Berkali-kali Alena mengeliatkan badannya yang terasa sangat lelah. Ia memejamkan matanya yang terasa panas karena terlalu lama memandang layar komputer hai ini, sejenak seraya menikmati rasa lelah yang menjalari tubuhnya. Lantas menengok jam yang bertengger manis dipergelangan tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Alena bergegas mengemasi pekerjaannya untuk bersiap pulang. Merapikan berkas-berkas yang berserakan. Meletakkan gelas minum ditempat yang seharusnya, serta mengembalikan buku-buku referensinya ke dalam rak berukuran sedang yang berdiri tak jauh dari meja kerjanya.
Tok, tok!
“Masuk,” sahut Alena tanpa menoleh ke arah pintu ruangannya.
“Permisi, Dokter Alena,” suara seseorang yang cukup ia kenali akhirnya membuatnya mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia tata.
“Iya, Dokter Kim. Ada yang bisa saya bantu?”
Yang dimaksud segera melangkahkan kaki mendekati sang pemilik ruangan. dengan debar jantung yang bergemuruh tak beraturan karena ini pertama kalinya ia berbicara secara pribadi dengan wanita dihadapannya. Alena sendiri masih menapakkan wajah tenangnya, meskipun harus diakui ia sendiri merasakan debaran aneh dalam dirinya.
“Saya ingin menyerahkan laporan mingguan pada Anda, Dokter Alena,” ujar Kim Yeong seraya menyerahkan map berwarna merah itu pada Alena.
Alena tersenyum tipis seraya menerima dokumen itu ditangannya, “Ah, iya. Baik, Dokter Kim. Sebenarnya diserahkan besok pagi juga tidak masalah lho, Dok,” sahut Alena santai. Ia sendiri sebenarnya nyaris melupakan aturan yang dibuatnya sejak seminggu yang lalu tersebut. Beberapa dokter yang berada dalam tanggung jawabnya juga harus menyerahkan laporan mingguan. Tidak terlalu berat dan banyak. Dan tidak serumit administrasi umum pasien rumah sakit.
Kim Yeong tersenyum menimpali, “Hanya agar saya lebih tenang, Dokter. Jika sudah begini kan tanggung jawab saya minggu ini sudah selesai,”
“Sudah mau pulang, Dok?” imbuhnya saat Alena kembali ke meja kerjanya dan sejenak memeriksa laporan yang baru ia serahkan. Alena mengangguk.
“Kalau begitu saya permisi, Dokter Alena. Hati-hati di perjalanan pulang ya, Dokter,” ucap Kim Yeong tulus. Senyuman Alena mengembang. Ada sedikit rasa hangat dalam hatinya mendapat perhatian kecil dari rekannya yang baru beberapa hari bertugas dirumah sakit ayahnya tersebut.
“Terima kasih, Dokter Kim,” sahutnya ramah.
Kim Yeong segera berlalu dari ruangan Alena. Tanpa Alena sadari, laki-laki itu menghembuskan nafas lega begitu sampai didepan pintu. Dan tanpa Kim Yeong ketahui, kehangatan hati Alena kini berubah menjadi debaran kencang.
“Enggak, enggak. Jangan mikir yang bukan-bukan deh, Al,” gumamnya bermonolog.
Gadis itu bergegas keluar dari ruangannya dan berjalan menuju lift. Sekeluarnya dari lift ia berpapasan dengan Ratih, yang sedang mendapat jadwal sift malam kali ini.
“Lo baru pulang?” tanya Ratih mendapati wajah lesu sahabatnya.
“Iya. Baru kelar yang buat hari ini. Lo habis dari mana? Atau mau kemana?”
“Gue mau ke bagian administrasi. Habis ini mau visit beberapa pasien,” Alena mengangguk mengerti.
“Eh, Al. Laporan gue besok pagi yah? Nggak pa-pa kan?” tawar Ratih yang memang menjadi salah satu dokter dibawah tanggung jawab Alena.
“Nggak pa-pa kalau besok pagi mah. Kalau lusa pagi baru gue tolak,” jawab Alena enteng.
“Asal gaji gue nggak dipotong,” seloroh Ratih, Alena melotot.
“Maunya elo itu mah. Udah gue balik dulu. Selamat bekerja,” kata Alena sambil berlalu dari lobi rumah sakit yang sudah sepi.
“Ati-ati lo, Al,” ujar Ratih sedikit berteriak. Alena mengacungkan ibu jari kanannya tanpa menoleh. Ia berjalan sedikit cepat menuju tempat parkir karena gerimis yang mulai turun. Tak lama kemudian, Alena dan mobil yang dikendarainya segera menjadi peserta kepadatan lalu lintas sore itu.
Ditengah perjalanan Alena memutuskan untuk mampir ke sebuah supermarket yang letaknya tak jauh dari rumah sakit. Entah kenapa malam ini ia ingin sekali memakan spagetti dan ia ingat dirumah tidak ada bbahan-bahan untuk membuat makanan tersebut.
Suasana didalam supermarket terlihat cukup ramai saat Alena sampai. Setelah memarkirkan mobilnya, Alena bergegas memasuki supermarket tersebut dan berbelanja apa yang ia butuhkan. Fettucini, cream sauce, butter dan bumbu-bumbu lain khas Italia. Tak membutuhkan waktu lama kini Alena sudah berada dibarisan antrian kasir untuk membayar belanjaannya.
Sebelum Alena kembali memasuki mobilnya, pandangannya teralihkan pada deretan penjual minuman yang tengah di gandrungi. Gadis itu tidak bisa menahan kakinya untuk tidak melangkah menuju salah satu gerai yang menjual berbagai varian jus buah.
Alena meraih ponsel di saku celananya dan mendial nomor seseorang sebelum memesan.
“Halo,” sahut suara dari seberang.
“Kamu mau mango bomb?”
“Wihh, mau banget dong. Yang banyak ya mangganya,” ucapnya dengan antusias.
“Kalau mau banyak mangganya, tanam sendiri dikebun,” celetuk Alena.
“Gagal mulu, Kak,” benar, yang sedang berbicara dengan Alena lewat telepon adalah Abiyan, adiknya.
Alena terkekeh, “Yaudah. Bye,”
“Mango Bomb 2 ya,” kata Alena kepada sang penjual.
“Original atau mau ditambah topping, Kak?” tanya gadis penjaga gerai tersebut.
“Ori saja,”
Sembari menunggu, Alena dudukdi kursi yang disediakan. Matanya sibuk memperhatikan pergerakan sang penjual yang terlihat sangat cekatan dimatanya. Jelas saja, karena Alena sendiri mungkin tidak akan bisa jika diminta melakukan hal tersebut. Memang, pada dasarnya semua orang memiliki keahliannya masing-masing. Oleh karena itu, janganlah kita merasa minder atau malah sebaliknya, menghina orang lain yang mungkin kemampuannya tidak seperti kita.
“Alena,” seru seseorang yang berada disamping kanannya yang juga baru saja memesan minuman yang sama dengannya.
Alena memicingkan mata untuk mengetahui siapa orang yang memanggilnya ini. Bukan apa-apa, tapi karena keadaan sudah gelap dan penerangan yang temaram. Belum lagi kalau misalkan yang menyapanya adalah teman lamanya yang sudah lama tidak jumpa.
“Astrid? Eh, bener kan?” seloroh Alena setelah mengenali wajah tersebut.
“Ya Ampun, ternyata bener ini lo. Hey, long time no see.” Wanita bernama Astrid tersebut menyeru dengan antusias dan duduk dikursi samping Alena.
“Gimana kabar lo? Long time banget yah nggak ketemunya,” tukas Alena santai. Astrid adalah teman sekelas Alena saat SMP.
“Gue baik, Al. Makin keren aja lo yah. Baru pulang kerja nih?”
Alena mengangguk, “Iya kebetulan pengen beli sesuatu makanya mampir dulu kesini. Lo sendiri?”
“Gue habis belanja juga.”
“Lo sendirian?”
Astrid menggeleng lalu mengalihkan pandangannya pada dua sosok yang tengah menunggunya didekat mobil, “Tuh sama laki gue.”
Alena mengikuti arah pandang Astrid, “Anak lo?” Astrid mengangguk.
“Kerja dimana, Al?”
“Rumah sakit,” jawab Alena singkat. Sebenarnya bukan karena sombong atau apa. Tapi ia benar-benar tidak nyaman jika ditanyai mengenai profesi.
“Dokter?” tebak Astrid. Alena mengangguk pelan seraya mengisyaratkan Astrid untuk tutup mulut.
“Gue baru sadar sama penampilan lo,”
“Emang kenapa sama penampilan gue?” dahi Alena berkerut.
“Khas dokter, sih,” celetuk Astrid. Keduanya terkekeh.
“Dari sekian banyak temen-temen sekelas kita. Cuma sama elo gue nggak pernah ketemu, Al. Beberapa tahun belakangan ini tiap ada acara reuni, ngumpul-ngumpul atau bahkan ada yang nikah lo pasti absen.” Alena tersenyum tipis. Jelas saja ia tidak bisa menghadiri agenda-agenda yang sering direncanakan teman-temannya tersebut. Bukan apa, seringkali pekerjaan Alena membuatnya tidak bisa sejengkalpun meninggalkan rumah sakit. Apalagi saat baru pertama mulai bertugas, ditambah saat dia menempuh pendidikan spesialis. Hari liburnya juga berbeda dengan kebanyakan profesi orang. Dan lagi, ia jengah jika terus disinggung soal menikah.
Menikah? Memiliki pasangan? Jujur Alena masih terlalu takut. Takut kembali merasakan sakit. Takut kembali dihianati. Sampai sekarang, Alena sendiri belum menemukan sosok yang ia rasa tepat untuk menampung curahan hatinya.
Tapi memang wanita mana yang tidak lelah dan emosi jika ditanya mengenai kalimat sensitif tersebut. Siapa yang tidak ingin menikah? Terlepas dari sakit hatinya dimasa lalu, Alena juga ingin menikah.Tapi masalahnya, sama siapa?
Alena ingat terakhir kali mengahadiri acara berkumpul dengan teman-teman sekolahnya sekitar 5 tahun yang lalu. Di pernikahan salah satu sahabatnya. Dan Alena memang mendapat pertanyaan menyebalkan itu bukan hanya dari satu orang melainkan banyak. Teman-teman sekolahnya, terutama semasa SMP memang rata-rata sudah pada menikah dan memiliki momongan. Waktu itu ia masih berstatus sebagai dokter residen, yang memang tidak banyak temannya yang mengetahui. Jadi ketika mendapat pertanyaan kapan menikah, ia bisa mengelak dengan alasan masih kuliah tersebut. Namun setelahnya Alena justru merasa malas untuk menghadiri acara-acara semacam itu.
“Ya habis gimana, kerjaan gue nggak bisa seasalnya ditinggal. Hari libur gue juga beda dari orang-orang kebanyakan,” jawab Alena diplomatis.
“Lo masih sendiri, Al?” Alena mengangguk. Ada sedikit rasa bersalah dalam diri Astrid melihat jawaban Alena.
“Maafin gue ya, Al, kalau waktu itu pertanyaan gue sama anak-anak bikin lo kesel,” ucap Astrid dengan nada bersalah. Alena memandangnya heran, sebab ia memang sama sekali tidak tersinggung. Meskipun kesal, iya.
“Santai aja lagi. Wajar kok kalau kalian nanyain itu. Apalagi kalian udah pada nikah,” sahut Alena enteng.
“Gue tahu rasanya jadi elo, Al. Saat gue nikah, sampai 3 tahun pernikahan gue belum juga dikasih momongan. Dan entah udah berapa ratus pertanyaan yang gue dapet saat itu. Gue bener-bener nggak enak sama lo,” ucap Astrid tulus. Mana mungkin ia melupakan saat ia menanyai kapan Alena akan menyusul teman-teman gadisnya yang lain untuk menikah. Lebih tepatnya, ia dan beberapa orang lain seakan mengejek Alena meskipun bisa menerima alasan Alena yang ingin menyelesaikan pendidikannya terlebih dulu.
Percakapan mereka harus terhenti karena minuman pesanan Alena telah siap. Gadis itu bergegas membayar dan beranjak meninggalkan tempat itu.
“Gue balik duluan,” pamit Alena. Astrid mengangguk pelan.
“Sorry banget ya, Al,” ucap Astrid tulus. Alena tersenyum miring.
“Apaan sih. Santai aja lagi. Doain gue yah,” tukas Alena santai. Sekali lagi ditekankan, Alena tidak pernah marah. Ia kemudian berlalu menuju mobilnya.