Membuka Hati

1480 Words
Udara pagi masih terasa sejuk, matahari mulai memberi kehangatan untuk bumi. Azzam telah sampai di kampus tempat ia mengajar, saat di perjalanan tadi Azzam berusaha mencari istrinya Dina, tapi dia kehilangan jejak, mungkin saja Dina sudah berangkat dengan taxi, karena dia melihat mang Ojin masih berada di garasi mobil. Aku masuk keruangan ku, meletakkan tas kerja dan beberapa berkas materi kuliah nanti. Melihat jam di pergelangan tangan masih menunjukan pukul 7.30 masih ada waktu 30 menit lagi waktu untuk menunggu. Azzam pun berlalu ke perpustakaan kampus, ia ingin mengambil sebuah buku yang bisa menambah revrensi materi mengajarnya. Tak disangka, saat Azzam masuk di ruangan yang penuh dengan buku-buku tersebut, ia melihat istrinya sedang duduk berduaan dengan lawan jenisnya, hatinya sedikit memanas, saat melihat tangan seorang pria merangkul bahu Dina dan memeluk istrinya itu dalam keadaan menangis. "Ekhmm... maaf ini bukan tempat untuk berpacaran" Azzam menatap istrinya dengan rasa cemburu, bagaimana tidak. Dia sudah menikah hampir satu bulan tapi sampai sekarang ia belum pernah bisa memeluk istrinya. Sedangkan pria lain yang bukan muhrim istrinya bisa sesuka hati menyentuh tubuhnya. "Maaf pak, tadi kami hanya terbawa suasana" jawab seorang pria yang berada di samping Dina. Dina tidak merespon akan kehadiranku, dia hanya menatapku dan kembali tertunduk sambil menghapus air mata dipipinya. Aku berjalan kelorong buku bagian lain, perlahan aku mendengarkan pembicaraan mereka. "Makasih ya Leo sudah mau dengerin cerita aku, tapi maaf Leo aku belum bisa membuka hati lagi" ucap Dina pada pria itu "It's oke Din, I'm happy to be your best frend, aku harap kamu jangan bersedih lagi, aku yakin suatu saat kamu pasti mendapatkan pria yg tulus mencintaimu" terdengar balasan dari mulut pria tersebut sambil mengelus rambut Dina. Rasanya hati ini semakin memanas melihat kedekatan mereka. Tapi aku harus tetap tenang. Tidak lama kemudian mereka berjalan keluar perpustakaan, mungkin mereka kembali ke kelas masing-masing. Aku pun ingin kembali keruangan ku, buku yang aku butuhkan sudah ku dapatkan. Jam sudah menunjukan jam delapan, waktunya aku untuk mengajar. Tiga jam sudah aku mengajar di dua kelas yang berbeda. Aku ingin kembali kerunganku untuk menunggu jam istirahat. "Pak Azzam" terdengar suara ibu Siti memanggil dan aku datang mendekatinya. "Iya bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku pada bu Siti "Begini pak, ini saya ada panggilan mendadak dari keluarga saya dan saya harus izin pulang secepatnya. Apakah bapak Azzam bersedia untuk menggantikan saya mengajar di fakultas ekonomi satu jam saja? Jam saya mengajar hanya tinggal satu jam lagi di kelas D pak, tapi saat ini saya harus buru-buru pulang pak" "Baiklah bu, untuk materi yang akan di sampaikan apakah ibu sudah mempersiapkannya?" "Sudah pak, ini materinya pak. Terimakasih ya pak sudah mau menggantikan saya" ucap bu Siti sambil memberikan flashdisk dan beberapa kertas materi tambahan. "Iya bu, tidak masalah, pas kebetulan juga jam mengajar saya hari ini sudah selesai." Setelah menerima flashdisk dan kertas materi pelajaran untuk mengajar di kelas D, aku berjalan ke ruangan ku. Aku membaca materi yang di berikan bu Siti dan mencoba memahami untuk nanti aku terangkan di depan mahasiswa di kelas D. Tiba-tiba aku teringat Dina. Kelas D adalah kelas Dina, bagaiman tanggapan dia nanti begitu melihat aku yang mengajar di kelasnya, apakah dia bersikap biasa saja atau... Drrt...drrt.. tiba-tiba ponselku berbunyi di atas meja, melihat siapa yang menelfonnya dan segera menerima telfon tersebut. "Assalammualikum bah" "Waalaikumsalam Zam, abah cuma mu nanya, nanti sore kamu jadi pindah ke rumahmu kan?" Tanya abah di sebrang telfon "Insyaa Allah jadi bah, cuma nanti Azzam agak sedikit lebih malam sampai di rumah bah, Azzam masih ada kelas tambahan buat mengajar bah" "Ia tidak apa-apa nak, kamu hati-hati ya, nanti abah suruh neng Lilis buat bantu-bantu di rumah kamu" "Makasih banyak bah, sudah mau mengijinkan neng Lilis buat bantu-bantu di rumah Azzam. Abah dan umi sehatkan?" Tanya ku pada Abah "Alhamdulillah abah dan umi sehat, ini loh umi mu sudah tidak sabar mau bertemu sama Dina, katanya kemarin pas pernikahan kamu, umi tidak sempat ngobrol lama sama istrimu" "Eh iya bah" aku tersenyum mendengar ucapan abah "Ya sudah nak, kamu lanjutin kegiatan kamu ya, abah dan umi titip salam buat papamu dan Dina. Abah tutup telfonnya ya. Assalammualikum" "Waalaikumsalam bah" Aku menutup telfon dari abah, bagaiman nanti tanggapan abah dan umi jika mereka tau kalau istriku belum bisa menerima keadaan kami, bahkan sampai saat ini usia pernikahan kami sudah hampir satu bulan aku belum bisa memberi nafkah batin, bukan tak ingin memberi tapi Dina yang belum bisa menerima kenyataan bahwa saat ini aku suaminya. Aku tidak pernah mempermasalahkan hal ini, aku berserah pada Allah karena hanya Allah yang maha membolak balikkan hati manusia. Bagiku pernikahan bukanlah hanya hal sebatas mencintai pasangan. Menikah pada dasarnya logika bukan karena nafsu cinta. Cinta kita terhadap manusia jangan melebih cinta terhadap Allah. Allah memberi kita pasangan yang sesuai dengan kebutuhan kita, bukan hanya sekedar menjadi pasangan untuk setatus di KTP tapi Allah meminta pertanggung jawaban terhadap pasangannya bagaimana tanggung jawab kita untuk membimbingnya ke jalan Allah. Aku selalu ingat pesan Abah tentang ayat Alqur'an "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.( Ar-Rum 21 )" ayat ini yang selalu menajadi penguat di hatiku, aku yakin Dina adalah jodoh terbaik yang Allah beri untukku. Sebelum pernikahanku dengan Dina, umi bolak balik menanyakan diriku apakah aku benar-benar siap menerima perjodohan ini, jika hatiku tidak siap, mereka akan menerima dengan lapang d**a keputusanku apapun itu. Pada awalnya aku berat, tapi setiap kali aku meminta petunjuk pada Allah di sepertiga malam ku, selalu muncul bayangan nama Dina di pikiranku. Oleh karena itu aku memantapkan hatiku untuk menerima perjodohan ini, walaupun aku tidak pernah tau bagaimana wajah istriku dulunya. Aku hanya berserah pada Allah. Aku berkata pada umi "jika ini jalan yang Allah pilih buat Azzam, Azzam siap menerimanya mi, tapi kalau nanti Allah tidak mengijinkan kami untuk bersatu, pasti Allah kasih jalan yang terbaik buat kami mi. Azzam hanya ingin mengikuti takdir hidup yang Allah beri buat Azzam" ucapku mantap pada saat itu pada umi sambil mencium tangan umi. Tok...tok..tok "Maaf pak, tadi saya sudah ketuk-ketuk pintu bapak tapi tidak ada jawaban, jadi saya masuk saja" ucap seorang mahasiswa di balik pintu ruangan ku. "Oh ia tidak apa-apa, tadi saya sedikit fokus ke laptop saya, ada apa gerangan kamu ke ruangan saya?" "Saya Ciko pak, ketua kelas dari kelas D, tadi saya dapat info dari bu Siti kalau pak Azzam yang akan menggantikan mata kuliah bu Siti pak" "Ya kamu benar, apakah ini sudah masuk di mata pelajarannya?" Tanyaku kebingungan, aku tidak menyadari kalau ini sudah melewati jam istirahat. "Saat ini sudah waktunya jam pelajaran bu Siti pak, ada yang bisa saya bantu bawakan ke kelas barang bapak?" Tanya coki padaku. Ya begitulah tugas setiap ketua kelas di sini, kalau sudah saatnya pergantian jam mata kuliah, mereka akan datang memanggil dosen selanjutnya dan membawakan barang atau materi dosen yang akan mengajar. Aku menyerahkan laptopku yang masih menyala pada Ciko, dan aku menyuruhnya untuk berjalan duluan. "Kamu bisa bawa laptop saya dulu, nanti saya menyusulmu" "Baik pak" Aku berjalan di belakang Ciko dengan membawa beberapa buku mata kuliah yang menyangkut materi hari ini. Hari ini aku akan membawakan materi Hukum Ekonomi Syariah di kelas D. Sebagai dosen pengganti aku harus tetap bisa memberi materi ini dengan baik. Aku dan Ciko tiba di kelas, aku duduk di bangku kusus dosen dan meletakkan beberapa buku yang aku bawa di meja. Ciko mulai mempersiapkan layar in fokus yang mulai menyambungkan ke laptopku. Aku mulai membaca satu persatu daftar absen kelas ini. Ternyata hanya terdapat 10 mahasiswa dan 15 mahasiswi. Setelah selesai mengisi absen aku mulai dengan perkenalan dan melanjutkan memberi materi di kelas. "Selamat siang, perkenalkan saya Azzam, kalian bisa panggil saya pak Azzam. Di sini saya menggantikan ibu Siti yang seharusnya jadwal dia untuk mengajar di kelas ini, tapi karena bu siti berhalangan maka saya yang akan menyampaikan materi ini. Saya harap semuanya bisa fokus di setiap materi yang saya sampaikan, karena saya tidak ingin mengulang apa yang sudah saya jelaskan. Paham?" "Paham pak" jawab anak-anak itu serentak Setelah hampir 40 menit aku memberikan materi, kini saatnya aku membuka ruang tanya jawab buat anak-anak, setelah itu aku memberikan tugas pada mereka yang akan segera di kumpulkan sebelum akhir dari mata kuliah ini. Sekilas aku melirik ke arah Dina. Dia seperti membuang muka dari tatapanku. Sikapnya yang dingin, di saat aku menjelaskan materi pun sepertinya dia tidak memperhatikanku, dia asik dengan ponselnya. Aku ingin menegurnya tapi tidak ingin membuat dia malu di depan teman-temannya. Aku mengirim pesan ke ponselnya. Saat dia menyadari itu pesan dariku, dia melihatku dan memberikan tatapan sinis, tapi aku membalasnya dengan senyuman. "Fokus di pelajaranmu dulu, tidak lama lagi kamu akan ujian akhir, berikan nilai yang terbaik untuk dirimu?" isi pesan yang aku kirim ke Dina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD