Setelah satu jam aku mengisi kelas ini, akhirnya aku mengakhiri pertemuan di kelas D. Tugas yang ku berikan sudah di kumpul oleh Ciko. Dan aku meminta Ciko untuk mengantarnya ke ruanganku.
Aku berjalan meninggalkan kelas D dan menuju ruangan ku. Aku ingin bersiap-siap untuk pulang, hari ini jam mengajarku telah selesai. Sesuai janjiku pada abah dan umi, aku akan pindah kerumahku di dekat yayasan. Di saat aku ingin berjalan ke parkiran kampus, aku melihat Dina yang berjalan dengan pria lain, sepertinya pria itu Leo yang aku lihat di perpustakaan tadi. Aku coba menghubinginya tapi tidak di angkat. Aku kirim pesan semoga Dina membaca pesanku.
"Dina, mas tunggu kamu di parkiran ya, kita pulang bareng, sore ini kita pindah ke rumah mas sesuai ucapan mas dengan papa" pesan terkirim ke Dina
Hampir sepuluh menit aku menunggu di parkiran dan menunggu balasan dari Dina.
Ting.. bunyi nada pemberitahuan dari aplikasi berwarna hijau masuk di ponselku. Aku melihat nama si pengirim ternyata balasan dari Dina
"Tidak perlu sok perhatian terhadapku, kalau kamu mau pulang duluan silahkan. Nanti kamu kirim saja lokasi rumahmu padaku. Aku bisa pulang bareng Leo naik mobilnya, aku tidak ingin kulitku yang mulus ini terbakar oleh panasnya matahari"
Aku tersenyum melihat pesan balasan Dina, tidak pernah ada rasa kecewa di hati ini akan sikap Dina padaku. Aku merasa ini adalah tantangn buat ku untuk menaklukkan hatinya
"Oke baiklah, mas tidak masalah kamu mau pulang sama siapa aja, hanya satu pesan mas padamu Din.. ingat batasan berteman dengan lawan jenis yang bukan muhrim mu, hati-hati di jalan ya, nanti mas kirim lokasi rumah kita" pesan terkirim.
Aku melajukan motorku ke rumah mertuaku. Sesampainya di rumah aku langsung membereskan barang-barangku dan Dina, ada beberapa barang Dina yang aku tidak tahu apakah perlu di bawa atau tidak. Aku mengirim pesan padanya menanyakan barang mana saja yang harus aku bawa duluan, tapi tidak ada jawaban darinya. Mungkin dia masih di perjalanan batinku. Aku menuruni tangga dengan membawa dua koper. Berpamitan pada bi Asih dan mang Ojin.
"Mas, tadi tuan besar berpesan pada saya, kalau saya akan mengantar barang-barang mas Azzam dan non Dina ke rumah mas Azzam" seru mang Ojin saat aku ingin memesan taxi online
"Oh begitu ya mang, apa saya tidak merepotkan mang Ojin?" Tanyaku pada mamang, aku tidak ingin membuat org lain repot selagi aku bisa mengerjakannya.
"Tidak mas, mari mang Ojin bantu bawakan. Nanti mamang ikuti mas Azzam dari belakang motor mas Azzam. Mamang juga kan sudah tahu rumah mas Azzam"
"Ia mang, terimakasih sebelumnya mang"
"Sama-sama mas Azzam"
Hampir satu jam perjalanan kami, akibat macet di jalan aku dan mang ojin sampai di rumah sudah hampir magrib. Di rumah kami sudah di sambut oleh abah, umi dan neng Lilis.
"Assalammualikum" ucapku sambil menyalami satu persatu tangan abah dan umi. Umi memelukku dan mencium pipiku
"Kenapa kamu sendiri Zam, istrimu mana?" Tanya abah yang membuat aku bingung mau jawab apa. Aku terdiam sesaat tapi tiba-tiba...
"Assalammualiku abah, umi, maaf Dina tadi balik dulu ke rumah, ada barang yang ketinggalan jadi Dina datang ke mari naik taxi online" jawab Dina yang datang dari arah belakang punggungku. Ada rasa lega di saat dia datang tepat waktu.
"Syukurlah kalian sampai dengan selamat, ya sudah ayo masuk, umi tadi sudah masakin makan malam buat kalian, beres-beres barangnya besok aja, sekarang kita makan, habis makan kalian bisa istirahat" ucap umi yang membawa kami masuk ke ruang meja makan.
Kami makan dalam keadaan hening. Abah tidak pernah suka kalau sedang makan ada suara pembicaraan. Setelah kami selesai makan, abah dan umi berpamitan pulang, begitu juga dengan neng Lilis dan mang Ojin, aku berterimaksih pada mereka yang sudah mau membantu ku dalam urusan pindah rumah ini. Badanku terasa lelah sekali, ingin sekali rasanya aku membaringkan tubuhku.
"Dina, mas harap kamu bisa betah tinggal di rumah mas, walaupun tidak semewah rumah papa tapi mas janji akan memberikan yang terbaik untuk mu. Ini kamar kita, kalau untuk tidur kamu tenang saja, mas sudah mempersiapkan tempat tidur yang terpisah untuk kita, tapi kalau kamar maaf mas tidak bisa tidur pisah kamar, mas takut ketahuan sama umi kalau suatu saat umi dan abah datang tiba-tiba." Ucapku sambil meletakan baju-baju kami ke lemari pakaian. Dina hanya duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya, aku tidak ingin menanyakan hal tadi pada dia. Biarlah itu menjadi rahasia dia, aku akan menunggu sampai dia benar-benar mau membuka hatinya.
"Kamu tidak sholat Din?" Tanyaku pada Dina
"Gak, lagi dapet" jawabnya ketus
"Ya sudah kalau kamu mau mandi mandilah, di kamar mandi ada air hangat juga, biar badan kamu segar, setelah itu istirahatlah di tempat tidur. Nanti mas akan tidur pakai matras di bawah."
"Iya" jawabnya sambil berlalu kekamar mandi. Aku menyiapkan tempatku untuk sholat. Setelah sholat aku melihat Dina yang sudah tertidur pulas. Aku pun mengambil matras tidur untuk berbaring di bawah. Dan masuk ke alam bawah sadarku.