BAB 4 SIAPA DIA?

1265 Words
Mohon bantuannya untuk vote cerita ini ya ;) ____________________________________Aku menitipkan kunci mobil ke security dan menyampaikan bahwa yang mengambil nanti adikku, Abiyan. Kemudian berangkat ke CinemaX bersama dua sahabat rasa musuhku ini. Kenapa sahabat? Karena mereka selalu ada kapanpun aku membutuhkan mereka. Kenapa musuhku? Karena cara mereka menegurku sangat anti mainstream. Terkadang malah sangat keras kepadaku. Pernah aku sangat murka hingga tidak bertegur sapa selama hampir 1 minggu. Namun aku merasa beruntung memiliki sahabat seperti ini, yang apa adanya.    “Mau nonton apa nih kita?” tanyaku. Ratih duduk disebelahku, sementara Yoga sendiri. Walhasil nampaklah Yoga seperti supir kami.    “Nonton genre kalian,” jawab Yoga.    “The Conjuring? Ulala.” Aku bersemangat, Ratih mengangguk. Akhir-akhir ini aku sering terlalu sibuk sehingga jarang sekali memiliki quality time seperti ini.    “Gimana kalau kalian nonton berdua aja, gue tunggu diluar” Yoga memang sedikit parno dengan film horor.    “Apa-apaan sih. Nggak. Nonton semua. Orang berangkat bertiga masa nonton berdua.” Ratih yang menjawab. Aku terkekeh. Kami tau betapa parnonya Yoga dengan film horor.    “Lo duduk samping Ratih aja kalo takut. Tapi awas kalo cuekin gue. Gue tendang beneran lo.” Ancamku. Ratih tertawa. Memang biasanya seperti itu. Aku selalu duduk di bangku tepi. Sampingku Ratih kemudian Yoga. Tidak mungkin Yoga ditengah. Menang banyak dia ntar.    Kami terus bercanda sepanjang perjalanan. Apalagi jam pulang kerja ini jalanan memang sangat macet. Setelah 1 jam lebih, barulah kami sampai di CinemaX. Ratih langsung membeli tiket sedang aku membeli popcorn dan minum. Yoga menunggu di Cinema Lounge. Nampaknya dia akan memesan makanan mengingat kami memang belum makan dan aku sedikit kelaparan.     “Yoga, gue ke toilet bentar,” pamitku setelah meletakkan popcorn dimeja.    “Eh, tunggu. Lo mau pesen makan apa? Kan lo belum makan pasti sejak siang.” Yoga mencegah    “Bisa-bisa dari pagi juga belum makan dia. Maklum lah kalau operasi sama papanya pasti gugup.” Tiba-tiba Ratih muncul. Entah sejak kapan anak itu bisa mendengar dari jauh.    “Apa aja deh, asal jangan mie instan,” ujarku seraya ngeloyor menuju toilet karena saking sudah tidak tahan dengan tuntutan alam.    Aku menuju toilet yang letaknya sedikit menepi. Ini cinema paling aneh menurutku. Karena biasanya toilet berada di area yang mudah dilihat dan dijangkau.     Brukk …    Karena terburu-buru dan tidak memperhatikan sekitar, aku menabrak, atau mungkin malah ditabrak seseorang yang juga sepertinya menuju toilet.     “Eh, maaf-maaf. Aku nggk lihat,” ucapku sambil melihatnya. Cowok ternyata.    “It’s okay. Gue juga sorry. Tadi meleng lihat handphone mulu. Kamu nggak pa-pa?” tanya cowok itu.    ‘Habis gue, kamu. Hhh,’ batinku. Aku sedikit terbengong melihatnya. Wajah khas Asia namun ada gestur Indonesia. Logatnya juga agak kaku.    “I’m okay. Permisi.” Aku buru-buru masuk ke toilet wanita, panggilan alamku sudah sangat tidak dapat ku tahan. Selain itu aku takut karena menatap cowok tadi membuat jantungku berdetak sedikit lebih kencang.    “Duh, aku kenapa sih ini. Ditabrak cowok itu jadi gini,” gumamku didalam toilet.    Setelah selesai, akupun keluar dan sedikit terkejut karena laki-laki yang tadi menabrakku juga nampak baru keluar dari toilet pria. Aku menunggu sebentar hingga dia hilang dari pandangan. Entah kenapa aku sedikit malu berpapasan dengan dia, dan merasa wajahku memerah.    “Lo habis nangis apa gimana sih. Kenapa kaya udang rebus gitu muka lo?” celetuk Yoga    “Lo bertapa ya Al? Lama bener. Hhh.” Ratih memang sebelas duabelas dengan cowoknya ini.    “Iya. Gue habis cari wangsit. Puas lo,” sebalku.    “Katanya pesen makanan? Belom?” tanyaku kemudian.    “Baru juga pesen Al, bentar lagi mungkin.” Jawab Ratih.    “Berarti masih lamaan makanannya dari pada gue,” ujarku sambil meminum cola.    “Kita emang baru pesen, karena bingung mau pesenin apa buat lo. Mana menunya banyakan mie sama seafood pula. Lo nggak suka kan.” Yoga baru menutup mulutnya saat makanan datang. “Steak ayam buat Lo. Masih doyan kan Lo,” tambahnya.    Aku terkekeh atas perhatian dua sahabatku ini. kami pun makan dengan bercanda. Ratih memesan ramen seafood, sementara Yoga memesan seafood mix.     “Awas jadi kepiting Lo makan seafood mulu,” celetukku pada Yoga.    “Kalau gue jadi kepiting, capit gue buat ngurung Ratih biar dia nggak bisa kemana-mana. Ya kan, Sayang.” Yoga mengerlingkan matanya membuatku ingin menyiramnya dengan saos steakku.    “Ogah. Dikira gue ayam dikurung-kurung,” sungut Ratih dengan mata jengahnya.    “Kan biar bisa sama aku terus sayang.” Yoga terkekeh    “Tolong pacarannya dikondisikan Mas, Mbak,” ujarku.    “Sewot aja lo, Al. Iri bilang boss.” Yoga semakin menyebalkan saat kami keluar rumah sakit seperti sekarang.    Ratih hanya tertawa, “Udah jangan godain Alena terus. Ditendang tau rasa kamu nanti.”    “Alena nggak bakal bisa nendang gue. Mejanya besar gini. Nggak bakal nyampek kakinya. Hhh.”     “Ampun Al. Lo kejam bener dah ah.” Aku sudah mengangkat mangkok saosku ketika Yoga mengucapkannya.    “Gue nggak ngomong apa-apa lho padahal. Tapi kalau Ratih bilang gitu, gue bisa apa,” ujarku santai. Ratih terkekeh.    “Ampun Al. gue nggak bakal godain lo lagi deh. Jangan tendang gue Al, please. Adik-adik gue masih butuh biaya,” ucapnya dengan wajah memelas. Tentu saja dia hanya bercanda, sebab Yoga tahu, akupun tidak akan tega melakukan hal itu hanya karena candaan yang sederhana.    Makanan kami telah tandas tepat ketika voice officer mrnyampaikan bahwa theater film kami sudah dibuka. Aku baru akan berdiri ketika ada suara menyapaku.    “Hai, kamu lagi. Mau pulang? Atau baru mau nonton?” Aku sedikit terlonjak. Cowok yang tadi menabrakku (atau kutabrak) didepan toilet. Sementara Ratih dan Yoga hanya saling pandang.    “Oh, hai. Baru mau nonton. Mau masuk theater ini,” jawabku.    “Oh ya. mau nonton apa?” tanyanya lagi.    “The Conjuring,” jawabku singkat. Selain aku sedang deg-degan, aku juga tidak terlalu suka banya berbincang dengan orang baru.    “Wah kebetulan. Bisa barengan kita,” ujarnya sambil tersenyum. Dan astaga, ada perasaan aneh di diriku.    “Oh. Ya. Boleh,” jawabku sambil berlalu menggandeng tangan Ratih. Yoga mengikuti dibelakang kami. Sedangkan cowok itu bersama beberapa temannya juga menyusul kami kemudian.    “Al, siapa tuh?” Ratih berbisik.    “Nggak kenal.”     “Nggak kenal kok akrab gitu?” Yoga bersuara.    “Beneran nggak kenal gue. Baru ketemu juga tadi pas didepan toilet gue tabrakan sama dia,” jawabku jujur. Siapa juga yang ngira bakal ketemu lagi dan dia sangat friendly ngajak aku ngobrol.    “Jangan-jangan muka lo kaya udang rebus tadi gara-gara habis lihat tu cowok?” Yoga nampaknya ingin meledekku.    “Muka gue merah gara-gara lihatin lo. Gimana dong, Ga? Gue takut sama Ratih nih. Hhh,” godaku pada Yoga. Ratih hanya terkekeh, sedangkan Yoga justru panik.    “Jangan naksir gue, lo. Gue nggak sanggup ngadepin lo yang bawelnya minta ampun,"     “Apaan sih lo, Ga. Siapa juga yang mau naksir sama lo.” Aku nyengir. Aku dengan Yoga memang seperti aku dengan Abiyan, selalu bertengkar namun selalu saling ada saat dibutuhkan. Untunglah Ratih baik-baik saja dengan keadaan kami. Hanya saja dia memang sedikit pendiam.    Kami masuk kedalam theater 3. Kemudia langsung mencari tempat duduk kami. 11C, 12C, 13C. kami duduk dengan urutan biasanya. Aku dipaling pinggir, sampingku Ratih kemudian Yoga. Dan kursi disamping Yoga ternyata kosong.    “Ga, samping lo kok kosong ya. hhh.” Aku menggodanya    “Nggak lucu Al. Udah nonton aja kalian berdua. Gue mending tidur,” ucapannya terdengar sebal padaku. ‘Wkwk’ batinku    Aku mengitarkan pandangan ke area theater. Dan begitu menoleh sebelah kiri, aku kembali terkejut. Cowok itu lagi. Dia ternyata sedang melihatku. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke layar dan menikmati popcornku hingga filmnya dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD