Part 20

2019 Words

Sepeninggalan Malik. Willy masih berdiri di tempat ini. Desahan kesedihan keluar dari mulutnya. Tidak dapat tertahankan lagi, kali ini sedihnya benar-benar pecah. Damar berada di tangga, baru saja turun dari lantai atas, dia tidak sengaja melihat Willy bersedih di ruang tengah. Melihat tangisan cowok itu bukanlah hal yang tidak biasa. Sejak kecil dia sering melihat Willy menangis seperti itu. Apalagi kalau bukan menangisi kemalangan hidupnya. Damar melanjutkan langkahnya. Dia hampiri Willy. Dulu jika dia melihat Willy dalam keadaan terpukul seperti ini maka dia akan memeluknya untuk meredakan rasa sedih pada cowok itu. Namun sekarang dia tidak akan memberi pelukan lagi. “Jangan nangis di sini, tangisan lo bisa membangunkan orang-orang rumah,” ucapnya. Willy berhenti menangis. Dia mengh

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD