BAB 12 DEAL?

1232 Words
Yeong’s PoV    "Ngapain sih Lo, narik-narik gue. Geli tau di lihatin banyak orang. Cowok gandeng cowok. Ihhh." Aku melepas paksa tangan Freddy yang menarikku. Ini anak kalau ada maunya agak menyebalkan memang.    Belum sempat Freddy menjawab, terdengar suara yang bisa membuat jantungku berdegup kencang. "Freddy, dokter Kim? Apa yang kalian lakukan?" Dia menuruni tangga. Ah, mendengar suara langkahnya saja bisa membuatku gila. Aku melirik Freddy yang tersenyum geli menyadari keadaanku.    Setelah Alena sampai di depan kami, Freddy menjelaskan maksudnya membawaku ke dalam rumah. Tepatnya menjelaskan kepada kami berdua. "Yeong, gue sama Alena butuh bantuan Lo?" ujar Freddy, wajahnya agak memelas membuatku ingin tertawa. Alena masih menatap heran. Seakan bertanya, 'kalian ini kenapa sih?'    "Gini, orang tua gue dan Alena berniat menjodohkan kami. Gue pribadi sebenernya nggak setuju dengan hal ini. Gue nggak tau gimana Alena. Tapi gue udah punya seseorang di hati gue."   Duarr!!!    Bagai disambar petir, aku sangat terkejut sekaligus merasa sangat aneh. Aku seperti tidak rela kalau Alena bersama laki-laki lain. What? Ada apa dengan diriku?    "Syarat agar perjodohan ini batal kalau kami atau salah satu sudah punya pasangan sendiri. Ya kan, Al? Aku yakin kamu juga tidak setuju kan?" Freddy beralih memandang Alena. Gadis itu mengangguk.    "Terus gue bisa bantu apa?" Aku mendadak kehabisan akal berfikir.    "Lo pura-pura jadi pacarnya Alena. Gimana? Al?" ujarnya yang membuatku dan Alena saling pandang.    "Fred?". "Apa?" Ucapku dan Alena bersamaan.  "Please lah. Hanya ini satu-satunya jalan. Gue nggak mungkin kan tiba-tiba bawa cewek yang gue suka sekarang juga kesini? C'mon. Ayolah tolongin gue. Ya, Yeong? Lagian orang tuanya juga pasti percaya dan baik- baik aja kalau tau putrinya pacaran sama Lo." Kali ini Freddy sungguh memelas. Aku tidak pernah berfikir akan menjalani hidup yang begini. Mungkin begitu juga dengan Alena.    "Lo tanya dokter Alena. Dianya bersedia nggak? Selama ini dia patuh banget sama ayahnya. Kalau kepura-puraan kita ketahuan, urusannya bisa kemana- mana Fred." Aku melihat Alena masih bingung dengan maksud semua ini. Dia mendesah pelan. Tapi jawabannya sungguh diluar dugaanku.    "Aku setuju sama idenya Freddy. Lagian kan cuma pura-pura pacaran. Bisa putus juga kapanpun. Daripada dijodohkan gini. Aku nggak suka dengan kata perjodohan," jawabnya santai.    "Oke, deal ya. Perjanjian ini antara kita bertiga. Atau kalau nggak mau terlalu ekstrim bilang aja lagi dekat. Nanti gue bantu jelasin. Oke?" Freddy terlihat bahagia. Entah gadis mana yang sedang didekatinya.    "Yaudah, oke. Gue bantu kalian. Berhubung dokter Alena selama ini juga baik sama saya. Hhh." Dia tersenyum, sangat indah.    Dan pesta malam itu di akhiri denga tatapan aneh dan penuh tanda tanya dari para tamu, baik orang tuaku, dokter Zafran dan dokter Diana juga om Bayu dan tante Vita orang tua Freddy. Pengakuanku, yang diangguki pelan oleh Alena adalah penyebabnya. **** Alena’s Pov    Pesta baru selesai, para tamu undangan sudah pulang. Aku naik ke lantai atas menuju kamarku. Tak mempedulikan tatapan penuh tanda tanya dari kedua orang tua dan adikku. Aku tahu, mereka pasti masih terheran-heran atas apa yang didengarnya sekian menit yang lalu. Bagaimana mungkin? Sejak kapan? Kenapa baru mengaku? Mungkin itulah yang memenuhi benak mereka saat ini. Aku segera membersihkan diriku dan sudah berganti pakaian tidur, ketika ku dengar pintu kamarku diketuk.  Cklekk!    “Ada apa?” wajah Abiyan didepanku. Ia juga telah berganti pakaian santai.    “Ngobrol dulu yok. Aku punya banyak pertanyaan. Mama dan Papa juga,” ujarnya sambil sedikit menyeret tanganku. Postue badan adikku, meskipun usianya 5 tahun lebih muda dariku kurang lebih mirip dengan Siwon Super Junior. Aku tidak mungkin melawannya. Hhh.    “Kakak ngantuk By. Besok aja laa,” elakku.    “Tidur pagi. Malam minggu juga ngapain tidur jam segini. Mau mimpiin cowok tadi?” dia menggodaku. Aku cuek saja.    Sampai di bawah, aku lihat kedua orang tuaku masih bercengkerama mesra dan belum mengganti busana mereka. Terlihat sangat bahagia. Namun juga penuh tanda tanya.    “Belum tidur nak?” tanya ibuku.    “Mau tidur, tapi diseret sama beruang satu ini.” Aku mendengus, Abiyan melotot. ‘What?’    “Kebetulan, Mama mau tanya…”    “Soal dokter Kim?” Aku sudah tau kemana arah pembicaraan orang tuaku.     “Jadi benar?” Ayahku menatapku, serius.    “Apa wajah Al dan dokter Kim tadi terlihat sedang bercanda, Pa?” aku sendiri merasa sedang sangat gugup. Entah kehebohan macam apa yang akan terjadi senin lusa di rumah sakit.    “Bukan begitu Al. Maksud papa sejak kapan kalian berpacaran? Apa memang sudah berpacaran? Padahal dokter Kim belum ada sebulan bertugas disini. Papa lihat kamu selalu sibuk sehingga Papa heran. Bagaimana dan kapan kalian mulai dekat,” jelas ayahku, panjang lebar, kali tinggi.    “Satu bulan bukan waktu yang singkat papaku sayang. Apapun bisa terjadi.” Aku heran pada diriku sendiri, kenapa bisa sebijak ini? Hhh.    “Jangan-jangan kamu sering pulang malam karena sibuk pdkt dengan dokter itu, Kak? Ku kira karena banyak pekerjaan papa yang mulai dialihkan ke kamu. Hhh” Abiyan menggodaku    “Pdkt kepalamu.” Aku menjitak kepala adikku yang menyebalkan sekaligus menggemaskan ini.    “Al..” ibuku ikut bersuara. Aku tahu mereka berdua belum puas mendengar jawabanku.    “Sudahlah Ma, Pa. Mama dan Papa juga bocah rese satu ini kan ingin Alena segera memiliki pasangan. Sekarang Alena sudah punya, masih diragukan. Alena harus bagaimana?” aku memasang wajah imut nan memelas di hadapan orang tuaku. Aku yakin Abiyan merasa jijik.    “Sekarang Alena kekamar ya. Al ngantuk,” pamitku. Aku berdiri hendak menuju kamarku.    “Papa bahagia nak. Semoga kalian berjodoh dan segera menikah ya.” Ada nada pengharapan yang dalam di kalimat ayahku. Aku sedikit terkejut namun hanya tersenyum. “Doakan Alena, Pa, Ma.” ****    Sementara itu di sebuah rumah, Kim Yeong juga mendapat pertanyaan yang sama dari kedua orang tuanya. Ditambah dua kakaknya yang biasanya sangat cuek justru semangat 45 untuk menggodanya. Ia dipaksa ayahnya agar ikut pulang kerumah dan bukan ke apartemen.    “Kau yakin kau sungguh berpacaran dengannya.” Kakak pertamanya berkomentar. Kim Yeong mengernyit.    “Kau meragukanku, Noona?”    “Bukan. Ku kira gadis itu dalam keadaan mabuk saat mengiyakan ajakanmu. Mungkin dia salah minum obat. Hhh.”     “Kalau kau bermimpi, tenanglah aku tidak akan membangunkanmu. Aku akan membiarkanmu bahagia saat ini. Hhh.” Kakak keduanya, Kim Eun Ha menambahi. Kim Yeong merasa kedua kakaknya sangat menyebalkan. “Aku yang adik kalian, kenapa kalian membela dia,” gusar Kim Yeong. Orang tua dan kedua kakak iparnya diam saja tersenyum.    “Karena dia perempuan!” jawab kedua kakaknya bersamaan.    “Putra ibu sungguh-sungguh menemukan wanita yang baru sekarang? Tepat sekali, ibu sudah menyukainya sejak awal melihatnya.” Nyonya Aira berkomentar. Kim Yeong tersenyum. Siapa yang tahu apa yang ada dalam hatinya.    “Dia gadis yang cantik dan baik. Ayah suka padanya. Terlebih dokter Zafran. Ayah bahkan baru tau tadi kalau dia putri dokter Zafran. Kau tidak boleh mengecewakan keluarga mereka atau ayah sendiri yang akan memburumu hingga ujung dunia.” Semua yang ada di ruangan tercengang. Sebab selama ini Tuan Kim Joon dikenal sangat anti dengan hal berbau dokter. Mendengar ayahnya berbicara demikian membuat Kim Yeong berfikir ayahnya pasti mengalami benturan yang sangat keras saat terlibat kecelakaan. Membuatnya mengingat suatu hal.    “Appa, ada perkembangan dari polisi soal kecelakaan itu? Mereka bilang sepertinya itu bukan hal yang kebetulan.” Semua anggota keluarga beralih menatap Tn. Kim Joon. Agaknya mereka melupakan sesuatu    “Polisi berusaha keras menyelidikinya. Tenanglah, ayah juga mendapat bantuan dari dokter Zafran. Adik beliau seorang anggota BIN, beliau yang akan mengurusnya,” sahut Tn. Kim Joon tenang. “Pantas saja Appa bisa sedekat ini dengan beliau.” Kakak iparku yang kedua berkomentar. “Ayah tahu beliau melakukan operasi tengah malam bersama putrinya. Dan ayah merasa sangat berhutang karena putrinyalah yang melihat apa yang ayah alami dan membawa ayah dari TKP menuju rumah sakit.” “Aku kira Ayah terbentur sangat keras kemarin karena menjadi sangat berbeda saat ini. Hhh.” Kim Yeong terkikik. Ayahnya melotot.  “Mau dikutuk jadi apa anak satu ini?” semua orang tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD