Kim Yeong's PoV
Sudah 2 minggu aku bertugas di rumah sakit ini. Rombongan kami, diberi fasilitas yang sangat lengkap. 1 ruang untuk 2 orang. Sangat luas tentunya. Yang harusnya cukup untuk digunakan oleh 4-5 orang. Aku berada 1 ruangan dengan sahabatku. Terletak di lantai 3.
Mataku terasa panas. Hari ini keadaan rumah sakit cukup ramai. Nyaris seluruh poli dan divisi mengalaminya. Sudah hampir jam 7 malam ketika aku selesai bertugas. Aku menuju ruangan ayahku dirawat, sebelum pulang kerumah. Sebelum aku membuka pintu kamar, suara seseorang memanggilku.
“Kim Yeong-a.” Aku menoleh, dokter Lee rupanya. Lengkapnya Lee Hyun Hae. “Kau belum pulang?” tanyanya, dalam bahasa Korea, tentu saja.
“Aku akan pulang setelah melihat keadaan ayahku. Ada apa, Hyung? Kau sendiri belum pulang?” Usia kami memang terpaut 2 tahun.
“Aku akan sedikir lembur malam ini. Mengingat, laporan mingguan kita kepada putri dari dokter Zafran harus selesai besok jam 9 tepat. Ah, kenapa gadis itu sangat perfeksionis sekali. Aku kira bertugas disini bisa sambil sedikit santai, dia justru sedikit menyiksaku.” Aku tersenyum saja mendengarnya.
“Oh ya, bagaimana dengan laporanmu? Aku perhatikan kau tampak tenang.”
“Aku sudah menyelesaikannya, Hyung,” jawabku singkat. Itu karena aku tidak ingin Alena kewalahan dengan laporan kami, jadi aku menyelesaikan laporan secepat dan sebaik mungkin.
“Kau tidak pernah berubah. Selalu rajin.”
“Aku hanya melakukan tugasku.”
“Atau kau ingin menarik perhatian dokter muda cantik itu?” godanya.
“Hyung, apa maksudmu?” Aku melotot
“Hahaha. Kau kira aku tidak tahu isi fikiranmu. Semenjak hari pertama kita, kau selalu memperhatikan dia. Jangan kau kira aku tidak mengerti bahasa Indonesia lalu aku juga tidak mengerti apa yang kau perhatikan.” Dia mengedipkan sebelah matanya. Sial, temanku ini sepertinya berbakat menjadi seorang cenayang.
“Ah, bicara apa kau ini, Hyung,” sanggahku
“Tenanglah kawan, aku akan mendukungmu. Aku dengar dia sangat baik, dan sangat kompeten tentunya. Oh ya, bukankah dia juga yang menolong ayahmu. Oh, atau ku sebut ayah kalian? Hhh.” Dia terkekeh.
“Kau sudah selesai, Hyung? Pulanglah segera.” Aku membuka pintu kamar ayahku. Malas mendengar godaannya yang ku yakin meski sampai subuh tak akan selesai.
Lee Hyun Hae hanya tertawa karena berhasil menggodaku. Aku tidak mungkin mengakuinya begitu saja. Bisa habis aku diejeknya, apalagi kami berada dalam ruangan. Ah, aku ingin pindah saja ke ruangan Alena. Ehh.
Cklek!!
Aku membuka pintu kamar, kulihat ayahku sudah tidur. Hari ini kakak pertamaku yang menjaga. Dia bersama kakak iparku. Putranya tentu saja bersama ibuku, yang ku yakin sekarang tengah menunggu kepulanganku untuk melakukan baku hantam. Hhh.
“Kau sudah selesai?” tanya kakak iparku. Kakak pertamaku sedang mengupas apel
“Sudah. Bagaimana keadaan ayah?” tanyaku kembali sebelum memakan buah.
“Ayah baru saja tidur, kondisinya sudah sangat pulih. Mungkin 2 atau 3 hari lagi sudah boleh pulang.” Aku menghembuskan nafas lega.
“Tadi dokter pimpinan berkunjung. Beliau berbicara cukup lama dengan ayah. Pimpinan bahkan berulang kali memujimu. Dan ayah mendengarkan dengan sangat antusias. Padahal kau tahu sendiri bahaimana tidak sukanya ayah pada seorang dokter.” Kakak perempuanku kini bersuara.
“Ah, benarkah?” aku sendiri heran entah kenapa ayahku sangat tidak menyukai dokter. Kakak iparku yang pertama juga seorang dokter, itu sebabnya saat meminta restu untuk menikahi putrinya dulu sangat sulit. Namun akhirnya ayahku luluh sendiri, tidak ada yang tahu kenapa.
“Mungkin dengan begini, pendapat ayah tentang profesi kita bisa berubah, Yeong.” Sebenarnya hubungan mereka berdua juga baik-baik saja. Selama tidak menyinggung masaalah ‘dokter’.
“Mungkin dulu ayah takut disuntik dokter, Hyung. Hhh.” Aku dan kakak iparku tertawa.
“Baiklah, aku harus pulang. Kalian ingin ku bawakan sesuatu untuk besok?” aku berdiri
“Ah, tolong bawa Joon Young kesini. Boleh?” pinta kakakku. Joong Young adalah putranya dan sekarang menginap di rumah orang tuaku. Aku memang berencana menginap disana, mengingat ibuku pasti sangat kerepotan mengurus cucunya yang satu itu saking bandelnya.
“Baiklah.” Aku menuju ayahku. Mencium tangannya. Beliau sedikit mengeliat.
“Aku pergi,” pamitku sebelum membuka pintu. “Oh ya, apa kalian bertemu dokter wanita yang merawat ayah? Aku tidak melihatnya hari ini.”
“Aku seharian berada disini dan tidak melihatnya. Sepertinya dia absen hari ini. ‘Ada apa? Dimana dia?’ batinku
“Ah, baiklah. Gal-kke.”
****
Sementara Alena saat ini tengah menuju sebuah butik untuk mengambil pesanan gaun dari ibunya. Gaun itu akan dia kenakan pada pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya beberapa hari lagi. Gadis itu pergi bersama adiknya, Abiyan.
Awalnya Alena merasa keberatan saat diminta ibunya untuk mengambil gaun. Bukan karena ia tidak bersedia. Namun tubuhnya benar-benar lelah. Semenjak rumah sakitnya menjalin kerjasama dengan Kyungsan Hospital mendadak pekerjaan Alena menjadi semakin banyak. Terlebih ia menjadi penanggung jawab laporan mingguan para dokter dari negeri ginseng itu.
“Gimana rumah sakit, Kak?” tanya Abiyan memecah kesunyian.
“Eh? Tumben nanya.” Alena tergelak membuat Abiyan berdecak.
“Aku kan juga peduli sama rumah sakit,” ujarnya sesumbar.
Alena menyandarkan kepalanya dibahu kiri adiknya, “Capek, Biy.”
“Mau dibantuin?” kekeh Abiyan geli.
“Ck, ngomong mulu kamu ah,” sungut Alena membuat adiknya itu terbahak.
Jauh didalam hatinya ia sudah sangat ingin membantu kakaknya itu. Apalagi keadaan rumah sakit yang semakin baik membuat Abiyan khawatir Alena akan kerepotan. Biar bagaimanapun kakaknya seorang perempuan. Tentu ia tidak tega. Tapi apa mau dikata, dokter konsulennya yang sangat rewel menjadi penghalang terbesarnya. Ia sedikit menyesal kenapa dulu tidak mengambil koas di rumah sakit keluarganya saja.
“Ya makanya doain biar konsulen aku nggak rewel-rewel,” tukas Abiyan santai.
“Konsulen kamu ... perempuan?” Abiyan menggeleng.
“Cowok. Masih jomblo pula. Pantesan rempong.” Alena terkekeh mendengarnya.
“Hm ... mau bantuin aku nggak, Kak?” Otak jahil Abiyan mulai bekerja.
“Bantuin apa ... an?” Dani Alena mengernyit.
“Aku kenalin Kak Al sama konsulenku biar ...” belum sempat Abiyan menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh pelototan kakaknya. Dokter muda itu terkekeh geli.
“Jangan lebar-lebar, Kak.”
“Ngawur aja kamu kalau ngomong,”
“Lagian kenapa sih, Kak? Kayaknya anti banget sama yang namanya cowok?” tanya Abiyan penasaran. Ia memang tidak mengetahui bagaimana kisah cinta kakaknya terdahulu yang membuat Alena sedikit ketakutan menjalin hubungan dengan laki-laki.
“Ya ... emang belum pengen, Biy,” sahut Alena tenang.
“Tapi selama ini aku nggak pernah lihat Kak Al punya cowok? Terakhir kayaknya waktu SMA sebelum kakak ke Jogja,” tukas Abiyan.
Alena tersenyum sejenak, “Waktu kuliah sebenernya pernah kok, Biy. Cuma belum sempat cerita ke kamu?”
“Oh ya?” Abiyan mengalihkan pandangannya dari kemudi dan menatap kakaknya sejenak. “Kapan itu? Mama sama Papa tahu?”
Alena menggeleng, membuat Abiyan mengangkat sebelah alisnya. Ekspresi kakaknya yang berubah sendu semakin membuatnya penasaran.
“Sebenernya aku kepo sih. Tapi kalau kakak keberatan buat cerita nggak pa-pa kok,” ujar Abiyan menggenggam tangan kakaknya. Alena kembali tersenyum. Sejak dulu Abiyan memang adik yang terbaik. Meskipun jahil dan seringkali menyebalkan, namun tingkat kepedulian adiknya itu tidak perlu diragukan lagi.
“Dia senior kakak waktu kuliah, Biy. Anak Semarang. Waktu itu kita udah pacaran sekitar satu tahun lebih sih.” Alena menata hatinya. Sedikit berat menceritakan hal yang membuatnya menyesak. Tapi ia merasa harus menceritakan pada adik jahilnya ini. Paling tidak, Abiyan bisa mengerti bahwa tidak semudah itu dia bisa membuka hatinya untuk seorang pria.
“What? Pacaran selama itu dan Kak Al nggak pernah cerita sama aku?” Abiyan seketika melotot memandang kakaknya.
Dan...
“Abi, awas...”