati yang berjaga-jaga, agar tidak mudah dirayu oleh tipu muslihat apapun. Pagi ini dia malah mengalami suatu kejadian yang tidak menyenangkan
Karena begitu menganggu, Sheila mencoba untuk melihat aktivitas pria itu dimedia sosial, ketika melihat wajah pria itu debaran yang membuat Sheila merasa bahagia tiba-tiba muncul. Sheila menjadi sangat nyaman walau hanya men-stalking akun pria itu, melihat wajahnya dan mendengar suaranya membuat Sheila sangat bahagia. Ia tidak tau mengapa hal ini bisa terjadi tapi yang pasti ia sangat bahagia dan rindunya berkurang setelah mengetahui bahwa pria yang pernah ia kagumi itu dalam keadaan sehat.
"Aku mau bicara sesuatu sama kamu" ujar pria itu kepada Sheila ketika mereka masih duduk di bangku SMP.
"Sesuatu? sesuatu apa?" tanya Sheila menatap manik pria itu.
"Kita boleh agak kesana bicaranya? soalnya disini ramai" ujar pria itu melihat sekitar mereka sangat ramai oleh murid-murid yang sibuk menghibur diri dimalam Minggu karena pada saat itu mereka sedang mengikuti perkemahan Sabtu Minggu, waktu yang pas untuk bisa berduaan dengan orang yang mereka sukai.
"Boleh, tapi jangan lama ya, soalnya bakak ada kegiatan lagi" ujar Sheila yang berjalan lebih dulu ketempat yang dimaksud pria itu.
Ketika sudah berdiri saling berhadapan, pria yang menyembunyikan setangkai bunga mawar dibelakangnya sibuk menahan rasa grogi yang tiba-tiba menggerogotinya.
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Sheila yang tiba-tiba merasa deg-degan juga, tapi berusaha rileks dan pura-pura tidak tau kalau sebenarnya pria yang berdiri didepannya sekarang ini akan mengungkapkan perasaannya kepada Sheila.
"Aku.... aku... aku..."
"Woy, malah gelap-gelapan, udah disuruh kumpul sama kakak pembina, cepat!" ujar salah seorang kakak pembina yang ikut mendampingi kami, aku langsung lari lebih dulu sambil menahan rasa malu karena dipergoki berduaan ditempat yang gelap, padahal kami berdirinya tidak jauh dari keramaian dan masih terbilang cukup terang dan tidak terlalu gelap, tapi karena kakak pembina yang memergoki kami mengetahui bahwa akan banyak murid laki-laki yang akan menjalankan aksi mereka untuk menggaet murid perempuan yang mereka taksir, jadilah ia diam-diam pawai untuk mengacaukan aksi maut dari murid-murid laki-laki yang menurutnya masih bau kencur itu. Dirinya bukan tidak pernah semuda murid-murid laki-laki SMP yang saat ini ia dampingi, tapi karena ia sangat tau resiko 'makan sebelum berdoa' itu sangat rentan untuk kalangan anak muda jaman sekarang dan karena sebelum acara perkemahan ini dilangsungkan mereka dan beberapa rekannya sudah membicarakan hal ini terlebih dahulu untuk benar-benar menjaga agar tidak ada yang mengalami 'kecelakaan yang fatal' selama mereka melakukan perkemahan. Karena pernah terjadi ketika ia, dua murid SMP ketahuan melepas kerinduan mereka dipojokan sekolah dan langsung ditindak lanjuti, yang berakhir dengan keduanya baik perempuan dan laki-laki tidak diizinkan lagi untuk bersekolah, kejadian itu sangat menyedihkan hatinya, ia tidak ingin kejadian itu terus terulang kepada anak-anak muda yang ia jumpai dan dampingi karena bagianya masa depan setelah berumah tangga itu tidak sebebas ketika tidak memiliki urusan rumah tangga yang membebani mereka.
"Martabat seorang wanita itu terdapat pada cara dia menjaga dirinya, seorang pria akan sangat meratukan seorang wanita yaitu ketika wanita itu terlihat mahal dan sulit didapatkan, tidak banyak wanita yang memiliki kemahalan seperti itu, maka berjuanglah untuk menjadi wanita mahal yang membuat para pria menghormati martabatmu"