MENYATUKAN KEMBALI

1082 Words
Apa keluarga menurut kalian ? Ini bisa menjadi pelajaran berharga, membuat anak tidak seenak ketika merawat dan membesarkannya. Aku sering mendengar kabar, banyak orang hamil diluar nikah, dan memilih membuang atau menggugurkan anaknya. Aku ingin berteriak pada bapak, ingin mengatakan apakah dia tidak memikirkan mental kami ber-4 ? k*******n tidak selalu bisa menyelesaikan masalah, kalau di fikir lagi, aku tidak pernah meminta kepada Tuhan atau siapapun untuk dilahirkan di dunia ini, mereka yang membuat kami dengan nafsu mereka. Mereka menari di atas tempat tidur, menikmati gairah nafsu. Ketika telah lahir, kalian menyesal punya kami ? Kami juga tidak ingin dilahirkan. Aku duduk, berperang dengan segala pemikiran yang menyebalkan. Aku selalu menyesal lahir disini, aku lelah hidup terus begini. Aku masih tetap terdiam memandangi jalan, berfikir kenapa harus bertengkar ? Ditengah ribuan pertanyaan seseorang datang mendekat, laki-laki paruh baya menyentuh pundakku. Dia seolah mengerti apa yang sedang aku pikirkan, aku menoleh dan melihatnya dengan lirih. Dia mengusap bahuku, seolah berisyarat agar aku bersabar menghadapi kehidupan. "Apa, mobil engga ada di depan rumah ?" tanya ibu dengan suara keras, dia terkejut. "Angel ada di rumah ?" tanya ibu untuk meyakinkan anak terakhirnya masih hidup. Ibu terkejut, dia segera menelpon keluarga adik bapak bernama tante Lita, kami segera pulang untuk ke rumah, karena bapak pergi membawa mobil. Ibu memarkirkan motornya, melihat benar di garasi tidak ada mobil terparkir, dia segera masuk karena pagar tidak terkunci. Mata ibu terbelalak melihat ruang tamu sudah sangat hancur lebur, di ruang tengah ada dua sofa, yang pertama sofa berwarna merah dibalut kayu jati, yang kedua sofa berbahan busa berwarna merah, sofa itu terjungkir balik tidak beraturan. begitu berjalan ke ruang lapangan, ibu terkejut melihat motor jungkir balik, seperti habis ditendang. Barang-barang berserakan dimana-mana, ibu berjalan menuju kamar tidurnya. Kami berjalan mengikutinya, bukan main, kami benar-benar miris melihatnya. Lemari tiga pintu hancur setengah dibuatnya, baju dikeluarkan sembarangan, ada dimana-mana kertas berserakan. Lemari hias dibuat hancur lebur, ada pecahan kaca dimana-mana. Kakak dengan sigap merekam semua yang terjadi, kaka terkejut melihat banyak tas mahal bermerek milik ibu di robek, itu harga tas bukan seratus dua ratus ribu, harganya jutaan. Dia adalah bapak yang tidak bekerja tapi selalu menuntut lebih, tidak memberikan uang tapi menghancurkan. Ibu membuka kamar Leo, kamar aku dan kakak. Tidak ada Angel, beberapa menit kemudian tante Lita sudah sampai. Dia terkejut juga seperti kami, dia menangis melihat tingkah abangnya. "Kok bisa dia setega ini ?" ucapnya menangis lagi, menutup mulutnya. Suami tante Lita masuk, lalu menggelengkan kepala. Dia menghela nafas panjang, berjalan melihat kamar ibu, ruang tengah dan lapangan. "Lihat kelakuan dia, ini sengaja kami engga bersihkan. Agar kalian bisa lihat sendiri, bagaimana kelakuan dia" sahut ibu. Aku melihat wajah ibu, kenapa dia kuat sekali ? Dia bahkan tidak menangis sedikit pun, kemudian laki-laki paruh baya tadi dan istrinya datang ke rumah. Tante lita menghubungi semua keluarga besar, mereka segera merapat secepat kilat, ada yang dari Tangerang, Sukabumi, dan Jakarta. Malam itu Bapak pulang membuka gerbang, dia membawa Angel dalam mobil tersebut. Angel keluar dari mobil dan menghampiri kami, dia masih SD ( Sekolah Dasar) jadi dia masih sangat polos, bapak keluar dari mobil. Dia terdiam melihat beberapa motor yang terparkir, tanpa perasaan malu dia masuk ke dalam rumah. Beberapa orang dengan wajah sedih duduk di ruang tengah, dia duduk di sofa busa favoritnya. Aku, dan Leon masih ketakutan melihat amarah bapak, ka Gisel memang orang paling berani diantara kami berempat. Beberapa menit kemudian, ada dua mobil, yang satu masuk ke garasi, satunya lagi parkir di halaman tetangga sebelah. Seorang wanita berlari, lalu menangis tersenduh-senduh. Dia mendekat pada bapak, lalu memeluknya, sambil menangis keras tanpa henti. "Kenapa kamu sampai begini bang ?" balasnya menangis, dia adalah adik bapak, tante Endi. Bapak hanya terdiam, berusaha mengabaikan. Tante Endi terus menangis, lalu melepaskan pelukannya. Dia mencari ibu, beberapa saudara lain melihat kamar ibu yang hancur, mereka mengeluarkan respon yang sama. kepalanya, lalu menghela nafas panjang. Tante Endi melihat kami, dia memeluk kami satu persatu. Dia menyentuh pipiku, pipi Angel, ka Gisel dan Leo. "Padahal kalian cantik dan ganteng, sudah besar-besar. Kenapa harus diperlakukan begitu ya," cetus tante Endi, dia menuju ke tempat dimana ibu duduk. Jujur, aku ingin menikah muda saja rasanya. Aku ingin keluar dari keadaan ini, aku ingin kabur dan mengasingkan diri. Aku lelah jika harus seperti ini, keluarga datang semua, mereka menangis, ngobrol seharian membuatku pusing. Aku sempat berfikir untuk menikah di usia muda, agar lepas dari semua ini, atau ingin hamil di luar nikah, agar lepas dari penderitaan ini. Kepalaku semakin pusing dengan kenyataan yang ada, ruang latihan menjadi padat, bahkan sempit. Aku dan anak ibu yang lain harus di kamar, karena seramai itu manusia yang datang. Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, mereka semua rata-rata saudara dari bapak. Terakhir mereka berkumpul begini, mereka menyalahkan ibu. Mereka berfikir ibu terlalu egois, mereka bilang ibuku yang salah. Aku hanya pasrah, karena sepertinya hasilnya akan sama. Mereka akan memarahi ibuku, lagi dan lagi. Mereka sudah membentuk lingkaran, mengobrol lalu bertanya pada bapak. "Kenapa bisa sampai begini ?" tanya salah satu, orang yang aku tak begitu kenal. "Saya tidak dihargai disini sebagai suami, dia beli tanah pakai nama dia, semaunya, tidak ada diskusi, saya gunanya apa ?" tanya bapak. Kemudian yang lain melirik ke arah ibu " Ibu Gisel kenapa tidak diskusi dengan suami dulu ?" ucap mereka bersamaan. "Loh, itu kan uang saya, kenapa saya harus izin ? Kecuali itu uang dia, baru saya izin," balas ibu. "Heh, setidaknya kamu bilang sama saya, siapa yang tidak kaget, saya baru bangun tidur, tiba-tiba pak RT (rukun tetangga) datang memberikan berkas untuk ditandatangani, saya kaget melihat atas nama kamu," pekik bapak, kesal. Aku tersenyum kecut, pikirku dalam hati, tapikan bisa bicara dengan baik-baik bukan langsung marah, bapak memang gila harta. "Ibu Gisel, lain kali kalian bisa saling memberi tahu, kamu juga kalau mau beli apa-apa harus izin, atau minimal bilang," ucap orang lain. Aku tersenyum kecut lagi, mereka tidak mengerti apa-apa. Bapak hanya ingin harta, mereka mengira bahwa ibu yang egois dan keras kepala, tapi kenyataannya bapak yang manipulatif dan licik. Aku ingin berbicara di sana, tapi tidak punya sedikitpun keberanian. Ruangan mulai ramai lagi, beberapa orang mulai mengobrol, yang perempuan berbicara dengan ibu, yang laki-laki mengobrol dengan bapak. Kami hanya terdiam di kamar, kakak sibuk mendengarkan earphone (alat pendengar musik) aku rasa dia cukup lelah dengan hari ini, Leo juga berusaha memainkan ponsel, Angel keluar ruangan mencari makan. Aku ingin tetap mendengarkan apa saja yang mereka obrolin, lalu keputusan apa yang akan mereka ambil untuk ibu ku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD