"Dan kali ini aku sungguh-sungguh Kau bangunkan"
------
Pagi tadi, ketika Sheila masih tertidur ia bermimpi sesuatu yang aneh, dia lupa apa isi mimpinya tapi ketika terbangun ia merasa perasaannya tidak enak, ada sesuatu yang sangat memilukan hatinya nanti, tapi entah apa. Saat melihat Bima yang masih tertidur diatas ranjang rumah sakit. perasaan sedih meliputi seluruh hatinya, ia tidak memiliki kata yang pas untuk mengungkapkan isi hatinya, yang dia tau pasti hari ini adalah hari yang tidak baik untuknya.
"Sheila, nanti jadi ikut bareng kita kan?" tanya Echa menyodorkan segelas s**u hangat yang tadi ia dan Echa memesannya.
"Jadi, aku juga udah ijin sedikit lama pulangnya" jawab Sheila, tersenyum kecil kepada teman dekatnya itu.
Tapi baru aja dia bisa mengontrol perasaan sedihnya, tiba-tiba sebuah notif membuatnya kembali resah.
"Dek, ayo kerumah sakit sekarang, Abang tunggu diparkiran" pesan dari Edghard, membuat Sheila merasa ada sesuatu yang menggigit nadinya. Dengan langkah cepat Sheila menuju parkiran dimana Edghard sudah menunggunya.
"Pegangan ya kuat ya, Abang mau ngebut" perintah yang langsung ditaati Sheila tanpa terlebih dahulu ada pertanyaan yang keluar dari mulut kecilnya.
Lima menit lamanya perjalanan seperti dua belas jam bagi kedua anak SMA itu, karena mereka ingin segera sampai ke rumah sakit dan memastikan bahwa firasat yang menghantui mereka serta permintaan sang ibu tidaklah menjadi masalah.
"Abang... Adek...." seru Anin ketika melihat Edghard dan Sheila berjalan mendekatinya di koridor rumah sakit.
"Bapak, sayang..." lirihnya lagi tapi dengan kalimat yang tidak sampai selesai ia katakan.
"Bapak kenapa, Mak?" tanya Sheila yang mulai menangis. Edghard yang langsung mengintip dari kaca jendela melihat banyak dokter dan perawat didalam ruangan Bima, pagi tadi ketika Anin akan berangkat kerja tiba-tiba Bima merasa sesak, nafasnya yang sepanjang malam teratur pagi ini seperti tersendat-sendat, bahkan menjawab pertanyaan Anin saja Bima sangat kesusahan.
"Bapak akan baik-baik aja" ucap Edghard sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa, Ayah yang luar biasa yang diam-diam ia idolakan akan kembali sehat dan bisa bersama dengan mereka lagi.
Didalam ruangan dua dokter sudah menggeleng pelan, menatap kearah dua dokter lainnya yang masih berusaha mengecek kondisi Bima yang semakin tidak stabil, dua perawat yang ikut masuk bersama mereka merasa sangat canggung untuk sekedar bertanya "Tindakan apa yang sebaiknya kita lakukan untuk kondisi yang seperti ini?"
"Sepertinya memang bagian terakhir yang harus kita lakukan" ujar Dokter yang bername tag Widiyanto.
Semuanya melihat kearah dokter tersebut, bahkan Edghard yang masih melihat dari kaca jendela menanti arahan yang sama, meski sebenarnya ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Memberi luang kepada keluarga untuk menyampaikan sepatah kata, kepada pasien, sebelum pasien mengakhiri hidupnya, ini sudah pada tahap yang darurat. Untuk menolongnya sama saja melawan kehendak Tuhan dan tidak akan ada hasil yang memuaskan juga nantinya" semua yang mendengarnya tertunduk lesu, seolah menampilkan raut kekalahan dari wajah mereka masing-masing. Satu perawat yang berjalan kearah pintu setelah diperintahkan oleh dokter Widiyanto untuk membuka pintu ruangan Bima berada.
"Ibu dan adik-adik, sudah bisa masuk ya" ujar perawat itu dengan pelan, dan setelah tiga dokter dan satu perawat lainnya keluar barulah Anin dan dua anaknya berjalan masuk. Setelah pintu ditutup, isak tangis yang ditahan Anin seketika pecah, ketika melihat Bima yang masih kesusahan bernafas malah kondisinya semakin menyedihkan, Bima seperti orang yang kehilangan gairah, tangannya yang lemas ia gunakan untuk meremas pembatas brankar yang ia tidur, menahan rasa sakit didalam tubuhnya yang semakin menggerogotinya.
"Bang..." panggil Anin memeluk tubuh Bima yang sudah sangat dingin.
"Ibu dan adik-adik udah bisa memberi kata perpisahan atau minta maaf ya, bu. sebelum pasien mengalami kehidupan baru" ujar Dokter Widiyanto dengan hati-hati. Edghard yang tidak senang mendengar ucapan dokter tersebut mendekati sang dokter, "Apa maksud anda berbicara seperti itu? Bapak kami akan baik-baik saja dan jika anda dan seluruh rekan anda tidak bisa bekerja dengan baik untuk kesembuhan Bapak saya, kami akan mencari rumah sakit yang lebih baik dari pada rumah sakit ini" Dokter Widiyanto yang memaklumi perasaan anak laki-laki muda yang berbicara kepada ini, hanya mengangguk kecil dan mencoba untuk memberikan kalimat yang sederhana untuk meminta pemahaman dari laki-laki muda itu.
"Pasien tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama lagi, kami sudah melakukan yang terbaik, maaf jika hanya sampai disini yang kami bisa, dan biarkan pasien pergi dengan tenang" ujar Dokter Widiyanto berharap Edghard mau mendengarkannya.
Satu menit kemudian Bima kembali tidak sadarkan diri, Dokter Widiyanto mencoba untuk menyadarkannya dengan satu alat yang ia sentuhkan ke tubuh Bima.
"Hanya sebentar waktu Ibu dan adik-adik untuk berbicara kepada pasien, tolong gunakan waktu yang singkat ini untuk memberikan kata-kata terakhir kepada pasien" ujar Dokter Widiyanto, Sheila yang sedari masuk sudah meraung semakin menangis ditambah ketika Bima mengatakan, "Jaga Mamak, jaga adik kamu ya, Bang" pesan Bima kepada Edghard. Dan sedikit mengulas senyum setelah itu Bima sudah benar-benar tidak sadarkan diri, bahkan mesin yang menampilkan informasi kesadarannya pun sekarang sudah menampilkan garis lurus sampai diujung layar.
"Bapak....." teriak Sheila yang langsung terduduk dilantai, rasanya lututnya sudah tidak sanggup lagi menahan berat tubuhnya, kepedihan atas kepergian Bima membuatnya tidak sanggup untuk sekedar berdiri. Tidak jauh berbeda dengan Anin yang juga sudah pingsan disisi Bima, Edghard yang langsung sigap membawa tubuh sang ke kursi panjang diruangan Bima.
Berbicara tentang kehilangan memang tidak akan habis-habisnya dengan kata kesedihan. Tidak ada yang bisa melarang Tuhan untuk menciptakan seseorang dan terlahir ke dunia, tidak ada juga yang bisa melarang sang pemilik kehidupan itu untuk mengambil kembali nafas yang ia titipkan didalam tubuh karya jarinya. Demikianlah yang tengah Anin dan kedua anaknya alami pada saat ini, seberapa besar teriakan Sheila untuk memanggil nama Bima tidak akan memberikan hasil sama sekali, Bima akan tetap tertidur dengan tenang, meski jiwanya yang baru keluar masih berkelana, menyaksikan bagaimana tubuhnya dibawa keluar ruangan yang pagi ini baru saja ia tempati, menyaksikan bagaimana Anin, istri tercintanya pingsan usai menangis dirinya, bagaimana anak bungsunya meraung-raung memanggil - manggil namanya, serta bagaimana Edghard dengan sisa tenaganya memanggil dokter untuk segera memberikan penanganan kepada Anin.
Ternyata jiwa Bima yang masih berada didekat mereka, berusaha menjawab panggilan Sheila, mendekati Anin yang belum sadarkan diri, memanggil nama Edghard yang masih sibuk mengurus seluruhnya.
"Sheila, ini Bapak sayang" ujar Bima yang merasa aneh kenapa suaranya tidak didengar dan mengapa Edghard tidak melihat kearahnya padahal Bima sudah sangat dekat dengan posisi Edghard berdiri.
"Aku sebenarnya kenapa?" pertanyaan kecil yang akhirnya keluar dari mulut jiwa Bima, tidak ada satu orangpun yang mendengarnya, melihat kearahnya sekarang berdiri dan dapat merasakan sentuhannya.