Hukuman
Seorang pemuda berlari tergesa-gesa menyusuri koridor sekolah. Napasnya memburu, sementara tas di pundaknya terus bergoyang mengikuti langkah kakinya. Lagi-lagi ia terlambat masuk sekolah.
Pemuda itu adalah Boy Aries Sandi, atau yang lebih akrab dipanggil Boy.
Entah sudah berapa kali ia datang terlambat. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Kini ia duduk di kelas 3 SMA, memasuki awal semester terakhirnya.
Sesampainya di depan kelas, Boy mengintip dari pintu yang terbuka. Dalam hati ia berharap gurunya belum datang.
Sial!
Di depan kelas sudah berdiri Pak Sardi, guru Matematika yang juga merangkap sebagai guru BK. Di sekolah, beliau dikenal sangat disiplin sekaligus guru paling galak.
Di sampingnya, seorang siswi bertubuh agak gemuk sedang berdiri dengan wajah tertunduk. Sepertinya ia juga terlambat pagi itu.
Tok... tok... tok...
"Selamat pagi, Pak," sapa Boy pelan.
Pak Sardi menoleh tajam.
"Wah, hebat sekali. Ternyata masih ada satu murid lagi yang terlambat. Boy, sini!"
Boy melangkah masuk sambil berusaha tetap tenang.
"Berdiri dulu di pojok sana! Tunggu giliranmu, dasar murid paling bermasalah!"
Suasana kelas langsung hening. Raut wajah Pak Sardi terlihat penuh emosi. Kini perhatian beliau kembali tertuju pada siswi yang sudah lebih dulu dihukum.
"Kamu maunya dihukum bagaimana?" tanya Pak Sardi.
Siswi itu hanya menggeleng. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa malah geleng-geleng? Mau saya suruh push-up juga kamu pasti nggak sanggup, kan?"
Boy yang melihat itu langsung mengernyit.
"Parah... ini udah body shaming," batinnya.
Pak Sardi kembali berkata dengan nada tinggi.
"Merangkak! Lututmu taruh di lantai, lalu merangkak sampai ke mejamu!"
Siswi itu tampak syok. Wajahnya memerah karena menahan malu. Dengan tubuh gemetar, ia perlahan berlutut di lantai.
Boy mengepalkan tangannya. Ia tak sanggup melihat teman sekelasnya diperlakukan seperti itu.
"Jangan," ucap Boy tegas. "Berdiri."
Seketika seluruh kelas menoleh ke arahnya. Suasana berubah mencekam.
Semua tahu, jika Boy membuat masalah lagi, kemungkinan besar ia benar-benar akan dikeluarkan dari sekolah. Padahal sebelumnya ia sudah beberapa kali hampir dikeluarkan karena terlibat perkelahian, meski akhirnya selalu lolos karena terbukti hanya membela diri.
Pak Sardi menatap Boy tajam.
"Kamu yang guru di sini, atau saya?"
Boy menarik napas sebelum menjawab.
"Maaf, Pak. Bukannya saya mau melawan. Tapi hukuman seperti itu menurut saya keterlaluan. Itu bisa menghancurkan mental seseorang. Dia bakal malu seumur hidup kalau diperlakukan seperti itu. Kalau nanti dia pulang sekolah terus nekat melakukan sesuatu karena nggak kuat menanggung rasa malu, siapa yang bertanggung jawab?"
Pak Sardi semakin emosi.
"Berani juga kamu membantah guru! Merasa hebat karena anak orang kaya?"
Boy menggeleng.
"Apa hubungannya sama orang tua saya, Pak? Guru itu harusnya jadi teladan. Minimal perlakukan murid sebagai manusia. Ini SMA, bukan pendidikan militer. Apalagi dia perempuan. Masa disuruh merangkak seperti hewan?"
Boy melangkah maju satu langkah.
"Kalau memang harus ada yang merangkak, biar saya saja. Tapi jangan dia. Kasih hukuman yang mendidik, bukan yang menjatuhkan harga dirinya."
Pak Sardi mengepalkan tangan.
"Berani sekali kamu melawan guru! Mau saya keluarkan dari sekolah ini?"
Boy menatap balik tanpa gentar.
"Kalau menurut Bapak saya salah, silakan keluarkan saya. Kita selesaikan sekarang juga di ruang kepala sekolah."
Suasana kelas benar-benar memanas. Boy dan Pak Sardi saling beradu argumen. Beberapa kali teman-teman mereka sampai khawatir keduanya akan baku hantam.
Akhirnya Pak Sardi pergi meninggalkan kelas dengan wajah merah menahan marah.
Tak lama kemudian, suara dari pengeras sekolah terdengar.
"Boy Aries Sandi dimohon segera menuju ruang guru."
Seluruh kelas kembali sunyi.
Siswi yang tadi dihukum kini menangis tertunduk di mejanya.
"Cuma disuruh merangkak aja kenapa sih nggak mau?" gerutu seorang siswi cantik yang duduk di barisan depan. "Kalau sampai Boy dikeluarin gara-gara dia, aku nggak bakal maafin."
Beberapa menit kemudian wali kelas mereka masuk.
"Ristya, coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
Ternyata nama siswi itu adalah Ristya.
Dengan suara terbata-bata, Ristya menceritakan semuanya. Teman-teman sekelas ikut menambahkan penjelasan.
"Tapi sebenarnya bukan salah Boy, Bu," sahut salah seorang siswi. "Dia cuma ngebela Ristya."
Wali kelas mengangguk pelan.
"Ibu nggak sedang mencari siapa yang benar atau salah. Ibu cuma ingin tahu kejadiannya."
Beliau menatap seluruh kelas.
"Baik, sekarang kerjakan latihan halaman 38 sampai 41. Jangan ribut, dan jangan ada yang keluar kelas. ibu tinggal sebentar" guru itu bergegas keluar.
*****
Di ruang kantor..
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Boy.
Ayahnya yang baru tiba setelah dipanggil pihak sekolah berdiri dengan wajah penuh amarah dan rasa malu.
"Maaf, Pak," katanya kepada kepala sekolah. "Kalau memang harus dikeluarkan, keluarkan saja. Biar saya yang mendidik anak ini."
"Pa!" seru Mama Boy. "Kok ngomong begitu sama anak sendiri?"
"Udah, Ma!" bentak sang ayah. "Papa capek! Tiap bulan ada aja masalah yang dia buat. Nggak bisa apa hidup tenang sebentar? Sampai kapan Mama terus belain anak kesayangan Mama itu?"
"Tapi, Pa..."
"Nggak ada tapi! Mama sama Boy tunggu di mobil. Papa masih harus menyelesaikan urusan di sini."
Di dalam mobil yang terparkir di halaman sekolah, Boy hanya diam.
Ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela sambil memandang taman sekolah dengan tatapan kosong.
Ibunya menoleh penuh rasa iba.
"Nanti Mama cariin sekolah baru yang bagus ya. Kalau Boy pengin sekolah di mana, bilang saja. Mama pasti usahakan."
Boy tidak menjawab.
Ia hanya memejamkan mata, seolah tak ingin mendengar apa pun lagi.
Tak lama kemudian ia tertidur.
Suara klakson membangunkannya.
Gerbang tinggi sebuah rumah mewah perlahan terbuka. Mobil mereka akhirnya sampai di rumah.
Boy langsung turun dan berjalan menuju kamarnya.
"Boy!"
Suara ayahnya menghentikan langkahnya.
"Papa mau bicara."
Ibunya buru-buru menyela.
"Nanti dulu, Pa. Papa masih emosi. Jangan sekarang. Mama nggak mau ada keributan lagi di rumah. Lagian Boy juga nggak sepenuhnya salah. Mama malah bangga sama apa yang dia lakukan."
Ayah Boy tertawa sinis.
"Bangga? Apa yang bisa dibanggakan?"
Beliau menarik napas panjang.
"Mama tahu waktu dia baru masuk SMA? Di kelas satu dia alpha seratus empat belas hari. Sekolah cuma datang hari Jumat sama Sabtu. Kalau bukan karena kepala sekolah masih menghargai Papa, dia udah lama nggak naik kelas."
Beliau menggeleng kesal.
"Sekarang udah kelas tiga, kelakuannya masih sama. Mau jadi apa anak itu nanti?"
Ibunya mencoba menenangkan.
"Sabar, Pa. Namanya juga anak. Setiap anak beda-beda."
Ayah Boy menghela napas panjang.
"Justru karena selama ini Mama terlalu memanjakan dia. Sekarang biar Papa yang ngurus."
Beliau menatap Boy dengan tegas.
"Papa sudah putuskan. Kamu akan Papa kirim ke desa."
Mata Mama Boy langsung membelalak.
"Desa?"
"Iya."
"Mama nggak setuju! Pendidikan di sana gimana? Makanannya? Lingkungannya? Nggak, Pa."
"Keputusan Papa sudah bulat."
Beliau berkata tanpa ragu.
"Papa akan kirim Boy ke desa Mbok Ijah. Biar beliau yang mendidiknya."
"Hah? Ke desa Mbok Ijah?"
Mama Boy semakin panik.
"Itu jauh, Pa. Beda provinsi. Di Jawa Timur!"
"Justru itu," jawab ayah Boy mantap.
"Biar dia belajar bagaimana kerasnya hidup. Siapa tahu di sana dia bisa berubah."