BAB 10 INVITATION

1056 Words
 Ciittt...    Abiyan mengerem mendadak mobil yang dikemudikannya karena seekor kucing yang berlari menyeberang jalan raya.    “Oh God,” desis Alena. Keduanya berusaha menormalkan nafas yang tak beraturan.    “Hampir aja. Kamu nggak pa-pa, Kak?” tanya Abiyan memandang wajah panik kakaknya. Alena mengangguk pelan.    “Jalan lagi. Jangan meleng.” Abiyan mengangguk dan kembali menjalankan mobilnya.    “Eh, gimana tadi ceritanya? Kan belum selesai,” tanya Abiyan penasaran. Sementara Alena hanya melirik tajam adiknya itu dari sudut matanya.    “Nanti kamu meleng lagi,” sungut Alena.    “Nggak-nggak. Janji deh.” Abiyan mengacungkan jari kelingkingnya, “Jadi gimana tadi, pacaran segitu lama nggak cerita? Mau pakai rahasia-rahasia?”    Alena memutar bola matanya malas,    “Ya makanya dengerin dulu bawel. Pantesan dapet konsulen rewel, kamu sendiri banyak omong,” sengit Alena. Abiyan menggaruk tengkuknya kikuk.    “Awalnya emang pengen aku ceritain ke kamu. Tapi keadaan nggak memungkinkan.”    “Maksudnya?”    “Kamu inget waktu aku kecelakaan?” Abiyan mengangguk. Mana mungkin ia melupakan peristiwa yang nyaris membuatnya gila tersebut. Abiyan tidak pernah mau dan tidak ingin membayangkan lagi bagaimana jika ... laki-laki itu menggeleng pelan.    “Aku fikir saat dia dengar kabar aku kecelakaan dia bakal nengokin keadaanku. Yah ... bukan salah dia sepenuhnya sih. Karena emang dia kerja di Semarang ... kan jauh. Kamu sendiri tahu kan yang jengukin aku juga kebanyakan perempuan. Tapi aku tahu kalau dia tahu apa yang terjadi sama kakak, Biy,” jelas Alena. Pandangan Abiyan masih fokus pada kemudinya sementara telinganya fokus mendengarkan cerita kakaknya.    “Kalau yang jengukin kamu, sih ... selama aku disana ya, Kak ... aku lihat emang temen kakak semua. Maksud aku kalau pacar atau orang spesial kan pasti beda gitu gelagatnya,”    Alena mengangguk setuju. Karena memang pada kenyataannya, Jonathan sama sekali tidak menjenguknya. Awalnya gadis itu mencoba berfikir positif jika laki-laki yang bekerja di sebuah perusahaan BUMN itu sedang disibukkan oleh pekerjaannya. Namun kenyataan yang dia temukan tidaklah demikian.    “Niatku waktu itu sih mau ngenalin dia sama kalian pas habis wisuda. Kan enak gitu ya momentnya. Eh, tenyata nggak lama setelah aku selesai cuti gara-gara kecelakaan itu dia malah bermain api dibelakang kakak,”    “Eh? Maksud kakak?”    “Apa lagi Biy, selingkuh. Sama ... temen aku sendiri,” jawab Alena. Ada sedikit luka yang seolah terbuka saat menceritakan hal itu, meskipun hal itu telah lama berlalu dan ia sudah berusaha biasa saja menyampaikannya.    Abiyan menangkap getaran dalam suara kakaknya itu, “Jadi, Kak Al takut berhubungan sama cowok karena masih punya luka itu?” tanya Abiyan sedikit serius.    Alena mengangguk pelan. Abiyan tak kuasa untuk tidak menarik kakaknya itu dalam pelukannya. Meskipun selama ini kakaknya itu tidak pernah menampilkan kesedihannya, namun ia tahu Alena adalah orang yang sangat tulus dalam mencintai. Ia tahu perasaan sakit yang dimiliki kakaknya.    “Jangan terpaku pada masa lalu yang sudah selesai, Kak,” ujar Abiyan spontan. Ia sendiri heran darimana mendapatkan ilham sebijak itu.    Alena mengerjapkan matanya beberapa kali dan menatap adiknya dalam, seolah tak percaya dengan kebijaksanaan adiknya itu, “Kamu sarapan apa tadi pagi, Dek?”    Mau tidak mau Abiyan mendengus, “Orang dibilangin bener-bener malah bercanda.” Alena terkekeh geli.    “Bukan terpaku, Biy. Cuma ya masih ngerasa takut. Untungnya setelah itu aku lagi sibuk-sibuknya ngejar mata kuliah yang keteteran karena cutiku. Dan langsung nyambung skripsian. Bukan nggak mau move on sih, tapi gimana lagi,” jelas Alena mengungkapkan isi hatinya.    Mereka telah sampai ditempat yang mereka tuju. Sebelum keluar dari mobil, Abiyan menahan tangan kakaknya.    “Nggak coba cari gebetan dokter dari Korean itu, Kak?” laki-laki itu memainkan alisnya naik turun.    “Abi, ihh. Lagi serius juga,”    “Dihh, dikira aku bercanda? Aku juga serius, Kak. Katanya, salah satu cara untuk move on ya bisa dengan mencoba membuka hati untuk yang baru,” terang Abiyan.    “Kakak malah takut nanti yang baru hanya jadi pelarianku, Biy,”    “Emang niat buat gitu?” Abiyan menatap kakaknya tajam. Alena menggeleng.    “Nggak ada salahnya kan? Toh kamu bukan anak remaja yang tega melakukan hal itu kan, Kak?” Alena menghela nafas panjang. Membenarkan ucapan adiknya yang entah bagaimana bisa sebijak itu.    “Thanks, Biy.” Abiyan tersenyum ringan.    “Yuk turun,” ajak Alena.    Dua kakak beradik itu memasuki butik yang terletak dikawasan elit itu untuk mengambil pesanan ibunya. Alena tak lama berada disitu meskipun sang pemilik butik yang notabenenya sahabat baik ibunya itu menahannya agar tinggal lebih lama. Keduanya masih harus mengunjungi satu tempat lagi yaitu toko souvenir untuk mengonfirmasi souvenir acara pesta orang tuanya. ****    “Alena,” panggil dokter Diana ketika putrinya melintas didepan poli kandungan.    “Iya, Ma? Ada apa?” sudah mulai terbiasa memanggil kedua orang tuanya dengan panggilan santai. Tidak seformal sebelum ayahnya mengenalkannya.    “Mama mau minta tolong. Ini, kamu sampaikan ya ke para dokter dari Kyungsan,” dokter Diana menyerahkan lembaran undangan ditangannya.    Alena melongo, “Kok Al?” tanyanya menunjuk dirinya sendiri.    “Mama minta tolong, Sayang. Hanya ini, nggak semuanya,” jelas ibunya. Alena hanya bisa pasrah jika ibunya sudah meminta seperti itu.    Dokter muda itu bergegas menuju lantai 3, letak ruangan yang disediakan untuk para dokter dari negeri para boyband tersebut. Pandangan Alena tertuju pada salah satu pintu. Ia mengetuk dengan tenang.   Cklek!    Pintu terbuka. Menampakkan wajah Lee Hyun Hae. Alena tersenyum ramah, sementara Lee Hyun Hae sedikit terkejut. Ada gerangan apakah putri pimpinan menuju ruangannya? Bahkan jika ia mau, Alena justru bisa memanggilnya ke ruangannya sendiri.    “Maaf saya mengganggu,” ujar Alena sopan. Tentu saja ia berucap dalam bahasa inggris. Seseorang didalam ruangan menghentikan jari-jarinya yang tengah menari diatas keyboard begitu mendengar suara bening itu. Ia melirik tertarik.    “Tidak, Dokter. Tapi maaf, ada keperluan apa hingga dokter Alena kemari? Bukankah Anda bisa memanggil kami ke ruangan Anda?”    Alena tersenyum kikuk, inilah yang dia tidak suka jika identitasnya terungkap.    “Ah, tidak. Saya hanya ingin menyampaikan undangan dari dokter Zafran untuk rekan-rekan dari Kyungsan,” ujar Alena seraya mengulurkan beberapa lembar kertas undangan pada dokter Lee.    Dokter tampan itu menerimanya dengan senyum mengembang, “Terima kasih atas undangannya. Kami pasti datang, Dokter Alena.”    “Kalau begitu saya permisi,” Lee Hyun Hae membungkuk sopan begitu gadis itu beranjak. Dan kembali ke kursinya.    “Ada apa, Hyung?” tanya rekan satu ruangan Lee Hyun Hae.    “Wanita yang sudah menarik perhatianmu,” sahut Lee Hyun Hae ringan. Sontak saja rekannya itu melotot.    “Hyung,” ucapnya tegas. Benar, dia adalah Kim Yeong.    Lee Hyun Hae terkekeh dan menyerahkan lembaran kertas undangan pemberian Alena pada rekannya itu.    “Apa ini?”    “Kau lihat sendiri, bukan? Itu undangan. Ah, seharusnya tadi aku biarkan kau yang menemuinya agar kalian bisa semakin dekat,” goda Lee Hyun Hae.    Kim Yeong tidak ingin terlalu mempedulikan ucapan melantur sunbae-nimnya tersebut. Matanya lebih tertarik pada tulisan yang tertera dikertas undangan tersebut.    “Wedding Anniversary,” gumamnya pelan. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD