"Aku menggigil, bukan karena hari ini hujan turun, melainkan karena hal yang Kau perlihatkan kepadaku selanjutnya"
---------
"Pak, tau gak sih. Guru-guru disekolah itu gak asik tau, mereka lebih sering ceramah ketimbang ngajar, gak seru tau" sudah sedari siang, Sheila terus berbicara tentang Sekolah, teman-temannya sampai dengan menceritakan betapa kakunya Abangnya, Edghard. Membuat Bima tertawa mendengar anak perempuannya itu. Padahal Anin setiap kali berbicara kepadanya lewat media sosial, selalu mengatakan bahwa Sheila adalah anak yang manja dan pendiam, tapi menurutnya anak keduanya ini adalah anak yang sangat suka bercerita. Karena sejak Bima mulai baikan dari sakitnya siang itu Sheila tidak habis-habisnya bercerita, bahkan ketika Anin meminta agar Sheila tidur sebentar, anak itu menolaknya dan memilih untuk tetap duduk disebelah Bima.
"Beneran gak capek? Adek belum istirahat loh siang tadi, ini udah malam" ujar Bima, penuh perhatian. Dikatakan seperti itu Sheila malah cemberut.
"Mau jagain, Bapak" ujar Sheila memeluk leher Bima dari samping.
Dari cerita Anin, kalau Sheila sudah seperti itu tidak ada lagi jawaban untuk membuat Sheila berhenti, karena jarang sekali Sheila akan berperilaku layaknya anak kecil dan bersikap dewasa secara bersamaan. Tampak raut kekhawatiran dari wajah anak keduanya itu, Bima yang diam-diam merasa bahagia karena kedua anaknya ternyata sangat perhatian kepadanya, meski mereka jarang sekali berkumpul, bahkan dibilang sangat jarang. Karena Bima harus bekerja sesuai dengan desk job yang telah disepakatinya saat dulu. Inilah konsekuensi yang harus ia tanggung sekarang, yaitu jarang berada didekat anak-anaknya.
"Abang kapan lulusnya?" tanya Bima, melihat kearah Edghard yang baru saja masuk dengan seragam OSIS yang masih menempel ditubuhnya. Melihat Edghard, Bima seperti melihat dirinya dimasa muda, sangat mirip bahkan cara Edghard merespon pun sangat mirip dengan Bima, itu membuat Bima merasa terharu akan karya tangan Tuhan atas hidupnya dan keluarga kecilnya.
"Dua bulan lagi, Pak. sekarang lagi sibuk-sibuknya ngejar les untuk ujian akhir sekolah nanti" jawab Edghard setelah mencium telapak tangan Bima, dan ngacak rambut Sheila yang malah senang diperlakukan seperti itu. Hal kecil semacam itulah yang selalu diingatkan oleh Anin, untuk bisa memberikan perhatian kecil kepada keluarga.
Bima mengangguk, "Masih yakin sama cita-citanya?" tanya Bima menatap lekat wajah sang anak yang adalah duplikat dirinya.
"Masih, emang ada lowongan kalau aku gagal yakin sama cita-citaku?" kekeh Edghard diakhir ucapannya. Membuat Bima ikutan tertawa, Bima menggeser posisi duduknya agar lebih rileks dibantu Edghard disebelah nya.
"Ada, kamu mau kalau Bapak minta kamu jadi Pastor?" ujar Bima, menusuk direlung hati Edghard, mendengar itu Edghard malah mematung, Sheila yang dari tadi hanya mendengar sekarang malah ikut menimpali.
"Jadi Pastor itu gak nikah loh katanya" Bima mengelus pipi chubby anak terakhirnya.
"Benar, Abang mau jadi Pastor?" tanya Bima lagi, tapi dengan nada yang santai tidak seperti pertama ia mengatakannya.
"Lihat nanti deh, lagi fokus sama cita-cita awal aja" ujar Edghard mengupas apel yang sudah berada ditangannya.
Pintu ruangan Bima terbuka, dan menampilkan sosok Anin, istri tercinta Bima yang selama dua puluh tahun telah menemani hidupnya hingga sampai sekarang.
"Kan benar feeling Mamak, adek pasti gangguin Bapak makanya Bapak belum tidur" ujar Anin yang langsung duduk disisi kanan Edghard. Dituduh seperti itu Sheila memicingkan matanya, "Apaan sih, Mamak datang-datang malah fitnah orang, dosa tau. Aku enggak ada gangguin Bapak kan? Bapak aja yang mau lama-lama cerita sama aku, iya kan, Pak?" Bima yang ditanya seperti itu malah mencubit pipi Sheila karena merasa gemas melihat ekspresi anak keduanya itu.
"Sheila anak baik ko, malah dia yang dari tadi jagain Bapak" dikatakan seperti itu Sheila jadi merasa bangga, dengan memainkan sebelah alisnya ia berkata kepada Abangnya, "Denger kata Bapak? aku anak baik, karena mau jagain Bapak "
Mereka terus bertukar ceita, Sheila berkali-kali tertawa tapi juga menangis karena dinakalin Edghard, membuat Bima dan Anin sangat menikmati bagaimana kedua anaknya ada didepan mereka saat ini. Tidak ada waktu yang mengejar mereka, tidak ada setumpuk file yang harus diselesaikan dan tidak ada murid nakal yang harus dinasehati oleh Anin, membuat sepasang suami istri itu saling berpelukan dengan menyalurkan rasa rindu mereka masing-masing.
Mungkin dengan cara sakit baru mereka bisa berkumpul bersama? karena tidak akan ada waktu yang harus membuat mereka terpisah, Bima sangat merindukan jika suatu saat dia bisa menghabiskan waktunya bersama istri dan kedua anaknya yang kian menanjak dewasa. Anin menangkap jelas kerinduan yang terpendam dihati Bima, terlihat dari bagaimana Bima melihat kedua anaknya yang sudah tertidur pulas.
"Dek, bagaimana nantinya anak-anak kita kalau sudah besar ya?" tanya Bima tersirat kesedihan dari balik nada suara Bima.
"Mereka akan menjadi laki-laki dan wanita yang tangguh seperti Bapaknya" jawab Anin semakin memeluk Bima.
"Seperti kamu juga, terimakasih karena telah menjaga mereka, merawat mereka dan tetap menceritakan namaku kepada mereka" ucap Bima setulus-tulusnya, membuat Anin tidak kuasa menahan air matanya.
"Kita bersama yang akan merawat dan menjaga mereka dengan cara kita masing-masing" ujar Anin, sembari menghapus jejak sungai diwajah nya.
Sudah puluhan tahun berlalu, mereka masih tampak seperti pasangan muda yang baru menjalin hubungan. Mereka jauh dari kata bosan, meski perdebatan kecil kerap kali terjadi, tapi mereka selalu memegang janji yang pernah mereka katakan bersama ketika pertama kali akan menjadi sepasang suami istri, akan tetap mencintai sampai ajal yang memisahkan.
Dan Bima yang menyimpan sakitnya sendiri, semakin merasa ngeri dengan waktu, bahkan menutup matanya dengan tenang pun ia sudah tidak seberani sebelum dia terkapar lemas dibrankar rumah sakit.
"Dek, ingat gak bagaimana awal kita bertemu? dan akhirnya kamu yakin untuk menjadi istriku?" tanya Bima, mengajak istrinya mengenang kembali awal mereka bertemu.
"Ingat, bahkan masih jelas diingatan ku bagaimana, pria aneh yang selalu mencari masalah itu dikeroyok oleh massa" ujar Anin mulai membuka memorinya.
"Sudah tau nyawanya hampir melayang tapi masih aja sok jagoan, sebenarnya aku merasa kasihan karena diantara ribuan massa yang menggebuki laki-laki itu tidak ada satupun yang merasa kasihan, jadinya aku terpaksa menenteng sendal jepitku untuk bisa berlari ke rumah pak Desa untuk melaporkan ada perkelahian antar seribu massa dan satu orang pria aneh. Barulah, Pak Desa dengan sepatu bajanya datang dan menghentikan pertengkaran itu, kalau tidak pastilah laki-laki aneh itu benar-benar meninggalkan raganya pada hari itu juga" Bima meraih tangan istrinya dengan lembut.
"Ku kira masalah sudah selesai dan aku tidak usah ikut campur lagi, eh malah aku yang diminta tolong pak Desa untuk merawat laki-laki aneh yang sudah terluka parah itu. Mana, orangnya sangat rewel lagi, pura-pura manja, bikin kesal aja" ujar Anin memasang wajah kesalnya, membuat Bima tertawa terbahak.
"Tapi dengan merawat pria itu, bibit cintamu bertumbuh kan?" ujar Bima mencoel dagu istrinya. Anin seketika tersipu malu.
"Ya gimana enggak cinta, laki-laki aneh itu setelah sembuh jadi pria yang paling baik di mataku, coba siapa yang mau menampung muntah orang lain ditangannya? enggak ada! hanya laki-laki aneh itu yang bisa melakukannya kepada adikku! hatiku yang sekeras baja, seketika cair juga melihat perhatian-perhatian tak terduganya kepadaku dan kepada adikku "
"Jadi, ketika dia menyatakan dia ingin menjadikan mu kekasihnya kamu mau?" Anin mengangguk semangat.
"Iya, soalnya disitu aku juga udah keburu cinta mati kepadanya" membuat Bima yang mendengar itu tertawa sangat keras.
"hush..! Anak-anak lagi tidur" ujar Anin, membuat Bima menutup mulutnya yang masih tertawa.
Dan malam itu mereka habiskan dengan mengenang kembali kisah mereka, bagaimana orang ketiga selalu hadir dan bagaimana kesabaran Anin sebagai gadis yang taat kepada Tuhan diuji.
"Terimakasih karena masih mencintaiku hingga sampai sekarang, aku tidak tau bagaimana hidupku jika bukan kamu yang menjadi istriku, Anintya Arumi."