Sita mengetuk kamar Aca. Ketika tahu tidak dikunci dia pun masuk ke dalam kamar. Dia melihat Aca sedang menangis. Aca menoleh melihat siapa yang datang. Cepat dia menghapus air matanya ketika melihat mamahnya yang berjalan mendekat. Sita duduk di samping Aca. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil mengelus rambut putrinya. “Aku gapapa, Mah,” jawab Aca menahan kesedihannya. Bukan tidak ingin cerita tapi apa gunanya jika dia utarakan bukan malah dapat dukungan tapi penolakan. Seperti sebelum-sebelumnya. Mamahnya itu tidak pernah memihaknya selalu saja lebih memojokkan dan hanya ikut keputusan dari papahnya. “Mamah tau, kamu lagi sedih, Ca. Kamu gak perlu sembunyikan itu. Maaf jika mamah baru bisa mengerti kamu di saat sekarang. Mungkin agak terlambat tapi daripada gak menyadari sama sekali. Maaf

