Pembakaran

993 Words
Gelas terbentur dengan lantai, sehingga membuat serpihan-serpihan kecil bagai tertembak, aku melihat kebawah, air panas mengenai kaki tapi kenapa aku tidak merasa panas ? Aku berfikir sejenak, tanganku mulai gemetar, entah kenapa aku bisa mendengar suara jantungku, dan suara nafas keluar masuk dengan begitu cepat. Tiba-tiba bapak melotot ke arahku, dia berdiri dengan sigap, lalu jemarinya bagai kuat berayun menampar pipiku. Aku terjatuh, lalu memegang pipi sebelah kiri. Dia mengangkat kakinya, lalu menendangku sampai jatuh tersungkur. "TIDAK !!!!" aku terbangun, mataku berputar menyusuri seluruh ruangan. Melihat ruangan kecil sekitar lima kali lima meter luasnya, aku sedang tertidur diatas kasur, ada buku dan pensil. Aku segera melihat tangan, tidak ada bekas goresan pisau. Aku mencoba menyentuh pundak, rasanya tidak ada bekas sakit atau lecet apapun. Aku melihat kakak masih tertidur, aku mulai kebingungan lagi. Buku tulis diatas kasur, mungkin menjadi petunjuk untuk menjawab, segala sesuatunya. Aku melihat buku tulis itu, mata membelalak melihat apa yang aku tulis, aku sedang menulis kerangka novel untuk dikirim. Aku hanya mengingat beberapa kejadian untuk ditulis, namun aku justru mengalami mimpi buruk, aku merasa lega. Ternyata itu semua hanya mimpi buruk, aku tertawa kecil. Lagipula Violin anak yang pemalu, pendiam dan penakut. Mana mungkin aku berani melawan bapak, hanya kakak perempuan yang berani melawannya. Aku selalu mimpi buruk, jika mengingat potongan-potongan kehidupan yang suram itu. Sepertinya hari ini diriku terlalu memaksakan, untuk mengingat penggalan kehidupanku, yang akan dituangkan dalam novel yang akan diterbitkan. Aku takut untuk tidur lagi, nanti mimpi buruk dan menakutkan. Aku membuka buku puisi, lalu menulis beberapa puisi, hingga tertidur dan bangun besok pagi. "Kakak, ayo kita lari pagi," ucap Leo mengetuk pintu kamarku dan Gisel. "Ayo" balasku membuka pintu, sudah siap untuk pergi lari pagi. Hari minggu adalah waktu terbaik untuk kebugaran tubuh, aku dan Leo masuk perguruan taekwondo, salah satu perguruan tinggi yang berasal dari Korea Selatan. Untuk ketahanan nafas dan mengontrol lemak tubuh, kami harus rutin berlatih, aku pamit pada ibu, dan mulai lari santai sekitar satu kilometer. Udara pagi itu sangat sejuk sekali, masih banyak embun segar menemani, banyak orang berolahraga, banyak tukang dagangan siap menjajakan apa yang mereka jual, ada beberapa orang yang piknik bersama keluarga, serta banyak kerumunan manusia yang berjalan santai sambil tertawa terbahak-bahak. Kami pulang berjalan santai, aku menggunakan celana olahraga berwarna hitam, dan baju kaos putih dibalut jaket berwarna merah. Tinggiku hanya 150 sentimeter, berat badan 54 kilogram, kulitku putih bening, rambut keriting, panjang hampir mengenai b****g. Adikku Leo sangat tinggi, karena dia diberi suplemen peninggi badan, dari Amerika langsung, dia baru SMP ( Sekolah Menengah Pertama) kelas dua SMP, tingginya sudah 160 sentimeter, kulitnya coklat gelap, badanya kurus. Kami bercanda sejenak sambil berjalan menuju rumah, kami tinggal di pinggir jalan, tapi bukan di jalan raya, semacam jalan pedesaan. Kami sudah dekat rumah pagar warna hitam, terdengar suara riuh. Aku menyentuh kepala perlahan memastikan ini bukan mimpi, aku mengetuk-ngetuk kepala. "Ka, mamah sama bapak berantem," ucap Leo, perlahan membuka gerbang rumah. Aku gemetar, tidak mampu berbuat sesuatu, ini bukan mimpikan ? Atau aku sedang berhalusinasi ? " Masuk engga kamu !" bentak bapak pada ibu, tidak ada balasan. Ibu hanya sibuk mencari kunci, dia segera ke ruang belakang mengeluarkan motor dari ruang belakang. Rumah kami ini sangat besar, di depan ada dua kamar tidur, satu ruang belajar, ada kamar mandi beserta bathup untuk berendam, di belakang ada lapangan khusus untuk aku dan Leo latihan Taekwondo. Biasanya malam, hari motor dimasukkan ke lapangan, melewati ruang tengah lalu ke teras, di depan rumah ada mobil putih terparkir. Bapak tiriku menjatuhkan motornya yang ada di halaman, mengambil selang, untuk menyedot bensin yang ada di tangki motornya, isinya terlalu sedikit. "Masuk kalian !!" bentak bapak, melihat aku dan Leo, dengan perasaan takut. Aku dan Leo segera masuk. Dia membuka tutup tangki bensin mobil, menyedot bensin, memasukkannya ke dalam jerigen, aku gemetar dan sadar sesuatu. Aku ingin menjedotkan kepala, ini kenyataan atau mimpi ? Bapak mencari korek, dia ingin membakar kami sekeluarga, dengan bensin mobil. Aku gemetar, ibu menghidupkan motor di belakang, bapak baru menyiram bensin di halaman rumah. Begitu mendengar suara motor dinyalakan, dia berlari ke ruang tamu, lalu menendang motor yang dikendarai ibu, tapi bapak terjatuh. Ibu segera menancap gas ke halaman, menyuruh Leo, aku dan ka Gisel naik. Angel mengambil tas, dan memasukkan baju ke tas, kami meninggalkan Angel sendirian dalam rumah itu bersama bapak tiriku. Leo duduk di depan, Ibu mengendarai motor dengan handuk di kepala, ka Gisel baru bangun tidur duduk di tengah, lalu aku di belakang. Ibu membawa motor secepat mungkin, lari mencari perumahan yang ada satpamnya, setidaknya kami tidak dibakar hidup-hidup. Aku teringat, Angel sempat berlari ke halaman, menangis melihat ke arah kami, apakah dia akan dibakar di rumah itu, bersama bapak ? Kami masuk ke dalam perumahan, lalu berhenti dekat perumahan yang ada satpamnya. "Mah, Angel ?" tanyaku. "Angel anak kesayangan dia, pasti aman," balas mamah, dia mengambil ponsel, berusaha menghubungi siapapun yang bisa menolong kami. Kami semua tidak menggunakan sandal, namanya juga buru-buru. Aku ingin bertanya kepada mamah, apa yang sedang terjadi sebenarnya ? Tapi tampaknya, bukan waktu yang tepat sekarang. Kami mulai merasa lapar, satpam melihat kami seksama. Kakak bilang tadi bapak marah-marah, memecahkan sesuatu, membanting sesuatu, dia mendengarkan bunyi pecahan kaca. Beberapa jam kemudian, panggilan masuk ke ponsel ibu, seseorang menyuruh kami datang ke rumahnya. Kami kesana, ibu menceritakan semuanya pada saudara kami, yang berada di dekat situ, ternyata bapak mengamuk karena, ibu membeli tanah yang dibelakang rumah, membuatnya atas nama ibu. Rencananya ibu akan membangun kontrakan, untuk menambah penghasilan, namun dia tidak izin dengan bapak. Ibu pikir itu uang dia, dia yang bekerja, dia yang mencari sendiri, jadi terserah dia ingin membeli apa tanpa izin bapak. Lalu kenapa bapak harus marah ? Fikirku keheranan, kenapa dia tidak bilang secara baik-baik, atau ajak ibu diskusi. Aku baru sadar, ini dunia nyata bukan mimpi lagi. setelah ku fikir, kehidupan ku lebih seram ketimbang karanganku semalam. Kami sekeluarga ingin di bakar tadi pagi, itu sebabnya dia menyedot bensin mobil, aku masih terdiam syok
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD