BAB 11 PERJODOHAN?

1067 Words
     Alena sedang merias wajahnya. Malam ini, akan diadakan pesta untuk merayakan ulang tahun pernikahan orang tuanya. Pesta yang cukup mewah, dilihat dari persiapannya. Undangannya adalah para kolega dari dikter Zafran dan isterinya. Beberapa teman Alena dan Abiyan juga hadir. Dan tentu saja para dokter dari rumah sakit Cahaya serta dokter tamu dari Kyungsan. Setelah sekian minggu ia berkutat dengan tugasnya yang semakin banyak, karena ayahnya sudah mulai mengalihkan beberapa tanggung jawab kepadanya. Malam ini ia merasa bisa sedikit merefresh badan dan fikirannya.     "Kak. Buruan dong. Lama banget sih timbang bedakan doang." Itu suara Abiyan    "Iya-iya bentar." Alena membuka pintu    "Whoaa. Cantik banget sihh kamu kak. Kalau aku nggak jadi adikmu pasti sudah ku gebet tuan putri," goda Abiyan.    Alena mengenakan gaun panjang berwarna biru muda dengan aksen pita di bahu kirinya. Dengan aplikasi make up yang natural ia menggerai rambut panjangnya dengan satu jepit berwarna putih di sebelah kiri. Sopan namun tidak mengurangi keanggunannya. Penambilannya benar-benar layaknya seorang putri.    "Aishh. Baru tau? Kemana saja kau?"    "Koas. Hhh," jawabnya singkat. Alena terkekeh    Di gandengan adiknya, mereka menuju taman samping tempat diadakannya pesta. Perhatian tamu tertuju pada mereka, cantik dan tampan. Abiyan mengenakan setelan jas berwarna putih dengan kemeja biru muda, serasi dengan kakaknya. Alena dan Abiyan menemui orang tuanya dan memberikan ucapan selamat. Setelah itu Abiyan melipir bersama teman-temannya.    Diantara tamu yang memperhatikan Alena, adalah Kim Yeong. Ia datang bersama orang tuanya yang diundang khusus oleh dokter Zafran. Kim Yeong sendiri heran, kenapa orang tuanya terutama ayahnya bisa sedekat ini dengan dokter Zafran.    "Selamat ulang tahun pernikahan, Dokter Zafran. Semoga terus berbahagia sampai maut memisahkan," ujar Tn. Kim Joon    "Terimakasih, Tuan Kim Joon dan keluarga berkenan hadir di acara kami," balas dokter Zafran. Beliau melihat ke arah Kim Yeong, ia mengangguk dan mengucapkan selamat    "Senang ya nyonya, memiliki putra yang luar biasa seperti dokter Kim," puji dokter Diana kepada Kim Yeong yang membuatnya tersipu    "Ah. Anda pasti juga demikian. Memiliki putra-putri yang tampan dan cantik. Dokter pula. Memang gen tidak bisa berbohong." Ny. Aira menimpali. Sementara Kim Yeong sendiri tengah memandang Alena yang sedang berbincang dengan beberapa tamu. Ia terlalu terpesona pada gadis itu. Hanya saja ia tidak berani mengungkapkan karena masih dibayang-banyangi oleh masa lalunya yang menyakitkan. Para orang tua ini terus saja mengobrol hingga ada tamu lain yang mendekati. Keluarga Tn. Kim beranjak dan berbaur dengan tamu yang lain. Kim Yeong dengan kawan-kawan dokter RS. Cahaya.    Alena mendekat begitu dipanggil oleh ayahnya. "Alena, kenalkan. Ini Pak Bayu dan istrinya. Ini putra beliau, Freddy." Alena membungkuk hormat pada tamunya tersebut. Satu hal yang sedikit berubah, berinteraksi dengan para dokter dari Korea itu merubah cara pergaulan Alena. Namun ia merasa nyaman. Freddy memperhatikan Alena dengan seksama. Ia merasa seperti mengenalnya.    Astaga!!     Freddy ingat bahwa ia pernah bertemu Alena di bioskop.    'Tidak salah lagi, ini gadis yang di taksir Yeong,' batin Freddy.    "Kita pernah bertemu kan?" Freddy meyakinkan    "Benarkah?" Alena mengingat-ingat kapan ia pernah bertemu pemuda itu.    "Iya, di bioskop malam itu. Kalau tidak salah kamu habis menabrak temanku di depan toilet." Alena ingat, bukan bioskop itu. Melainkan saat ia bertabrakan dengan dokter Kim Yeong. Peristiwa yang bisa membuat pipinya merona sendiri. "Ah, benar. Kamu ... temannya dokter Kim Yeong?" tanyanya.    "Yap, benar."    "Wahh, sudah akrab sekali rupanya. Apakah ini suatu pertanda, Dok?" Ayah Freddy bersuara.    "Pertanda apa?" Alena dan Freddy bertanya, bersamaan.    "Wahh, sudah kompak sekali ya. Tentu saja perjodohan kalian." Alena dan Freddy melotot. ****     "Perjodohan?? Mama jangan bercanda," ujar Alena gusar pada ibunya    "Mama dan Papa tidak bercanda sayang. Kami sebenarnya ingin menyampaikan pada kamu. Tapi akhir-akhir ini kamu sibuk sekali. Hanya pendekatan. Kalau kalian merasa tidak cocok, Mama dan Papa tidak akan memaksa." Alena terbengong. Entah bagaimana kedua orang tuanya bisa saling mengenal dan membuat rencana gila ini.     "Mama ini apa-apa'an. Udah tahu Al paling nggak suka hal-hal seperti ini. Biar Alena memilih pasangan Alena sendiri." Gadis itu mengeluh karena ia sangat tidak suka diperlakukan seperti ini. Bagi Alena, kata ‘perjodohan’ itu sangat mengganggu.    "Mama dan Papa serta pak Bayu hanya memberikan jalan, Sayang. Toh Freddy juga anak yang baik. Usianya 2 tahun diatas kamu. Bisa mengayomi kamu. Lagian mama juga sudah ingin melihat kamu memiliki pasangan, Sayang," jelas dokter Diana panjang lebar. Sesungguhnya hati Alena sudah ada yang menempati, namun ia hanya berani diam. Ia perempuan, tidak mungkin mengakuinya terlebih dulu.    "Begini saja Al, Papa dan Mama tidak akan mengatur atau memaksa kamu..." kini dokter Zafran bersuara    "Ini apa kalau bukan mengatur" dengusku.    "Dengarkan papa dulu Al, asal kamu sudah punya pasangan. Kamu boleh tidak menyetujui ide kami." Kaki Alena lemas mendengar ucapan ayahnya. Cari pasangan dimana? Dikata cari pasangan segampang petik daun apa? Bisa gila aku, batin Alena.     "Kalau begitu ayo kita keluar, kasihan para tamu yang mencari kita," dokter Diana menggandeng lengan suaminya.    "Kalian duluan saja. Aku ke kamar mandi," ujar Alena sambil lalu. "Aku pasti kembali," tambahnya kemudian. Alena merasa otaknya tidak mampu lagi berfikir.     ‘Ah, aku benci dengan keadaan ini. Aku harus mendinginkan kepalaku sejenak. Pesta yang ku kira akan sedikit memberiku penghiburan, nyatanya justru menambah pening kepalaku,’ batin Alena seraya menaiki tangga untuk menuju kamarnya. ****     Disudut lain, Freddy tak kalah gusar dari Alena. Bagaimana mungkin ia akan menerima gadis itu. Gadis yang ditaksir sahabatnya sendiri. Ia tahu Kim Yeong belum mau mengakui perasaannya karena masih dibayangi ketakutan masa lalunya, namun ia tidak bisa menerima kenyataan akan dijodohkan dengan Alena. Ia sendiri sudah memiliki gadis dalam hatinya, tinggal menunggu kesempatan berdua saja.    "Papa dan Mama serta dokter Zafran hanya memberikan jalan. Papa dan mama tidak akan mengatur atau memaksa kamu untuk menikahi Alena asal kamu sudah punya pasangan. Kamu boleh tidak menyetujui ide kami. Dokter Zafran pun akan begitu pada putrinya," tegas pak Bayu, ayahnya.    "Artinya kalau aku dan Alena masing-sudah memiliki pasangan, kami tidak jadi di jodohkan?" tanyanya memperjelas    "Iya begitulah. Kami hanya melakukan apa yang kami bisa. Selanjutnya terserah kalian," tambah ibunya. Freddy tersenyum, rasanya ia mendapatkan sebuah ide. Hhh.     "Aku ke toilet sebentar Pah, Mah," pamitnya.    Freddy mencari Kim Yeong untuk melaksanakan idenya. Ia yakin, sahabatnya itu pasti datang hanya saja mereka belum bertrmu. Ia juga melihat Alena masuk ke dalam rumah tanpa orang tuanya. Ia bisa menjalankan rencananya sekaligus 'membuka jalan' kalau kata ayahnya, bagi Alena dan Yeong. Setelah menemukan letak sahabatnya itu, ia mengajak Yeong yang tengah asyik berbincang dengan tamu lain untuk ke toilet yang letaknya didalam rumah. Kim Yeong yang tidak mengerti maksud sahabatnya ini mengikuti, dengan terpaksa. Karena Freddy sedikit menyeretnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD