Ingin Mengenalmu

1717 Words
Pagi ini lapangan Hang Lekir telah dipadati oleh peserta upacara. Dari arah selatan hingga utara telah berbaris persatuan dari sekolah dasar hingga menengah atas, instasi pemerintah, dan swasta. Kebetulan barisan sekolah anak pantai bersebelahan dengan barisan sekolah anak lapangan. Seperti biasanya, Zidhiana berada di barisan belakang karena postur tubuhnya yang tinggi. Hal ini sangat menguntungkan baginya, selain bisa lebih santai dan pandangannya lebih luas mengamati yang ada di lapangan ini. Sebenernya risih juga mereka bersebelahan dengan anak lapangan yang suka iseng menggoda anak pantai. Bisa dimaklumi karena murid di sekolah anak lapangan mayoritas adalah laki-laki. Dengan langkah penuh percaya diri, Zidhiana mengabsen satu persatu siswa sambil menulis ke dalam daftar hadir mereka. Dimulai dengan barisan paling depan hingga ke belakang. Sebagai salah satu pengurus organisasi kesiswaan, ini memang sudah menjadi tanggung jawabnya. Dia begitu fokus menulis dan tanpa disadari saat melangkah kakinya tersangkut tali pembatas barisan. Sontak badannya oleng ke depan dengan kedua tangannya yang masih memegang buku absen dan pena hello kitty itu tak sanggup mengimbangi tubuhnya. Akhirnya dia terjatuh dan menubruk seorang anak lapangan di depannya. Tepatnya dagu Zidhiana terkena pundak anak lapangan tersebut. Netranya terpejam rapat menahan rasa sakit dan malu karena mereka yang melihatnya langsung merespon dengan selebrasi kebahagian seperti di dunia perfilman. Belum lagi rasa jengahnya sirna, dia kembali dikejutkan dengan sebuah uluran tangan yang menjulur di hadapannya. Kepalanya menengadah melihat siapa pemilik tangan itu. Masih dalam perasaan takjub yang menyelimuti, Zidhiana berusaha untuk menetralkan pikirannya. Ternyata dialah anak lapangan yang ditubruknya tadi. Entah mengapa Zidhiana sangat bersemangat sekali dan langsung menggapainya tanpa peduli sorak bergembira berkumandang di antara dua sekolah itu. “Aduh, maaf ya. Aku nggak sengaja,” ucap Zidhiana meringis. “Kamu enggak apa-apa, kan?” tanyanya penuh iba. Masih menahan sakit di dagunya dan dia terpaksa berbohong saat ini. “Aku enggak apa-apa koq, bahumu pasti sakit juga ya?” timpal Zidhiana. “Nyante aja, aku enggak apa-apa,” tuturnya. Mengancungkan jari jempolnya, lalu kembali tersenyum. “Makasih ya udah nolongin, aku ke barisan dulu ya,” pamit gadis itu. Secepat mungkin Zidhiana melangkahkan kaki ke barisannya di belakang tanpa menghiraukan lagi dan lagi sorakan yang dikumandangkan teman-temannya dan anak lapangan. Dia ingin melanjutkan absen tapi penanya terjatuh di sana. Diurungkan niatnya untuk kembali ke depan karena rasa jengah ini masih enggan dan tak mau beranjak di dirinya. Zidhiana masih mengingat kejadian yang baru dialami tadi. Netranya begitu fokus ke depan melihat siapa yang dia tubruk tadi tanpa sengaja. Ternyata dia adalah seorang Danton (pemimpin barisan dari suatu kesatuan) dari sekolah anak lapangan. Dari kejauhan dia bisa melihat dengan jelas sorot manik mata yang dingin dari pria itu. Entah kenapa mata minusnya yang kini tiba-tiba bersahabat. “Weey, bengong aja sih yang abis kebentok enak sama cowok,” sindir Rasty yang tiba-tiba membubarkan semua fokus objek Zidhiana. “Sakit tau.” Dia mencebikkan bibirnya. “Sini deh Ras, lihat tuh danton yang ku tubruk manja tadi.” Tangannya menunjuk ke arah danton tersebut. “Fokus ke matanya ya, dingin tajam ... menusuk di jiwa.” Rasty celingukan melihat sosok yang ditunjuk sahabatnya itu. “Mana sih, dianya ngadep ke depan gitu?” Rasty sangat penasaran. “Ya entar kalo dia dah balik badan lah, atau nggak ... pas upacara bubar. Penasaran kan?” goda Zidhiana. Menggerakkan alisnya naik turun. Sepanjang upacara berlangsung di lapangan itu, gadis itu mencoba mencari tahu tentang pemilik manik mata dingin itu. Akhirnya pada saat acara hampir selesai dan sebelum barisan dibubarkan, kesempatan ini bisa ia gunakan melalui cara klasik yaitu dengan pura-pura bertanya kepada salah satu anak lapangan yang tak jauh dari barisannya. “Ssstt...” Kode Zidhiana memanggil mereka dan kebetulan salah satu dari anak lapangan ada yang menangkap langsung signal panggilannya. “Boleh nanya nggak, nama danton kalian siapa?” tanya Zidhiana tersenyum simpul. “Kamu siapa namanya dulu?” goda anak lapangan tersebut kepadanya sambil cengengesan. Duh,, ini gimana sih. Malah balik nanya, bathin gadis itu. Mudah-mudahan ni cowok bisa diajak kerjasamanya. “Aku Zi, cepetan nama dantonnya sapa keburu bubar nih?” desaknya sedikit kesal dengan intonasi memaksa. “Koq nggak nanya namaku dulu sih, masa nggak mau tau?” jawab siswa lapangan itu dengan gaya tengilnya. Zidhiana mengernyitkan keningnya. “Iya abang ganteng, namanya siapa?” balasnya. Tersenyum getir dan memasang raut wajah antusias. “Abang ganteng namanya Syahrul, nggak pake Khan. Kalo si danton itu namanya Brama,” ujarnya penuh senyum yang merekah. Dari tadi kenapa, pake dibelit-belit segala lagi, gerutunya di dalam hati. “Makasih ya abang Syahrul ganteng,” ucap gadis itu tulus. Menyengir kuda dan segera berlalu dari pria tengil itu. Pandangannya kembali ke depan mencari si danton. Hasilnya big zero, dia kehilangan jejak gara-gara si abang ganteng tadi. Semua barisan telah dibubarkan, mana mungkin ia bisa menemukan seorang Brama di antara ratusan orang yang telah berbaur menjadi satu begini. “Yuuk pulang,” ajak Rasty. “Bentar Ras, itu si danton udah dapet namanya. Tapi kemana ya dia?” sesal Zidhiana tak henti mencari. “Dah laah ... Besok-besok juga ketemu,” ujar Rasty enteng. Kemudian dia menarik tangan Zidhiana meninggalkan lapangan. Bram POV Hari ini aku ditunjuk sebagai Danton untuk memimpin barisan perwakilan dari sekolah anak lapangan. Sehari sebelumnya, aku mengetahui informasi ini dari guru pembina kesiswaan untuk menggantikan temanku yang sedang berhalangan hadir. Ku persiapkan baju seragam putih kebanggaan kami dengan baret hitam sebagai simbol dari atribut yang membedakan bahwa kami berasal dari sekolah kejuruan. Tepat jam 7 pagi, kami telah berkumpul di halaman sekolah untuk menuju ke lapangan Hang Lekir yang jaraknya hanya 20 meter dari pintu gerbang. Sedekat itukah? Ya benar ... Karena sekolah kami berada tak jauh dari lapangan Hang Lekir. Oleh karena itu, kami dikenal dengan sebutan sekolah anak lapangan. Semua berbaris rapi dan siap menuju lapangan atas komondo yang ku arahkan. Langkah tegap kami menunjukkan jati diri kami yang berwibawa dan berkarisma. Tepat di samping kami adalah barisan sekolah anak pantai. Seperti biasa, teman-temanku yang mayoritas laki-laki pasti akan menggoda mereka. Tapi memang ini adalah hal yang membuat kami terkadang menemukan cinta di jaman sekolah. Ada beberapa di antara kami juga yang memiliki pacar dari anak pantai. Aku pun juga tidak tahu, kenapa hati kecilku ini bisa menuntunku untuk memilih bersekolah di kota kecil ini dibandingkan di kota tempat tinggalku bersama orang tua. Terdengar riuh rendah suara di belakangku, pastinya itu adalah suara dari teman-temanku. Aku tak berniat memandang ke belakang dan cukup memperhatikan arah kanan dan kiri saja. Aku mendengar seseorang siswi sedang mengabsen di barisan sekolah anak pantai. Sepertinya ia salah satu pengurus organisasi kesiswaan yang ditunjuk. Tepat saat netraku memandangi persiapan di depan podium, seketika seperti ada yang menyenggol keras bahuku dan sontak aku terkesiap. Ku lihat ada seorang siswi terjatuh dan terduduk di samping kakiku. Hal apa yang membuatnya menubrukku dan itu pun aku tak tahu. Sepertinya dia adalah siswi dari anak pantai yang sedang mengabsen tadi, pikirku. Aku yakin yang ia rasakan saat ini adalah menahan sakit dan malu setelah mendengar sorakan dari kedua sekolah ini. Aku langsung mengulurkan tanganku untuk membantunya bangkit berdiri. Ku perhatikan sesaat wajahnya yang memerah semu. Tapi aku suka ekpresi wajah imutnya saat ini. Entah kenapa ada sedikit rasa penasaran dengan gadis tersebut. Setelah dia berdiri, aku menanyakan keadaannya. Walaupun ia berbohong untuk menutupi rasa sakitnya, tapi aku dapat membaca dari raut wajahnya. Lalu gadis itu mengatakan bahwa ia baik-baik saja, ia meminta izin untuk kembali ke barisannya dan berterima kasih padaku. Aku berharap akan ada kesempatan untuk bertemunya kembali karena aku sangat ingin mengenalnya lebih dekat. Entah perasaan apa yang ada di benakku, kenapa hati ini begitu memaksa untuk mengulik lebih dalam tentangnya. Ku alihkan pandanganku pada sebuah pena hello kitty yang terjatuh tak jauh dari kakiku. Ternyata ini adalah pena dari gadis itu. Aku menyimpannya dengan hati yang berbunga-bunga. *** Terlintas di ingatan Zidhiana setelah meninggalkan lapangan. Bentar lagi tanggal 13, ya benar ... berarti tiga hari lagi adalah ulang tahun Dias, pria si penakluk hatinya. Gadis itu mau memberi kejutan kecil untuknya. Dia langsung memutar kendaraan roda dua kesayangannya itu menuju ke sebuah rumah. “Mau kemana kita Zi?” tanya Rasty bingung. “Bentar ya, aku mau ke rumah Septi dulu. Mau pesen cake ultah,” jawabnya singkat. Haah.. Cake ultah? Nggak biasanya sahabatnya itu memesannya, bathin Rasty. “Emangnya yang ultah sapa Zi?” “Sapa lagi kalo nggak aa' Dias seorang,” sahutnya santai. Gadis itu masih fokus berkendara sambil memikirkan tema apa untuk cakenya nanti. “Ooo.. So sweeeet. Terus dia mau dateng gitu?” Rasty meragukan. Karena dia mengetahui hubungan Zidhiana dan Dias tidak begitu lancar. “Ini kan belum week end, mana mungkin dia ke sini. Entar ku titipin aja sama temen kantornya yang di pelabuhan” jelas Zidhiana. Akhirnya mereka sampai di rumah Septi teman sekelas mereka juga. Tampak dari arah kejauhan, Icko sedang berjalan menuju rumah Septi. Dia mau menyapa Icko, tapi urusannya belum selesai. “Tumben Zi mampir ke sini,” sapa Septi curiga. “Biasalah Sep, ada yang mau ngasih surprise sama ayank Dias,” goda Rasty. Malas menanggapi candaan mereka, Zidhiana hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Ada mamamu enggak Sep?” “Ada Zi, masuk aja. Paling di belakang lagi masak,” sahutnya. Lalu mempersilahkan mereka masuk. Zidhiana langsung menuju dapur. Tercium aroma masakan memenuhi ruangan ini. Seperti bau makanan Roti Kirai khas Melayu. Mama Septi juga sering mendapatkan orderan masakan untuk acara hajatan keluarga tetangganya. “Assalammualaikum, tante.” “Waalaikum salam, ooh Zi. Sini masuk,” pinta mama Septi. Wanita paruh baya ini menyambutnya dengan hangat. “Tante, bisa bikinin cake ultah buat cowok tanggal 13 ini nggak? Yang simple aja tante, jangan pake bunga-bungaan gitu,” ungkap Zidhiana tersipu malu. “Ooo.. InshaAllah bisa,” timpal mama Septi. Sedikit tersenyum menggoda mendengar permintaan gadis belia, teman putrinya itu Wah, hatinya bersorak riang. “Makasih banyak looh tante, entar Zi ambil tanggal 13 siang ya. Zi ke depan dulu ya tante,” tutur Zidhiana dengan sopan. “Iya Zi sama-sama,” ucap mama Septi. Diikuti dengan anggukan. Zidhiana kembali ke teras rumah Septi. Di sana masih setia menunggu sahabatnya Rasty seraya tertawa renyah bersama Septi. Dia ingin menanyakan, apakah Icko tinggal di sekitar sini.Tapi setelah ia pikir-pikir, gadis itu mengurungkan niatnya. Mending ia pura-pura tidak tahu karena yang sangat ia ingin ketahui adalah tentang Brama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD