2 | Kemelut di Udara

3608 Words
Langit masih cerah hari itu. Di antara warna biru yang memenuhi langit, ada awan-awan yang bergerak, terhias secara random namun tertata apik membuat siapapun yang melihatnya akan banyak memuji akan keagungan Sang Ilahi. Beberapa burung membentuk huruf V terbang menuju ke utara, sementara itu burung-burung prenjak bersahut-sahutan di antara pepohonan rindang. Di antara suara serangga-serangga musim kemarau yang nyaring terdengar suara yang memekakan telinga. “Windrider di sini menikmati pemandangan yang luar biasa dari atas kota Malang Raya, over,” kata Samudra. Dia termasuk pilot muda yang sudah menjalani rekor 99 kali terbang. Meskipun baru sedikit rekor terbangnya, dia sudah menghabiskan ratusan kali terbang memakai simulasi. Northtop F-5 atau disebut juga F-5E/F Tiger II, pesawat yang dia kemudikan sekarang ini. Pesawat ini sebenarnya sudah akan berakhir masa terbangnya, karena Sukhoi-35 sudah dipersiapkan untuk menggantikan pesawat buatan Amerika Serikat tersebut. TNI AU punya pesawat tempur yang memang perlu diremajakan, salah satunya yang sedang dikemudikan oleh Samudra. “Markas di sini. Perbangan pamungkas, sebelum mengucapkan salam perpisahan si cantik. Kau pasti akan merindukan pesawat itu. Jangan membuat kesalahan di latih terbang kali ini, over!” kata seseorang yang bertugas di ATC. “Sayang sekali, padahal aku sudah terlanjur cinta dengan pesawat ini. Baiklah, kita hanya terbang biasa tak ada yang perlu dirisaukan, over,” ujar Samudra. “Tak cuma kau saja yang begitu. Aku juga sebenarnya sudah terlanjur cinta dengan pesawat ini,” terdengar suara orang lain di radio. “Oh, ini dia si Sprong!” seru Samudra. “Kau lama sekali sobat.” “Kau yang terlalu terburu-buru,” ujar William di radio. Dia juga pilot F-5 Tiger II. Dari kejauhan tampak pesawat tersebut menyusul pesawat Samudra. “Markas, kita formasi seperti biasa hari ini?” tanya Samudra. “Kita akan latihan formasi hari ini, Winrider,” jawab ATC. Tak lama kemudian dua pesawat lainnya menyusul. Sekarang empat pesawat berada di udara. Semuanya pesawatnya bertipe sama. Berwarna abu-abu gelap dengan bendera Indonesia terlihat jelas di ekornya. “Halo kawan-kawan, semoga kalian tidak bosan hari ini bertemu lagi denganku dalam latihan yang digelar hari ini,” ucap Samudra. “Sejujurnya, aku bosan. Apa tak ada pilot lainnya?” ledek seorang pilot. Namanya Ade Husnan. Orang ini termasuk junior Samudra. “Mayor, kita mulai dengan formasi apa?” tanya seorang pilot yang lain, namanya Heri. “Sesuai dengan tugas yang diberikan oleh komandan. Kita akan latihan formasi. Wall Formation, Battle Spread, Echelon dan Finger Tip. Terakhir kita memakai Trail pada ketinggian seribu kaki,” ujar Samudra. “Seharusnya ini akan jadi latihan yang mudah.” Keempat pesawat bertipe sama itu pun kemudian terbang beriringan segera membentuk formasi-formasi yang telah direncanakan untuk latih terbang kali ini. Pesawat mulai terbang dengan formasi wall, yaitu formasi di mana pesawat-pesawat berjejer seperti tembok. Empat pesawat itu terbang dengan kecepatan stabil selama beberapa menit untuk melakukan formasi ini, kemudian dengan aba-aba dari Samudra pesawat pun menyebar lagi, lalu berganti formasi menjadi Battle Spread. Pada formasi ini pesawat tidak seperti wall yang sejajar, melainkan mereka menyebar baik pada vertikal maupun secara horizontal, namun tetap beriringan. Sementara itu di tempat lain, di antara ribuan bintang dan planet-planet satu entitas yang sangat besar bergerak mendekat ke galaksi bima sakti dalam kecepatan yang sangat cepat. Beberapa asteroid yang menghalangi ditabrak begitu saja. Benda itu cukup besar untuk ukuran pesawat ataupun kapal induk. Bahkan mungkin besarnya hampir sama seperti bulan. Bentuknya bulat, besar dengan dua bagian yang menjorok keluar seperti duri di sisi kanan dan kiri, sedangkan satu bagian yang berada di belakang tampak memiliki cahaya yang berkilauan, seolah-olah merupakan mesin pendorongnya. Benda itu tiba-tiba melambat saat menyentuh tata surya seolah-olah ada sesuatu yang menghalanginya. Tak hanya itu saja, salah satu bagian terkecil yang ada di permukaannya tiba-tiba mengelupas. Satu bagian itu bergerak melayang-layang sejenak untuk melepaskan diri dari pengaruh gravitasi yang besar dari benda yang tadi dia tempeli. Kemudian serpihan kecil itu mula-mula tidak terbentuk, hanya secuil potongan dari bongkahan batu besar, kemudian lama-kelamaan mulai terbentuk menjadi elips. Lalu dengan kecepatan tinggi benda itu menjauh dari benda besar tersebut. Dari depannya muncul suatu lubang kecil yang lama-lama menjadi besar. Lubang besar itu memiliki gravitasi yang sangat besar, yang mana membuat sesuatu berpindah dalam kecepatan luar biasa yang mana lebih cepat daripada kecepatan cahaya. Lubang itu disebut sebagai worm hole atau bisa juga disebut warp room. Benda elips tersebut kemudian masuk ke dalam lubang itu. Di dalam lubang, benda itu ternyata tak sendirian. Di belakangnya ada juga entitas yang mirip dengannya memisahkan diri dari benda besar tadi. Kemudian perlahan-lahan entitas yang memisahkan diri itu berbentuk elips menyerupainya setelah itu masuk juga ke dalam worm hole. Terjadi kejar-kejaran dengan kecepatan luar biasa. Tak ada suara yang terdengar di dalam dimensi aneh dengan cahaya yang menyilaukan. Sebaran-sebaran dan kilatan-kilatan cahaya berbenturan, benda elips yang dikejar itu mulai ditembaki dengan cahaya-cahaya berwarna merah. Bukan laser seperti yang terlihat di film-film, melainkan sesuatu yang keluar dari tubuh benda elips. Tembakan-tembakan itu mengejar dan menghantam tubuh benda elips yang dikejar. Ada ledakan-ledakan bisu yang membuat benda elips itu terlempar lebih jauh ke depan. Secara mengejutkan benda elips pertama membalas dengan tembakan-tembakan serupa. Cahaya-cahaya berwarna merah bertebaran menghantam benda-benda elips lain yang mengejarnya hingga mereka hancur. Tiba-tiba worm hole terbuka, ternyata dia telah sampai di tujuan. Namun, beberapa bagian benda elips tersebut tampak retak-retak hingga terkelupas. Tujuan benda elips itu ternyata berada di antara bumi dan bulan. Benda elips itu bergetar, seperti mengirimkan sesuatu. Bagaimana bisa dia mengirimkan sesuatu sedangkan tak ada udara di luar angkasa? Ternyata dia mengirimkan suatu gelombang yang hanya akan ditangkap oleh orang-orang tertentu. Gelombang itu memiliki frekuensi yang unik, sehingga tak akan mudah terdeteksi oleh radio. Bukan hanya itu, beberapa tumbuhan dan hewan-hewan saja yang menyadari akan sinyal itu. Sementara itu di radio Samudra mengalami noise, begitu juga para pilot yang lain. Semua pilot tak habis pikir sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mereka lalu mencoba untuk menghubungi satu dengan yang lain, tetapi gangguan sinyal itu semakin aneh. Mereka tak bisa menghubungi markas, bahkan pesawat-pesawat yang berada di dekat mereka. Di luar angkasa benda elips tadi menangkap sinyal yang bisa mendengar dan merasakan kehadirannya. Benda itu berkedip-kedip kemudian melesat menuju ke bumi. Dalam gerakan cepat melebihi kecepatan cahaya itu membuat suara yang sangat menggelegar. Semua manusia yang bisa mendengar terkejut dan langsung melihat langit. Awan yang dilewatinya tersibak sehingga menyisakan pemandangan lautan awan dengan lubang di tengahnya. Sementara itu, benda elips tadi melesat dengan kecepatan luar biasa menuju ke satu daerah di bumi. Agi yang saat itu sedang mengemudikan sepeda motor tiba-tiba merasakan sesuatu. Kepalanya seperti diketuk-ketuk oleh benda keras seperti pensil. Dia segera menghentikan sepeda motornya. Matanya menyipit mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi. Telinganya mendengar sesuatu yang aneh. Suara ketukan yang memantul. Ia buru-buru menepis kalau telinganya yang mendengar. Suara itu lebih tepatnya berada di dalam tempurung kepalanya. Artinya bukan telinganya yang mendengar. Ada seseorang yang ingin berkomunikasi dengannya melalui gelombang otaknya. Cowok itu memarkirkan sepeda motornya lalu mencabut kuncinya untuk mendengarkan lebih seksama apa yang sebenarnya terjadi. Ada orang yang memiliki kekuatan psikokinesis selain dirinya? Ia tentu saja senang, tetapi tak mengerti apa maksud dari komunikasi ketukan ini. “Siapa? Siapa?” tanya Agi dengan pikirannya. Dia memejamkan mata untuk berkonsentrasi mencari sumber dari komunikasi ini, hingga akhirnya ia melihat cahaya yang sangat terang memancar seperti menusuk ke jantungnya. Dia membuka matanya. Saat itulah empat pesawat dengan salah satu pilotnya Samudra melintas di atasnya. Agi mendongak menyaksikan empat pesawat tempur beriringan terbang di atas langit kota Malang. Belum sempat keterkejutannya berakhir, tiba-tiba dari atas langit terdengar ledakan keras hingga membuat semua manusia yang bisa mendengar terkejut lalu melihat ke atas. Agi melihat bola api yang sangat cepat berputar-putar di langit. Peristiwa itu membuat orang-orang bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi, sebagian melihat ke langit melihat fenomena yang menakjubkan itu. Samudra terus berusaha menghubungi semua orang. “Control, di sini Windrider. Ganti?!” Dia memukul-mukul radar yang ada di depannya. Benda itu juga tak berfungsi hingga ia mendengar suara ledakan keras. Semua pilot tersentak hingga terasa kaca pilot mereka bergetar. Suaranya melebihi suara mesin jet pesawat mereka. “Apa itu?” seru Samudra ketika melihat bola api melesat melewati mereka. “Control, di sini Windrider. Aku melihat bola api. Apa itu misil? Kita diserang? Control!? Ganti. b******k! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa alat komunikasi tak berfungsi?” Sementara itu mata Agi tiba-tiba seperti melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Dia seperti tidak di atas tanah, melainkan di udara. Melayang. Terbang. Matanya terbuka, tetapi apa yang dia lihat seperti tidak nyata. Dia seperti berada di tubuh orang lain atau tubuh sesuatu. Dia lalu mencoba untuk duduk berjongkok hingga mencoba mencari sandaran. Agi menemukan pohon yang tak jauh dari tempat ia berdiri. Dia sekarang tak bisa melihat, melainkan apa yang dilihat oleh makhluk yang lain. Samudra mencoba cara lain untuk berkomunikasi dengan anggota-anggotanya. Dia melambai-lambaikan tangannya dari kokpit berharap rekan setimnya melihat isyaratnya. Dan ternyata bisa. Meskipun dari jauh, mereka melihat kode dari aba-aba tangan yang dibuat oleh Samudra. Samudra menunjuk ke depan, ke arah bola api yang baru saja melewatinya. Samudra memberi aba-aba untuk mengikuti bola api tersebut dengan tangannya. “Apapun itu, harus kita jauhkan dari penduduk. Ayo! Aku harap kalian mengerti isyaratku ini. Kalau tak mengerti aku akan berikan morse kepada kalian,” ucap Samudra sambil memutar-mutar lengannya lalu menunjuk ke arah sayap di pesawatnya. Sayap pesawat ada lampu yang berkedip-kedip. Samudra menekan-nekan pengontrol lampu untuk memberi isyarat kepada pesawat yang lain langkah apa yang harus diambil karena radio komunikasi mereka tak berfungsi. “Kuharap kalian tahu pesanku.” Pilot-pilot ketiga pesawat lainnya melihat ke arah lampu yang berkedip-kedip di sayap pesawat Samudra. Mereka berkonsentrasi untuk kode morse yang coba disampaikan kepada setiap pilot. Samudra mencoba untuk menyampaikan pesan “IKUTI JANGAN MENYERANG KALAU TIDAK DISERANG SENJATA TERBATAS” Setelah itu pesawat yang dipiloti Samudra menambah kecepatan untuk mengejar bola api yang kini bermanuver. Ketiga pesawat lainnya juga mematuhi apa yang diperintahkan oleh kapten mereka. Mereka mengejar bola api itu. Bola api tadi tiba-tiba meledak. Keempat pesawat itu pun berpencar untuk menghindari ledakan. Benda elips tadi ternyata berhenti bergerak setelah bermanuver. Samudra menoleh ke arah benda itu. Setelah ledakan tadi, benda itu melayang-layang dengan cahaya yang cukup terang di siang bolong. Yang lebih menakjubkan lagi adalah apa yang terjadi setelahnya. Cahaya yang terang tadi meredup, lalu muncullah sesuatu. Ada sesosok makhluk melingkar seperti ular dengan tubuh polos bersisik berkilauan. Kepalanya mempunyai moncong yang runcing seperti hewan melata. Dari belakang tubuhnya muncul satu tonjolan panjang, lalu makin lama makin bertambah hingga ada lima pasang. Setelah itu dari lima pasang tersebut muncul bagian-bagian yang menghubungkan sehingga berbentuk seperti sepasang sayap di punggung makhluk raksasa sebesar pesawat itu. Sepasang sayap itu sangat lebar dengan panjang melebihi tubuhnya. “Mengerikan, apa itu!?” seru Samudra. “Control, kau lihat ini?” Keempat pesawat tadi memutar untuk kembali ke posisi formasi wall. Mereka seolah-olah sedang bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, yaitu bertempur. Makhluk itu terdiam. Tak ada respon, tak ada pesan, hanya terdiam melayang di udara. “Banyak orang yang tak percaya terhadap alien, kita sekarang melihatnya,” gumam Ade Husnan. “Kapten, kalau kau lihat ini kau pasti sependapat denganku. Kita tidak sendirian di alam semesta ini.” Dia tahu tak akan ada yang mendengar di radio, tetapi percakapannya tetap akan terekam di blackbox. “Semua, tahan! Aku tahu kalian tak sabar, tapi kita tetap harus mengetahui apakah makhluk ini berbahaya atau tidak,” ucap Samudra. Dia memainkan lampu pesawatnya. Semua pilot melihat kode morse yang disampaikan olehnya. Kode morse itu berkata “HOLD” Agi membelalakkan mata. Dia seperti berada di udara menghadapi empat pesawat. Ia tak bisa berbuat banyak, hanya melihat pemandangan yang bukan miliknya. Dia sendiri heran bagaimana bisa seperti itu. Suara dentuman seperti genderang berirama di dalam tempurung otaknya, membuat ia kesakitan. Bunyi itu menggema secara beraturan, kadang cepat, kadang lambat dan terkadang pula membentuk pola dengan irama tertentu. “Apa yang terjadi sebenarnya?” ucap Agi. Dia terus bersandar di dahan pohon. Kenapa matanya malah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat? Makhluk itu membuka rahangnya. Terdengarlah lengkingan yang memekakan telinga. Suara lengkingan itu memiliki frekuensi yang cukup tinggi, membuat semua yang ada di permukaan bumi bergetar karenanya. Bahkan keempat pesawat yang berada di hadapannya bisa merasakan getaran itu. Makhluk itu kemudian mengeluarkan cahaya dari mulutnya. Samudra merasakan perasaan yang tidak enak. Bahkan, sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba muncul dari mulutnya tembakan-tembakan seperti senjata beam secara beruntun ke arah empat pesawat milik TNI AU tersebut. Keempat pesawat itu segera menghindar dengan rolling ke samping. Mereka berusaha menghindari dari tembakan makhluk asing tersebut. Hanya saja satu pesawat terkena bagian ekornya, sehingga oleng ke tanah. Tanpa diperintah lagi Samudra segera mempersiapkan persenjataannya. “Preparing to engange!” seru Samudra. Senjata mesinnya terbuka, siap ditembakkan ke makhluk tadi. “Kumohon lepaskan kursi lontarmu!” Samudra melihat pesawat yang tertembak tadi. Pesawat itu berputar-putar kemudian sang pilot keluar dengan kursi pelontar. Beberapa detik kemudian parasut terkembang. Samudra merasa lega melihatnya. Samudra kembali menekan-nekan tombol untuk memberikan sandi morse kepada rekan-rekannya. Dia membuat kode morse yang berbunyi “ENGANGE” yang artinya bertempur. Ketiga pesawat tanpa radio komunikasi yang masih bertahan itu pun melesat untuk mengepung makhluk asing tadi. Makhluk asing yang mirip naga itu kembali menembakkan senjatanya dari mulutnya. Hal itu membuat ketiga pesawat tadi berusaha untuk menghindarinya. “Tembakan apa itu? Laser? Atau apa?” tanya pilot Ade Husana meskipun ia tahu kalau ucapannya tak akan terdengar oleh siapapun. Samudra mulai menyerang makhluk itu dengan rentetan peluru dengan senjata mesinnya. Makhluk itu tiba-tiba meliuk-liuk seperti ular lalu mengepakkan sayapnya. Dengan kecepatan yang luar biasa, makhluk raksasa itu tiba-tiba terbang berada di sisi lain. Ketiga pilot terperangah melihat kecepatan luar biasa makhluk tersebut. Samudra menggertakkan giginya lalu bermanuver untuk mengejar makhluk tersebut, tetapi gerakan makhluk itu sangat cepat seperti berpindah dalam sekejap. “Apa-apaan ini?” ucap Samudra. “Bagaimana ia bisa secepat itu?” Agi memegangi kepalanya. Ia buta. Dia melihat pemandangan yang aneh, ia baru saja menumbangkan satu pesawat dan sekarang sedang mengejar tiga pesawat lainnya. Dia memejamkan matanya, berusaha untuk mengetahui berada di mana pikirannya sekarang. Saat itulah ia melihat sesuatu yang lain. Dia melihat bumi, dia juga melihat benda besar di luar angkasa. Benda itu sangat dekat dengan bumi. Merasa tak kuat lagi menahan beban pikirannya, Samudra pun pingsan dengan hidung mengeluarkan darah. Ketiga pesawat F-5 sekarang sedang bermanuver lagi untuk bisa mengejar makhluk tersebut. Meskipun mereka tak dilengkapi dengan misil, tetapi mereka punya keyakinan untuk bisa menumbangkan makhluk yang telah menghancurkan satu rekan mereka. Makhluk itu sangat cepat bergerak pesawat jet milik TNI AU ini tak bisa mengejar kecepatannya. Mereka hanya terus berusaha menghindar lalu menyerang kalau ada kesempatan. Maksud hati ketiga pesawat tempur itu mengejar makhluk itu untuk bisa membidik, tetapi makhluk itu malah mengejar mereka. Dari belakang satu pesawat lagi terkena. Pesawat yang dipiloti oleh Heri sayap kanannya dilahap oleh makhluk itu. Api langsung terbentuk membuat Samudra panik. “Heri, lompat!” seru Samudra. Heri menarik tuas kursi pelontarnya, lalu sang pilot melesat ke udara. Sedangkan pesawatnya jatuh menghantam bumi. Ledakannya membuat suara bedebum yang cukup keras. Dari kejauhan terlihat ada dua asap hitam mengepul di udara. Dua burung besi kebanggaan milik TNI AU telah tumbang. “Dengan apa kita mengalahkannya?” ucap Samudra. “Markas, kami butuh bantuan. Gagak dan Sprong telah tumbang. Kami butuh bantuan! Markas, kumohon dengar kami! SIAL!” Ade Husnan tak percaya dua pesawat temannya telah tumbang. Dia menoleh ke arah pesawat tempur yang dipiloti oleh Samudra. Sepertinya kaptennya juga tak tahu apa yang harus diperbuat. Radio mereka benar-benar tak bisa digunakan untuk komunikasi. Makhluk itu seperti mengirimkan sinyal jamming ke sistem komunikasi. Akhirnya dia pun berinisiatif. Dia akan mencoba memancing makhluk ini untuk mengejarnya. Pesawatnya segera memisahkan diri dari formasi dengan Samudra. “Tidak, apa yang kau lakukan? Tupai Terbang! Kau mau kemana?” Samudra memukul-mukul jendela pesawatnya. Si burung besi menembaki makhluk yang berusaha mengejar mereka. Melihat salah satu pesawat memisahkan diri, makhluk itu sedikit bingung. Hingga akhirnya ia memilih mengejar yang menyerangnya. Akhirnya dia pun mengejar. Ade melesat dengan kecepatan penuh terbang di ketinggian seribu kaki. Dia mencoba untuk terbang rendah agar makhluk itu tak bisa leluasa bergerak. Ia punya rencana sendiri untuk menumbangkan makhluk tersebut. Melihat rekannya sedang dikejar oleh makhluk itu, Samudra berinisiatif mengejar makhluk itu sambil berusaha membidiknya. Tujuan Ade menyingkirkan alien itu jauh dari pemukiman, karena jelas terlihat pesawat-pesawat yang tumbang jatuh di area pemukiman. Para pilot itu berharap tak ada korban jiwa di sana. Samudra sadar, ini bukan sekedar pertempuran biasa. Monster itu bisa menjatuhkan dua pesawat, itu artinya monster itu bisa mengancam manusia, apalagi negeri ini. “Swa Bhuwana Paksa” semboyannya yang berarti “Sayap Pelindung Tanah Airku” menjadi semboyan Samudra untuk melindungi negeri ini dari apapun yang mengancam. Sekarang atau tidak sama sekali. Terjadi kejar-kejaran antara Ade, monster naga terbang, serta Samudra. Ade terus berusaha menghindar dengan rolling ataupun meliuk-liuk. Monster itu terus menembakinya bahkan nyaris saja pesawat itu dicaplok. Di belakang monster Samudra terus berusaha menembaki, tetapi kebanyakan meleset. Seolah-olah monster itu memiliki sensor untuk bisa menghindar. Pesawat makin melaju menggila dalam ketinggian rendah. Ade sengaja memancing monster tersebut untuk melewati pepohonan dan perbukitan. Beberapa kali monster itu menabrak pepohonan tinggi, tanah-tanah tinggi, hingga bebatuan di puncak gunung. Cara terbang Ade sangat berbahaya, karena gaya gravitasi akan mendorong pesawat tersebut untuk jatuh. Tetapi ia tak peduli, ia hanya ingin agar Samudra bisa membidik monster itu dan menumbangkannya. “Arrgghh, aku tak kuat lagi. Aku tak kuaaaat!” seru Ade sambil berusaha agar ia tak kehilangan kendali pesawatnya dengan memegang tuas kemudi agar tetap stabil. Samudra terus berusaha menembaki monster itu, tetapi monster itu sepertinya bisa menghindar. Untuk sesaat monster itu menoleh ke arah Samudra, lalu dengan gerakan cepat melesat meninggalkan Ade. Menyadari monster itu tak mengincarnya lagi membuat Ade belingsatan. Dia menarik tuas kemudinya agar pesawatnya naik, tetapi sepertinya terlambat. Ia tak menyadari kalau di depannya ada bukit tinggi menjulang. Pesawat sudah berusaha untuk naik, hidungnya pun sudah mulai naik ke atas tetapi lambung pesawat menyentuh bukit tersebut hingga terjadi benturan hebat. Tabrakan pun tak bisa dihindarkan. “Walet jatuh! Walet jatuh! Mayday! Mayday! Kami butuh bantuan! Kami butuh bantuan!” seru Samudra. Percuma karena radionya tak berfungsi, bantuan tak akan datang. Samudra sekarang sendirian di udara. Rekannya tak bisa lagi membantunya, bahkan mungkin saja tewas karena tabrakan tadi. Monster itu tiba-tiba sudah berada di belakangnya hendak melahap pesawat yang dipilotinya. Pilot muda itu menggertakkan gigi. Dia menambahkan kecepatan untuk menghindarinya. Pesawat pun lolos dari terkaman monster tersebut. Aku harus menumbangkan monster ini, tapi tak mungkin aku keluar dari pesawat ini, pikir Samudra. Samudra menatap ke arah matahari yang bersinar dengan sangat menyilaukan. Langit yang cerah dengan awan yang tipis, sehingga warna biru menyelimuti hari seperti lautan biru yang tenang. “Baiklah, aku akan menumbangkanmu.” Samudra punya cara untuk menumbangkan monster tersebut, meskipun kemungkinannya kecil. Tapi, tak ada salahnya untuk dicoba. Dia menambahkan kecepatannya lagi untuk menuju ke matahari. Cara ini agar monster itu tak bisa melihat pesawatnya berada di mana. Monster itu terus mengikuti Samudra meskipun tidak menyerang, hanya mengikuti dengan mengurangi kecepatan. Mata monster itu menyala, beberapa kali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menghindari silaunya matahari. Samudra terus menaikkan hidung pesawatnya searah dengan matahari, sesekali dia menoleh ke belakang untuk melihat monster yang mengejarnya tadi. Jaraknya makin lama makin jauh, seolah-olah monster itu lemah terhadap cahaya matahari yang menyilaukan. Samudra menduga dia menjadi buta karena cahaya matahari. Kalau begitu, rasakan ini! Samudra menambah kecepatan jetnya hingga jaraknya cukup jauh. Monster itu berusaha mencari keberadaan pesawat yang dikejarnya tadi. Ular raksasa bersayap itu kebingungan. Dia mencari-cari di langit, tetapi tak menemukannya. Tetapi ketika melihat ke arah matahari, kembali lagi kepalanya menghindari cahaya matahari. Benar dugaan Samudra, cahaya matahari membuat matanya buta untuk beberapa saat. Pesawat kemudian bermanuver terbalik. Samudra menurunkan kecepatannya sehingga ia bisa berputar lebih cepat lalu menukik menuju ke bawah. Monster itu masih berusaha mengejar Samudra, sambil sesekali melihat ke atas lalu mengalihkan pandangannya lagi. Dia seolah-olah memiliki sensor kalau Samudra ada di atas sana. Samudra sudah melihat monster tersebut, tinggal menunggunya dalam jangkauan tembak. “Rasakan ini!” seru Samudra. Dia menekan tombol yang ada di ujung tuasnya untuk memberondong monster itu dengan senjata mesin. Monster itu terkena serangan Samudra yang dilakukan dengan perhitungan yang sangat akurat. Pesawat Samudra terus menukik menuju monter itu. Rentetan peluru itu akhirnya berhasil menembus dan memberondong tubuh ular bersayap raksasa itu. Monster itu punya darah, pikir Samudra setelah melihat darah keluar dari tubuhnya akibat tembakan yang dilakukannya terus-menerus hingga pelurunya habis. “Mampus kau!” Monster itu tumbang dengan jatuh ke tanah dengan cepat. Samudra berusaha mengendalikan pesawatnya untuk terbang menjauh. Dia mengitari monster itu di udara. Tak berapa lama kemudian radionya kembali berfungsi. “Windrider? Kau bisa dengar kami?” terdengar suara di radionya. “Markas? Aku bisa mendengarmu, ganti!” ucap Samudra. “Ah, thank God. Apa yang terjadi, kau dan rekan-rekanmu hilang di radar dan sekarang tinggal kau sendirian di sana. Apa yang terjadi?” tanya suara di radio. “Aku baru saja menjatuhkan makhluk raksasa. Dan tiga pesawat lainnya jatuh. Mohon kirimkan bantuan di titik tempat aku berada. Kita dalam keadaan darurat,” ucap Samudra. “Windrider, segera kembali ke markas!” “Roger that!” Satu-satunya pesawat F-5 yang tersisa di udara akhirnya pergi meninggalkan monster itu. Samudra sudah memotret monster itu dan merekam pertempuran dia. Peristiwa ini mengingatkan dia akan apa yang diucapkan oleh Johan beberapa waktu yang lalu. “Sesuatu akan datang dari jauh, apabila saat itu tiba, maka manusia dalam bahaya.” * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD