“Namamu itu Abisoka! Mengerti? Abisoka! Aku tak mau kau memakai nama Agi Syahputra lagi. Dan berhenti memanggil p-el-acur itu sebagai bunda. Dia bukan ibumu!” bentak ayahnya.
“Namaku Agi! Namaku Agi!” jerit Agi berkali-kali.
“Namamu Abisoka!”
“Tidak, namaku Agi! Berhenti menyebutnya sebagai p-ela-cur! Dia itu ibuku!”
Agi terbangun. Mimpi buruknya kembali datang. Kepalanya terasa pusing setiap kali terbangun dari mimpi buruk yang sama dan berulang. Mimpi itu bukan mimpi biasa karena yang dia lihat adalah masa lalunya. Masa lalu yang ingin dia kubur sedalam-dalamnya. Dia mengucek-ucek matanya saat sinar matahari masuk melalui jendela kamarnya. Jendela kamarnya kebetulan menatap langsung ke tempat matahari terbit. Meskipun udara Malang cukup dingin pagi itu, tetapi bisa membuat baju yang dia pakai basah oleh keringat.
Matanya menjelajah kamarnya, melihat berbagai barang yang berantakan, mulai dari buku-buku, baju, kaos kaki hingga berbagai macam benda yang teronggok berserakan seperti kapal pecah. Melihat ponselnya jatuh di lantai Agi segera memungutnya lalu memeriksa apakah ada yang rusak ataukah tidak. Syukurlah masih berfungsi ketika layarnya nyala. Cowok bertubuh atletis itu menguap. Dia memang kurang tidur karena baru kembali dari kerja part time-nya jam setengah dua belas malam. Ternyata ada banyak miss-call, setelah dilihat ternyata dari nomor luar negeri. Di sana tertulis Yuyun yang tak lain adalah adiknya.
Biasanya Yuyun hanya mengiriminya chat saja, tetapi kali ini menelpon. Itu artinya urusannya sangat penting. Agi langsung menelpon balik, tetapi dia mendapatkan pesan dari operator, “Pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan, segera isi ulang.”
“Halah, tae!” gerutunya. Akhirnya mau tak mau ia mengandalkan chat karena saat ini hanya paket datanya saja yang masih berfungsi. Maklum saja seorang jomblo yang harus mengirit pengeluaran, persoalan pulsa memang wajar habis. Agi lebih sering membeli paket data daripada pulsa.
Kepalanya masih terasa pusing. Setiap kali dia mendapatkan tekanan seperti mimpi buruk kepalanya pasti terasa pusing. Dia biasanya menelan paracetamol untuk mengurangi pusingnya. Tampak botol plastik kecil berisi pil berwarna putih tergeletak di lantai. Dia memungutnya lalu memutar tutupnya. Diambil pil yang tersisa sebutir setelah itu langsung ditelannya tanpa air. Memang untuk beberapa menit ke depan rasa pusingnya hilang, hanya saja itu tidak membantu kalau setiap ia mimpi buruk selalu menenggak pil tersebut.
Agi membuka aplikasi chat untuk berbicara dengan adik semata wayangnya. Beberapa kali matanya memejam untuk menghalau rasa pusing, meskipun hal itu sia-sia belaka.
Agi Syahputra: Ada apa Yun?
Tak perlu waktu lama bagi Yuyun untuk membalas chatnya.
Yuyun Syahputra: Eh, mas. Aku mas, bulan depan aku mau ke Indonesia.
Agi Syahputra: Bulan depan? Bulan depan itu seminggu lagi. Emang mau ngapain ke sini?
Yuyun Syahputra: Ya elah mas, papa nyuruh aku kuliah di sono. Katanya kampus tempat mas belajar bagus. Makanya kepengen banget kuliah sama mas di sana.
Agi mengernyit. Kenapa adiknya nekat mau kuliah di Malang, bukankah kuliah di Tokyo itu lebih bagus kampusnya? Atau jangan-jangan ada maksud lain? Yuyun ini adik satu ibu beda bapak. Semenjak ibunya menikah lagi dengan seorang lelaki yang bekerja di Jepang, ia punya adik. Mereka sudah akrab walaupun tidak begitu lama. Semenjak keputusan pengadilan untuk memberikan hak asuh kepada Nugi Syahputra, Agi punya keluarga baru. Ia bisa lepas dari jeratan ayahnya yang membuatnya trauma. Bahkan sekarang namanya pun sudah diganti lagi setelah melalui sidang yang cukup alot. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa memenangkan persidangan itu. Bagi Agi, hal itu tidak mudah.
Agi Syahputra: Dek, yakin mau ke Indonesia? Bukannya enak di Tokyo?
Yuyun Syahputra: Iya, enak di sini, fasilitasnya bagus di sini, tetapi aku kepengen juga merasakan kuliah di Indonesia. Toh masih ada darah Indonesia di dalam diriku. Jadinya nggak masalah dong kalau aku ke Indonesia untuk bisa lebih dekat ama kakak sendiri.
Agi Syahputra: Tak masalah kalau kau ke sini. Tetapi aku yang makin repot nantinya. Kau tahu sendiri tujuanku kuliah di sini yah, karena aku tak bisa seenaknya meninggalkan negeri ini sampai aku lulus kuliah.
Yuyun Syahputra: Oh, putusan pengadilan itu ya? Iya, aku tahu. Papa sudah cerita. Tapi aku janji nggak bakal merepotkan kakak. Toh aku sudah gedhe.
Agi Syahputra: Dek, di Indonesia ini nggak sama ama di Jepang. Masyarakatnya lebih teratur Tokyo, masih lebih disiplin di Tokyo. Takutnya kamu nggak bisa menyesuaikan diri.
Yuyun Syahputra: Udah deh, kakak nggak perlu khawatir. Aku sudah bikin paspor, sudah pula daftar dan dapat panggilan untuk daftar ulang. Makanya nanti bulan depan aku ke sana.
Agi Syahputra: Papa mana? Ada di situ?
Yuyun Syahputra: Papa kerja. Mas lupa perbedaan waktu ya?
Agi Syahputra: Astaghfirullah, iya lupa. Ya sudah. Aku nanti mau calling papa.
Yuyun Syahputra: Aku sudah ngobrol ama papa koq. Papa sudah setuju, nanti mungkin kamu bakal dicalling ama papa. Onegai, ya oni-chan. Onegai.
Agi butuh diam beberapa detik sebelum membalas chat.
Agi Syahputra: Terserah deh. Pokoknya nanti aku mau ngobrol ama papa dulu.
Yuyun Syahputra: Yuhuuu, arigato oni-chan.
Yuyun mengirim emoticon jempol dan senyum. Agi lalu berpikir keras, kalau adiknya seminggu lagi ke Indonesia, berarti akan ikut semester ini bersama dia. Memangnya jurusan apa yang bakal diambil gadis itu? Ia juga harus mempersiapkan banyak hal sebelum nanti adiknya benar-benar pindah ke Malang, seperti misalnya tempat tinggal.
Agi mencoba untuk menyingkirkan pikiran tentang Yuyun. Yang ia lakukan sekarang merapikan kamarnya yang berantakan seperti kapal pecah. Satu persatu ia mengambil bajunya, kemudian buku-buku serta segala yang berjatuhan. Tak lupa ia juga merapikan selimut dan sprei kamarnya yang acak kadut. Setelah selesai merapikan kamarnya ia pun mandi lalu berangkat ke kampus dengan menggunakan sepeda motor kesayangannya.
Sebenarnya hari ini belum masuk kuliah, karena hari perkuliahan aktif baru akan dimulai minggu depan. Agi ke kampus untuk mengikuti kuliah semester pendek. Dia memang berusaha untuk segera lulus daripada berlama-lama kuliah. Hari ini minggu terakhir semester pendek, artinya sekarang minggu-minggu ujian. Semester pendek memang di gelar selama tiga minggu. Dua minggu full perkuliahan aktif, sedangkan sisa minggu terakhir merupakan minggu ujian. Tidak banyak mahasiswa yang menempuh semester pendek, selain mereka lebih memilih liburan semester, lainnya lebih suka untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang memang diselenggarakan pada saat liburan semester.
Selepas kuliah, kegiatannya tak berhenti sampai di situ saja. Dia langsung pergi ke tempat kerja sampingannya. Dia menjadi tukang ojek online yang sekarang ini sudah menjamur di mana-mana. Dari penghasilan ojek oline ini ia bisa mendapatkan banyak pemasukan. Agi punya cita-cita untuk meninggalkan Indonesia dengan uang saku yang dia tabung. Dia berharap setelah dia lulus nanti, ia tidak takut kalau mau pergi keluar negeri. Semua ini karena ia ingin pergi dari ayahnya.
Menjadi driver ojek online tidak buruk juga. Ia bisa bertemu dengan banyak orang, juga bisa berkenalan dengan driver ojek lainnya. Hanya saja semakin menjamurnya ojek online, mau tak mau mereka harus bekerja ekstra untuk bisa mendapatkan bintang. Seorang driver setiap hari paling tidak harus mendapatkan lima bintang. Untuk setiap mengantarkan orang maka akan mendapatkan satu bintang, apabila mengantarkan makanan atau dokumen, maka akan mendapatkan dua bintang. Cukup tiga kali mengantarkan makanan atau dokumen maka seorang driver akan dianggap bekerja hari itu. Apabila tidak maka seorang driver akan mendapatkan nilai minus. Semakin buruk nilai minusnya maka peformanya akan dianggap buruk dan akan berpengaruh terhadap gaji yang dia terima.
Agi memiliki sepeda motor metik yang dia beli juga dengan uang pribadinya. Semenjak SMP dia sudah bekerja dan hasil dari pekerjaannya ia tabung, sebagian untuk biaya pendidikan sebagian lagi untuk membeli sesuatu. Beruntunglah ia memiliki ayah tiri yang baik. Sejak pengadilan memutuskan memenangkan perkara hak asuh atas Nugi Syahputra akhirnya dia bisa lepas dari jeratan ayah kandungnya. Sejak itu pula keuangannya cukup untuk bisa membeli motor sehingga ia bisa kemana-mana tanpa perlu risau. Bahkan dengan bekerja sampingan sebagai ojek online cukup membantu dia. Uang tabungannya sekarang ini lumayan banyak, bahkan kalau untuk membeli mobil pun bisa dilakukannya.
Pemuda ini membuka jok mobilnya untuk mengambil jaket khas driver ojek online. Dia kenakan jaket tersebut sebelum menunggangi motor kesayangannya. Dia menaruh ponselnya ke handler portable yang dipasang di stangnya. Handler itu otomatis memudahkannya untuk bisa mengakses ponsel saat ia berkendara. Sebelum berangkat seorang laki-laki menyapanya.
“Mau narik sam?” tanya lelaki itu.
“Oh, Indra. Biasalah, narik,” jawab Agi. “Ente mau kemana ikutan semester pendek juga?”
“Nggak, aku nggak serajin dirimu. Ke kampus cuman main aja sambil lihat dedek-dedek gemes mahasiswi baru,” jawab Indra.
“Sompret. Kukira liburan semester pulang kampung kau ke Lombok,” kata Agi sambil memasang helm ke kepalanya.
“Pengen tapi mending duitnya untuk pulang setahun sekali saja. Sebenarnya kepengen banget tapi ntar ajalah,” ucap Indra.
“Ya udah, aku cabut dulu. Keburu siang. Maunya sih hari ini nggak sampai malem nariknya,” ujar Agi.
“Oh, begitu.” Indra tak ingin terlalu jauh bertanya ia takut kalau terlalu mencampuri urusan temannya itu. Sebab dia sangat mengenal Agi yang tertutup. Bahkan misteri kenapa temannya ini memiliki dua nama juga misterius. Di KTP dia bernama Agi Syahputra tetapi di buku absensi kampus namanya Abisoka. Setiap kali ditanya alasannya dia tak pernah mau bercerita. Katanya “urusan pribadi”.
“Eh, kamu tahu tempat kos cewek yang bagus nggak?” tanya Agi.
“Tempat kos cewek yang bagus itu relatif, sob. Emangnya sebagus apa? Kalau ada AC, ada laundry, plus makan bisa mahal itu,” jawab Indra. “Emangnya siapa yang butuh tempat kos?”
“Adikku,” jawab Agi.
“Adik? Weleh, kau punya adik? Koq nggak pernah cerita?”
“Sengaja biar nggak ditanyain ama playboy cap karet macam kau,” ledek Agi.
“Hahahaha, jangan gitulah sob. Gini-gini juga aku ini jomblo tulen. Tampang OK, pinter, kurang apalagi?”
“Dompetnya tipis,” ledek Agi sekali lagi.
Indra tertawa. “Iya sih.”
“Jadi gini, aku cuma kepingin tepat kos yang privasinya bisa terjamin. Khusus cewek, trus nggak bisa sembarangan diintip cowok, apalagi ama pencuri daleman,” jelas Agi.
“Hahaha, emang masih jaman ya pencuri daleman?”
“Kamu tak tahu kalau pencuri daleman itu sedang marak? Itu gosipnya anak dari fakultas tehnik saja ada yang kos-kosannya kehilangan daleman. Nggak tahu siap juga yang ngembat. Kalau ketahuan bonyok tuh orang,” ujar Agi.
“Paling juga masih mahasiswa yang nyolong, tahu sendiri anak-anak zaman now bener-bener nggak tahu aturan. Isengnya kelewatan, seperti beberapa waktu lalu ketahuan masang kamera pengintai di kamar ganti mall. Geblek nggak tuh?” cerita Indra mengingatkan Agi kejadian beberapa waktu lalu tentang seorang yang tertangkap memasang kamera pengintai di kamar ganti.
“Anjir emang, moga aja bukan umak,” kata Agi.
“Hah? Aku? Wahahaha, nggak deh sam. Aku lebih baik nyolong hati cewek aja,” sanggah Indra.
Agi melihat waktu di hapenya. “Udah siang. Narik dulu sob.”
“Oh iya, silakan aja! Sampai ketemu nanti,” ucap Indra.
Setelah memberi isyarat untuk pergi, Agi segera menstarter motor metiknya. Dalam sekejap ia pun sudah mengendarai motor tersebut keluar kampus.
Hari itu cukup cerah, sehingga punggung tangannya yang tidak tertutup sarung tangan bisa merasakan panasnya matahari. Ada alasan mungkin yang mendasari begitu maraknya driver ojek di kota yang dikelilingi oleh gunung ini. Salah satunya yang paling masuk akal yaitu bertambahnya mobilitas para penduduknya. Macet sudah menjadi langganan hampir tiap hari. Kota Malang sekarang ini tercatat sebagai kota termacet nomor tiga di Indonesia mengungguli Surabaya sebagai ibukota dari propinsi Jawa Timur. Sebagai driver ojek, pastilah harus mahir dalam mengendarai motor serta tahu jalan. Tanpa itu semua, maka sang driver akan mendapatkan nilai yang buruk.
Saat sedang melaju notifikasi ponselnya menyala. Artinya ada pelanggan yang harus ia antarkan. Segera saja dia menekan tombol “Accept” untuk mengambil request tersebut. Agi langsung menghubungi customer tersebut. Tujuannya dari suatu rumah ke kampusnya.
“Halo, ini dari Ojol. Sama mbak Ririn ya?” sapa Agi.
“Iya, saya yang pesen mas,” jawab Ririn si customer.
“Ini di Jalan Mawar ya mbak?” tanya Agi.
“Iya, Jalan Mawar,” jawab Ririn.
“OK, tunggu ya mbak. Nggak lama koq,” ucap Agi sebelum menutup hapenya.
Dengan menggunakan petunjuk yang ada di aplikasi navigasinya, ia segera pergi ke tempat dimana customer itu berada. Tak terlalu rumit jalannya karena jalan yang dilaluinya kebanyakan jalan besar. Sehingga hanya dalam waktu lima menit Agi sudah sampai di tempat customer itu berada. Dari kejauhan Agi sudah bisa langsung mengenalinya, tetapi kenapa pakaiannya tidak seperti orang mau pergi?
“Mbak Ririn?” tanya Agi saat menghentikan motornya di tepi jalan, tepat di dekat seorang perempuan dengan memakai celana pendek dan kaos oblong. Agi heran bagaimana orang yang mau pergi malah cuma memakai baju rumahan seperti ini?
“Eh, mas Ojol. Aku kira bingung nyari alamatnya,” sambut Ririn.
“Mbaknya mau pergi?” tanya Agi sambil mengamati perempuan yang mungkin juga kuliah itu dari ujung kaki sampai ujung kepala.
“Oh, bukan saya mas. Tapi mbak sepupu saya,” ujar Ririn.
“Mbak sepupu?”
“MBAAAK! OJEKNYA UDAH DATANG!” terdengar suara lantang keluar dari mulut gadis itu. Nyaris Agi melompat dari sepeda motornya saking kencang suaranya.
“Iya, iya!” seru suara dari dalam rumah. Tampak seorang perempuan berkerudung tergopoh-gopoh membawa tas koper hitam, serta ransel di punggungnya.
Agi mengamati perempuan berkerudung berkacamata yang baru datang dari bawah sampai atas. Wajahnya terlihat manis, tetapi dari pakaiannya jelas ia bukan mahasiswa. Terlalu formal untuk dikatakan sebagai seorang mahasiswa.
Saat melihat Agi bertengger di sepeda motornya dia terkejut, “Lho? Cowok?”
“Iya mbak cowok,” ujar Ririn.
“Ehmm....,” gadis berkacamata itu ragu-ragu untuk naik.
“OK, aku mengerti. Aku bukan mahram, bisa koq aku cancel agar mbaknya cari yang lain,” ucap Agi sambil bersiap untuk menekan ponselnya.
“Eh, bentar mas!” cegah Ririn. “Mbak, nggak keberatan kan ama driver cowok?”
Gadis itu menggigit bibirnya. Dia menghela napas. Sepertinya ada raut wajah kecewa, Agi bisa mengerti kalau biasanya perempuan berjilbab itu enggan mendapatkan driver cowok. Tetapi sepertinya perempuan yang satu ini pasrah.
“Iya deh, mana sudah jam segini koq, daripada nyari lagi ntar malah tambah telat,” gerutunya. “Mas, minta tolong taruh depan yah!” ujarnya sambil menjijnjing kopor hitamnya untuk ditaruh di bagian pijakan kaki sepeda motor metik.
Agi membantunya, setelah itu menyerahkan helm kepada perempuan itu. “Dipake mbak untuk safety. Butuh masker nggak?”
Perempuan itu menggeleng. “Makasih, aku nggak apa-apa.”
“OK,” ucap Agi sambil menstarter motornya.
“Rin, makasih ya. Udah deh masuk sana. Masak kamu keluar rumah pake baju kayak gitu?” suruh perempuan itu.
“Iya, iya. Bawel sih mbak Galuh ini,” gerutu Ririn. “Mas, jangan macem-macem sama mbakku yah. Ntar aku laporin ke polisi biar tahu rasa lho.”
“Nggak bakal. Aku jamin,” ucap Agi.
Ririn kemudian masuk ke dalam rumah, setelah itu menutup pagar. Sebelum naik perempuan yang dipanggil Galuh tadi membuka kacamatanya sebentar. Ia lalu menepuk bahu Agi. “Mas, sebentar!”
“Ya?” tanya Agi sambil menatapnya. Saat Agi menatap mata Galuh, dia tiba-tiba melihat seberkas cahaya terang berwarna keemasan muncul tersorot dari kedua matanya. Setelah itu butiran-butiran cahayanya berpendar lalu menyentuh permuda itu.
“Jangan macem-macem ama aku ya? Cukup anterin sampai kampus!” ucap Galuh.
Agi mengerutkan dahi. Dia melirik kiri kanan karena mendapati tubuhnya tertutupi debu-debu cahaya yang keluar dari mata gadis itu. Galuh mengernyit aneh. Sadar apa yang dilakukannya tak mempan kepada pemuda ini ia makin merinding.
“Kamu barusan ngapain?” tanya Agi.
“K-kamu? Kamu bisa lihat?” tanya Galuh balik. Ia kembali memakai kacamatanya.
“Gimana nggak bisa lihat? Itu tadi cahaya apaan?”
Galuh menepuk jidatnya. Tanpa basa-basi Galuh segera naik ke sadel belakang. “Udah deh, anterin aja. Nggak pake lama.”
“Eh, sebentar! Itu tadi apaan?”
“Kamu bisa lihat. Berarti kamu salah satu dari pemilik kekuatan ajaib,” ujar Galuh. “Nggak usah tanya aneh-aneh. Jalan aja!”
“Sebentar, apa kita pernah ketemu?” tanya Agi penasaran.
“Jalan!” pinta Galuh.
“OK, aku jalan,” ujar Agi tanpa bertanya lagi.
Selama di jalan Agi tak banyak bertanya walaupun ingin. Galuh tadi mengatakan tentang kekuatan ajaib, berarti kekuatan yang dimaksud yaitu kekuatan ajaib seperti kekuatan yang dia miliki saat ini. Tak banyak bicara, itulah yang dilakukan oleh Agi selama mengendarai motor hingga sampai ke kampus. Setelah sampai, Galuh segera turun, berikut menjinjing kopor hitamnya. Dia lalu merogoh sakunya untuk membayar ongkos jalan, Agi menerimanya.
“Apa kita pernah ketemu sebelumnya?” tanya Agi.
“Yeah rite, nice move. Belum pernah,” jawab Galuh.
“Serius ini. Sebab aku hanya sekali bertemu dengan orang pemilik kekuatan ajaib, tetapi aku tak tahu kekuatannya seperti apa. Jangan-jangan kau orang itu,” ucap Agi.
“Tidak, bukan. Bukan aku,” sanggah Galuh sambil bersiap beranjak meninggalkan Agi.
“Ah, ingat. Galuh ya, iya Galuh. Iya nama cewek itu Galuh, kamu naik sepeda dan aku pernah menyelamatkanmu,” ucap Agi.
Galuh menghela napas. Punggungnya tampak naik turun saat melakukannya. “Tak mungkin. Bocah kecil yang aku kenal dulu itu namanya Abisoka, panggilannya Abi, bukan Agi Syahputra seperti yang kulihat di aplikasi Ojol tadi.”
“Tetapi, Abisoka itu aku,” ucap Agi.
“Tak mungkin, kau Abisoka?” untuk sesaat Galuh berusaha mencerna semuanya. Bagaimana semesta bisa mempertemukan mereka di tempat seperti ini? Dalam keadaan yang seperti ini pula.
“Ceritanya panjang. Tetapi boleh kalau kita bisa ngobrol sambil ngopi sewaktu-waktu,” ucap Agi. “Aku kuliah di sini koq.”
Galuh tersenyum sekilas. “Makasih, tetapi aku sibuk. Mungkin tak ada waktu untuk itu. Pekerjaanku banyak dan bisa jadi tak ada waktu untuk ngopi. Sampai ketemu nanti.” Tanpa mengucap apa-apa lagi Galuh pergi meninggalkan Agi.
Pemuda itu hanya mengamati gadis berjilbab itu pergi meninggalkannya. Sementara yang pasti rerumputan dan tanaman yang berada di sekitar tempat ia menurunkan tempat tersebut menjadi saksi pertemuan antara dua insan yang dulu pernah bertemu. Rerumputan tertiup angin seolah-olah menari menyambut kedatangan Galuh di kampus ini untuk pertama kalinya. Agi menekan tombol “Arrived” di aplikasi Ojek Online sebelum dia pergi dari tempat itu untuk menjemput penumpang yang lain. Seutas senyuman tersungging di bibirnya, dia merasa geli sendiri ketika mengingat apa yang diucapkannya ketika dulu bertemu dengan Galuh untuk pertama kali.
Waktu itu Galuh hampir saja tertabrak sepeda motor. Dengan kekuatan psikokinesis miliknya, Agi bisa menghentikan semuanya agar Galuh selamat. Saat itulah ia baru menyadari tak bisa mengontrol Galuh, yang mana itu berarti Galuh juga pemilik kekuatan seperti dirinya. Penasaran Agi saat itu berusaha mengorek keterangan dari Galuh. Memang tampangnya sedikit berbeda dari yang dulu. Saat SMA, Galuh belum memakai kerudung waktu itu tetapi dia tak akan pernah melupakan tatapan gadis itu.
“Mbak cerita dulu dong, kemampuan mbak itu apaan?” tanya Agi saat itu.
“Nggak,” jawab Galuh.
“Ayolah mbak! Apa mbak bisa terbang?”
Galuh menggeleng.
“Bisa nyilem?”
Galuh menggeleng sambil mengayuh sepedanya. Dia melewati orang-orang yang berhenti aktivitas seperti patung. Ada yang sedang duduk, ada yang berjalan tiba-tiba berhenti dan juga ada sepeda motor mengerem mendadak yang hendak menabraknya. Gadis itu serasa melewati ribuan peserta manequin challange. Dia tak terkejut dengan peristiwa ini, karena pikirannya sudah mulai terbuka waktu itu. Dia sudah melihat sesuatu yang aneh, maka untuk melihat sesuatu yang lebih aneh lagi maka dia tidak akan terkejut.
“Cerita dong mbak! Mbaak! Mbak berkacamata! Ntar kalau kita ketemu lagi mau jadi pacarku nggak?” seru Agi yang melihat Galuh yang semakin menjauh
“Ngipi aja sono. Masih kecil mikirin pacaran,” gerutu Galuh.
“Mbaaaak!?” panggil Agi terakhir kali.
Kenangan itu tak akan dia lupakan. Agi malah tertawa geli meningat apa yang diucapkannya kepada Galuh “ Ntar kalau kita ketemu lagi mau jadi pacarku nggak?” kata-kata konyol itu terngiang-ngiang di kepalanya.
“Ah, baiklah. Itu memalukan. Jangan lakukan itu Agi, jangan. Dia sepertinya dosen di sini,” gumam pemuda itu. Kebetulan bagi Agi masih mengingat nama Galuh. Tapi dia dosen apa memangnya? Ah, besok aku cari tahu, pikirnya.
* * *