Dua

1976 Words
Setelah clubbing selama dua jam lamanya, mereka berempat pun memilih menghabiskan malam di pesisir pantai yang seolah tak pernah tutup meski hari semakin larut. Bahkan Pelangi menyewa satu tenda untuk mereka bermalam di pantai itu, entah ide siapa yang mencetuskan untuk bermalam di bibir pantai? Di sekitar mereka pun banyak yang menyewa dan mendirikan tenda, mengharap  dapat melihat matahari terbit yang kabarnya sangat indah dinikmati dari tepian laut lepas. Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun tak ada satupun diantara mereka yang berniat masuk ke dalam tenda untuk tidur. Pelangi mencscroll akun instagramnya, melihat destinasi tempat berlibur lain yang sangat indah dari salah satu akun favoritnya. “Guys, tahun depan ke sini yuk!” Pelangi menunjukkan gambar sebuah tempat di Kalimantan Timur, tepatnya di pulau Manimbora. Sebuah pantai yang sangat indah dengan pulau kecil yang dapat dijangkau dengan berjalan kali diatas pasir putih yang memperlihatkan pantai yang seolah terbelah. Airnya sangat jernih dan pemandangannya tentu sangat indah. Ponsel Pelangi dioper oleh teman-temannya, terakhir berada di tangan Dea, melihat indahnya pemandangan alam yang ada di Indonesia itu. Dea menyerahkan ponsel itu ke Pelangi. Lalu berbaring diatas alas yang mereka duduki, memandang langit hitam pekat yang dihiasi jutaan bintang. “Memangnya tahun depan kita akan liburan berempat lagi? Apa nggak ada keinginan kalian untuk berumah tangga gitu? Minimal punya pacar lah?” ujar Dea dengan mata sendu. Pelangi ikut berbaring di samping Dea, menopang kepala dengan tangannya. “Usia kita sudah dua puluh lima, teman sepantar kita sudah banyak yang menikah dan punya anak, lalu kita?” tanya Pelangi merujuk pada dirinya sendiri. “Mungkin karena kita terlalu nyaman menjadi single, atau memang belum membuka hati untuk datangnya pria?” tutur Shakila, ikut berbaring di alas itu. Allura melihat ke tiga temannya berbaring, dia pun ikut merebahkan dirinya, namun dengan posisi miring memperhatikan tiga temannya yang memandang langit malam. “Kalau aku suka bingung. Giliran ada cowok yang aku suka, dia nggak suka aku, giliran akunya nggak suka, malah cowok itu suka sama aku? Kenapa sih selalu begitu?” tanya Allura pada diri sendiri. “Mungkin karena kamu nggak terlalu mengejar cowok yang kamu suka?” ujar Dea. “Kalau suka harus dikejar ya? Meskipun dia nggak sedang lari?” kali ini Allura menghadap langit dan berbanding terbalik dengan ketiga temannya yang sudah menoleh padanya. “Heran deh sama Al, bagaimana caranya dia lulus skripsi ya?” ucap Pelangi sambil menggelengkan kepala. “Mamanya waktu hamil makan apa sih?” sungut Dea. “Bunda memang lagi terapi obat sih pas hamil aku,” ucap Allura polos. Membuat ketiga temannya mendengus. “Udah abaikan aja Allura!” sindir Shakila. “Ih Kila kok jahat sama aku,” cebik Allura dengan nada sedih. “Cup cup sini dedek, sama kakak Pelangi aja,” hibur Pelangi. “Apa sih kalian nih!” sengit Dea. “Lagi dapet kamu?” tanya Shakila dengan nada judes. “Iya dapet wangsit!” seru Dea. “Kenapa sih?” Shakila menggeleng sebal. “Udah udah sih, sekarang mendingan kita bahas tentang tahun depan,” ucap Pelangi yang selalu bisa menjadi wasit atau penengah bagi teman-temannya. “Kak, kak!” ucap seorang yang entah siapa? Datang dari mana? Ke empat gadis cantik itu menghentikan obrolan dan mencari tahu asal suara yang memanggil mereka, Kak? Menemukan anak yang sepertinya seusia SD berkepala plontos dengan kain khas Bali dan kaos hitam. Keempat gadis itu tersentak dan duduk. Ini masih dini hari, mengapa ada anak kecil berkeliaran disini? Tak dicari orang tuanya kah? Anak berkepala plontos itu memasang tampang sedih, menunjukkan empat buah gelang dengan bandul seperti hiasan jam pasir namun berisi cairan seperti minyak berwarna kuning keemasan. Cukup kecil dan unik. Gelang itu dibuat dari manik-manik berwarna hitam mengkilap, membuat bandulnya terlihat menonjol. “Beli dagangan aku,” ucapnya, jika didengar dari suaranya, sepertinya anak itu justru tak berlogat Bali, meskipun memakai kain Bali. “Berapa?” tanya Pelangi. Allura sudah bersembunyi dibalik tubuh Shakila. Memperhatikan ke sekitar yang sangat sepi, dan dia merasa merinding. “Seratus ribu,” jawabnya. “Empat?” tanya Dea. “Satunya seratus ribu, ini buatnya susah Kak, soalnya pakai ramuan cinta di dalam bandulnya, siapapun yang memakainya akan menemukan cinta sejati,” ucap anak kecil itu, Allura mengintip dari balik bahu Shakila memperhatikan kaki telanjang sang anak yang menapak pasir membuatnya yakin bahwa anak itu manusia sama sepertinya, dia pun mengambil dompet yang berada di sampingnya. “Aku beli satu,” ucap Allura sambil menyodorkan uang seratus ribu, ketiga temannya memandang Allura dengan tatapan penuh tanya. Tanpa ragu Allura memakai gelang itu dan tersenyum mengagumi keindahannya. “Hayo beli semuanya, kan tahun depan kita mau liburan sama pasangan kita,” usul Allura. Membuat Dea menggeleng, mengambil empat lembar ratusan ribu dan menyerahkan tiga lembar ke anak kecil tadi dan satu lembar ke Allura. “Gue yang beliin,” ujar Dea, menerima tiga gelang itu dan membagikan ke tiga temannya. “Dasaar anak konglomerat!” sinis Shakila membuat Dea mendengus. Anak lelaki itu mengantungkan uangnya di sisi kainnya dan mengeluarkan empat botol kecil, mungkin berisi sekitar 20 ml cairan berwarna kuning sama seperti cairan di dalam bandul gelang tersebut dan menyerahkan pada Dea. “Ini bonus ramuan cintanya karena kakak membeli semuanya, semoga kakak dan teman-teman mendapatkan pasangan yang diinginkan, terima kasih ya Kak, ramuannya bisa diminum kok,” ujar anak itu sembari tersenyum, namun senyumnya justru membuat bulu kuduk ketiga gadis itu merinding, ya kecuali Allura yang lagi-lagi sudah mengambil botol di tangan Dea. “Sebelum minum, kakak harus baca mantranya dulu,” ucap anak itu menghentikan aksi Allura yang berniat membuka botolnya. “Letakkan botol di tangan kanan, buka dengan tangan kiri, lalu menghadap ke langit dan ucapkan kata ‘Cinta, cinta dan cinta, dewa dewi cinta bantulah aku menemukan cinta,” ucap sang anak yang diikuti oleh Allura, namun tidak dengan ketiga temannya dan Allura segera meminum cairan itu sampai tandas. “Al! gila apa ya!” Shakila berusaha menghentikan aksi Allura namun terlambat, cairan itu telah tandas dan masuk ke perut Allura. “Kita nggak tau isinya apa! Ish!” ujar Dea, bertiga luput memperhatikan anak itu yang telah pergi. “Memang isinya apa?” tanya Allura pada anak kecil tadi, namun tak diketemukan anak itu, membuat ketiga temannya semakin merinding. Pelangi merasa udara jadi dingin, dia sampai mengusap tengkuknya yang bulu kuduknya sudah berdiri. “Gila merinding, masuk tenda yuk,” ajak Pelangi yang disetujui ketiga temannya, mereka masuk dalam tenda dan menutup resleting tenda tersebut. “Kalian nggak minum?” tanya Allura polos. “Kita mau lihat efeknya ke kamu, keracunan apa nggak?” sungut Dea. Membuat Allura mendengus. “Rasanya kayak apa?” tanya Pelangi. “Nggak ada rasanya, eh licin sih kayak minyak tapi beneran nggak ada rasanya kok, coba aja,” ucap Allura. Shakila memandang botol itu lalu membukanya dan merapalkan mantra tadi meski dengan suara pelan seperti berbisik. “Eh mau apa?” cegah Dea yang melihat Shakila hampir meneguk botol itu. “Mau coba, seenggaknya kalau dia keracunan, aku temenin,” ucap Shakila sambil meminum cairan itu. Dea dan Pelangi saling tatap dan mengangkat bahu. “Beneran diminum?” tanya Pelangi, Shakila menjulurkan lidahnya untuk memperlihatkan bahwa cairan itu sudah pindah ke perutnya. “Tidur yuk,” ajak Shakila lalu berbaring disamping Allura. “Al, ada kata-kata terakhir?” tanya Dea. Allura tampak berpikir. “Mau baca doa tidur aja,” ujar Allura yang membuat Shakila tersenyum, wanita yang jarang tertawa itu hanya tersenyum menanggapi Allura, dan Allura memeluk Shakila. “Makasih udah temanin aku, jadi kalau aku mati kan nggak sendiri,” ucap Allura membuat Shakila menggeleng. “Dah tidur biar bisa lihat sun rise,” ujar Shakila yang diangguki Allura dan mereka berdua pun memejamkan mata. Untuk urusan solidaritas, memang Shakila lah yang paling dapat diandalkan, rasa solidaritasnya sangat tinggi terhadap teman temannya, meskipun terkenal dingin dan jutek, namun dia lah yang selalu pasang badan jika ada yang mencoba menyakiti teman-temannya. Pelangi dan Dea masih duduk dan memandangi botol kecil itu, “Kita perlu minum juga nggak nih?” tanya Dea. “Tunggu satu jam lagi deh, kalau nggak ada apa-apa diantara mereka baru kita minum, kalau kita minum sekarang, nanti beneran mengandung racun, nggak akan ada yang bisa nolong kita berempat,” ucap Pelangi, ya Pelangi dan logikanya yang selalu selangkah di atas teman-temannya membuatnya sering menjadi penentu keputusan di saat genting. “Ya sudah, yuk tidur,” ucap Dea, meletakkan botol kecil itu di sampingnya dan memperhatikan cairan botol yang tampak berkilauan sama seperti cairan di gelangnya. Haruskah dia meminumnya? Sejujurnya dia sangat ingin mempunyai pendamping hidup, usianya yang sudah 25 tahun, membuatnya sering memikirkan pernikahan, meskipun tak pernah diutarakan di depan teman-temannya karena dia pun merasa nyaman dengan pertemanan mereka, dan dia merasa jika sudah menikah, belum tentu dia akan mempunyai waktu yang banyak untuk dihabiskan dengan ketiga temannya itu, semua pasti akan terasa berbeda. Pelangi berbaring membelakangi Dea, memperhatikan ponselnya yang menampilkan gambar pulau Manimbora tadi, menjadikannya wallpaper di ponselnya. Dia sangat ingin kesana, bisa saja dia mengajak keluarganya, namun dia ingin kesana bersama pasangannya, namun adakah yang dekat dengannya saat ini? Pelangi mencoba memikirikan beberapa nama laki-laki yang singgah dalam hidupnya namun dia menggeleng, tak ada yang spesial dalam hatinya saat ini. “Tahun depan, kita harus ke Kalimantan Timur sama pasangan kita, lebih bagus kalau sudah menikah,” ujar Pelangi. “Iya!” jawab ketiga temannya kompak, Pelangi membalikkan tubuh, memperhatikan ketiga temannya yang sudah terpejam, namun mulutnya masih sempat menjawab iya, mungkin mereka memang belum tertidur pulas. Pelangi pun menghadap ke Dea dan memandang matanya yang terpejam namun masih mengerutkan kening, seolah berdialog dengan pemikirannya sendiri. Pelangi menyadari tak hanya dirinya yang ingin melepas masa lajangnya, karena ketiga temannya pun pasti merasakan hal yang sama, meski tak pernah mengungkapkannya. *** Alarm dari ponsel Allura terdengar sangat keras, lagunya yang beraliran nge-beat itu membuat semua mata terbuka, mata mereka masih memerah karena terpaksa terbuka mendengar alarm bervolume kencang itu. “Allura pakai lagu apa sih!” sentak Dea mencoba memejamkan mata. Allura mengambil ponsel itu dan mematikan Alarmnya, “Maaf, soalnya aku suka kesiangan, tapi kan semalam kita yang setel ini, katanya mau liat sunrise, nanti ketinggalan lho!” ucap Allura sambil mengucek matanya dan bangkit duduk. Shakila terpaksa membuka matanya lagi dan ikut duduk sambil menepuk-nepuk pipinya. Lalu membuka resleting tenda itu dengan lebar. Memperlihatkan langit yang mulai berwarna orange, tanda mentari hampir beranjak naik. “Guys, kalian harus lihat ini!” ucap Shakila, membuka lebar penutup tenda itu dan keluar. Pelangi dan Dea serempak bangkit dan melihat ke luar, sementara Allura dan Shakila sudah lebih dulu berada diluar tenda. Langit tampak sangat indah dengan perpaduan warna orange, biru dan ungu, mentari tampak ingin keluar, beberapa orang yang berada di tenda sekitar mereka pun mulai keluar meninggalkan tenda, banyak diantara mereka mengabadikan momen itu dengan kamera dan juga ponsel mereka. Dea dan Pelangi mengambil ramuan mereka yang terlupa diminum semalam dan berjalan keluar, melihat Allura yang sudah berfoto-foto yang gambarnya diambil oleh Shakila. Tampaknya kedua gadis itu baik-baik saja pasca meminum cairan yang disebut ramuan cinta itu, sehingga Dea dan Pelangi pun memutuskan merapalkan mantra dan meminum cairan itu sekali teguk. Lalu meletakkan botol cairan itu di dalam tenda, dan berlarian menghampiri Dea dan Shakila. Pria yang memakai pakaian khas Bali dengan udeng di kepala serta membawa kamera DSLR menghampiri ke empat gadis itu yang berfoto selfi. “Mau di foto kak? Lima puluh ribu saja, nanti saya cetak jadi empat,” tawar Pria itu yang disetujui oleh Dea. “Empat foto ya Bli, dicetak jadi enam belas,” ucap Dea yang hanya disenyumi maklum oleh ketiga temannya, untuk urusan bayar membayar, Dea memang selalu royal, maklum konon katanya harta ayahnya tak habis tujuh turunan. Pria itu tersenyum senang mendengar penawaran Dea lalu mulai mengambil gambar berbeda tempat dan gaya untuk ke empat gadis itu. Bahkan dia menawarkan mengambilkan foto dari ponsel Dea untuk gambar pribadi mereka, dari foto berempat dan sendiri-sendiri. Hasil yang diambil sangat bagus, membuat keempat gadis itu senang bukan main. Mereka berempat kini berangkulan, menunggu mentari terbit. “Janji ya, tahun depan kita lepas masa lajang kita,” ucap Dea. “Iya, mulai hari ini kita buka hati kita untuk pria dan mulai serius mencari cinta,” tutur Pelangi. “Semoga Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang tepat,” timpal Shakila. “Ya!” ujar Allura, hanya satu kata karena bingung ingin berucap apa? membuat ketiga temannya tertawa dan Pelangi mengacak rambut Allura dengan gemas sambil menggeleng geli. Mereka berempat berharap bahwa Tuhan memberikan mereka pasangan yang mereka inginkan, dan secercah harapan untuk tetap dapat bersama dengan sahabat mereka meski telah menikah nanti. *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD