Pagi ini aku terkejut dengan keputusan pria yang bersetatus suami ku, oups.. cuma status ya, aku tidak tertarik dengan kehadirannya sedikitpun. Dua puluh lima tahun aku hidup bersama papa di rumah mewah ini, dan di rumah ini pula aku punya banyak kenangan dengan mama, malah dengan gampangnya dia mengajakku untuk pindah kerumahnya. Sebenarnya aku tidak terima dengan keputusan dia yang tiba-tiba. Ingin menolak tapi papa memberi izin kalau anak semata wayangnya ikut dengan pria tua ini. Aku berlari keluar dengan membawa tas kuliahku, tanpa berpamitan dengan papa. Rasanya aku kecewa yang kedua kalinya dengan keputusan papa. Aku berlari keluar rumah tanpa menghiraukan panggilan papa. Aku menaiku taxi yang kebetulan lewat didepan rumah. Meminta supir taxi mengantarkanku ke kampus.
Saat aku sampai di pintu gerbang kampus, aku buru-buru berjalan ke perpustakaan, hari ini aku terlalu cepat datang ke kampus, untuk menenangkan hati rasanya lebih baik membaca buku di perpustakaan. Tapi pada saat aku berjalan menunduk aku malah menabrak punggung seseorang yang sedang berjalan lambat di depanku.
Brukk..
"Maaf, maaf.. " ucapku pada seseorang yang telah ku tabrak
"It's oke, aku tidak apa-apa.." ucap Leo saat berbalik melihat diriku di belakangnya
"Ternyata kamu Leo, maaf ya, tadi aku jalan sambil liat ke bawah" ucapku sambil tersenyum
"Makanya non kalau jalan itu mata fokus ke depan, bukan kebawah, emang kamu liatin apa? Ada semut yang tampan ya, sampai-sampai kamu fokus kebawah?"
"Hehehe... ia sangking tampannya aku sampai terpesona dengan semut itu" jawabku asal sambil tertawa
"Oia kamu tumben datang sepagi ini, terus mau kemana?" Tanya Leo yang bingung dengan sikapku hari ini
"Iya pengen aja sih, dari pada bosen di rumah, mending berangkat lebih awal terus habisin waktu di sini buat baca buku" ucapku sambil menunjuk ke arah perpustakaan.
"Oh.. kalau gitu tujuan kita sama dong, yuk bareng aku, pas kebetulan aku juga mau cari buku buat tambahan tugas aku" ucap Leo sambil mengajakku masuk kedalam perpustakaan. Pagi ini perpustakaan masih terlihat sepi. Hanya ada petugas perpustakaan dan kami berdua. Kami memilih duduk didekat pintu masuk, agar udara pagi yang sejuk ini masih bisa kami rasakan.
"Din, boleh aku nanya sesuatu?" Ucap Leo padaku
"Mau tanya ya tanya aja" kataku sambil membuka lembaran buku yang aku bawa tadi.
"Kemarin itu aku liat story WA kamu, apa kamu lagi ada masalah dengan Tommy?" Tanya Leo dengan pelan, mungkin dia takut kalau aku akan merasa tersinggung.
"Hmm... sebenarnya aku tidak ingin membahas ini Le.. aku kecewa dengan keputusan dia" ucapku dengan suara lirih. Entah kenapa setiap mendengar dan mengingat namanya rasanya air mataku tak bisa di tahan untuk tidak mengalir di pipi.
"Maaf ya, kalau pertanyaan aku membuat kamu sedih, cuma aku tidak ingin gadis secantik kamu berlarut dalam kesedihan. Masih banyak pria di luar sana yang bisa menjadi pendampingmu" ucap Leo yang mulai merapatkan duduknya denganku
"Bukan hal yang mudah Le, kami itu berhubungan sudah hampir delapan tahun. Bahkan dia itu cinta pertamaku Le, dia yang mengajariku seperti apa cinta, sayang terhadap lawan jenis, bahkan dia selalu ada disaat aku kesepian kalau papa sibuk dengan bisnisnya. Aku itu menganggap dia separuh dari hidupku" aku berkata sejujurnya pada Leo hingga air mata ini mengalir dengan deras.
"Menangislah Din, kalau memang itu yang membuat hatimu tenang. Aku ada disini yang siap menerima kesedihanmu. Kamu juga kan tahu gimana perasaanku selama ini Din" tangan Leo mulai merangkul bahu ku dan menarik kepalaku ke d**a bidangnya.
"Aku belum bisa melapas rasa cinta ini Leo, gimana dulunya dia yang begitu perhatian terhadapku, bahkan dulu aku sempat ingin ikut dengannya, tapi papa menentang keinginanku. Aku dan dia berjanji, jika nanti kuliahku telah selesai kami akan menikah, aku akan ikut dengannya, tapi nyatanya dia yang mengingkari janjinya padaku. Beberapa bulan yang lalu dia meminta izin padaku untuk pulang berkunjung ke Paris, dia bilang Daddy nya sedang sakit dan berjanji akan kembali untuk ku, tapi ternyata dia kembali dengan menghancurkan harapanku" hiks.. hiks hiks.. aku menangis dipelukan Leo, kecewa yang diberikan Tommy sungguh membuatku down saat ini di tambah lagi masalah pernikahaan ku dengan pria tua yang tak aku cintai.
"Ekhmm... ini bukan tempat untuk berpacaran" tiba-tiba terdengar suara bariton dari seorang pria yang tak asing bagiku. Aku terkejut dengan kedatangannya. Kenapa harus ada dia disaat seperti ini.
"Maaf pak, tadi kami hanya terbawa suasana" jawab Leo yang mulai melepas rangkulannya di pundakku. Sekilas aku melihat pria tersebut dan memandangnya dengan tatapan tidak suka.
"Makasih ya Leo sudah mau dengar cerita aku, tapi maaf Leo aku belum bisa membuka hati ku lagi" ucapku sambil bangkit dari dudukku dan berjalan menarik tangan Leo.
"I'ts oke Din, i'm happy to be your best frend, aku harap kamu jangan bersedih lagi, aku yakin suatu saat kamu pasti mendapat pria yang tulus mencintaimu. Ucap Leo padaku sambil berjalan kearah taman yang memiliki tempat duduk dibawah pohon besar yang rimbun.
"Hmm.. Leo apa kelas mu akan segera dimulai?" Tanyaku pada Leo.
"Belum, kelasku nanti mulai jam sembilan, jadi masih ada waktu kita buat mengobrol santai disini" ucap Leo yang sambil memandang layar ponselnya.
"Dina..." teriak Maria sahabatku yang berlari menemuiku sambil membawa paperbag.
"Hei Marimar, badan sudah gede gitu masih juga suka main lari-larian" ledek Leo pada maria, aku yang mendengarnya hanya tersenyum melihat tingkah mereka kalau sudah bertemu pasti adu mulut terus.
"Hust.. apa lo, gak usah sok sibuk deh Leottt.. sana-sana jangan deket-deket Dina" ucap Maria yang langsung duduk di tengah menggeser posisi Leo
"Udah deh, kalian berdua ini kenapa sih, kalau ketemu pasti berantem mulu, kayanya kalian cocok kalau jadi pasangan" ucapku sambil tertawa
"Oh no no no..., siapa juga yang doyan dengan Marimar si cewek tomboy dan babon" ucap Leo yang sedikit menjauh dari Maria
"Eh lu kira gue juga mau sama lu Leott..." jawab Maria yang tak mau kalah. Aku hanya tertawa melihat aksi adu mulut mereka
"Sudah... sudah.. seperti anak kecil saja kalian, kamu lagi kenapa tadi pake acara lari-lari gitu?" Tanyaku pada Maria
"Aku tuh nyariin kamu tau.. ponsel kamu mana? Susah banget di telfonin" ucap Maria yang sedikit kesal dengan ucapannya
"Ada di tas, emang kenapa?" Tanyaku bingung dengan pertanyaan dia
"Ini nih buat kamu, kemarin aku gak sengaja ketemu sama kak Tommy dan... Anggel istrinya" ucap Maria yang sedikit merendahkan volumenya saat menyebut nama pria yang ingin aku lupakan.
"Kok bisa ketemu dia, emang kamu sama Tommy ada hubungan apa Marimar?" Tanya Leo yang lebih dulu dari pertanyaanku
"Kepo ya? Ha...ha..ha.." tawa Maria yang meledek Leo.
"Nih titipannya, kemarin aku mau kasih kekamu tapi kamu tidak masuk, terus aku mau main kerumahmu tapi pas mau tanya kabarmu tapi nomor ponselmu tidak aktif." Ucap Maria padaku sambil memberi paper bag ke tanganku.
"Iya, aku sengaja matiin ponselku, lagi gak mau di ganggu" jawabku tersenyum
"Buka dong Din, isinya apaan sih?" Ucap Leo yang penasaran dengan isi paper bag tersebut.
"Hei Leott.. ini tuh punya Dina, kenapa kamu yang sibuk?" Sergah Maria yang ingin menahan paper bag dari tanganku.
Aku membuka isinya dan ternyata terdapat tas brand yang cukup terkenal dan baju dres yang aku rasa sekitar selututku. Tapi aku tidak menarik dengan pemberiannya. Rasanya sakit hati yang di buatnya sudah tidak ingin lagi mengingat namanya.
"Maria, kamu kan punya adik yang bodynya seperti aku kan?" Tanya ku pada Maria
"Iya, Mariana badannya seperti kamu langsing, emang kenapa?" Tanya Maria
"Inih dress nya kamu kasih adik mu saja. Tas nya buat kamu" ucapku sambil memberi paper bag itu kembali ke tangan Maria
"Kamu serius Din?" Tanya Maria yang tidak yakin dengan ucapanku
"Iya loh, sudah sana bawa barang itu dari hadapanku, aku sudah tidak ingin mengingat, dan melihat barang pemberiannya." Ucapku sambil bangkit dari dudukku, aku melihat jam di tanganku sudah menunjukan pukul delapan yang sebentar lagi kelas pertama akan dimulai.
"Dina, Din, tunggu" ucap Maria sambil mengejarku.
Aku berbalik dan melihat Leo, aku hampir lupa dengan pria tersebut.
"Leo, sampai jumpa entar siang ya.. aku masuk kelas dulu" ucapku sambil melambaikan tanganku.
"Oke Dina, belajar yang semangat ya" ucapnya membalas lambaian tanganku.