Pelajaran sesi pertama telah selesai, kini aku sedang berada di kantin kampus lma kamu Din" ucap Leo sambil tertawa dan duduk di sampingku
"Leo leo... kamu ini lucu ya"
"Apa kamu bilang Din? Aku lucu, emang kamu pikir aku badut?" Ucap Leo yang memotong ucapanku dan sedikit memicingkan matanya kedekat wajahku
"Bukan itu maksud aku Leo. Ahk sudahlah tidak usah di bahas. Kamu baru keluar kelas ya?" Tanyaku pada Leo, karena dari jam istirahat tadi dia tidak kelihatan.
"Iya nih, tadi dosennya ngasih tugas banyak banget, kalau belum kelar itu tugas gak di kasih istirahat" ucap Leo yang mulai memesan minuman.
"Dosen killer tuh" jawabku sambil tersenyum
"Iya kamu bener, kalau itu dosen sudah masuk gak ada yang berani bergerak sedikitpun"
"Termasuk kamu kan?" Ucapku sambil menunjuk dirinya
"Ha..ha..ha.. kalau aku beda dong, aku kan mahasiswa kesayangan dan mahasiswa terpintar di kampus ini" jawab Leo dengan gaya sombongnya.
"Duh gayanya, iya deh mahasiswa kesayangan"
"Din, pulang kuliah nanti kita jalan yuk"
"Jalan kemana?" Tanyaku, sebenarnya aku ingat pesan papa untuk segera pulang, tapi rasanya aku males buat pulang bareng pria tua itu.
"Kamu maunya kemana?"
"Hmm... kita nonton saja gimana?"
"Boleh juga" jawabku sambil melihat jam di tanganku, bertanda sebentar lagi kelas lanjutan akan dimulai.
"Leo, aku duluan masuk ya, sepulang kuliah nanti aku kabari kamu ya"
"Oke Din, nanti kalau aku keluar kelas duluan, aku tunggu kamu di depan kelas mu ya" ucap Leo pada ku
"Oke, sampai jumpa nanti" aku berjalan kekelas meninggalkan Leo sendirian di kantin.
Tinggal satu mata kuliah lagi untuk hari ini, di saat sedang menunggu dosen yang akan masuk, aku terkejut melihat Ciko yang datang membawa laptop seperti pernah aku lihat dan tiba-tiba tubuh tinggi kekar itu memasuki kelasku. Apa dia yang akan menggantikan mata kuliah ibu Siti batinku.
Dia mulai memperkanlakn namanya dan mulai menerangkan materi kuliah hari ini. Aku tidak fokus dengan pelajaran hari ini, seperti ada sesuatu yang membuat hatiku meronta-ronta. Aku mengira ini perasaan kesalku pada pria tua itu.
Aku mencoba mengalihkan perhatianku ke layar ponselku membalas pesan ke Leo.
"Sst.. Din..Din" bisik Maria padaku
"Dosennya ganteng banget ya, kalau setiap hari pak Azzam yang mengajar, bisa-bisa otakku cepat nangkapnya" ucap Maria sambil memainkan matanya
"Ganteng dari mana? Lelaki tua gitu kamu bilang ganteng, mata kamu kelilipan kali Mar" ucapku menyalahkan pandangan Maria
"Ish... kamu ya, susah ngomong sama orang yang cinta matinya cuma buat satu orang. Coba kamu buka mata kamu lebar-lebar, lihat gimana ketampanan pak Azzam, cara dia berbicara, pakaiannya, bibirnya, hidungnya, uuuhh...pengen aku peluk ituh cowok"
Aku yang mendengar ucapan Maria sepertinya ingin muntah, aku tidak ingin merespon ucapannya lagi. Lebih baik aku berbalas pesan pada Leo.
Disaat aku fokus ke ponselku. Tiba-tiba masuk pesan dari nama yang aku simpan 'Pak Tua' di kontakku "Fokus dipelajaranmu dulu, tidak lama lagi kamu akan ujian akhir, berikan nilai yang terbaik untuk dirimu?"
Aku langsung memandangnya dengan mata melotot, memberi kode agar dia tidak ikut campur dengan urusanku. Tapi dia malah membalas dengan senyuman. Aku mengabaikan pesannya. Aku mengerjakan tugas yang diberikannya. Dan berharap kelas hari ini cepat berlalu. Sebel rasanya melihat wajahnya lama-lama berada didepan kelas.
Akhirnya jam mengajar pria tua itu berakhir juga, aku memasukan buku ku kedalam tas, dan melihat pria itu berjalan keluar kelas, aku sengaja menunggu didalam kelas, biar dia duluan jalan pulang. Tidak ingin pulang bersama dengannya. Apa lagi tadi pesan papa kalau aku harus pulang dengan dia, apa kata temen-temen kalau mereka tahu aku boncengan dengan pria tua itu.
"Din.. hey.. kamu tidak pulang? Kok malah bengong di sini?" Tanya Maria yang masih memperhatikan ku tanpa bergerak dari posisi ku
"Iya pulang, masih males gerak nih" kilah ku pada Maria sambil membaca buku yang di tanganku
"Itu di luar ada yang nungguin kamu" ucap Maria sambil menunjuk ke arah luar
"Siapa?" Tanyaku
"Kalau mau tahu ayo kita keluar" ajak Maria sambil menarik tanganku.
Aku dan Maria berjalan keluar dengan membawa tas dan buku novel yang ku pegang. Melihat ke arah luar kelas siapa yang menunggu, apakah bapak Tua itu ingin mengajakku pulang bersama batin ku.
"Hai Din, jadi kita jalan" tanya Leo begitu melihatku keluar dari kelas
"Cie cie yang mau jalan berdua" ledek Maria
"Apaan sih Mar, kalau kamu mau ikut boleh kok" ucapku pada Maria
"Gak usa deh, aku mau lanjut kerja, gak enak entar sama ibu aku" ucap Maria.
"Bagus deh, biar kamu gak jadi nyamuk kalau ikut kita" ucap Leo sambil tersenyum
"Iya aku tau, makanya aku gak mau ikut kalian, udah sana keburu sore kalau kalaian mau jalan" ucap Maria sambil mendorong lengan Leo
"Yuk Din... kita naik mobil aku aja"sambil berjalan di sebelah kiri ku. Aku mengikuti langkahnya menuju parkiran, di saat ingin masuk ke mobil Leo aku melihat notifikasi aplikasi berwarna hijau ku 'Pak Tua'
"Dina, mas tunggu kamu di parkiran ya, kita pulang bareng, sore ini kita pindah ke rumah mas sesuai ucapan mas dengan papa" pesan yang k*****a dari seseorang yang aku benci. Aku membalas pesannya bukan karen kasian hanya saja aku tidak ingin menimbulkan masalah baru lagi nantinya
"Tidak perlu sok perhatian terhadapku, kalau kamu mau pulang duluan silahkan. Nanti kamu kirim saja lokasi rumahmu padaku. Aku bisa pulang bareng Leo naik mobilnya, aku tidak ingin kulitku yang mulus ini terbakar oleh panasnya matahari" pesan terkirim dan langsung di baca si penerima pria tua itu. Aku masuk ke dalam mobil Leo, duduk di jok samping pengemudi.
"Kita langsung nonton atau mau makan dulu?" Tanya Leo padaku yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.
"Sepertinya nonton aja deh, perut aku belum laper buat di isi lagi" jawabku sambik tersenyum.
"Hari ini kamu pulang telat gak ada masalah kan Din?" Ucap Leo
"Sebenarnya sih aku ada janji dengan sepupu aku, mereka ngadain makan malam bersama di rumahnya. Tadi aku udah janji ke papa buat hadir." Aku berbohong pada Leo, kalau nanti sore aku harus pulang ke rumah Pak Tua itu.
"Ya udah nanti sehabis kita nonton aku anter kamu ke rumah sepupu mu ya" ucap Leo
"Tidak usah lah, nanti aku bisa naik taxi saja, lagian aku harus pulang ke rumah dulu buat bersih-bersih badan, gak enak dong datang di acara keluarha dengan badan bau gini" ucapku sambil tersenyum
"Siapa bilang kamu bau. Kamu itu walau tidak mandi satu minggu pun tetap cantik dan wangi" gombal Leo yang sekilas memainkan alisnya
"Iya wangi asem ha...ha.. ha.. mana ada sih sejarahnya orang gak mandi berhari-hari tetap wangi. Ada-ada saja kamu Leo" ucapku sambil tertawa kearahnya.