"Sebenarnya aku tidak mau tau, bukan karena tau tapi karena memang tidak mau"
------
"Ternyata udah belajar taekwondo, karate, dan silat, ya? makanya seberani itu sama laki-laki? dan seragamnya udah kekecilan makanya sekarang harus dikeluarin? itu rambutnya kenapa dipangkas pendek? udah dapat ijin dari Mamak? kenapa buku sekolahmu sekarang banyak yang kosong? guru-guru udah malas ngasih latihan soal disekolah? udah enggak ada lagi tugas yang harus dikerjakan dirumah? dan kenapa sepatumu berwarna hijau dengan garis merah seperti itu, udah enggak ada lagi peraturan yang mewajibkan seluruh siswa hanya bisa memakai sepatu yang berwarna hitam, selain itu tidak bisa? ternyata udah banyak berubah ya, padahal aku baru dua tahun lulus dari sekolah itu. Tapi ko enggak ada informasi sama sekali yang aku dengar ya" Edghard yang terus berbicara sendiri didepan Sheila yang terus saja menunduk membuat Sheila terus menarik nafasnya dalam-dalam ada sesuatu yang sesak yang ia sadari sebentar lagi akan pecah dan itu adalah hal yang tidak diinginkan Sheila. Karena sudah dua tahun setelah Ayahnya meninggal dan Edghard setelah lulus langsung pergi keluar kota, Sheila tidak menangis, itu yang ditakutkan Sheila dan sangat tidak diinginkan Sheila, berhadapan dengan Abang tercintanya membuat dirinya lemah karena dengan melihat mata Edghard, Sheila juga melihat Bima.
"Abang dari tadi ngajak kamu bicara loh, dek. Ko sekarang malah enggak bisa menjawab pertanyaan abang? padahal sebelumnya banyak banget jawaban kamu untuk menjawab pertanyaan yang abang ajukan" Sheila semakin menunduk, karena pelupuknya sudah penuh dengan air sungai yang siap mengalir di wajahnya.
Melihat posisi adiknya yang semakin menunduk dan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Sheila, Edghard datang mendekat dan memeluk tubuh ringkih yang sepertinya banyak menghadapi penyiksaan dari tuan pemilik tubuh itu. Memeluk tubuh Sheila, Edghard jadi merasakan sudah banyak kesedihan yang ditahan oleh adiknya itu, apalagi ketika Sheila akhirnya menangis didalam pelukan Edghard, membuat Edghard semakin yakin bahwa Sheila sudah sangat lama menahan semuanya sendiri.
Karena sebelum Edghard memutuskan untuk menjemput Sheila, Edghard menyempatkan diri untuk masuk kedalam rumah, melihat Anin yang terbaring lemah ditempat tidur dengan posisi menghadap tembok, Edghard mengerti bahwa saat ini keluarganya sedang tidak baik-baik saja, sehingga Edghard belum memberitahu Anin bahwa ia sudah kembali, karena Edghard belum sanggup melihat wajah sedih sang ibu yang terus berkibar usai kepergian sang ayah. Jadilah dengan memutuskan untuk pergi ke sekolah yang pernah ia tempati selama tiga tahun, Edghard jadi bisa melihat bagaimana perlakuan kasar adek kelasnya itu kepada sang adik, beruntunglah Edghard cepat datang jika tidak mungkin Sheila akan pulang dengan muka lebam atau malah terpaksa harus dibawa ke rumah sakit. Edghard tidak habis pikir bahwa masih ada laki-laki yang dengan ringan tangan melukai perempuan dengan tangan mereka, dengan ucapan mereka dan dengan tatapan mereka. Padahal yang ia tanam didalam hatinya dan yang selalu Anin katakan bahwa, laki-laki itu harus bisa menjaga perempuan dengan sebaik mungkin dan tidak mudah melukai perempuan, karena perempuan itu memiliki hati yang sensitif dan selembut sutra. Itu yang selalu Edghard ingat sehingga setiap kali Edghard kesal dengan Sheila, Edghard memilih untuk diam ketimbang harus memarahi Sheila dengan kata-kata yang berakhir dengan melukai hati Sheila, karena melukai perasaan adik perempuannya itu sama dengan melukai hati ibu yang melahirkannya.
"Capek.." satu kata yang akhirnya keluar dari mulut Sheila yang sedang menangis.
"Gpp, Abang ada disini, kamu nangis aja Abang bakal temani kamu, mau kamu teriak marah atau mukul ada abang, abang siap jadi bulan-bulanan kamu" mendengar itu Sheila malah semakin menangis, membuat Edghard bingung apakah kalimat yang diucapkannya salah?
"Gak mau, aku gak mau melampiaskannya sama Abang " ucap Sheila yang terus menangis. Edghard tersenyum kecil mendengar ucapan sang adik, memang sedari kecil mereka diajarkan untuk tidak melukai satu dengan yang lain karena Anin selalu mengatakan untuk bisa saling menyayangi. Tidak hanya kepada dirinya dan Bima tapi juga kepada orang lain juga.
"Yaudah sekarang enggak usah nangis terus, udah jelek makin jelek lagi karena nangis terus, lama enggak ketemu abang pikir kamu bakal jadi gadis dewasa yang enggak mudah menangis, eh malah lebih parah sekarang." ejek Edghard yang mendapat tatapan tajam dari Sheila.
"Ah abang, suka banget ngejek aku, kangen tau" ucapnya mengadukan kerinduannya. Karena sedari kecil mereka selalu bersama dan setelah Edghard lulus barulah mereka berpisah membuat Sheila yang sudah terbiasa akan kehadiran Edghard menjadi sangat kesepian, apalagi ditambah dengan Anin yang terus saja sakit-sakitan membuat Sheila benar-benar kehilangan teman dirumah, Bibi Izzah tidak cukup untuk menemaninya disetiap bangun pagi dan tidur malamnya karena yang Sheila inginkan adalah kehadiran Anin dan Edghard disisinya. Setidaknya disaat-saat yang membuat kesadarannya terguncang paskah kepergian Bima. Tapi nyatanya, Anin juga sangat terpukul membuat kondisinya melemah sehingga Anin jatuh sakit dan terus berbaring, tidak lagi bisa seefektif dulu untuk mengajar, gaji sebulan hanya bisa membeli obat pereda sakit di kepalanya dan gaji asisten rumah tangga, sedangkan uang kebutuhan Sheila dan uang sekolahnya semua dari uang pensiunan Bima yang syukurnya sangat cukup untuk memenuhi itu semua.
"Mamak terus sakit, dan kalau sakit kepalanya sudah semakin parah, mamak bakal marah-marah, aku jadi takut masuk ke kamar Mamak, untuk menanyai bagaimana keadaannya. Selama ini aku terus sendiri setelah abang pergi" adunya yang mulai terisak lagi. Wajah yang ia buat setegas mungkin dan kenakalan yang ia ciptakan ternyata hanya untuk menutupi rasa kesepiannya.
Nyatanya kebejatan terjadi akibat karena kehilangan sosok yang paling berarti didalam hidup mereka, yang membuat mereka kehilangan jati diri mereka sendiri. Dan mengakibatkan banyak hal terjadi diluar kendali, itu semua terjadi karena mereka merasa bahwa tidak ada lagi yang berarti. Menciptakan kekacauan yang tercipta dari sikap mereka adalah suatu kepuasan tersendiri bagi mereka.
Satu-satunya cara untuk merubah itu semua adalah, dengan cara merangkul dan menemani mereka, bukan dengan menghakimi dan menjauhi karena dengan melakukan itu akan banyak kekacauan -kekacauan yang terjadi.
"Jadi benar, kamu udah berubah menjadi murid yang nakal disekolah?" mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Edghard, membuat mulut Sheila kelu, bahkan air ludahnya kering, dia kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari abangnya.
"Mana ada! mereka aja yang selalu ikut campur dengan urusan hidup orang lain, mana nyebarin berita yang enggak benar lagi" jawab Sheila mengelak dari pertanyaan Edghard yang sebenarnya tidak perlu lagi dijawab oleh Sheila, karena Edghard sudah mendengar semua bagaimana Sheila disekolah setelah dirinya tamat dan jauh diluar kota. Semua informasi itu Edghard dapat dari Echa dan teman-teman yang dulunya sangat dekat dengan Sheila.
"Adek..." panggil Edghard menatap lembut mata Sheila, ditatap seperti itu Sheila menjadi kikuk, bibir yang secara spontan mengerucut membuat Sheila benar-benar terlihat seperti orang yang ketahuan bersalah.
"Udah ku bilang aku gak mau sekolah lagi, tapi mereka terus maksa yaudah aku datang ke sekolah, tapi ...." lagi-lagi Sheila terdiam, tidak berani melanjutkan ucapannya karena takut Abangnya akan marah kepadanya.
"Atau mau pindah?" seketika mata Sheila terbelalak, tidak menyangka jika Edghard akan memberikan pilihan seperti itu kepadanya.
"Mau sih, tapi..." Sheila menunduk lagi.
"Enggak bakal bisa lagi, soalnya tinggal empat bulan lagi aku udah lulus" lanjutnya yang mendapat senyum kecil dari Edghard.
"Itu tandanya harus bisa jadi anak baik, jangan nakal-nakal lagi, ya" ucap Edghard mencubit ujung hidung Sheila yang membuat Sheila meringis kecil.