"Dan aku kembali terbangun, membuka mataku dan bertanya hal apa yang sedang Kau kerjakan untuk aku lakukan?"
------
Jenazah Bima dibawa pulang kerumah untuk dimandikan dan melakukan serangkaian ibadat untuk ketenangan jiwanya. Ternyata sudah banyak sanak keluarga maupun tetangga yang menunggu mereka, ketika Anin turun dari mobil dipapah oleh Edghard, semua orang langsung duduk rapi didalam rumah, Bapak-bapak yang ikutan hadir membantu mengangkat peti jenazah Bima masuk kedalam rumah. Dan terakhir Sheila dengan keadaan yang sangat kacau, jejak air mata yang masih saja basah, rambut yang acakan, lingkaran mata yang menghitam dan bibir yang pucat membuat keadaan itu terasa komplit, Echa yang langsung memeluk tubuh Sheila merasakan kepedihan yang mendalam dari sahabatnya itu.
"Kamu yang kuat ya, Sheila" ujar Echa memberi kekuatan dengan tetap memeluk Sheila yang hanya diam saja, bak mumi. Didalam pelukannya, Echa merasakan tubuh Sheila bergetar karena menangis, tangisan yang begitu memilukan, membuat Echa tidak kuasa menahan air matanya.
Olin yang ikut duduk disamping Sheila sudah terisak karena tidak tahan melihat apa yang dialami oleh sahabatnya itu. Mereka tau, Sheila begitu terpukulnya ketika ayah tercintanya pergi meninggalkannya untuk selamanya, tidak lagi karena alasan pekerjaan, tidak lagi karena alasan waktu dan jarak, sekarang tentang takdir yang tidak bisa dihindari. Bima memang harus pergi meninggalkan keluarganya, tidak peduli seberapa besar cintanya kepada istrinya, Anin, dan pengorbanannya yang tulus kepada kedua anaknya, Tuhan tetap memintanya untuk kembali, melanjutkan kehidupannya didunia yang tidak lagi sama dengan Anin dan dua orang anaknya.
Ditengah isakan yang semakin terdengar seperti raungan kecil, Sheila mengingat sekelebat kenangan singkat namun manis bersama Bima.
"Anak yang pintar, nanti kalau besar mau jadi apa?" tanya Bima dari arah belakang punggungku Sheila yang duduk dipangkuannya.
"Mau jadi guru" jawab Sheila dengan penuh semangat.
"Wah berarti harus rajin belajar dong" ucap Bima memeluk sayang putri satu-satunya itu.
Apalagi ketika Bima baru saja datang, Sheila yang masih kecil langsung memeluk erat kaki Bima sambil menangis, "Adek kenapa nangis?" tanya Bima dengan lembut.
"Abang jahat, masa Sheila dipaksa makan obat pahit tau, Pak" adu Sheila yang mengundang tawa kecil dari Bima.
Sheila ingat bagaimana Anin yang selalu menceritakan kebaikan Bima, apalagi dengan terus mengatakan untuk membawakan Bima kedalam doa-doa mereka, agar Bima tetap sehat dan semangat dalam bekerja.
Seberapa seringpun Sheila meminta agar Bima bisa tidur dengan nyenyak bersama mereka dirumah yang mereka huni, Tuhan hanya mengabulkannya sekali, yaitu pada hari ini. Bukan ini yang diinginkan Sheila, ketika Bima tidak lagi bisa menghirup udara, ketika Bima tidak lagi bisa menggeser posisi tubuhnya barang sejengkal. Yang diinginkan Sheila adalah dia bisa bercerita banyak disepanjang hari bersama Bima, Ayah yang sangat sedikit ia rasakan kehadirannya. Meskipun Sheila tidak memperlihatkan ekspresi bahwa ia begitu merindukan sosok Ayah, tapi di setiap doa-doanya, Sheila selalu meminta agar Tuhan mau mengijinkan dia bisa merayakan hari ulangtahunnya dengan kehadiran Bima. Sheila mau disetiap paginya ada sosok Ayah yang menemani sarapan paginya, mengantarnya ke sekolah.
"Mungkin dengan sakit yang berhari, Tuhan mengabulkan doaku. Tapi bukan dalam keadaan sakit yang seperti itu yang aku ingin Tuhan kabulkan. Kenapa Tuhan sejahat ini samaku" keluhnya menatap kuburan yang sudah tertutup rapat didepannya.
Sangking sesaknya, Sheila tidak lagi bisa meneteskan air mata barang setetes. Terlalu banyak cita-cita yang ia sampaikan kepada Tuhan untuk dirinya dan Ayahnya, terlalu banyak kecewa yang ia rasakan atas kejahatan Tuhan kepadanya. bahkan dalam ke terdiamannya Sheila membisikkan bahwa Tuhan sangat jahat, dan Tuhan tidak pernah mau mengabulkan doanya sesuai yang Sheila minta.
Ketika tubuhnya dibawa pulang, Sheila hanya bisa melihat kuburan Bima yang semakin jauh dari penglihatannya, dia diam seribu bahasa. Melihat Anin yang terus menutup mata, membuat semangatnya semakin menghilang, ia menghela nafas panjang, Sheila beralih kepada Edghard yang terus menunduk membuatnya semakin tidak selera untuk melanjutkan hidupnya.
Ia kembali melihat jalan-jalan yang baru mereka lewati, melihat tempat pemakaman Bima yang sudah benar-benar tidak terlihat lagi, ludahnya semakin kering dan rasa pusing terus mengusiknya, dan akhirnya ia memilih untuk ikut menutup matanya, untuk sekedar mencari rasa tenang yang sama sekali tidak akan ia dapatkan, karena saat ini seluruh bagian tubuhnya seakan mendukung bahwa dia benar-benar terpukul, rasa nyeri diulu hatinya tidak begitu ia pedulikan, bahkan punggung tangannya yang sedikit mengeluarkan darah malah membuatnya mengulas senyum puas, ada rasa bahagia ketika dia berhasil melukai tubuhnya. Tubuh yang sebenarnya sudah sangat-sangat lelah, dua hari satu malam Sheila tidak tidur, matanya yang sudah kelelahan ia paksa untuk terus terbuka berharap dengan melakukan hal gila seperti itu Bima akan kembali bangun, nyatanya Bima tetap terbujur kaku, bahkan suhu tubuhnya lebih dingin dari sebelumnya. Akhirnya Sheila menyerah berharap Tuhan mau mengabulkan doanya, sehingga ketika orang-orang datang memberikan kata penghiburan kepadanya tidak ia anggap sebagai rasa simpati dari orang-orang, ia malah menganggap itu hanya sebuah kalimat yang menjengkelkan.
Echa dan teman-temannya yang lain pun tidak ia hiraukan, ia terus terdiam disisi Bima. Sampai peti yang menutup tubuh Bima tertutup rapat barulah Sheila mau beranjak dari tempat duduknya, itupun dia kembali diam mematung didalam ambulance. Air tidak ia minum, sepiring nasi tidak ia sentuh. Sampai semua orang merasa iba melihat keadaan Sheila yang sangat-sangat kacau itu.
Berbeda dengan Edghard yang tetap memilih untuk tenang, Edghard terus menjawab pertanyaan -pertanyaan kecil yang diajukan orang kepadanya, bahkan menyempatkan diri untuk mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang mau hadir dan membantu pemakaman Bima sampai selesai.
Dan malamnya ketika rumah sudah benar-benar sepi hanya Anin dan kedua anaknya, Anin kembali menangis bahkan lebih hebat dari ketika siang saat menghantar jenazah Bima ke pemakamannya. Edghard yang sudah mulai menunjukkan bahwa tubuhnya sudah benar-benar tidak baik, berbaring lemas disamping Sheila yang terus saja diam.
"Tuhan, apa yang sebenarnya ingin Engkau lakukan kepada keluargaku, mengapa Engkau memanggil suamiku?" tanya Anin disela-sela ia menangis, tubuhnya semakin bergetar kesedihan yang ia tahan seluruhnya pecah, membuat malam itu berlalu dengan menyaksikan kesedihan dari Keluarga kecil itu.
"Adek... " panggil Anin memeluk tubuh Sheila. Tapi Sheila tetap diam, tidak membalas panggilan Anin bahkan membalas pelukan Anin pun tidak.
Tidak ada yang benar-benar bisa membuat Sheila berbicara, Edghard yang terus saja berbaring tidak membuat Sheila memiliki selera untuk bertanya keadaan Edghard malam itu, dia hanya sebentar melihat kearah Abangnya lalu kemudian menatap lurus ke arah tembok polos didepannya.
Karena kehilangan nyatanya mengguncang emosional setiap orang, sekuat apapun dia yang namanya kehilangan akan membuat pribadi itu menjadi pribadi yang sangat lain dari dirinya sebelumnya, entah siap atau tidaknya kita kehilangan tetap akan bertamu dirumah kita entah kapan dan dimana.