"Aku tau, Kau memampukan aku tapi untuk apa?"
------
Sejak pagi Sheila merasa cemas, bahkan guyonan yang biasa mampu membuatnya tertawa menjadi sangat hambar di telinganya, merespon ucapan teman-temannya saja sudah syukur tapi hari ini Sheila terlihat berbeda dari hari-hari biasanya, membuat teman-temannya bertanya apakah Sheila sedang memiliki masalah?
Karena sejak sampai disekolah Sheila tidak banyak bicara, memang Sheila terkenal pendiam tapi hari ini sungguh membuat jiwa kepo Nesya meronta-ronta, ada apa dengan teman kesayangannya itu hari ini.
"Sheila, acara mister limbat itu masih lama loh, ko kamu udah mulai diam sekarang? aneh tau gak sih kalau kamu udah mulai mmpraktekannya sekarang" ujar Olin memanyunkan bibirnya memainkan helaian rambut Sheila yang menggantung bebas dipundaknya.
"Ayo dong, Sheila. Ngomong gitu, kamu kayak lagi makan lem" ujar Nesya yang dianggukin oleh temannya yang lain.
Sampai jam pulang sekolah pun Sheila tetap diam, bahkan terkesan buru-buru ketika keluar dari gerbang, untungnya tidak ada angkot yang lewat jika tidak pastilah Sheila sudah menjadi bulan-bulanan supir angkot yang akan meneriaki Sheila karena lari begitu saja menyebrangi jalan dan naik ke atas motor Edghard yang juga tidak kalah kusut wajahnya dari Sheila.
"Mereka berdua kenapa sih? ko kusut gitu wajah mereka"
"Bukannya Bang Edghard emang gitu ekspresinya?"
"Beda, Lin. Biasanya memang kusut tapi hari ini benar-benar kusut, ditambah lagi dengan ekspresi wajah Sheila yang ikutan kusut, mereka lagi berantem lagi? lagi diam-diaman lagi? tapi ko kayak kompakan ya?"
"Mereka berdua kan kalau lagi berantem emang gitu"
"Udah ah, mau pulang aja" putus Echa masuk kedalam mobil yang sudah ia pesan tadi sebelum keluar kelas. Olin, Tania dan Nesya juga ikutan pulang dengan motor yang mereka bawa masing-masing.
Dan hari itu berlalu dengan kekusutan Edghard dan Sheila.
Sedangkan dirumah, Anin sudah menunggu dengan wajah cemasnya, bulak balik melihat pintu utama yang belum juga menampilkan tubuh kedua anaknya yang sudah berjanji akan pulang lebih awal dari waktu pulang biasanya.
Setelah melihat Edghard yang disusul Sheila, barulah Anin berhenti berdiri, ia kemudian duduk dan menunggu Edghard dan Sheila duduk didepannya.
"Bapak kalian sakit" ujar Anin dengan pelan, tidak seperti biasa raut wajah ibu dua anak itu. Bima memang jarang sakit, tapi kali ini Anin seperti benar-benar menyimpan rasa takut yang luar biasa itu bisa dirasakan oleh Edghard dan Sheila.
"Tapi enggak parahkan, Mak? hanya sakit ringan aja?" tanya Sheila mendekati Anin yang sudah mulai lemas.
"Dimana Bapak sekarang dirawat, Mak?" Edghard langsung menanyai dimana Bima dirawat, ia ingin langsung melihat kondisi Bapaknya ketimbang harus bertanya kepada Anin yang terlihat lemas seperti itu.
Setelah Anin memberitahukan bahwa Bima dirawat dirumah sakit, Edghard meminta agar mereka menemani Bima, Sheila yang juga tidak kalah cemasnya mengatakan ia juga mau diikutsertakan dalam mengurus Bima, membuat hujan kecil dari sudut mata Anin muncul tanpa diminta.
"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang" ujar Anin, mengelus wajah Sheila yang mulai menampilkan ekspresi sedih.
Disepanjang jalan, Sheila hanya diam tapi matanya sibuk melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, melihat kearah pak supir dan jalan secara bergantian lalu berhenti dengan menutup kedua matanya, tangan yang ia tautkan seperti sedang berdoa. Sedangkan Edghard tetap dalam posisi tenangnya, meski sebenarnya ia juga sangat mencemaskan keadaan Bima tapi diantara mereka bertiga Edghard lah yang paling tenang, Anin sudah dengan ikat kepala yang melingkar di kepalanya, saat akan pergi tadi ia mengeluh kepalanya berdenyut dan terasa pusing, jadinya Edghard memberi obat pereda sakit kepala dan memberikan ikat kepala kepada Anin.
Jarang bersama dalam satu rumah, memang tidak menjadi masalah untuk kedua anaknya yang sebenarnya masih membutuhkan peran seorang Ayah, tapi karena Anin yang selalu memberi edukasi bahwa Bima tidak selalu bersama dengan mereka karena Bima mencari uang demi memenuhi kebutuhan mereka bertiga, itu sangat dimaklumi oleh Edghard dan Sheila, dan ternyata diam-diam Edghard sangat mengagumi sosok Bima yang ternyata sebagian sifat Bima turun padanya, sedangkan Sheila yang paling sedikit bertemu dengan Bima sangat menyayangi Bima karena dari cerita Anin, Bima sangat bahagia ketika Sheila lahir dan bela-belain datang ke Riau untuk melihat Sheila yang mungil, bayi kecil yang melengkapi kebahagiaan Bima dan Anin, juga Bima pernah tidak tidur malam hanya untuk menunggu hasil cek kesehatan Sheila ketika Sheila yang masih berumur tiga tahun demam tinggi dan terpaksa harus dirawat dirumah sakit. Dan yang sangat menbekas bagi Edghard dan Sheila, Bima adalah sosok Ayah yang paling luar biasa, ketika tidak sesukses sekarang Bima pernah berjalan kaki sejauh beberapa meter dari rumah ke toko untuk membelikan s**u untuk Bima yang sudah berumur dua tahun dan Sheila masih satu tahun. Apalagi ketika Anin mengatakan uang yang dipakai Bima untuk belanja s**u mereka adalah uang hasil menjual emas Anin. Jadi, meskipun terlihat tidak ada kerinduan yang diserukan oleh Edghard dan Sheila kepada Bima tapi bagi mereka Bima adalah pahlawan hidup mereka berdua, dan Bima memiliki tempat yang sama dengan Anin dihati mereka berdua.
"Pak..." panggil Sheila ketika sudah berdiri disisi ranjang tempat Bima berbaring. Tidak ada jawaban hanya suara tetesan infus yang terdengar. Edghard mendekati Sheila dan merangkulnya untuk memberi kekuatan kepada Sheila yang sudah lemas seperti keadaan Anin yang duduk disisi seberang tempat Sheila dan Edghard berdiri.
"Bapak lagi istirahat, mungkin besok baru bisa kalian ajak bicara" ujar Anin menyentuh lengan Bima yang terasa dingin karena udara AC.
"Kita nginap aja ya, Mak." ujar Sheila menghapus titik air disudut matanya.
"Kalian harus sekolah" ujar Anin, mengingatkan bahwa Edghard dan Sheila tidak boleh absen.
"Nanti Sheila ijin aja, pasti guru wali kelasnya Sheila ngijinin ko" Anin menggelengkan kepala, jika Bima tau kedua anaknya tidak sekolah karena mencemaskan dirinya, Bima akan marah kepada Anin. Bima bukan tipe orang yang mudah tersentuh, karena bagi Bima pendidikan adalah nomor satu diatas segalanya.
"Guru kamu ngijinin, tapi Bapak tidak suka anaknya tidak sekolah"
"Tapikan untuk menjaga Bapak, bukan karena malas sekolah" lagi-lagi Sheila dengan keahlian debatnya membalas respon Anin yang tidak mengijinkan mereka ikut merawat Bima.
"Adek, dengarin Mamak ya sayang, pulang sekolah kalian baru boleh jaga Bapak" Anin masih berusaha membujuk anak terakhirnya itu. Meskipun sebenarnya ia juga ingin kedua anaknya itu berada disisinya karena Anin adalah tipe orang yang sangat lemah jika orang yang dia sayang terbaring lemah dibrankar rumah sakit apalagi dengan infus yang setiap setengah jam harus diganti.
"Mak..." Baru akan menjawab lagi, Edghard sudah menyentuh tangannya tanda agar Sheila tidak membantah lagi, karena Edghard sangat tidak menyukai perdebatan apalagi didepan orang yang sedang sakit.
"Setelah pulang sekolah kita merawat Bapak." ucap Edghard dengan tegas, membuat Sheila tidak bisa lagi berkata-kata, karena baginya membantah ucapan Abang berarti membantah ucapan Bapaknya, karena sedari kecil Sheila diajari untuk menghormati Edghard sebagai Bapak keduanya dirumah setelah Bima.
#Berikan suara