BAB 5 PENASARAN

1028 Words
Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;) ____________________________________ Kim Yeong’s PoV*    Aku membaringkan diri di kasur kamarku yang sudah bertahun-tahun tidak ku tempati. Hanya sesekali saat aku berlibur ke Indonesia. Orang tuaku memang tinggal disini sejak kakak pertamaku kecil, namun aku memutuskan untuk melanjutkan SMA dan kuliah di Korea, negara asal ayahku. Karena ingin menjadi dokter, aku terpaksa menjauh. Ayahku sangat ingin aku mengambil jurusan bisnis agar dapat melanjutkan perusahaan. Aku sendiri tidak terlalu tertarik dengan bisnis, aku lebih suka berkelut dengan ilmu sains. Jadilah sekarang aku selain dokter di rumah sakit Kyungsan, Seoul, aku juga menjadi peneliti di labortorium yang sama.     Ini hari keduaku berada di Indonesia. Karena ada rencana kerjasama antara Kyungsan Hospital dengan RS. Cahaya, aku menjadi salah satu dokter yang dikirim. Anggap saja sebagai tambahan ilmu dan pengalaman. Namun sesungguhnya aku tidak ingin kembali ke Korea. Aku ingin menjadi dokter di Indonesia. Selain itu orang tuaku juga memintaku tinggal di Indonesia karena kedua kakakku sudah menikah dan menetap di Korea. Aku menyanggupi dengan syarat, tetap menjadi dokter dan aku tidak mau dipaksa menjalankan perusahaan ayahku, kecuali atas kehendakku sendiri. Dan orang tuaku menerima syarat itu.     Aku sudah akan tertidur ketika tiba-tiba teringat gadis yang kutemui di toilet bioskop tadi. Aku memang pergi untuk nonton dengan beberapa temanku semasa SMP. Saat menuju toilet itulah, aku menabrak seorang gadis. Tidak sengaja, dan dia terlihat sangat imut dan sederhana. Mukanya memerah setelah bertabrakan denganku. Dia meminta maaf duluan. Padahal sebenarnya akulah yang salah. Suaranya yang lembut membuat hatiku menghangat. Kemudian dia berlalu menuju toilet wanita dan aku menuju toilet pria. Cukup lama aku berada di toilet, sebenarnya menunggu gadis itu keluar agar bisa melihatnya. Entah mengapa aku merasa penasaran dengannya. Namun setelah beberapa lama dia tidak muncul. Aku memutuskan kembali pada teman-temanku ke Cinema Cafe. Baru saja duduk, aku melihatnya kembali. Dia bersama dua orang temannya yang nampaknya cukup dekat. Tempat duduk mereka tak jauh dariku.     Aku ingin menemuinya. Ingin berbicara dengan dia. Aku sangat penasaran dengannya. Namun kuurungkan. Melihatnya makan dengan lahap. Mereka bertiga nampak bercanda namun aku tidak dapat mendengarnya. Suaranya cukup pelan sangat berbeda dengan gerombolanku dan pengunjung lain yang sedikit berisik. Aku terus memperhatikan hingga tak sadar teman-temanku berdiri untuk masuk theater.    “Kim Yeong-ssi, hellow. Ada orang disana?” Rara mengibaskan tangannya didepan mataku.    Aku mengerjap, “Ish, iya masih hidup gue tenang aja.”    “Ngapain lo? Ngelamun? Ngelihat setan?” ejek Yohan.    “Iya. Didepan gue nih setannya,” Aku menghadapnya.    “Rese lo, Yeong.” Aku hanya terkekeh.    “Yuk masuk, udah mau mulai,” ajak Shania.    Kami berlima berjalan menuju theater dan, Oh God aku melewati gadis itu. Dia baru akan berdiri. Ku beranikan diri menyapanya.     “Hai, kamu lagi. Mau pulang? Atau baru mau nonton?” sapaku. Nampaknya dia terkejut.    “Oh, hai. Baru mau nonton. Mau masuk theatre ini,” jawabnya.    “Oh ya. mau nonton apa?” tanyaku lagi.    “The Conjuring,” jawabnya singkat. Astaga, suaranya yang memang sangat lembut membuatku merasakan hal aneh. Sedikit cuek namun anehnya itu membuatku semakin ingin tahu.    “Wah kebetulan. Bisa barengan kita,” ujarku.    “Oh. Ya. Boleh,” jawabnya singkat sambil berlalu menggandeng tangan temannya yang perempuan. Teman lelakinya menyusul dibelakang.    Aku dan teman-temanku mengikuti mereka. Sebenarnya aku agak malas nonton film horor. Bukan genreku sama sekali. Namun karena Rara dan Shania merengek sejak mendengar kedatanganku kemarin, kami tiga lelaki ini sangat tidak berdaya untuk menolaknya.     “Dia cewek yang lo lihatin sejak tadi kan?” Freddy berbisik padaku. Aku kaget. Kok dia tahu. Dia terkikik, dengan ekspresi yang meledekku.    “Goodjob, Bro. Bagus deh kalau lo udah bisa move on dan membuka hati untuk gadis lain. Tenang aja, gue dukung lo.” Masih berbisik. Dia tidak mengatakan dengan keras karena sudah pasti 3 orang di depan kami akan meledekku habis-habisan bahkan menggoda gadis itu untukku. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan sobatku ini.    “Gue bahkan udah lama nggak lihat senyum lo yang se-sumringah ini,” tambahnya .    Shania menoleh, “Siapa Fre yang senyum-senyum? Eh, Yeong, gimana lo bisa kenal sama Alena?”    ‘Oh, namanya Alena,’ batinku.    “Lo kenal?” tanyaku, menahan tangan Shania.    “Lo tiap ditanya malah tanya balik. Iya, gue tahu dia. Tapi mungkin dia nggak tahu gue.”    “Tahu darimana?” tanyaku tidak sabar.    “Dia adik kelas gue waktu SMA, tapi anak akselerasi, jadi cuman 3 atau 4 semester gitu. Karena dia pernah mewakili SMA gue buat olimpiade matematika di Hangzhou dan dapet medali perak, jadi terkenal deh. Terus sekarang kabarnya udah jadi dokter. Dia lulusan UGM lho. Dan keluarganya terkenal banget dipenjuru kota ini,” jelasnya panjang lebar. Aku curiga, jangan-jangan Shania sebenarnya agen akun gosip. Hhh.    Aku tidak menjawab ucapan Shania. Hanya fikiranku serasa semakin mengaguminya. Deg, tapi aku takut. Jangan-jangan cowok yang berjalan dibelakang itu pacarnya. Aku langsung hilang percaya diri.    Sampai kami masuk ke dalam theatre, aku tidak melihatnya. Suasana theatre yang gelap dan dia sudah berjalan leih dulu membatasi pandanganku. Aku mencari tempat dudukku. Sempat berebut dengan Freddy karena dia ingin duduk di tepi, padahal dia paling mengerti bahwa itu ada spot favoriteku. Setelah ditengahi Rara, diapun mengalah.    Film belum dimulai, aku mengitarkan pandangan ke sekitar. Dan begitu aku menoleh ke arah kanan, ternyata dia di sebelahku, gadis itu, hanya terhalang jalan. Dia nampaknya belum mengetahui keberadaanku. Setelah mengitarkan pandangannya, dia menoleh ke arahku. Dan, mata kami bertemu. Hatiku sedikit bergetar. Satu detik, dua detik. Dia langsung mengalihkan pandangannya. Akupun melakukan hal yang sama. Selama film diputar, aku sama sekali tidak dapat menikmatinya. Aku sibuk menoleh ke arahnya yang sepertinya sangat menyukai film horor. Sesekali terlihat takut, terkadang tertawa. Melihatnya demikian, membuatku tersenyum sendiri. “Ah, aku pasti sudah gila,” gumamku pelan.    “Iya, lo bisa gila kalau lihatin cewek mulu tapi nggak berani deketin. C'mon, Bro. Hhh.” Sial, Freddy ternyata memperhatikanku.    “Gue kan nggak terlalu ngeh sama film ginian, dan gue lihat lo ternyata lebih nggak fokus dari gue. Ehh, ternyata bidadari itu benar-benar menyita perhatian lo.” Dia berbisik, khawatir Rara mendengarnya kemudian berulah. Karena temanku cewek satu itu memang paling ember diantara kami. Hhh.    Tik Tok Tik Tok ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD