Bagian Satu

1328 Words
Tring! Tring! Tring! Bunyi ponsel itu benar-benar membuat tidur nyenyak Andin jadi terganggu. Ck! Lagian siapa  sih yang sebenarnya mengirim pesan pagi-pagi seperti ini?! Apa orang itu tidak tahu, kalau semua itu membuat Andin gagal untuk mencium Zayn Malik! Padahal tinggal beberapa detik lagi tadi! Mendengar bunyi ponselnya yang terus berdering, memaksa Andin untuk segera membuka mata. Ia meraba meja di dekat tempat tidur untuk mengambil ponsel, menyipit mata untuk membaca pesan masuk tadi. Sialan! Ternyata Metta yang mengganggunya sepagi ini! Metta : Eh b***h! Seriusan lo dijodohin sama Alvaro?! Tuh anak ngasih tahu gue barusan. Andin mendengus kesal membaca pesan Metta itu, pesan yang mengingatkannya jika semalam adalah hal nyata yang benar-benar terjadi. Metta : Jawab woy! Metta : Jangan bilang lo masih tidur?!  Mendapati Metta yang terus meneror dengan pesan, Andin lantas menarik selimut sampai kepala, tanpa berniat sedikit pun untuk membalas pesan dari Metta. Baru saja ia akan terlelap lagi, pintu kamar diketuk dari luar disusul dengan teriakan Bunda yang nyaring. Andin lantas menarik rambutnya lantaran frustasi. "Apa sih, Bun? Pagi-pagi udah teriak gitu?"  Pintu kamar pun terbuka, Bunda muncul dari sana dengan wajah sedikit kesal. "Pagi apanya?! Ini udah siang, Andin. Bangun sana!" "Masih ngantuk, Bun." "Salah sendiri begadang." "Kan gara-gara Bunda aku jadi begadang," "Lah kok Bunda?" "Iya, gara-gara perjodohan yang Bunda rencanain semalem, Andin jadi nggak bisa tidur," Ia menarik Bunda mendekat dan memeluk perut Bunda. "Buuuun, Andin nggak mau nikah sama Alvaro." pinta Andin manja. Berharap hal itu bisa membuat Bunda membatalkan perjodohan semalam. Tapi sayangnya, ketika Bunda melepas paksa pelukan, ia tahu jika permintaan itu tidak akan terkabul. "Nggak ada penolakan. Bunda ngelakuin ini kan buat kamu juga. Biar kamu dapet suami yang terbaik." "Terbaik bagi Bunda, belum tentu terbaik buat Andin, Bun." "Percaya sama Bunda. Kalo ini demi kebaikan kamu," Bunda memegang kedua bahu Andin, sementara matanya menatap Andin dengan tatapan yakin. "Sekarang, mending kamu cepetan mandi, ya." Ujar Bunda sambil mengacak poni Andin dan berlalu keluar. Melihat Bunda yang bersikap tak peduli seperti itu, membuat Andin hanya bisa menghela nafas. Ia kemudian segera turun dari ranjang dan masuk ke ke kamar mandi. Tak sampai 30 menit mandi, ia akhirnya siap untuk berangkat kuliah. Ketika melewati pintu, semangatnya kembali hilang saat melihat baju yang tergantung dipintu kamar. Tadinya saat mandi, Andin masih berharap jika yang ia alami semalam adalah mimpi buruk, tapi semua harapannya musnah saat melihat baju itu. Yang artinya, semua yang ia alami semalam bukanlah mimpi buruk. Ya Tuhan! Dosa apa sih yang ia punya sampai harus berakhir menikah dengan Alvaro?! "Ish!" dengan perasaan kesal yang sudah diubun-ubun, Andin dengan cepat mengumpulkan baju tadi jadi satu dan melemparkannya ke dalam keranjang pakaian kotor. Setelah itu ia memilih untuk keluar kamar, berjalan ke dapur, dan menemukan kedua orang tuanya sudah ada disana. Tampak sekali menikmati hari, sedangkan Andin harus pusing memikirkan cara membatalkan perjodohan ini. "Pagi Yah, Bun." sapanya begitu mendudukan dirinya di salah satu kursi makan. Ia mengambil satu lembar roti, mengolesinya dengan selai lalu memakannya dalam gigitan besar. Dari sudut mata, Andin lihat Bunda tersedak. Mungkin merasa aneh melihat cara makannya barusan. "Ya ampun, anak gadis kok makannya gitu sih?" Tuh kan benar! "Biarin," balas Andin cuek. Kemudian ia melihat Bunda baru membuka mulutnya untuk menjawab, tapi Ayah memberinya kode agar tidak mengganggu Andin sarapan. Dan Bunda pun menurut. Setelah itu Ayah menatap Andin hangat, tatapan yang membuat Andin jadi tidak tega untuk terus marah pada Ayah. "Makan yang bener, Nak. Malu nanti sama calon suami kamu." Mendengar kata 'calon suami' mendadak membuat Andin kembali merasa kesal. Rasanya nafsu makannya menghilang begitu saja. Ia pun memilih untuk menghabiskan s**u yang dibuat Bunda, lalu kemudian berdiri. "Andin mau berangkat dulu, Yah, Bun." Andin menyalami tangan kedua orang tuaku. "Assalamualaikum," "Iya, bilangin sama calon suami kamu buat hati-hati nyetirnya."  Langkah Andin terhenti mendengar ucapan Ayah barusan. "Calon suami? Alvaro? Emangnya dia mau nganter aku?" Ayah mengernyitkan keningnya. "Loh? Alvaro nggak bilang kalo dia mau jemput? Dia udah di depan tuh nungguin kamu dari tadi," Sontak saja Andin menganga tak percaya. Tak menyangka jika Alvaro akan menjemputknya. Biasanya juga tidak pernah. "Kenapa malah diem disitu? Sana berangkat. Nanti telat," ucap Bunda menyadarkan. Sembari menghela nafas panjang, Andin melangkahkan kaki menuju teras rumah. Sampai disana, ia menemukan Alvaro sedang duduk di kursi sambil memainkan ponsel. Sama sekali tak sadar jika Andin sudah berdiri disampingnya. Ck! Model begini mau dijadiin suami. Bisa-bisa Andin diduakan oleh game kesayangan itu. "Lo ngapain pakek acara jemput-jemput segala sih?" tanya Andin tiba-tiba. Alvaro pun menoleh, menghentikan gamenya dan mengantongi ponselnya. Cowok itu kemudian berdiri mendekat pada Andin. "Lama banget sih lo!" Andin memutar mata malas. Dan tanpa menjawab ucapan Alvaro, ia berjalan lebih dulu ke depan pagar. "Eh, mau kemana lo?!" Andin tetap melanjutkan langkahnya, tak menghiraukan teriakan Alvaro itu. Hingga kemudian ia merasakan seseorang menahan pergelangan tangannya. "Apaan sih lo?! Gue telat nih," ucap Andin sewot, berusaha melepaskan cekalan Alvaro. "Makanya kalo gue nanya jawab dulu. Lo mau kemana?" "Mau naik taksi!" Andin cemberut sambil memghempaskan pegangan tangan Alvaro tadi. "Gue udah bela-belain bangun pagi buat nganterin lo, tapi lo malah mau naik taksi? Lo beneran nggak bisa ngehargain orang ya?" Sontak Andin mendelik tajam, merasa tak terima dengan ucapan Alvaro barusan. "Eh denger ya, Al! Gue aja nggak pernah minta lo buat jemput." "Gue juga nggak bakal mau jemput kalo bukan nyokap gue yang nyuruh. Lo tahu sendiri, gue paling nggak bisa nolak permintaan nyokap gue," ucap Alvaro pelan. Cowok itu kemudian menyuruh Andin melirik kerumahnya, dan ternyata disana ada Tante Icha yang menatap mereka berdua. Jika sudah begini Andin jadi tidak enak untuk menolak. Kemudian dengan langkah tak rela, ia pun mengikuti Alvaro. "Cepetan jalannya. Lo mau kuliah lo telat?" Andin melotot pada Alvaro, jika saja tidak ada Tante Icha di depan sana, ia mungkin sudah menarik bibir Alvaro itu agar tidak banyak bicara. Mengabaikan tatapan Alvaro padanya, Andin lantas berjalan cepat dan masuk ke dalam mobil Alvaro, duduk dibangku belakang. "Heh! Ngapain lo duduk disana? Pindah ke depan, lo pikir gue supir apa?!"  "Bawel banget sih ko!" Ia menendang kursi bagian belakang Alvaro, kemudian keluar dari mobil dan duduk di samping Alvaro. "Udah cepetan!" Alvaro menjalankan mobilnya. Dan tumben kali ini dia tidak menimpali ucapan Andin. *** "Pulang jam berapa nanti?" tanya Alvaro ketika Andin baru saja hendak keluar mobil. "Ngapain lo nanya-nanya? Kepo banget deh!" jawab Andin ketus. Tanpa disangka, Alvaro malah menyentil kening Andin pelan. "Gue nanya juga karena disuruh buat jemput lo juga!" ia menghela nafas lelah. "Astaga! Udah kayak supir gue." Melihat wajah merana Alvaro itu membuat Andin ingin tertawa, tapi tentu saja ia menahannya karena takut Alvaro marah. Andin kemudian berdehem sekali. "Gue pulang jam 2. Lo emang nggak ada kelas hari ini?" "Ada, cuma 1 kelas hari ini." Andin mengangguk. "Ya udah, gue duluan deh." lalu menepuk bahu Alvaro sekilas. "Bye, Pak supir!" Dan berlari turun dari mobil. *** "Ndin! Hampir saja Andin memukul orang yang baru merangkul bahunya itu, tapi niat itu ia urungkan saat tahu ternyata itu Metta. "Muncul jangan kayak setan kali! Suka banget bikin kaget!" "Lo kenapa sih nggak bales line gue? Ayo jawab!" Andin memutar matanya malas. "Buat apa dijawab?" "Ih! Gue kan nanya, lo beneran mau nikah sama--" "Ssttt! Jangan kenceng-kenceng! Nanti di dengerin orang," Ia langsung menutup mulut Metta dengan tangan. Ketika Metta mengangguk, Andin pun menurunkan tangannya dari mulut Metta. "Jadi beneran lo mau nikah sama dia? Kok bisa?" tanya Metta lagi. "Iya," keluh Andin. "Gue udah coba ngomong sama orang tua gue buat batalin perjodohannya, tapi nggak bisa. Gue harus gimana dong?" Ia menggoyang-goyangkan tangan Metta. "Ini apaan sih?!" Metta malah menyingkirkan tangan Andin dari lengannya. "Ya mau gimana lagi. Lo harus nurut kata orang tua, biar nggak jadi anak durhaka." Mendengar itu, rasanya Andin ingin menangis saja. Tapi tak mungkin ia menangis di koridor kampus. Bisa-bisa ia disangka orang yang baru putus cinta. "Kalo gitu bantuin gue kabur aja ya, Ta?" ucap Andin  ngawur. Tapi sayangnya Metta malah melototinya sambil berkata... "Ye gila aja lo!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD