Papa ...” Ku dengar suara ibuku sedikit menjerit dari lantai bawah. Aku yang sudah sedikit terlelap seketika terbangun dan berlari turun. Saat ini aku memang masih tinggal bersama orang tuaku, namun setelah beberapa hari aku akan pindah ke apartemen. Begitu sampai di lantai bawah, ku dapati ibuku tengah bersimpuh dilantai dengan tangannya masih menggenggam handphonenya. Ku angkat.
“Iya, halo.”
“Maaf, Pak, kami dari kepolisian ingin menyampaikan bahwa mobil yang dikendarai bapak Kim Joon terlibat tabrakan. Sekarang beliau sedang dalam perawatan dokter di rumah sakit Cahaya. Kami membutuhkan bapak sekarang,” jawab dari seberang. Kakiku terasa lemas. 'Oh God, apa ini?'
“Baik pak, saya segera kesana.”
“Baik, kami tunggu.”
Aku memapah ibuku menuju kamarnya. Ku beritahu agar beliau dirumah saja, dan aku yang akan mengurusnya.
“Tidak, Mama ikut.”
“Mama dirumah saja. Sudah terlalu malam.”
“Mama ikut, Yeong. Ayahmu itu suami Mama.” Ibuku bersikeras.
“Oke, baik. Kita berangkat sekarang.” Hal yang paling ku hindari adalah berdebat dengan ibuku. Sifat keras kepalanya sama denganku. Aku berani menjamin, seribu persen aku pasti kalah.
Aku menyetir sedikit ngebut. Ingin secepat mungkin sampai di rumah sakit. Ibuku duduk disampingku tak henti mengucapkan doa agar ayahku selamat. Ayahku memang baru saja pulang dari perjalanannya ke Jepang. Biasanya beliau di jemput supir, namun malam ini beliau bersikeras menyetir sendiri karena memang sudah sangat larut. Ku jemput juga tidak bersedia. Tidak mau merepotkan.
“Ya Tuhan, tolong selamatkan ayahku.” Doaku berulang dalam hati.
30 menit aku sampai di rumah sakit Cahaya. Rumah sakit yang rencananya lusa akan menjadi tempat dinasku meskipun sementara (dan aku berharap seterusnya). Aku dan ibuku langsung menuju IGD. Dan sudah terlihat beberapa petugas kepolisian disana.
“Ayah saya, bagaimana keadaan beliau pak?” Ibuku melihat dari jendela IGD, panik. Beberapa perawat berusaha menenangkan beliau.
“Dokter sedang berjuang, Pak. Semoga keadaan ayah Anda segera membaik. Namun sebelumnya ada yang harus kami bicarakan dengan Anda. Anda putranya?” tanya polisi yang bernama Heriyadi.
“Benar pak, saya putranya. Kim Yeong.”
“Pak Kim, kasus ayah Anda sedang dalam penyelidikan kami. Karena berdasarkan bukti-bukti sementara yang ditemukan di TKP, kecelakaan ini bukan suatu kebetulan. Kami akan menyelidikinya secepat mungkin dan melaporkan pada Anda,” jelasnya panjang lebar.
Aku kaget, ‘ada apa ini? Ayahku sedang di jebak seseorang? Ada yang ingin mencelakainya?’ batinku.
“Baik, Pak. Tolong selidiki dan saya menunggu hasilnya.”
“Baik, kalau begitu kami permisi. Selamat malam.” Aku mengangguk.
****
“Yeong,” suara ibuku. Disampingnya berdiri seorang yang ku yakini seorang dokter. Terlihat sangat berwibawa.
“Bagaimana keadaan ayah saya dok?”
“Kondisi ayah Anda sudah mulai stabil. Namun kami harus segera melakukan tindakan operasi. Malam ini juga. Karena ada beberapa patah tulang di kaki dan tulang rusuk yang posisinya mengancam paru-parunya. Untuk itu kami butuh persetujuan keluarga.” Suara dokter itu sangat berwibawa dan tenang.
“Baik dok, lakukan apapun. Tolong selamatkan ayah saya. Setelah itu saya akan mengabdi di rumah sakit ini seumur hidup saya bahkan tanpa di bayar sekalipun,” aku bahkan tidak menyadari apa yang sudah aku ucapkan.
Dokter itu tersenyum heran, sedetik kemudian berbinar, “Ah, apakan Anda dokter Kim Yeong dari Kyungsan Hospital?”
“I-i-iya dok, saya. Maaf, dokter mengenal saya?” tanyaku tak kalah heran.
“Saya ingat profil yang di kirimkan oleh Kyungsan Lab. Ah ternyata benar. Baik , mari saya antar ke bagian administrasi. Sementara ibu Anda disini saja di temani perawat.” Suara beliau menenangkanku
“Mama, Yeong urus administrasi Appa dulu.” Aku mencium tangan ibuku dan melangkah menuju bagian administrasi. Selesai mengurus semua aku kembali menemani ibuku. Dan ayahku segera di pindahkan ke ruang operasi. Dokter yang tadi tersenyum padaku seolah ingin mengatakan semua baik-baik saja. Aku mengangguk. Aku percaya pada beliau dan sedikit penasaran tentang beliau.
“Beliau dokter Zafran, pimpinan rumah sakit ini, Dok” suster yang menemani ibuku seperti mengerti apa yang aku fikirkan. “Jika beliau sudah turun tangan, semuanya akan baik-baik saja. Sisanya kita serahkan pada Tuhan,” lanjutnya.
“Dan yang itu putrinya. Dokter bedah terbaik kami.” Aku melihatnya.
Astaga!
Itu gadis yang tadi. Aku berharap aku salah lihat. Namun ku perhatikan, itu memang benar dia. Aku lega, ayahku di tangani orang yang tepat. Dan semakin mengagumi gadis itu.
****
Semalaman aku tidak tidur. Sedangkan ibuku beristirahat di ruang perawat. Aku menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan tidak menentu. Namun aku yakin, ayahku pasti selamat. Apalagi setelah mendengar penjelasan suster yang menemani ibuku, mengetahui dokter Zafran di temani putrinya yang ku ketahui bernama Alena membuat hatiku sedikit tenang.
“Ya Tuhan, tolong selamatkan ayahku.” Doaku tak pernah berubah.
Waktu menunjukkan pukul 6 pagi saat lampu kamar operasi padam. Dokter Zafran keluar dari ruangan. Beliau tersenyum meskipun guratan lelah itu terlihat jelas diwajahya, “Ayah Anda memang orang yang kuat. Operasinya berjalan lancar dan kondisinya stabil. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan.” Aku bersyukur berkali-kali pada Tuhan dan membungkuk hormat berkali-kali juga pada dokter Zafran.
“Terima kasih dokter Zafran. Terima kasih.”
“Sudah-sudah, itu sudah menjadi tugas kita bukan?” Beliau tersenyum. Di belakangnya nampak sosok yang membuat hatiku sedikit bergetar. Dia-pun terlihat sama lelahnya, namun sangat cantik. ‘Ah, ada apa dengan hatiku,’ batinku
“Dokter Alena, ini dokter Kim dari rumah sakit Kyungsan. Putra dari pasien yang Anda tolong,” jelas dokter Zafran. Gadis bernama Alena itu terlihat sedikit kaget, namun ia sangat pandai menguasai diri.
“Oh, i-iya. Selamat pagi dok. Senang bertemu Anda.” Nada bicaranya sangat santun. Dia hanya menunduk seperti memberikan salam padaku.
“T-terima kasih dokter sudah menolong ayah saya.” Dia hanya tersenyum simpul. Mungkin dia lelah
“Dokter Zafran, kalau begitu saya permisi pulang dulu,” pamitnya. Aku baru menyadari bahwa mereka menggunakan bahasa yang sangat formal.
“Baik dokter, silakan.”
“Permisi, Dokter. Mari dokter Kim.” Dia membungkuk pelan. Aku membalasnya, “Sekali lagi terimakasih.”
“Kalau begitu saya juga permisi, Dok. Masih banyak pekerjaan. Terutama untuk menyambut dokter dan rekan-rekan dari Kyungsan besok. Mari,” pamit dokter Zafran.
“Sekali lagi terima kasih, Dokter.” Aku membungkuk hormat pada beliau.
Tak lama kemudian aku melihat ayahku dipindahkan ke ruang inap. Aku segera menjemput ibuku dari ruang perawat. Dan meminta beliau beristirahat di sofa kamar ayahku. Sementara aku sendiri harus pulang untuk mengambil pakaian ganti dan mengabari kakak-kakakku. Aku menggeleng pada diriku sendiri. Penyambutanku dan rekanku dari Kyungsan memang besok. Tapi aku sudah mendahului mereka hari ini.