"Dan ketika semuanya terasa menyakitkan lagi-lagi Kau mengetuk, entah untuk apa"
-----
Seminggu setelah pemakaman Bima, Sheila tetap diam, Anin yang seperti orang kebingungan dan Edghard yang belum juga sembuh dari demam tinggi usai pemakaman Bima. Hari-hari yang mereka lalui terasa sangat berat dan hampa, tidak ada gairah, bahkan makanan yang sengaja dimasak oleh asisten rumah tangga tidak mereka sentuh dengan minat, padahal biasanya, Anin akan memuji betapa baiknya Bibi Izzah asisten rumah tangga mereka dalam menyiapkan makanan. Apalagi Sheila yang akan memeluk Bibi Izzah ketika melihat makanan kesukaannya terhidang diatas meja, Bibi Izzah yang melihat bagaimana Ibu bosnya itu usai kepergian sang suami, sangat sedih. Semua benar-benar berubah, rumah terasa sangat sepi padahal mereka bertiga ada dirumah.
"Bu, ada tamu. Katanya mau ketemu sama Ibu" ujar Bibi Izzah suatu kali, ketika ada tamu yang datang untuk bertemu dengan Anin.
"Suruh kirim lewat email aja, berkas yang mau dia kasih atau ke sekolah langsung" Anin malah membuat Bibi Izzah merasa bingung karena Anin malah menyuruh Bibi Izzah untuk mengatakan kepada tamu tersebut untuk mengirimkan berkas yang tidak tau itu apa lewat email atau langsung dikirim ke sekolah. Padahal yang sebenarnya, maksud tamu tersebut datang bukan karena ada urusan pekerjaan dengan Anin.
Dengan ragu, Bibi Izzah menemui tamu yang setia menunggu diluar. "Maaf, kata Bu Anin tolong kirim ke email aja berkasnya" ujar Bibi Izzah menunduk hormat.
Sontak tamu itu tertawa kecil sambil menggeleng, "Astaga, aku datang bukan urusan pekerjaan, tapi sepertinya dia belum bisa diganggu, ya sudah sampaikan saja salamku untuk dia dan kedua anaknya" dan setelah itu tamu tersebut pergi sambil tersenyum karena mengingat ucapan asisten rumah tangga yang bekerja dirumah besar itu.
Berkat bujukan guru dan teman-teman, barulah Sheila mau datang ke sekolah, meski tidak menampilkan raut wajah bahagia tapi warga sekolah merasa bahagia karena usaha mereka untuk membujuk Sheila agar tetap sekolah ternyata berhasil.
"Wah, ada Sheila. Apa kabar? Bang Edghard ternyata lulus dengan nilai baik ya" puji salah satu murid yang tiba-tiba duduk disebelah Sheila. Namun, Sheila tidak merespon ucapan murid itu dia hanya tersenyum kecil lalu bangkit berdiri kemudian pindah ke tempat yang kosong jauh dari keramaian.
"Dia masih belum bisa diajak bicara" ujar Echa menepuk pundak murid yang dicuekin Sheila.
Sejak kembalinya Sheila ke sekolah, banyak guru yang mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka resah karena sikap Sheila yang sudah berubah total. Sheila yang sebelumnya adalah murid yang disiplin waktu, selalu mengerjakan latihan-latihan yang diberikan disekolah dan tugas sekolah yang tidak pernah bolong, tidak pernah absen dan yang terpenting tidak pernah tidur saat jam pelajaran berlangsung, sekarang semua yang tidak pernah Sheila lakukan dulu kini ia lakukan. Guru-guru mulai membisikkan kepada teman-teman Sheila untuk menasehati Sheila serta tak jarang wali kelasnya meminta bantuan guru BK untuk menyadarkan Sheila akan sikapnya yang sudah sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
Nyatanya semua tidak satupun yang bisa membuat Sheila kembali menjadi anak yang baik lagi. Edghard yang sudah jauh diluar kota karena mengejar cita-citanya sebagai TNI belum mendengar bagaimana sang adik yang ia sayangi sekarang sangat meresahkan guru-guru. Tidak ada yang berani mengatakan kepada Anin bahwa anak bungsunya sekarang sangat nakal, mengingat kondisi Anin yang semakin menurun membuat guru-guru dan teman Sheila memilih untuk menyembunyikannya dari Anin, dengan tujuan agar Anin tidak merasa sedih dan kondisi tubuhnya juga tidak semakin memburuk.
Yang paling tidak disukai guru yang piket pada satu hari itu adalah, setumpuk buku yang terletak diatas meja dan dijadikan sebagai bantal oleh Sheila, apalagi ketika memergoki Sheila tidur terlentang dilantai kelas disudut bagian belakang ruangan membuat kepala guru yang menyaksikan semuanya itu berdenyut sangat nyeri, tidak menyangka jika murid yang sangat ia andalkan itu ternyata menjadi anak yang sangat nakal.
Echa dan teman-temannya yang lain, sudah tidak tau dengan cara apalagi mereka menasehati Sheila agar Sheila tidak meneruskan perilaku buruknya itu, dan kembali seperti Sheila yang baik dulu. Sekarang mereka memilih untuk diam dan hanya menyaksikan bagaimana Sheila bersikap semuanya disekolah. Sheila juga tidak peduli jika banyak tatapan menghakimi dari guru-guru maupun murid-murid lainnya, ia hanya tetap datang ke sekolah dan tidur disepanjang jam pelajaran, jika ia ingin buang air kecil barulah ia mau keluar kelas namun Sheila lebih sering menahannya sampai pulang sekolah. pelan-pelan banyak murid yang tidak mengenali Sheila bahkan guru-guru baru yang tidak masuk ke kelas Sheila tidak mengetahui jika ada siswa perempuan yang ternyata sangat nakal disekolah itu. Sheila memang tidak pernah membantah setiap ucapan yang dikatakan oleh guru ataupun teman-temannya, tapi Sheila juga tidak pernah mau peduli dengan semua yang dikatakan kepadanya, melaksanakan satu nasehat pun tidak. Itu yang membuat guru-guru menjadi kurang senang dengan Sheila, tapi ketidaksenangan mereka tidak mereka beritahukan hanya lewat tatapan ataupun keluhan dikantor saja.
Saat ada acara sekolah yang mewajibkan seluruh murid untuk ambil bagian, Sheila sudah lebih dulu melompat dari tembok yang membatasi lingkungan sekolah dan lingkungan luar, disaat semua orang sibuk mencari dimana Sheila bersembunyi, Sheila sudah sangat nyaman menikmati mimpinya disalah satu warung yang tidak jauh dari sekolah.
Dan untuk menghindari agar Sheila tidak sampai melakukan aksi bolos lagi, guru-guru sepakat untuk memilih Sheila sebagai bagian inti dari acara yang sedang dilaksanakan tersebut, namun bukan Sheila namanya jika tidak bisa lari dari tanggungjawab. Dengan keahlian bersandiwara Sheila pura - pura pingsan ditengah lapangan membuat semua orang panik, tidak terkecuali dengan keempat teman dekatnya. Setelah semuanya telah pergi tinggal Sheila diruangan itu, dia akan pelan - pelan membuka matanya, lalu pergi dengan cara melompati pagar sekolah.
Pernah diteriaki, pernah diberi hukuman yang paling cocok untuk anak laki-laki, diancam akan mengadukan kelakuannya kepada Anin, pernah diancam tidak akan lulus sekolah, tapi semuanya sia-sia. Sheila tetap menjalani hidupnya dengan urakan. Siswa yang terkenal sangat nakal disekolah sangat mengagumi tindakan kriminal yang dilakukan oleh murid yang semula adalah murid yang paling baik , Sheila namanya.
"Aku suka gayamu, ada bau-bau kriminal didalam dirimu"ujarnya memuji tapi lebih tepatnya menyindir Sheila yang malah tidak peduli dengan perkataan itu.
"Sheila, kayaknya kita jodoh, kamu mau gak jadi pacarku" tawar murid itu dengan gaya tengilnya, bukannya tersipu malu atau menerima ajakan dari murid nakal itu, Sheila malah berdiri dan tanpa rasa segan meludah tepat diujung sepatu murid laki-laki itu. Membuat murid laki-laki yang terkenal nakal itu merasa tersinggung dan tanpa sadar mendorong pundak sebelah kanan Sheila membuat Sheila mundur beberapa langkah.
"Anjing! baru kali ini ada yang seberani ini samaku, kau nantang?! enggak usah sok preman kau hanya perempuan yang ditampar dikit langsung nangis, ku tonjok juga kau!" ancam murid laki-laki itu sambil berlalu, tidak tahan lama-lama berdiri didepan Sheila yang menurutnya tidak sopan kepadanya.
"Bacot!" maki Sheila menatap nyalang kearah laki-laki itu, tanpa ada rasa takut sedikitpun diraut wajahnya. Sheila tidak memikirkan konsekuensi dari ucapannya, dia hanya mengeluarkan kata yang menurutnya pas seorang laki-laki pengecut seperti dia.
"Anjing kau, habis kau samaku" teriak murid laki-laki itu berlari mendekati Sheila dan menarik kerah kemeja Sheila dengan erat siap melayangkan tinjunya tepat di wajah mulus milik Sheila. Namun sebelum semuanya terjadi satu tendangan yang melayang tepat di tulang keringnya membuat murid laki-laki itu teriak kesakitan dan melepaskan tangannya dari kerah kemeja Sheila yang sudah kusut, bekas remasannya.
"Jangan beraninya sama cewek, dan sempat kau melukai dia, siap-siap kau dan seluruh keluargamu dipenjara" ancam pria yang menendang tulang kering murid laki-laki itu. Setelah mengatakan itu, pria yang memakai topi hitam itu menarik Sheila dan menuntunnya untuk naik keatas motor milik pria itu, setelahnya hanya asap dari knalpot motor yang tertinggal menemani murid laki-laki itu dengan rasa perih ditulang kakinya.
"Makanya jangan cepat emosian, udah tau perempuan malah mau ditonjok aja" nasehat ibu-ibu pemilik warung yang menyaksikan semuanya sedari awal.
"Enggak usah ikut campur!"
"Anjing, kaki ku sakit sekali!" ringisnya memegang kakinya yang ditendang beberapa menit lalu.