BAB 7 RESMI

1042 Words
Author's PoV      Alena menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia sangat lelah. Semalaman tidak tidur. Lebih tepatnya semalaman melakukan operasi yang memang tidak bisa ditunda sama sekali. Beruntungnya dia sudah sempat makan, dan merefresh dirinya sebentar bersama Yoga dan Ratih. Apalagi pagi harinya dia juga melakukan operasi yang cukup panjang. Sangat menguras tenaganya. Tapi dia merasa sedikit bahagia, pasien yang di tolong dan di selamatkan olehnya dan ayahnya adalah ayah dari laki-laki yang entah kenapa membuat hatinya merasa aneh. Ia sangat terkejut melihat laki-laki itu berbincang didepan ruang operasi dengan ayahnya.      Hatinya bahagia. Lebih bahagia lagi karena laki-laki itu akan bertugas selama beberapa saat di rumah sakit yang sama dengannya. Ia teringat bagaimana harus bersusah payah dengan Yoga untuk menolong pasien tersebut menuju rumah sakit. Jalanan sudah lengang karena memang sudah sangat larut. Jam 11 malam. Sebuah mobil yang menabrak pembatas tol, setelah di senggol truck besar, terjadi tepat dihadapannya. Ia hanya berdua dengan Yoga setelah mengantar Ratih ke apartemennya. ** flashback in **    “Aku telepon polisi,” kata Yoga dengan gemetar.     “Aku telepon rumah sakit dan papaku.”    Mereka berdua sangat gugup dan sedikit ketakutan. Setelah berhasil menghubungi polisi, Yoga berusaha berkomunikasi dengan korban yang keadaan mobilnya sudah 50% hancur. Namun beliau masih bisa menjawab lirih.    “Pak, bapak bisa mendengar saya?” tanya Yoga, cemas.    “I-iya.” Suara dari dalam mobil, lirih.    “Gimana, Ga?” Yoga menjawab dengan isyarat tangan oke. Alena sedikit lega. Melihat kejadian seperti ini membuat    Alena gemetar luar biasa. Teringat peristiwa yang hampir merenggut nyawanya beberapa tahun silam. Yoga yang menyadari ketakutan Alena lantas merengkuh bahunya sejenak, mencoba menenangkan sahabatnya itu.    “Tenang, Al. Tenang,” berulang kali Alena menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.    20 menit kemudian, polisi dan ambulans datang. Proses penyelamatan korban dimulai. Alena masih sangat gemetar.    Proses evakuasi korban berlangsung cukup lama. Sebab, korban dalam posisi terjepit antara kursi dan kemudi. Dan keadaan mobil saat ini sangat membahayakan. Salah sedikit, bisa membahayakan kondisi korban bahkan bisa saja mobil itu meledak karena tangki bahan bakarnya bocor.     Evakuasi berlangsung selama 20 menit, setelah itu korban diberi pertolongan pertama. Alena yang bertugas. Dia juga yang mendampingi korbang di dalam ambulans. Alena meminta Yoga pulang karena sudah sangat larut dan besok Yoga harus dinas pagi.    “Lo nggk pa-pa sendiri, Al?”    “Gue nggak pa-pa, Yoga. Lo pulang aja udah. Lagian kan ada perawat yang sama gue dan papa di rumah sakit. Udah lo tenang aja.” Alena menenangkan Yoga. “Atau lo bisa ikutin ke rumah sakit tapi lo harus langsung pulang. Nggak usah ikut masuk,” tambahnya. Yoga menerima saran Alena dan mengikuti di belakang mobil ambulans. ** flashback out **    Keesokan harinya, Alena menuju rumah sakit bersama ayahnya. Ia berangkat lebih pagi. Pada hari itu terjadi kesibukan yang cukup intens di rumah sakit. Acara penting, peyambutan dokter serta seremoni kerjasama antara RS. Cahaya dengan Kyungsan Lab Korea. Seperti permintaan kedua orang tuanya, Alena mendampingi ayahnya.     Alena berdiri disamping ayahnya saat seremoni berlangsung. Ia sebenarnya agak kurang nyaman, karena banyak mata yang tertuju padanya. Menatapnya heran, kecuali beberapa orang yang memang sudah mengetahui posisinya sebagai penerus tahta rumah sakit Cahaya.    “Heran, kenapa harus Alena yang mendampingi dokter Zafran,” bisik Dokter Adi.    “Iya, kita lebih senior secara umur, bahkan masa kerja disini juga duluan kita,” sahut Dokter Raka, masih berbisik.    “Apa dia memang sebagus itu, baru 5 tahunan juga.” Dokter Farin ikut berkomentar. Sekali lagi, masih berbisik.    “Wah, hebat juga dokter Alena. Kinerjanya memang terbaik,” bisik-bisik perawat yang lain.    Percakapan para dokter dan perawat tersebut didengar oleh telinga Yoga, yang merupakan sahabat Alena. Dia tersenyum bahkan ingin tertawa, ‘kalau saja kalian tahu siapa Alena, pasti kalian akan memohon berlutut padanya,’ batinnya. Yoga sudah sangat ingin menjawab praduga-praduga tersebut, sebab selama ini banyak rekannya yang meremehkan Alena, di samping itu posisi Alena yang merupakan putri pimpinan juga masih dirahasiakakan. Namun niat itu ia urungkan setelah mendengar dokter Zafran akan berbicara.    “Rekan-rekan sekalian, kedatangan kita hari ini adalah untuk menandai kerjasama kita dengan Kyungsan Lab. Korea sebagai mitra kita untuk bidang riset dan penelitian seputar kesehatan. Disamping itu, saya harap dengan kedatangan beberapa rekan dokter dari Kyungsan Hospital, bisa menambah ilmu, relasi dan pengalaman bagi kedua pihak yang terlibat.” Dokter Zafran berkata dengan sangat tenang dan berwibawa. Beliau juga menyampaikan hal yang sama dengan menggunakan bahasa Korea. Tidak terlalu fasih, namun sudah sangat bagus mengingat ini pertama kalinya beliau bekerja sama dengan orang Korea.    Alena melihat ayahnya dengan kagum. Ia masih tidak percaya ayahnya memberikan sambutan dalam Bahasa Korea. Seingatnya, ayahnya bahkan tidak punya waktu luang untuk mempelajari bahasa baru. Bahasa Jerman saja beliau sudah lupa. Ia tersenyum saja. Namun senyum Alena berubah begitu ayahnya menyambung kalimat.    “Sekaligus disini saya perkenalkan, yang akan mendampingi dan mewakili saya dalam proses kerjasama ini. Dan mendampingi tugas-tugas para dokter dari Kyungsan, dokter Alena Zhafira.” Beliau terdiam sejenak kemudian melanjutkan, “Yang juga adalah, putri saya.”    Semua yang hadir, kecuali beberapa orang, tercengang. Tidak percaya. Ruang aula seketika hening kemudian berubah heboh. Seolah mengira dokter Zafran salah ucap. Alena membungkuk hormat. Ia sendiri terkejut dan juga malu karena sudah menjadi pusat perhatian. Tak menyangka ayahnya akan mengenalkannya secepat ini.    Sementara itu, disalah satu barisan kursi dokter dari Kyungsan, sepasang mata sudah memperhatikan gadis disamping pimpinan sejak mereka memasuki ruangan. Senyumnya tercetak. Tampan dan memesona bagi siapapun yang memandangnya. Padahal beberapa menit sebelumnya, wajahnya masih dihinggapi kekhawatiran karena ayahnya pingsan lagi setelah sadar untuk beberapa saat.    Pemilik kesempurnaan itu ialah dokter Kim Yeong. Ia masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pesona dokter Alena. Padahal, semenjak pagi sudah banyak yang memperhatikannya bahkan beberapa dokter muda dan perawat genit mengajaknya berkenalan. Ia tidak menggubris. Karena fikirannya tertuju pada putri pimpinan rumah sakit yang ia yakini pasti akan turut hadir dalam acara penyambutan hai ini. Namun lebih dari itu, sang gadis justru mendampingi ayahnya.    “Terlihat sangat sempurna. Tapi kenapa ia sepertinya terkejut saat ayahnya memperkenalkannya?” gumam dokter Kim    “Apa maksudmu?” Dokter Lee disampingnya bertanya, dengan bahasa Korea tentunya. Dokter Kim Yeong sedikit terkejut dan hanya menjawab, “Tidak apa-apa.” Untunglah, rekan-rekannya tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia. Syukur. Hhh.    “Mungkin benar kata Freddy, aku mungkin harus mulai membuka hati untuk orang lain,” lirihnya, mulai teringat kisah cintanya yang sebelumnya, berakhir sangat pahit. Namun, benarkah Kim Yeong akan bisa melupakan cinta pertamanya itu? Dapatkah ia meruntukah kekuatan hati Alena yang pernah mengalami cinta yang tak kalah menyakitkan darinya? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD