Aca membuka kaca jendela mobil. Dia tersenyum lebar dan memegangi perutnya. "Aku gak sabar Di, menikah sama kamu. Semoga ini awal yang baik," ucapnya. Damar mengepal tangannya. Merasa tidak terima jika adiknya akan menikah dengan pria berengsek itu. "Ca, apa kamu serius mau nikah sama dia? Emang kamu yakin dia akan membahagiakan kamu?" tanya Damar. "Aku yakin," jawab Aca tanpa pikir panjang. Damar mendengus. "Terserah lah Ca, kamu juga yang jalani," ucapnya pasrah. "Papah kira masalahnya akan rumit. Ternyata orang tua Adi semudah itu kasih keputusan. Papah cukup lega sekarang," ucap Malik sambil menyetir. Aca memandangi Papahnya. "Papah setuju kan, kalau aku nikah sama Adi?" "Sebenarnya papah gak suka sama Adi. Dia bukan pria yang baik. Kalau dia baik gak mungkin dia merusak kamu ter

