Seperti biasa, sore harinya Zidhiana melangkahkan kakinya menuju lapangan Hang Lekir. Dua putaran berlari mengelilingi lapangan sudah cukup baginya, asalkan rutin dilakukan tiap hari selama latihan ini. Untungnya selama ia latihan, lapangan ini tidak digunakan sementara waktu untuk kegiatan sepak bola.
Di balik pintu pagar sekolah yang berjarak kurang lebih 20 meter dari lapangan itu, ada sepasang netra sedang memperhatikan seorang gadis yang sedang berlari mengelilingi lapangan sore ini. Dari awal sejak gadis itu datang hingga kini dia berhenti beristirahat, manik matanya tak luput dari pandangan ke arah gadis tersebut. Kini ia akan menuju ke lapangan, setelah memastikan gadis itu duduk di atas hamparan rumput.
***
Zidhiana POV
Dari awal ku datang, perasaanku koq tidak karuan. Deg-degan tidak jelas begitu. Apalagi ketika netraku menangkap seseorang di balik pagar yang memeperhatikanku dari tadi. Mana mataku rabun jauh lagi, jadi tambah tidak jelas melihat siapa yang memandangku. Tapi biarlah, aku tidak akan mengambil pusing.
Setelah meluruskan kedua kakiku untuk merilekskan otot-otot yang telah berpacu dalam langkah melelahkan, aku memilih mengambil posisi ternyaman yaitu duduk di atas rerumputan hijau. Biasanya ada Icko yang akan menghampiriku, mengajakku bicara walaupun hanya sebentar saja.
Terbesit di benakku untuk memeperkenalkan Icko kepada Rasty. Hanya untuk saling menambah pertemanan, tidak lebih dari itu. Bukankah Jack sudah hadir dalam hati Rasty sebelumnya dan pastinya ia akan mengunci rapat-rapat untuk pria lain. Tapi tidak bagi diriku yang masih memberikan kesempatan untuk membuka hati.
Ku ambil ponsel dari saku celana trainingku untuk mengirim pesan ke Rasty agar menemuiku di lapangan Hang Lekir sore ini. Karena aku ingin mengenalkannya saat ini juga. Terbilang sangat mendadak, karena sebelumnya aku belum pernah bercerita sedikitpun tentang Icko yang selalu menemuiku di saat aku latihan setiap sore hari.
Ada sedikit kekecewaan saat aku membaca balasan pesan singkat dari Rasty, katanya dia masih menemani mamanya di rumah sepupunya. Mungkin latihan berikutnya Rasty akan menemaniku. Tapi mana mungkin, aku akan memutuskan hari ini untuk ku akhiri latihanku. Ku rasa sudah cukup untuk persiapanku menghadapi ujian lari dua hari lagi.
Sudah hampir sepuluh menit ini, Icko tidak muncul di hadapanku. Mungkin ku pikir, ia sedang ada kegiatan lainnya. Aku akan meninggalkan lapangan ini lima menit lagi. Kemudian bergegas pulang karena rasa lengket keringat dan debu yang menempel di tubuhku.
Tiba-tiba aku teperanjat ketika bahu kiriku disentuh dengan ketukan sebuah benda kecil. Tepatnya menggunakan sebuah pena Hello Kitty yang sangat aku kenali. Serta merta ku alihkan pandanganku dengan sedikit mendongakkan kepala melihat siapa yang melakukannya.
Ooh astaga,, netraku membulat karena reaksi tak percaya melihat sosok pemilik manik mata dingin yang tak sengaja membuat tanda membiru uwuuw di daguku ini. Ya benar, dia adalah Brama. Saat ini dia sedang menatapku dengan senyumannya yang bikin aku meleleh bagaikan es krim vanila yang mencair tanpa sinaran matahari.
Jantungku berdegub kencang ibarat aku akan memulai berpidato di atas mimbar yang disaksikan seribu mata. Ku lihat seperti ada kupu-kupu menari mengelilingi tubuhku mengajakku terbang. Mimpi apa aku ya bisa bertatapan langsung gini dengan sosok yang beberapa hari ini membuat hatiku bertanya-tanya.
***
“Udah kagetnya?” sapa pria itu yang menyadarkan Zidhiana.
“Eh.. Udah donk. Kirain tadi si Icko temenku,” jawabnya senetral mungkin dengan perasaannya yang masih bergemuruh ria itu.
Terbaca raut wajah gadis itu yang memerah karena kedatangannya. “Kenalin aku Brama Prasetya, panggil aja Bram. Aku panggil kamu Dhiana aja ya,” pintanya.
“Koq tau namaku Dhiana?” selidik Zidhiana sambil menaikkan alisnya sebelah.
“Dari penamu itu, ada nama,” ungkap Bram. Dia memutar dan memainkan pena Hello Kitty itu, lalu menunjukkan nama yang tertulis di sana.
Zidhiana terkesima mendengar jawaban dari Bram. Mana bisa ia berpikir jernih saat ini untuk mencari tahu dari mana Bram mengenali namanya sebelumnya.
“Oh iya bener ... Kamu koq kayak bu Ningsih guru Antropologi kami sih. Soalnya cuma guru ini aja yang manggil aku dengan sebutan Dhiana,” celotehnya seraya sedikit tersenyum simpul. Padahal dalam bathinnya, mau dipanggil namanya apa aja boleh, asalkan kamu yang panggil Bram.
“Mau beda aja dengan nama panggilan itu, biar selalu diingat. Aku duduk di sini sebentar boleh ya?” izinnya. Kemudian Zidhiana mengangguk kikuk.
Bram mengernyitkan keningnya dan menatap penuh rasa iba. “Coba lihat ke sini Dhiana,” pintanya.
Lalu gadis itu menolehkan kepalanya menyamping dan menatap Bram. Dia tergagap, belum lagi deguban jantungnya itu stabil sepertinya kembali memompa kencang karena tangan pria itu kini memegang dagunya.
“Koq bisa jadi biru gini ya, udah dikasih obat belum?” tanya Bram prihatin.
Zidhiana menelan salivanya dengan kasar, gara-gara sentuhan yang Bram lakukan. Ia mencoba menjawab dengan membuang rasa gugupnya hingga ke planet Mars.
“Udah diolesi salep koq Bram, mungkin beberapa hari lagi juga hilang,” timpalnya canggung.
“Tapi manisnya nggak luntur koq Dhiana," pujinya. Lagi dan lagi Bram berusaha membuat wajahnya memerah seperti tomat.
Tapi pujian simple gini bisa bikin adek klepek-klepek kayak gini bang, Zidhiana membathin ria. “Ya ampun, apa semua anak lapangan suka ngegombal kayak gini ya?” sindirnya.
“Kata siapa? Emank kenyataannya gitu koq,” jelas Bram meyakinkannya.
“Kapan-kapan kita bisa ketemu lagi, kan Bram?” harap Zidhiana. Tanpa ia sadari tiba-tiba saja pertanyaan ini bisa muncul dibenaknya.
Dia menggerutui kebodohannya sendiri, kenapa bibirnya begitu lugas mengucapkan hal yang seolah-olah tidak ada lagi pertemuan berikutnya dengan pria itu. Harus ia tepis rasa malunya saat ini, pikirnya.
Bram belum menjawab pertanyaannya. Gadis itu semakin kikuk dibuatnya. Bram meraih benda pipih yang pegang oleh Zidhiana. “Aku pinjam ponselmu sebentar ya.” Pria itu lalu menekan nomer yang akan dituju. Seketika alunan musik terdengar dari saku celana Bram.
“Aku suka lagu itu Bram,” tutur Zidhiana. Tanpa basa basi ia menyanyikan lagu yang menjadi nada dering di ponselnya Bram.
...
Tiada yang salah
Hanya aku, manusia bodoh
Yang biarkan semua
Ini permainkanku berulang-ulang kali
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
...
(Manusia Bodoh - Ada Band)
“Lagunya mengingatkan dengan seseorang ya?” sindir Bram dengan senyuman smirk. Dia berpikir lagu itu mempunyai kesan tersendiri bagi Zidhiana.
“Nggak donk ... Aku suka liriknya aja. Oh ya Bram, kamu ngekos sama Icko juga ya?” Zidhiana mencoba mengalihkan pembicaraan.
Bram yakin gadis itu sedang mencari bahan obrolan lain. Sesekali dia mengunci pandangannya ke Zidhiana dan membuatnya menjadi salah tingkah.
“Aku ngekos deket-deket sini juga koq. Ngomong-ngomong kenal Icko udah lama?” tanya Bram.
“Baru dua hari yang lalu sih, tapi hari ini koq Icko nggak ada ya. Biasanya dia ke sini ngobrol bentar sama aku sebelum pulang,” ujar Zidhiana dengan netranya yang berselancar mencari-cari keberadaan Mr. Comblang.
Bram menangkap gelagat Zidhiana memperhatikan sekelilingnya. “Koq nggak nyari aku aja Dhi?” godanya santai.
“Yee.. kan udah di sini.” Gadis itu kini jengah dan semakin bingung mau menjawab apa.
Dia benar-benar sangat gugup berhadapan dengan Bram dari tadi. Walaupun dengan berbicara sesantai mungkin, ia selalu mengalihkan pandangannya ke berbagai arah. Tapi dia juga sangat menikmati obrolan itu.
Langit biru telah berubah menjadi jingga tanda senja akan tiba. Dari arah kejauhan terdengar suara adzan berkumandang mendayu memecah kesunyian. Menandakan waktu sholat magrib akan dimulai. Zidhiana terbuai dalam obrolan bersama Bram yang tadinya ia ingin segera meninggalkan lapangan dalam waktu 5 manit malah mengulur waktunya untuk bersama pria itu lebih lama.
“Bram,” panggil Zidhiana.
“Dhiana,” panggil Bram secara bersamaan.
“Ya udah kamu duluan yang ngomong,” ucap Bram.
“Eh maaf, udah magrib Bram. Aku keasyikan ngobrol sama kamu nyampe kelupaan mau pulang. Sebenernya besok hari terakhir aku latihan, tapi kayaknya aku sudahi aja hari ini,” jelas Zidhiana. Menghirup udara senja lalu ia hempaskan kembali.
“Besok dateng lagi ya, aku temeni. Kita lari bareng gimana?” tawar Bram. Sekonyong-konyong wajah gadis itu berbinar cerah.
“Beneran yaa,” harap Zidhiana. Spontan menggapai kedua tangan Bram mengisyaratkan bahwa dia benar‐benar menginginkan kehadiran pria itu.
Sontak Zidhiana melepaskan tangan Bram kembali karena tersadar apa yang barusan ia lakukan. Untuk kedua kalinya dia merasa hilang kendali akal sehatnya.
Kenapa ia begitu agresif sekali, seolah-olah mereka udah kenal lama. Sabar Zi ... Sabaaarr ... Ini baru tahap awal, bathinnya bergejolak.
Melihat anggukan dan senyuman Bram yang terpancar bak dewa Yunani, tubuh Zidhiana seakan ringan terbang ke udara bebas di kelilingi kupu-kupu putih berterbangan. Dia lalu mengalihkan langkahnya untuk pamit meninggalkan pria itu dengan hati yang berbunga.
***
Bram POV
Senja itu ketika matahari mulai tertutup sinarnya, terdengar suara ketukan. Ini bukan mimpiku di sore hari, tapi memang benar kamar kosku di ketuk oleh seseorang. Ku buka dengan langkah lunglai dan berat menuju handle pintu yang berjarak 3 meter dari istana kapukku. Belum genap 15 menit netra ini terpejam, kini harus terbuka kembali.
Ku lihat ada Icko yang tersenyum kecut memandang kusut raut wajahku. Hajat apa yang menuntunnya kemari, pikirku. Aku kembali ke kasurku, merebahkan tubuh yang benar-benar lelah saat ini. Ku abaikan kedatangan Icko yang telah mengusikku.
Saat netra ini mulai terpejam kembali, aku mendengar Icko menyebut nama seseorang yang pernah tak sengaja membuat momen lucu dan berujung menyakitkan di dagunya. Aku beranjak duduk, mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku mendengarkan cerita Icko. Ku pastikan bahwa aku juga sangat ingin menemuinya.
Keesokan sorenya, aku menunggunya dan berharap dia benar-benar datang seperti apa yang dikatakan Icko. Hampir 10 menit ku lihat dari jam tanganku, belum juga menangkap bayangannya muncul di lapangan Hang Lekir ini. Apa mungkin sore ini ia tidak ... Belum sempat ku teruskan kemungkinan yang apa yang terjadi, ku lihat ia baru saja menjejakkan kakinya ke lapangan itu.
Ku pandangi dari kejauhan, ia sedang melakukakan peregangan statis sebelum memulai, hingga ia berlari mencapai dua kali putaran lapangan. Sepertinya tadi dia melirikku dan menyadari keberadaanku di balik pintu pagar besi sekolah ini. Aku akan menemuinya setelah ia benar-benar selesai melakukan kegiatannya.
Kakiku melenggang menuju lapangan yang sunyi dan hanya terdengar suara burung-burung camar terbang kian kemari di atas rerumputan hijau dan pohon cemara. Kini jarakku hanya setengah meter dengannya dan ku sapa dengan ketukan pena Hello Kitty di bahu kirinya.
Seketika ku lihat ekspresi keterkejutan darinya. Aku tak tahu apakah ia akan marah atau senang saat aku menghampirinya. Senyum merekah terbit dari paras wajah ayunya yang lelah, ku yakin ia tidak merasa terganggu dengan kedatanganku.
Saat ku perkenalkan namaku dan memanggil namanya Dhiana, sepertinya ia tidak keberatan. Satu hal yang membuat ku terperangah adalah melihat warna kulit membiru di bawah bibirnya. Spontan ku pegang dagunya tanpa berpikir terlebih dulu, apakah aku terlalu jauh menyentuhnya saat ini.
Wajahnya merona, ini entah yang keberapa kali terbaca dari mimik wajahnya setelah aku mencoba memberikan perhatian kepadanya.
Aku sangat bahagia saat Dhiana menanyakan apakah nanti ada pertemuan selanjutnya setelah hari ini. Ku pastikan sebisa mungkin akan menemuinya. Kemudian kami saling bertukar nomer ponsel agar suatu saat kami bisa saling berkomunikasi lagi.
Ada rasa sedikit kehilangan ketika Dhiana mengatakan bahwa ia akan mengakhiri latihannya sore ini. Bathinku menolak untuk menjadikan hari ini adalah hari pertama dan terakhir kali kami bertemu.
Otakku berpikir keras dan terlintas sebuah ide brilian. Aku akan menemaninya berlari keesokan harinya. Dhiana langsung menggapai kedua tanganku penuh harap dan itu terlihat sekali pada netranya yang berbinar cerah. Rasanya ingin sekali ku putar waktu cepat berlalu dan berganti keesokan sorenya. Agar aku dapat menemui dan bersamanya.