Persiapan menjelang ujian olah raga lari tinggal 2 hari lagi. Zidhiana bersiap menuju lapangan Hang Lekir melakukan aktifitasnya seperti biasa. Hanya jalananan yang mengelilingi lapangan ini ternyaman menurutnya karena jarang dilalui kendaraan dan tidak terlalu banyak orang yang melihatnya.
Gadis itu melaju dengan kecepatan sedang menggunakan sepeda motor sporty adiknya membelah jalanan kecil menuju lapangan. Dia memarkirkan kendaraanya di samping pohon Cemara. Lalu ia melakukan peregangan statis kepala, tangan, dan kaki sebelum derap langkah kakinya mengelilingi lapangan itu. Tak lupa topi navy yang ia pakai sebagai ciri khasnya.
Akhirnya dua putaran sudah ia tempuh. Rerumputan hijau yang menjulang rendah di depannya telah menanti untuk dijadikan landasan rebahan kedua kakinya yang lelah saat ini. Zidhiana menatap ke depan dengan deru nafas tak beraturan yang lambat laun mulai menghilang.
Tanpa disadari ada bayangan dari arah belakang berjalan menghampirinya. Dia adalah Icko pemilik bayangan itu. Pria itu spontan duduk tepat di samping kanan Zidhiana dengan kakinya yang ditekuk menggunakan kedua lengannya.
“Berapa hari lagi latihannya habis?” tanya Icko.
“Tinggal 2 hari lagi bro,” jawab Zidhiana singkat. Dia yakin, pasti besok icko akan menemuinya lagi, walaupun hanya sebentar.
“Itu mirip motornya adek kelas kami si Bagas.” Menunjuk ke arah kendaraan Zidhiana yang sedang terparkir.
Gadis itu membathin, ternyata Icko memperhatikan kendaraan tersebut. Pastinya dia juga tahu sebelumnya karena Bagas juga bersekolah yang sama dengannya.
“Iya bener, itu punya adekku,” ungkapnya.
“Ooh jadi kamu kakaknya Bagas ya, besok aku mau ngerjain dia deh,” ledek Icko.
Zidhiana hanya berdehem seraya menggeleng‐gelengkan kepalanya. Seketika ia teringat nama Brama. Dari pada ia menanyakan tentang Brama ke adiknya mending ia tanya langsung saja ke pria ini, pikirnya.
“Bro kenal sama yang namanya Brama nggak? Yang ta‐ ”
“Yang tadi ketubruk di lapangan sama kamu itu, kan?” putusnya langsung memotong pertanyaan Zidhiana diiringi tawa kecilnya.
Dia mengangguk dan tiba‐tiba semburat memerah di wajahnya menahan malu untuk mengakuinya. Tapi mau gimana lagi semua sudah pada tahu kejadian memalukan itu, apalagi Icko di sana bisa melihatnya langsung.
“Hu'um,” Zidhiana ikut terkekeh geli mengingat peristiwa itu.
“Dia temen sekelasku, kami sama‐sama dari Batam. Kayaknya ada yang mau kenalan nih. Kenapa Zi, mau kenalan gitu?” tebaknya sambil cengengesan.
“Yeee.. sotoy banget deh. Cuman nanya doank. Bisa aja ya bang Icko jadi prasarana Blind Date. Emank dah berapa lama bang, buka jasa begituan?”
Dari relung hatinya yang terdalam, dia sangat berharap ingin berkenalan dengan Brama. “Dah ah ... aku mau cabut dulu. Nyampe jumpa besok sore ya Mr. Comblang,” pungkasnya. Mengejek Icko dan terus berlalu.
Zidhiana meninggalkan lapangan itu dan pulang menuju arah yang berbeda dengan jalan yang dia tempuh saat pergi tadi. Dengan santainya ia menyusuri jalanan yang mulai padat. Seperti biasa, saat senja mulai tiba beberapa bis karyawan telah memenuhi jalanan tempat pemberhentian khusus karyawan.
Indahnya perjalanan pulang ini, bathinnya. Sembari menikmati udara sore dan sinaran sang surya berwarna jingga meliputi awan. Senandung lagu ia nyanyikan dengan suara merdu mengiringinya ke rumah. Hanya butuh 7 menit untuk sampai ke rumahnya.
Setelah sampai di rumah, Zidhiana langsung membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat bercampur debu yang telah mengering. Ia menatap cermin di kamarnya, ada sedikit lebam membiru di dagunya. Mungkin efek rasa sakitnya baru muncul sekarang pikirnya. Mudah‐mudahan besok menghilang setelah ia mengoleskan salep pengurang lebam.
***
Pagi ini Zidhiana sedikit telat, hampir saja bis sekolah yang dinanti meninggalkannya. Dia langsung menaiki bis dengan nafas yang sedikit tak beraturan. Ada beberapa temannya mengernyitkan kening mereka, memandangnya sedikit berbeda dan bingung.
Apa yang salah dengan penampilannya hari ini. Gadis itu berpikir keras dan tetap memasang ekpresi wajah datar. Spontan Rifai yang berada di samping menegurnya.
“Itu dagu kenapa neng? duh yang abis KDRT,” ledek Rifai.
“Haah, emanknya kenapa?” tanya Zidhiana dengan netra yang membeliak.
“Biasalah itu bro yang baru kebentok gebetan,” sambung Rasty menggoda sahabatnya itu.
Zidhiana hanya pasrah menjadi bahan candaan teman‐temannya di bis sekolah pagi ini. Ternyata lebam ini belum juga hilang, sekarang berubah menjadi agak kebiruan. Baru ia sadari ternyata dagunya benar‐benar terbentur keras.
Sebelum memasuki kelas, Zidhiana mengantarkan absen upacara kemarin ke ruangan pembina kesiswaan. Pak Suryo mengatakan bahwa pagi besok ada seminar tentang "Pengaruh Negatif N*****a Pada Generasi Penurus Bangsa" di Gedung Dwi Guna. Seperti biasanya dia ditunjuk sebagai perwakilan dari sekolah bersama temannya Rasty dan Rifai.
Hari ini jam pelajaran pertama di kelasnya yaitu tentang Antropologi dan ini adalah salah satu mata pelajaran yang ia sukai. Gadis itu tidak tahu alasan apa mempelajari budaya yang berbeda di Indonesia ini sangat menyenangkan. Dia juga berharap saat kuliah nanti ia bisa melanjutkan menuntut ilmunya ke kota Jogja.
Saat bu Ningsih sedang menerangkan tentang budaya pernikahan dari suku Jawa, pikirannya kembali ke peristiwa memalukan sekaligus membahagiakan kemarin. Walaupun dengan tanda lebam yang ia dapat saat ini, rasa bahagianya dapat menutupi rasa sakitnya.
“Dhianaaa.. Kenapa senyum-senyum sendiri?” tegur bu Ningsih dengan suara yang agak melengking.
Seketika Zidhiana terkesiap, netranya membulat, dan ia mengusap kasar wajahnya. Hanya bu Ningsih saja yang memanggilnya Dhiana. D**anya berdetak kencang ibarat sedang menerima shock terapi dari panggilan guru Antropologi itu.
“Ng--- Nggak papa bu,” sahutnya tergagap.
Rasty dan Rifai tertawa melihat perangainya. Lalu dia membalas dengan lirikan sengit. Hampir semua guru paham sikapnya yang kadang bertingkah tengil di kelasnya. Namun mereka tidak pernah memarahi Zidhiana karena dia selalu menunjukkan prestasi terbaik.
Banyak kakak kelas, teman seangkatan, maupun adik kelas yang mencoba mendekatinya. Tapi Zidhiana memiliki pribadi yang selalu selektif untuk menerima seseorang di hatinya.
Bahkan sepupunya pernah mencomblanginya dengan anak gunung teman sekelasnya yang super anak mami. Dengan alasan ia tak mau Zidhiana berkenalan dengan orang yang salah.
Bel istirahat sekolah telah berbunyi, semua murid di dalam kelas mengambil langkah seribu menuju kantin. Begitu juga dengan gadis itu dan kedua sahabatnya yang tak mau kalah menerobos jalanan yang dipenuhi siswa lainya.
Hingga akhirnya mereka duduk di meja favorit di samping pohon Akasia. Pohon ini banyak sekali tumbuh di sekitar sekolah. Ini sangat menguntungkan sekali bagi para siswa bersantai di bawah lindungan dahannya yang sangat rindang.
“Besok kita bertiga diutus ke Gedung Dwi Guna buat ngadirin seminar tentang N******” titahnya.
“Berarti kita nggak usah ke sekolah lagi donk, langsung datang ke gedung gitu yaa?” sambung Rifai.
Rasty menepuk dahinya setelah mendengar ucapan dari Rifai. “Nggak bro, tar kita ke pasar dulu beli ikan, terus kita masak buat bekal kita piknik di sana” celutuk Rasty yang sangat gemas melihat Rifai yang terkadang polos dan kurang tanggap.
Zidhiana terbahak melihat kelakuan kedua temannya itu. Tapi memang mereka adalah sahabat yang asyik untuk berbagi. Kekompakan mereka sering membuat siswa lain terkadang merasa iri.
“Eh tadi senyam senyum sendiri di kelas ngapa Zi? Kayak orang kasmaran gitu,” selidik Rifai yang benar-benar penasaran dengan kelakuan sahabatnya akhir-akhir ini.
“Mau tau aja, apa mau tau banget?” ledeknya dengan alisnya yang naik turun. Membuat Rifai memutarkan bola matanya bosan dan melanjutkan makannya ketimbang menanyakan ulang kepadanya.
“Aku gabung sama anak‐anak dulu ya,” pamitnya kepada Zidhiana dan Rasty yang masih menyeruput sisa es teh mereka.
Drrtt.. Drrrtt..
Suara getaran ponsel Zidhiana berbunyi. Dia membaca pesan dari Dias sambil menukikkan alisnya. Pria itu mengabari bahwa week end ini ia tidak bisa menemuinya karena ada urusan kantor yang tidak bisa ditinggal.
Gadis itu mengerti status mereka yang berbeda, dia yang masih berstatus sekolah dan Dias sudah bekerja. Walau kadang baginya week end tanpa kehadiran Dias, ia merasa kehilangan.
“Koq bacanya sambil mikir gitu Zi?” Rasty mulai kepo. Ia sangat tahu ekspresi wajah sahabat kecilnya itu yang sedikit kecewa saat membaca pesan.
“Ah nggak ada Ras, biasalah week end ini no hang out. Dias ada kerjaan di kantornya. Udah yuuk cabut kita ngobrol di kelas aja,” ajaknya. Menarik tangan Rasty menuju kelas.
Sebenernya dia ingin sekali curhat kepada Rasty bahwa ia belum bisa menganggap Dias lebih dari seorang kakak. Ia berusaha untuk menunjukkan rasa lebih tapi hasilnya selalu sama. Dia merasa nyaman bersama pria si penakluk hatinya itu tak lebih dari rasa sayang adik kepada kakaknya.
“Ras.. aku mau jujur nih. Apa mungkin ya jarak bisa memudarkan perasaan seseorang?” lirih Zidhiana berat hati. Dia yakin Rasty sudah menebak hubungannya dengan Dias.
“Kenapa Zi,, ada masalah dengan Dias?”
“Nggak ada masalah sih, cuma aku ngerasa kami makin jauh aja. Apa mungkin di sana dia ada gebetan ya?” duga gadis itu tak bersemangat.
“Positive thinking aja Zi, ya gini resiko pacaran dengan orang yang udah kerja. Tapi nggak usah dipikirin ya entar tambah kutilang lagi. Aura jeleknya keluar klo kamu nggak semangat gitu. Entar aku malah yang repot nyari kembang tujuh rupa buat ngembaliin auramu itu,” hibur Rasty. Dia sangat pintar sekali membuat gadis itu tersenyum bahkan sedikit gila akibat ulahnya.
Sebenarnya Zidhiana tahu, ada sesuatu yang disembunyikan juga oleh Rasty di belakangnya tentang Dias. Mungkin saja sahabatnya itu hanya menjaga perasaannya sekarang. Memberinya semangat dan selalu menghibur dirinya dengan candaannya. Semua itu agar Rasty dapat mengalihkan perasaan Zidhiana yang hampa kepada Dias.
Berbeda dengan Jack pacar Rasty dan juga sekaligus teman kerja Dias. Dia adalah tipe orang yang pendiam, sedikit posesif, dan sangat pengertian dari sudut pandangnya. Pasti sedikit banyaknya, Jack juga tahu bagaimana karakter Dias sebenarnya.
Rasa penasaran Zidhiana belum terlalu jauh untuk menanyakan lebih soal Dias kepada Jack. Biarkan bagai air yang mengalir kisah percintaanya bersama Dias, pikirnya.